4. Sarasah

Berkabut
Berkabut

28 November 2009 05.00

Saya terbangun dan merasakan udara dini hari lebih dingin dari biasanya. Pastilah semalam hujan turun dengan luar biasa lebatnya. Saya membuka jendela dan terpana. Mengira mendung masih ada di luar sana, namun tidak. Tidak sama sekali.

Langit biru seperti hari-hari sebelumnya, awan putih bersih seperti hari-hari sebelumnya, dan tebing yang kembali ramah. Mungkin ketika hujan badai pun tebing itu sesungguhnya tetap ramah, saya saja yang menganggapnya menyeramkan.

Saya bergegas ke dapur untuk membuat teh. Ketika akan mengambil gelas, mata ini tertumbuk pada satu benda di balik pintu. Sepeda Dinda!
Saya membuat teh cepat-cepat, dan meminumnya cepat-cepat juga. Lalu bergegas ke rumah Dinda di sebelah untuk meminta izin menggunakan sepedanya. Anak kelas 4 SD, yang sedang duduk di depan rumahnya sambil melamun dan mengusap matanya yang masih mengantuk, itu hanya mengangguk saja menyanggupi.

Kamera diselempangkan di bahu dan saya mulai mengayuh, beberapa kali mencoba melepas tangan dari stang sepeda dan merentangkannya, merasa lebih bisa menikmati setiap udara bersih yang kuhirup. Jalan ini sepi sekali dan saya tersenyum menganggukkan kepala pada setiap kakek, bapak atau ibu yang berpapasan, mereka lah yang lebih dulu tersenyum pada saya.

Siluet gunung
Siluet gunung

Entah sudah berapa jauh saya mengayuh, tujuanku sebenarnya adalah tulisan Lembah Harau yang ada di belokan pertama sesudah lampu merah di ujung jalan sana. Tulisan yang pertama kali saya lihat di tempat ini. Namun, sepertinya jaraknya jauh sekali. Sudah hampir 20 menit mengayuh tapi tak juga sampai. Akhirnya saya memutar sepeda pada pos masuk Lembah Harau, pulang ke rumah.

Sawah yang menghampar demikian lebarnya di sisi kiri menggoda saya untuk sekedar menjejakkan kaki sejenak di atasnya. Maka saya berhenti, memarkir sepeda lebih ke tepi jalan, hampir dekat selokan, dan agak tertutup alang-alang yang tinggi. Meski mamak bilang di sini aman, namun tetap saja ada rasa khawatir bila sepeda milik Dinda dibawa kabur ketika saya sedang jongkok di tengah sawah untuk mengamati keong.

Berdoa semoga tak hilang, saya meninggalkan sepeda, dan melompati aliran air yang mengairi sawah, becekan lumpur yang mengotori celana tak saya hiraukan.

Jauh di depan sana, seorang bapak yang sedang menebarkan sesuatu di kolam di antara sawah, memperhatikan saya. Maka saya khawatir jika ternyata tak sepantasnya saya masuk sawah, yang mungkin miliknya, tanpa izin. Tapi tak mungkin juga bagi saya berteriak padanya untuk meminta izin berjalan di sawah ini. Jarak kami cukup jauh.

Maka saya berbalik, ya sudahlah. Celana panjang yang morat-marit terkena cipratan lumpur pematang sawah sudah memuaskan hati. Saya kembali ke tepi jalan dan bersyukur sepeda Dinda masih ada di sana.

Saya kembali mengayuh, kali ini dengan perut yang berbunyi. Sesekali mengayuh lambat karena lapar. Ketika tiba-tiba …….

Wuush…

Rem saya tarik mendadak dan sepeda hampir terjungkal ke depan. Mata saya tertuju pada satu sosok hewan yang sedang terbang dan barusan lewat di atas kepala saya dengan jarak sekitar 4 m.

Elang??
Saya memicingkan mata dan mengerutkan kening. Pengetahuan  mengenai burung saat ini masih sedikit sekali dan tahun inipun saya lebih banyak belajar tentang burung air. Tapi yang tadi itu, besarnya, sosoknya, apa benar elang? Ah, tapi tak boleh asal dalam mengidentifikasi jika belum bisa memastikan.

Saya mengamati sosok yang semakin terbang tinggi, menjauh, lalu hilang di balik tebing. Ah sial, seandainya saja Bang Lukman mau menemani ke dalam hutan. Sebenarnya mungkin bukan tidak mau, tapi tidak sempat. Sore nanti ia langsung kembali naik ke bukit untuk memanen ladang milik mamaknya. Bang Lukman memang jarang pulang, ia lebih banyak menginap di atas bukit sana untuk berladang.

Saya tak punya binokuler dan lensa kamera ini tak cukup untuk mendeteksi burung apakah itu.
Saya masih terpaku di sepeda, menatap tajam pada tebing tempat elang tadi menghilang di baliknya, berharap elang (atau apapun itu) keluar lagi.

Seorang bapak yang berjalan melewati saya menyapa dengan ramah namun mengernyitkan keningnya, sedikit memandang dengan heran, mungkin bertanya-tanya mengapa saya berhenti mengayuh sepeda dan memelototi tebing dari jauh. Saya balas tersenyum, agak sedikit malu, lalu mulai mengayuh lagi. Pulang.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

“Bang Lukman, berapa lama untuk bisa naik ke atas bukit sana?” tanya saya sambil menggigit belut dengan banyak lado di atasnya.

“Indak lama. Kalau lah biasa 20 menit.” Jawabnya sambil menuang air di gelas.

“20 menit??” saya berhenti mengunyah, heran.

Dari jauh saja terlihat bukit itu kemiringannya hampir 90 derajat. Orang menyebutnya Bukit Rangkak. Disebut Bukit Rangkak karena kemiringannya yang hampir tegak itu sehingga orang sampai harus merangkak untuk bisa sampai ke atas.

“Itu kalau lah biasa. Memang kenapa? Mau naik? Kalau ndak biasa ya bisa duo jam. Lelah jalannyo.” Terong balado dimakannya dengan lahap.

“Yaah dua jam..” melihat kemiringannya saya malah khawatir jadi empat jam. Lanjut saya dalam hati, tanpa menyadari ada potongan cabai cukup besar yang masuk ke dalam mulut.

Saya dan Bang Lukman pun berhenti bercakap-cakap, terlalu sibuk kepedasan!

15.00

Ara, kakak Dinda, yang tinggal di sebelah rumah kami, menstater motornya, bersiap mengantar saya ke sarasah. Ia tipe orang yang berwajah serius. Saya bingung harus membuka percakapan dari mana ketika ia menyalakan mesin motornya. Akhirnya saya mulai saja dari pertanyaan ada berapa sarasah di Lembah Harau ini. Tiara menjawab tujuh.

Kemudian tanpa diminta ia menguraikan ketujuh sarasah itu, bahwa kami sedang menuju tiga di antaranya, dan ternyata tiga sisanya sudah saya datangi tempo hari bersama mamak.

Setelah sarasah, ia kembali bercerita hal lain mengenai kebakaran pohon pada siang hari ketika idul adha kemarin, di mana tempat kejadiannya baru saja kami lewati. Setelah itu, tanpa putus bicara, ia merutuki orang yang membakar sampah di sana. Ara ternyata, kuakui, bisa menjadi pemandu yang sangat menyenangkan. Cerita kemudian berlanjut mengenai kambingnya yang diberi nama Isabella dan Alfred. Alamak!

Berlomba bersama awan
Berlomba bersama awan

Saya dan Ara berbelok melewati jembatan kayu, berjalan sedikit di kerikil, lalu menjumpai sarasah pertama. Beberapa keluarga tampak sedang santai di atas tikar, sementara anak-anak mereka asyik berkejaran dan saling menciprati air. Sekelompok anak yang terlihat sedang asyik mengobrol berada tepat di bawah jatuhnya sarasah.

Byuurr
Byuurr

Mata saya tertumbuk pada dua ekor kupu-kupu dengan gerakan sayap yang cepat namun terbang rendah di dekat kaki saya dan berpindah dengan lambat. Dengan hati-hati saya mengikuti pergerakannya.

Luncuran air
Luncuran air

Di sebuah warung, saya dan Ara membeli kerupuk lalu duduk menghadap sarasah.

“Di sini kadang ada ular yang jatuh dari atas.” Jelas Ara, menggigit kerupuknya.
“Oh, mungkin ada sarangnya yah di atas.” Saya melirik pohon-pohon tinggi di sisi-sisi sarasah. Berusaha tenang, meski dalam hati khawatir.

“Yuk, pulang.” Ara berdiri menggigit kerupuk terakhirnya.
Ia berjalan hati-hati menghindari genangan air terjun, kami lalu berbelok di deretan warung yang menjual tanaman Pakis. Jalur pulang ini sepi sekali, dengan pohon-pohon kiri dan kanan menyerupai hutan.

Setelah berjalan sekitar 7 menit, akhirnya kami sampai di parkiran motor. “Pulang atau ke Lembah Harau yang ada di dalam?” tanya Ara sambil nyengir. Saya rasa ia hanya sekedar bertanya karena sudah tahu jawabannya.

Saya membalas nyengir juga; “Ke Lembah Harau.”

Motor kembali dinyalakan, selepas pertigaan kami tidak berbelok ke kiri untuk pulang tetapi ke kanan. Kami terus melaju dengan udara yang semakin lama semakin dingin.

Kami melewati bungalow-bungalow dengan rumput yang tertata rapi di halamannya, semuanya dipagari dengan kayu-kayu kecil. Beberapa bunga yang mekar menyembul di antara pagarnya.

Ketika melewati salah satu sisi tebing, terlihat sekitar sekelompok orang sedang berkumpul di bawah tebing. Mereka sedang sibuk memasang suatu peralatan. Saya terus menoleh memperhatikan mereka, sementara Ara terus melaju.

“Nanti mampir sebentar ke tebing tadi yah.” Pinta saya, yang kemudian diikuti dengan anggukan kepala Tiara. Ia sibuk menyapa temannya yang baru saja berpapasan dengan kami sehingga tak sempat menjawab.

Kami akhirnya berhenti di sisi hamparan sawah yang sebentar lagi panen. Seorang ibu dan bapak terlihat sedang sibuk menghalau burung-burung yang mengincar padi mereka.

Hampir sunset
Hampir sunset

“Itu sarasah satu lagi.” Ara menunjuk pada satu sarasah tinggi nun jauh disana, nyaris tertutup pepohonan. Untuk bisa menjumpainya harus masuk jauh ke dalam hutan.

Ara melirik jam tangannya, lalu menunjukkan pada saya bahwa tak sempat jika mau ke sarasah di dalam hutan itu sekarang juga. Kami bisa kemalaman. Mencoba mengabaikan perasaan saya yang penasaran, saya pun naik kembali ke atas motor.

Kami putar balik, melaju memecah keheningan. Rambut Ara berkibar ke belakang, menyapu wajah saya yang kemudian diikuti dengan suara bersin.

Pada kilometer sekian, sesuai permintaan saya tadi, Ara meminggirkan motornya di sisi kiri jalan, tak jauh dari sekumpulan orang yang sedang sibuk dengan segala peralatan memanjatnya. Ya, seperti yang sudah saya duga sebelumnya, mereka sedang latihan panjat tebing.

Persiapan memanjat
Persiapan memanjat

Lembah Harau memang kerap menjadi sasaran untuk latihan panjat tebing bagi para penggiat kegiatan outdoor ini. Surga bagi para pemanjat. Begitu orang menyebutnya.

Sapaan saya pada mereka disambut dengan ramah dan tawa renyah. Dengan logat khas daerah lokal, mereka bergantian menanyakan asal saya. Sekumpulan pemanjat, yang semuanya laki-laki itu, ternyata merupakan himpunan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Andalas, Padang.

Latihan
Latihan

DSC_0363

DSC_0370

Saya mencoba mengabaikan ajakan-ajakan mereka untuk mencoba memanjat. Berpikir ulang karena saya baru punya pengalaman memanjat dua kali dan itu pun di dinding dengan poin yang telah disediakan. Belum lagi ditambah dengan kekuatan saya di sore itu sepertinya sedang tidak mendukung, lagipula saya telah cukup lama membuat Ara menunggu di motornya. (Banyak alasan neeh! :D)
Saya pun pamit dan mereka mengucapkan salam untuk Jakarta.

Motor yang dikendarai Tiara melaju kencang, kami pulang. Dan besok pun saya pulang.
Jakarta. Di sanalah saya harus kembali. Tapi di sini menyenangkan sekali.

Tiara melaju motornya dengan lebih cepat, kali ini bercerita mengenai turis-turis asing yang pernah datang ke Lembah Harau.

Saya merentangkan tangan, menabrakkan telapak tangan pada angin yang menerpa, lalu menghirup nafas dalam-dalam, bau khas lumut terang sekali mewarnai. Sapaan lirih udara sejuk sore hari mengiringi kami.

Seandainya saja. Ya, seandainya saja Jakarta tak berpolusi seperti ini.
Saya menatap bukit tempat Bang Lukman katanya berladang, sekarang sudah hampir maghrib, mungkin ia sudah kembali ke bukit.

Bayangan Bang Lukman, yang menyantap bekal lauknya seusai memanen tanaman gambir, menari-nari dalam benak saya; Bang Lukman, bersama teman-temannya melepas lelah usai berladang, menatap tiga gunung yang bisa ia lihat sekaligus dari atas Bukit Rangkak tempat ia duduk: Gunung Singgalang, Marapi, dan Talamau.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *