1. Titik Biru

Saya menatapnya dari atas sampai bawah, dan dia balas menatapku tajam. Sekian detik kemudian saya nyengir pada si biru dan berkata dengan girang; “Kali ini kau ikut ke Sumatera Barat, Boi!”

Si biru adalah panggilan kesayangan untuk sebuah -kalau mau dikatakan- carrier milik Abang yang berulang kali saya pinjam ke sana ke mari: Malang, Tulung Agung, Ujung Genteng, dan sebagainya. Ukurannya yang tak terlalu besar -meski tetap saja besar jika disandangkan pada punggung saya- membuat saya selalu senang untuk membawanya dalam perjalanan. (jatuh hati sama carrier pinjaman atau nggak modal ya?).

Kali ini tujuan perjalanan saya adalah Payakumbuh, Sumatera Barat. Ayah dan ibu saya -yang kali ini memberi izin karena saya pergi bersama saudaranya kakak iparnya ibunya ibu saya (ha? Bingung tak?) hanya bisa geleng-geleng kepala melihat saya dengan semangat memasukkan segala macam pakaian dan barang-barang ke dalam mulut si biru dan akan memulai perjalanan, tepat di saat teman-teman saya dengan semangat sedang mengirimkan lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan dan kantor pemerintah atau sedang diam di rumah saja, tak berniat pergi jauh-jauh karena khawatir tiba-tiba ada panggilan wawancara kerja.

Ah, sudahlah. Toh sudah 3 bulan berlalu sejak wawancara tahap terakhir di tempat itu dan saya belum dipanggil juga. Surat-surat lamaran lain pun sudah dikirimkan tapi belum juga ada panggilan. Maka dari itu: mari kita pikirkan Payakumbuh sajaa! Mumpung ada yang mengajak.

Bude atau mari kita panggil saja Mamak, tinggal tak jauh dari rumahku. Usianya sudah mendekati 58 tahun dan ia tinggal sendiri di rumahnya. Mendekati Hari Raya Idul Adha ini seperti biasa ia pulang ke kampung halamannya dan karena mengetahui saya yang -tentu saja- masih punya banyak waktu senggang, maka Mamak pun mengajak saya.

Untuk sampai di Payakumbuh, setahu saya ada beberapa pilihan dengan menggunakan pesawat udara. Pertama adalah menaiki pesawat dengan tujuan Jakarta-Padang, lalu menempuh sekitar 3 jam perjalanan menuju Payakumbuh. Atau seperti kami: menuju Pekanbaru lalu kemudian menempuh perjalanan dengan jarak tempuh yang tak terlalu berbeda jauh. Alasan kami menuju Pekanbaru adalah karena menemui kakak pertama Mamak yang tinggal di sana.

Kami tiba di Bandara tanpa terlambat dan setelah pesawat sempat delayed 20 menit, kami akhirnya memasuki pesawat. Siap berangkat.

Baling-baling mulai berputar, saya komat-kamit membaca doa. Ini kedua kalinya saya akan naik pesawat dan pertama kalinya naik pesawat saat pagi hari.

Perlahan kami mulai meninggalkan lajur-lajur pesawat di bandara, jalan tol Cengkareng, lalu petak-petak rumah yang lama kelamaan hanya berbentuk titik-titik. Saya menoleh pada Mamak di sebelah kiri saya. Tertidur. Tentu naik pesawat bukan hal baru baginya sehingga mudah sekali untuk memejamkan mata.

Saya kembali memandang ke bawah. Titik-titik itu rapat, berdempet-dempet. Sama jumlahnya dengan jumlah semua rumah yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Dan orang-orang yang ada di dalamnya lebih banyak lagi jumlahnya.

Lajur-lajur jalan yang padat kendaraan bermotor di jam-jam sibuk kali ini pun hanya berupa titik, meski saya masih bisa seolah merasakan bisingnya klakson dan asap kendaraan bermotor yang sama sekali tak sehat. Titik-titik itu lama kelamaan menjadi jarang, lalu secara tiba-tiba pemandangan di bawah sana menjelma menjadi pesisir.

Ah, di sanalah hutan mangrove itu.

Saya melongok lebih jauh ke luar. Terpukau ketika beberapa saat kemudian pandangan di luar jendela terpenuhi dengan lautan. Kali ini titik-titik itu adalah perahu-perahu nelayan yang berbaris-baris. Lalu pulau-pulau yang menjadi bagian dari Kepulauan Seribu.

Saya tak berkedip menatap itu semua. Betapa luas negeri ini dan betapa perjalanan saya ini hanya menempuh satu titik di antara seribu lebih titik yang ada di nusantara.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *