Bukan hanya semangat perayaan

17 Agustus 2010

Tulisan saya pagi tadi adalah: “Semoga tidak hanya sekedar seremonial upacara, seremonial pasang bendera, dan seremonial lainnya. Tapi sebaiknya setiap diri melihat ke dalam hatinya masing-masing apa saja yang sudah dilakukan untuk bangsa dan untuk lingkungannya.. Semoga negeri ini selalu diliputi oleh kebaikan-kebaikan dari setiap diri yang berpijak di atasnya. Amin.”

Malam hari sebelum tanggal 17, yang saya pikirkan adalah ingin hunting foto di kebun raya Bogor, merayakan ulang tahun negeri ini dengan berburu foto-foto biodiversitas (terutama burung-burung) yang ada di sana (meski lensanya tak memadai hehe).

Dini hari ketika sahur, tiba-tiba muncul tambahan ide: Bagaimana jika juga ditambah dengan menyusuri jejak salah satu sosok bernama Ibu Kiswanti dengan warung bacanya yang juga berada di Bogor?

Bu Kiswanti adalah seorang ibu yang mengabadikan dirinya demi membuka akses bahan bacaan untuk masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Meski hidup pas-pas-an, Bu Kis rela menyisihkan sebagian uang belanjanya untuk membeli buku. Ia bahkan pernah bekerja dan meminta bayaran berupa buku-buku bacaan saja. Buku-buku ini kemudian ia pinjamkan kepada masyarakat secara gratis. Ia lalu berkeliling kampung dengan mengayuh sepeda kesayangannya, berdagang jamu, sambil membawa buku-buku di keranjang sepedanya. Jarak yang ia tempuh dengan sepeda bisa mencapai 13 km. Luar biasa.

Kabarnya ia melakukan ini karena balas dendam. Balas dendam karena dulu ia tak tamat SD dan kekurangan buku. Sejak itu Bu Kis bertekad bahwa tidak boleh ada lagi anak yang bodoh dan tidak mendapatkan buku bacaan.

Karena jerih payah Bu Kis, bantuan pun berdatangan sehingga kemudian ia bisa membuka perpustakaan sederhana di rumahnya, berdampingan dengan toko kelontong miliknya. Perpustakaan ini pun diberi nama Warabal. Singkatan dari Warung Baca Lebak Wangi.

Okeeh. Kembali ke rencana tadi.

Karena alasan upacara di kantor, tak bisa ikut karena malas, sakit perut, dan sebagainya, beberapa teman yang saya ajak tak bisa ikut. Maka saya pergi berdua saja dengan si Abang.

Mendung, panas, mendung, panas, dan mendung. Tapi kami tetap berangkat. Dan mendung itu pun masih tak mau pergi ketika kami sudah berada dalam kereta. Dalam hati berpikir “Waduuh, tak ada yang bawa payung ini.”

Begitu tiba di stasiun Bogor sudah cukup siang. Kami khawatir tidak sempat ke Lebak Wangi tempat Bu Kiswanti tinggal jika kekeuh mau menuju Kebun Raya Bogor untuk hunting foto (kecuali jika kami bersedia buka puasa di jalan, dan bukannya di rumah).

Maka kami sepakat untuk langsung saja ke Warabal dan membatalkan niat berburu foto. Tak ada rasa kecewa karena tak jadi berburu kingfisher alias raja udang (yang selalu menggoda saya untuk menabung sambil jungkir balik agar bisa membeli lensa tele bertahun-tahun lagi). Tidak adanya rasa kecewa itu mungkin karena biodiversitas nusantara dan taman baca adalah dua hal berbeda yang sama menariknya buat saya.

Hanya berpatokan pada rute angkutan yang berputar-putar, dilanjutkan dengan debat alot dengan tukang ojek yang meminta bayaran lebih karena kami salah turun angkot, membuat hati jadi sedikit tak enak.

Namun begitu memasuki ruangan dan bertemu dengan Ibu Kiswanti, semua perasaan tak enak selama perjalanan sirna sudah.

Saya sudah mengetahui tentang Warabal sejak bertahun-tahun lamanya, dan membaca cerita mengenai Ibu Kiswanti juga bertahun-tahun lamanya, namun baru kali ini bertemu secara langsung, berbincang mengenai semua kesederhanaannya, dan melihat sendiri Warabal yang sudah 14 tahun ini dirintisnya.

Saat itu saya sadar, pilihan saya hari itu untuk berkunjung secara iseng ke rumahnya tak salah. Karena sosok yang tersenyum ramah pada saya itulah sedikit jawaban dari tulisan saya pagi tadi:

“…semoga negeri ini selalu diliputi oleh kebaikan-kebaikan dari setiap diri yang berpijak di atasnya..”

dan ibu Kiswanti merupakan salah satunya. Merintis warung baca dari nol, setahap demi setahap, berjalan langkah demi langkah, mengayuh sepeda sampai 13 kilometer jauhnya dengan membawa buku-bukunya demi menularkan kebiasaan membaca dan menciptakan kegiatan yang kreatif pada diri setiap anak.

Dan meski ia tak lagi mengayuh sepeda, SEMANGAT itu masih tetap ada, menular pada anaknya, pada relawan-relawan lain, dan pada banyak orang yang kemudian turut serta membantu Warabal hingga seperti sekarang.

Mungkin saya tak tahu lebih jauh lagi tentang berbagai macam cerita yang sudah terjadi di sana, ia pun kemudian sibuk memasak di dapur menyiapkan makanan untuk berbuka.

Teman-teman kecil pun berdatangan untuk menyiapkan kostum sederhana yang akan mereka pakai ketika pentas tari esok hari. Mereka sibuk dengan tali rafia, kertas, dan spidol di depan rak-rak buku itu.

Sebuah aksi kecil yang dilakukan Bu Kiswanti kemudian berdampak besar, karena dari sebuah sepeda yang menempuh 13 kilometer itu, sekarang warabal kelilingnya (yang berupa motor) bisa menyebarkan kebiasaan membaca sampai 4 kecamatan.

Itu belum ditambah kegiatan-kegiatan lain yang berperan besar dalam kreativitas masyarakat terutama anak-anak.

Tentu saja semua langkah itu tak bebas dari hambatan-hambatan dan tantangan. Ruangan yang cukup besar, untuk ukuran sebuah taman baca yang dibangun sendiri itu pun tak dibangun hanya dengan beberapa bulan saja.

Hari ini saya tambah yakin akan suatu kalimat “di mana ada kemauan di situ ada jalan.”

Terima kasih kepada Bude Is atas inspirasinya di hari kemerdekaan negeri ini. Saya percaya bahwa butuh lebih banyak sosok seperti dia di setiap sudut negeri ini.  

0 thoughts on “Bukan hanya semangat perayaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *