3. Keheningan yang Berubah

Sama seperti malam-malam sebelumnya, Malam idul adha di tempat ini sepi sekali. Tetap hanya suara jangkrik, tonggeret, siamang, dan kali ini ditambah anjing hutan yang memecah keheningan malam Lembah Harau.

Saya, Mamak, dan Mamak Ika berjalan menembus jalan kecil untuk menghadiri undangan seseorang yang mengadakan selamatan karena pindah rumah. Tidak ada penerangan di jalan kecil itu. Lampu hanya ada di masing-masing rumah yang jaraknya beberapa meter dari sini. Saya sesekali mengaduh karena tak hati-hati berjalan dan menabrak batu bata.

Mamak berkata sambil melangkah hati-hati; “Indak ado lampu?”.
Mamak Ika pun menjawab, “Ado, iko! Lampu dari Tuhan.” Katanya serius sambil menunjuk bulan separuh dan bintang-bintang.

Usai menghadiri acara selamatan (yang tentu saja menu utamanya adalah rendang), kami menuju salah satu rumah teman Mamak untuk bersilaturahim karena sudah hampir setahun tak bertemu.

Di rumah yang juga berada di dekat tebing itu saya menemukan satu hal pesona lagi, bahwa ke sudut manapun negeri ini saya melangkah, hanya sedikit bahasa daerah yang bisa saya mengerti. Sedikit sekali. Ah, berapa banyak lagi bahasa daerah yang tak  saya mengerti. Dalam satu lokasi saja bisa ada berbagai bahasa yang berbeda.

Saya hanya bisa senyum-senyum saja karena hanya memahami sedikit pembicaraan mamak dan kerabatnya. Salah satu kerabat mamak adalah ketua RT, pembicaraan tidak jauh dari topik seputar pemotongan hewan kurban esok pagi. Mereka membicarakan di tebing sebelah mana besok akan memotong hewan kurban, lalu plastik yang digunakan tidaklah kantong plastik hitam karena menurut mereka tidak baik untuk kesehatan, dan cara pembagian kurban yang akan diantar saja satu per satu ke rumah.

Hanya itu. Saya hanya mengerti inti pembicaraan mamak dan keluarga pemilik rumah. Selebihnya saya sadar bahwa tidak semua kata dalam bahasa Minang dirubah huruf belakangnya menjadi `o`.

22.00
Kami pamit pulang, melalui kembali jalan kecil yang semakin gelap dan semakin sepi. Saya menarik retsleting jaket sampai ke leher, tak mau lagi wajah ini bentol-bentol akibat kedinginan seperti tadi sore.

Begitu sampai di rumah saya langsung menyiapkan pakaian untuk shalat besok. Kebiasaan yang diwajibkan oleh ibu yang selalu heboh jika saya bangun jam 5 pagi dan baru menyiapkan pakaian untuk shalat ied di pagi itu juga. Menurutnya bangun pada pukul 5 di hari raya itu adalah kesiangan.

27 November 2009 04.30

Saya bangun dan bergegas mengambil air wudhu. Kakak mamak masih saja mengaduk rendang di tungku. Ah, saya lupa bercerita bahwa sejak kemarin siang beliau memasak rendang pada penggorengan besar di tungku. Tak berhenti ia mengaduknya.  Terkadang bergantian dengan adiknya.

Saya pun ikut nimbrung di dapur, terang-terangan berniat membantu, namun terang-terangan pula ditolak mentah-mentah. Ia menunjukkan telapak dan pergelangan tangannya yang terbebat lap kain.

“Ini panas, bahaya.” Begitu katanya berulang-ulang.

rendang dan tungku
rendang dan tungku

Alhasil saya hanya menontonnya, sesekali bertanya mengenai tebing, sambil mengacak-acak sampah bekas kelapa tanpa tujuan yang pasti, lalu sesekali memandang keluar jendela dapur, ke tempat di mana pesona tebing itu terlihat.

05.30
Saya sudah berpakaian lengkap dan memandang heran pada bang Lukman yang masih tertidur pulas di sofa. Iri. Mengapa sudah jam segini tak ada yang memarahinya untuk segera bangun dan mandi? Dan kenapa mamak masih sibuk dengan rendangnya? Belum rapi berpakaian?

“Ade, coba bantu bungkus ini.” pinta mamak sambil menunjuk rantang dan lap kain. Di tangan kanannya ada dua botol air. Lalu kakak mamak berdiri di belakangnya membawa beberapa piring makan plus sebuah termos.

Untuk apa itu? tanya saya heran dalam hati.

Seolah tahu isi hati ini, mamak menjelaskan bahwa tradisi setelah sholat idul adha adalah memakan bekal makanan ramai-ramai di lapangan.
Ah, saya mengerti sekarang. Kesibukan di Hari Raya Idul Adha pada pagi hari adalah menyiapkan makanan untuk dimakan secara beramai-ramai!

06.30
Saya menenteng botol air di tangan kanan dan rantang di tangan kiri. Mamak membawa piring-piring, kakaknya membawa mangkok berisi rendang yang (akhirnya) sudah matang setelah diaduk semalaman di tungku. Bang Lukman dan adiknya membawa tikar.

Ketika keluar rumah, saya menemukan pemandangan yang serupa. Semua orang sibuk membawa tentengan seperti kami.

Haha… ini menyenangkan! Saya berseru girang dalam hati.

Kami tiba di lapangan sebuah Sekolah Dasar. Saya bingung mau meletakkan rantang dan botol air di mana. Mamak kemudian memanggil dan menyuruh saya meletakkan begitu saja makanan-makanana itu di tepi lapangan. Dan di tepi lapangan itu sudah ada, berderet-deret, piring plastik, piring beling, botol minum, termos air, botol plastik, rantang 3 tingkat, rantang 4 tingkat, mangkok, dan deretan-deretan wadah makanan lain milik para warga.

Saya menelan ludah, mencoba membayangkan isi tempat makan itu. Berharap nantinya perut saya muat untuk menampungnya.

Kami mulai memakai mukena dan sebelum sholat ied dimulai ada 3 orang bapak yang berjalan keliling, masing-masing dengan keranjang di tangannya. Ya, jika biasanya diedarkan kotak amal, maka di sini 3 orang bapak berjalan melewati barisan satu per satu. Sayang sekali, saya lupa masing-masing fungsi untuk uang amal di masing-masing keranjang.

Kotak amal
Kotak amal

Cuaca cerah dan awan putih bersih menaungi shalat ied hari itu, menyapa tebing Lembah Harau. Ini adalah untuk pertama kalinya saya melaksanakan shalat Idul Adha bukan di rumah saya, di tempat yang berkilo-kilometer jauhnya, menyebrangi lautan, menempuh jalan berkelok-kelok, naik turun.

Bersiap shalat ied
Bersiap shalat ied

Shalat ied diakhiri dengan doa yang dibaca dan didengarkan dengan sangat khusyuk. Ketika selesai kami bersalam-salaman. Saya tersenyum dan menjabat tangan orang-orang yang posisinya berada dekat dengan saya. Tanpa saya sadari tiba-tiba saja beberapa orang cepat-cepat menggulung tikar dan menggelarnya kembali di tepi lapangan, beberapa orang bahkan menyeretnya begitu saja.

Karena sibuk bersalaman saya pun belum selesai melipat mukena, dan ketika tikar yang saya injak bergeser, saya pun melompat ke tanah berpasir karena kaget. Saat itulah saya baru sadar bahwa semua tikar sudah digeser ke tepi dan semua ibu sudah sibuk memegang rantang, membukanya, membagikan piring kepada suami, anak, cucu, menantu, adik, ponakan, atau tetangganya.

Uni
Uni

Tidak! Saya tidak boleh kehabisan dendeng balado!! 

Saya berlari ke pinggir lapangan tempat keluarga mamak berkumpul. Celingukan mencari piring dan rantang yang -untungnya- isinya masih utuh.

“Ade, duduk di siko!” Mamak menunjuk sisa tempat duduk di tikar dan saya duduk berhimpitan dengan keluarga lain.

Tikar ini tak cukup, tapi siapa peduli?! Kenikmatan ketika makan bersama seluruh tetangga satu desa adalah segala-galanya!

“Ade, rendang.” Mamak menyodorkan rantang berisi rendang, sementara kakak mamak tiba-tiba saja sudah memberikan piring berisi nasi untukku. Saya menerima piring nasi bergantian dengan rendang. Namun alih-alih makan, saya malah menatap sekeliling saya dengan  sangat tertarik.

“Lado. Lado.” Ibu tetangga meminta tolong diambilkan piring berisi sambal. Ia lalu membawa serta piring berisi belut balado, piring berisi rendang, dan mangkok sambal sekaligus di kedua tangannya, lalu berjalan menuju tepi lapangan yang satunya, tempat di mana suami dan anaknya berada.

Mari makaaan
Mari makaaan

“Mak, tambah mak.” Sadik yang sedari tadi entah duduk di mana, tiba-tiba datang dengan piring bersih mengkilap. Di pipinya ada secuil potongan cabai yang nemplok tanpa ia sadari. Mamaknya pun menuangkan kembali gunungan nasi dan lauk ke piringnya.

“Ade, tambah de!” Mamak berseru dari barisan depan tikar. “Tolong. Tolong.” Ia meng-estafetkan rantang belut balado lewat para tetangga untukku.

“Kakak, ini kak. Kalau mau ambil saja, ndak usah malu.” Seorang ibu di sebelah kiri saya, yang sama sekali tak saya kenal, menyodorkan semangkuk telur (yang pastinya pedas) untuk saya.

“Terima kasih.” Jawabku sambil tertawa.

Wow!! Saya memegang piring telur di sebelah kanan, piring belut di sebelah kiri, dan nasi di pangkuanku. Ini benar-benar mantab!

Makaan
Makaan

Suara denting piring beradu di sana-sini, diiringi suara air dituang dari termos atau botol minum. Matahari semakin meninggi, dan sisi lapangan yang awalnya tidak tertimpa cahaya matahari kini panas menyengat dan membuat semua orang berpeluh, terutama ditambah lauk yang pedas.
Mamak melipat kembali rantang dan kain kotak-kotak. Begitu juga tetangga lainnya. Beberapa bapak di ujung sana bahkan sudah menggotong tikar. Rupanya lauk dalam rantang dan piring sudah habis!

Saya menumpuk piring dan menyingkir dulu ketika tikar akan dilipat. Perut saya penuh dengan kelezatan belut balado, rendang kering, dan dendeng. Satu per satu para warga berpamitan ramah dan beberapa orang masih berkumpul untuk membicarakan teknis pemotongan hewan kurban di bawah tebing.

Lapangan semakin sepi dan hanya tinggal beberapa keluarga saja yang masih membereskan piring. Tiba-tiba salah satu ibu berseru; “Piring sapo iko?? Piring sapo iko??” sambil menunjukkan sebuah piring di tangannya.

Mamak mendekatinya, meneliti piring dengan seksama lalu berkata; “Bukan”, dan sang ibu pun berjalan pulang ke rumah sambil kembali berteriak pada ibu-ibu lain yang sudah berjalan jauh darinya; “Piring sapo iko??”

                                    ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Setelah meletakkan cucian piring dan gelas kotor, kami beristirahat sebentar untuk kemudian menuju ke tempat pemotongan hewan di dekat sungai.

Saya tak tega melihat sapi (atau dalam bahasa lokal disebut jawi) dipotong hehe. Mencoba mengalihkan pandangan, maka saya turun perlahan-lahan ke sungai yang terletak tepat di sisi area pemotongan, memperhatikan beberapa anak yang dengan berani lompat dari sisinya.

Lembah menawan hati
Lembah menawan hati
Jebyuurr
Jebyuurr

Cuaca lalu cepat sekali berubah. Langit tiba-tiba menjadi gelap sekali. Awan cumulunimbus sudah bersiap menurunkan air yang sejak tadi membuatnya keberatan. Petir mulai bersahut-sahutan. Syukur pemotongan hewan sudah selesai sehingga rombongan pun bisa bubar. Saya melirik sekilas ke arah tebing. Sisi batuannya yang kasar berubah menjadi berwarna gelap. Ia berdiri kokoh menyalami sang petir.

Malam hari tiba dan hujan kembali turun dengan derasnya. Saya tak bisa mendengar suara jangkrik ataupun siamang, atau bahkan lolongan anjing hutan.

Ketika ke dapur dan membantu mamak menghangatkan rendang, saya tak berani melirik barang satu senti pun ke jendela, tempat tebing yang subuh tadi bahkan masih saya kagumi dari jendela yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *