2. Keheningan Sebuah Lembah

Kami tiba di rumah Mamak di Pekanbaru pukul setengah dua siang. Disambut dengan dua wajah ramah kakek-kenek. Sang nenek adalah kakak pertama Mamak. Deretan foto dan plakat menunjukkan pekerjaan kakek sebagai seorang penulis dan pembicara.

Esoknya, sosok kakek yang sedang duduk menghadap meja, dengan kertas-kertas di hadapannya, sesekali berpikir lalu kemudian menggoreskan penanya dalam keremangan subuh, menjadi salah satu alasan yang semakin menguatkan saya untuk menuliskan segala yang saya lihat dalam perjalanan.

Pertemuan singkat dengan kakek dan nenek yang ramah di Pekanbaru menjadi titik tolak kami menuju Payakumbuh. Sebelum elf kami melaju, kakek menggenggam erat tangan saya, tersenyum dan berpesan untuk tidak berhenti menulis.

Dalam perjalanan menuju Payakumbuh dari Pekanbaru, saya disuguhi jalan yang berkelok-kelok tak henti. Saran saya: jika anda duduk di paling pinggir silahkan berpegangan yang kuat jika tak ingin posisi duduk anda bergeser ke sana ke mari karena kelokan tersebut. Hal itu ditambah dengan supir mobil  yang melaju dengan kecepatan penuh.

Saran saya juga untuk yang mudah mabuk darat: tidur saja lah. Hehe. Tapi jika anda lakukan itu, anda akan rugi tak melihat pemandangan yang mungkin tak bisa anda lihat setiap hari. 

Mobil berbelok kiri, kanan, kiri, kanan. Deretan pohon pinus mengisi bukit-bukit di kiri dan kanan saya. Melihat sebuah waduk di bawah sana yang berkilauan tertempa cahaya matahari membuat saya ingin menyuruh sang supir berhenti sejenak agar saya bisa turun dan mengambil gambar dulu jika saya tak ingat bahwa ini adalah mobil elf yang membawa serta penumpang-penumpang umum lain yang tak saya kenal.

Setelah beberapa jam melaju, elf berbelok di sebuah rumah makan untuk istirahat siang. Sambil menunggu semua penumpang selesai makan, saya duduk di teras rumah makan dan mengamati truk-truk besar yang melintas di jalan di depan rumah makan yang seolah dikepung bukit-bukit hijau.

Bukit hijau
Bukit hijau

Sebenarnya saya tak tahu mendetail mengenai kampung halaman Mamak. Maka ketika elf sudah berjalan kembali lalu berbelok di jalan bertuliskan Taman Nasional Lembah Harau, saya mengangguk-angguk saja.

Bukit-bukit hijau yang mengepung rumah makan tadi rupanya belum ada apa-apanya bila dibandingkan yang ada di hadapan saya ketika memasuki wilayah Taman Nasional itu.
Area persawahan yang bervariasi, sebelah kanan jalan berisikan padi yang baru ditanam dan sebelah kiri jalan berisikan hamparan padi menguning yang sebentar lagi akan panen, menghiasi mata saya. Di belakang area persawahan itu -berderet-deret tersusun dengan rapi dan kokoh- tebing-tebing tinggi menjulang yang seolah mengepung kami. Tingginya mungkin lebih dari 100 meter. Berwarna coklat bercampur hitam, juga ditambah dengan warna hijau akibat pepohonan yang menempel pada sisi-sisinya.

Rumah Mamak berada dekat dengan salah satu sisi tebing. Saya menggelengkan kepala menatap air terjun nun jauh di sana yang bisa saya lihat dari jendela kamar, lalu salah satu tebing yang bisa saya lihat dari jendela dapur dan kamar mandi.

Ya! Inilah Lembah Harau dengan tebing granitnya yang memukau!

Tebing 1
Tebing 1

Saya menghirup teh panas yang tiba-tiba sudah dihidangkan di atas meja, tak tahan untuk tidak meminumnya tanpa menatap keluar, maka saya bergegas melangkah ke dapur. Abu sisa-sisa pembakaran memenuhi lantai tanahnya, dandang dan panci bergeletakkan, bekas parutan kelapa tergeletak di salah satu sisinya. Saya melangkah menuju jendela dan membukanya.

Melalui jendela
Melalui jendela

Teh panas yang sesungguhnya pahit itu, tak terasa pahit sama sekali jika diminum sambil memandangi satu lagi sudut negeri ini yang menjulang di hadapan saya.

                                                                     ^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Malam hari tiba, saya memejamkan mata dan memasang telinga baik-baik. Suara-suara khas alam mewarnai lembah ini. Suara jangkrik, tonggeret, dan serangga-serangga lainnya yang saya tak tahu namanya terdengar dengan sangat jelas di telinga. Gemuruh air terjun di sana pun samar-samar terdengar, ditambah dengan suara Siamang bersahut-sahutan dari dalam hutan.

Malam semakin larut, dan musik pengantar tidur saya adalah orkestra alam dengan nadanya masing-masing yang melantunkan irama alami sebuah lembah.

                                                                       ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Di pagi hari saya, Mamak, dan Sadik menyusuri jalan untuk lebih mengakrabkan diri dengan embun yang masih menempel di rerumputan.

Di tengah jalan?
Di tengah jalan?

Di sebelah kiri kami adalah hamparan sawah menguning yang sebentar lagi akan dipanen. Sekelompok burung, yang terdiri dari 5-6 ekor, terbang dari satu padi ke padi yang lain, merasa terganggu dengan boneka-boneka pengusir milik pak tani. Sementara di sebelah kanan kami adalah sawah yang baru akan ditanami. Terkadang kami berpapapasan dengan becak motor atau anak-anak yang menaiki sepeda menuju sekolah.

Ada yang baru ditanam, ada yang siap panen
Ada yang baru ditanam, ada yang siap panen

Ketika sudah berjalan cukup jauh dari rumah, baru terlihatlah betapa luasnya deretan tebing-tebing ini. Membentang 180 derajat.

hijau-cokelat-biru
hijau-cokelat-biru

Kami berbelok di jalan kecil yang menuju air terjun dan bertemu dengan seorang kakek yang sedang mengeluarkan perangkap-perangkap belut dari dasar kolam.

Menurut kakek, perangkap itu sudah ia pasang sejak kemarin sore. Meski belut hasil tangkapan tak terlalu besar, kakek dengan senyumnya yang ramah itu tetap semangat mengeluarkan keranjang-keranjang perangkap belut.

Kakek dan perangkap belut
Kakek dan perangkap belut

Tak mau lebih mengganggu sang kakek, kami pun pamit dan meneruskan perjalanan yang dipenuhi jalan berbatu kecil dan tersusun rapi tersebut menuju air terjun.
Air terjun (atau dalam bahasa lokal disebut sarasah) di Taman Nasional Lembah Harau ini ada 7 buah. Salah satunya adalah yang bisa saya lihat dari kejauhan melalui jendela kamar Mamak.

Saya mendongakkan kepala, menyipitkan mata yang silau karena cahaya matahari.

Sarasah 1
Sarasah 1

Leher ini sampai pegal karena mendongak akibat terlalu tingginya sarasah di hadapan saya. Sarasah ini tinggi namun debit airnya tidak besar dan yang mengherankan adalah aliran airnya tidak bisa  saya lihat mengalir ke mana. Saya bisa melihat air yang meluncur ke bawah, namun di tempat saya berdiri saya tidak bisa melihat hasil limpahan air tersebut. Bingung tidak? Hehe.

Sarasah 2
Sarasah 2


Setelah puas pada keheranan terhadap air terjun, kami menuruni undakan melewati kandang sapi, melompati parit, lalu berbelok sedikit dan terlihatlah hamparan padi menguning yang membentang di hadapan saya.

Saya berjalan menyusuri pematang sawah, sementara mamak berhenti di sebuah saung kecil berisi satu keluarga yang sedang sarapan. Mereka menjaga padi yang sebentar lagi panen.

Saya terus berjalan menyusuri sawah, lalu berhenti ketika sudah sampai di tengahnya. Sekeliling saya dipenuhi hamparan sawah menguning, dan jauh di depan sana salah satu deretan tebing yang seolah bergandengan tangan dengan langit biru.

Di tengah sini, hanya suara angin, suara gesekan daun dan suara jangkrik yang saya dengar. Sunyi, hening, dan mengagumkan.

Kloneng…kloneng….

Saya menoleh mencari sumber suara. Rupanya sumber suara itu adalah kaleng yang digantung dan berbunyi ketika tertiup angin. Kaleng itu disambungkan dengan tali dan bambu yang digantung di sebuah pakaian lusuh. Serupa dengan cara kerja boneka pengusir burung. Hanya saja jenis ini digunakan untuk mengusir babi. Menurut kakak mamak, banyak babi yang berkeliaran di sini. Mengincar durian yang jatuh, padi, dan makanan-makanan lain.

Kloneng…kloneng….

Ah, rupanya Lembah Harau tak hanya menyimpan keheningan pada malam hari. Serupa dengan malam hari, di pagi menjelang siang ini pun rupanya Lembah Harau tetap menyimpan sebuah keheningan. Suara angin, gesekan daun, suara jangkrik, dan kaleng pengusir babi adalah orkestra alam yang dinyanyikan Lembah Harau untukku.

hening
hening

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *