(1) Semangat di dalam diri

23 September 2010

Dia memegang tanganku kencang sambil terus menangis.

Sial.. baru beberapa jam yang lalu aku menegaskan dalam hati berkali-kali; bahwa

“Aku tak kan pernah sekalipun menangis di depannya”,

karena yang mau aku tunjukan adalah wajah riang dan bukannya kesedihan karena kasihan padanya.

tapi tembok itu runtuh, tangan kananku yang mengusap-usap punggungnya mau tak mau menyingkirkan berulang-ulang air mataku sendiri yang mengalir deras.

Ia masih memegang tanganku kencang sambil terus menangis.

Aku tak bisa sesenti pun menggeser tubuhnya, maka kami terus berbaring di lantai, berpegangan tangan sambil terus menangis bersama.

Teman, bukankah pernah kubilang bahwa guru terbaikku adalah anak-anak yang memiliki kanker dalam dirinya?

Aku meralatnya.

Semua yang memiliki penyakit kanker dalam dirinya adalah guru terbaikku.

Sang anak yang dari tadi meledek ibunya yang sedang sakit pun akhirnya leleh juga. Ia mengulurkan tangannya agar sang ibu tak hanya memegang tanganku, tapi juga tangan anaknya.

Dan lihatlah itu, anak laki-laki itu menangis juga.

Aku pikir ia tak mengerti tentang sakit ibunya, ia berulang kali menyesali mengapa ibunya harus sakit sehingga libur idul fitri keluarga itu mereka tak bisa jalan-jalan.

Kami menangis bertiga.. aku dan anaknya mencoba menguatkannya, dan ia berusaha menguatkan dirinya sendiri..

Aku tahu ia orang yang kuat.. Tapi ini pasti tetap saja sulit..

Meski ia kuat, bukan berarti ia bisa menahan semuanya seorang diri..

Ada banyak yang harus dihadapinya.. sakit luar biasa berulang kali..

Ia sendiri bilang bahwa “tidak ada yang bisa mengalahkan sakit ini kecuali rasa semangat yang begitu kuatnya dari dalam diri..”

Dan aku rasa itu sepenuhnya benar, ketika melihat seorang yang bercita-cita menjadi dokter namun ia menderita kanker mata.

Tapi hey, dia bisa mewujudkan cita-citanya!

[lihat:   http://kickandy.com/theshow/1/1/1929/read/SEMANGAT-TAK-KUNJUNG-PADAM]

Tidak ada yang bisa mengalahkan sakit itu kecuali semangat dari dalam diri.. dan tentu saja semangat yang datang dari lingkungan sekitarnya..

Sungguh aku tak mau menangis di depannya…

(bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *