Dia membuat keonaran lagi, boi!!

Bus itu menderu-deru. Penampilannya jika dilihat dari luar tampak mengerikan. Kusam, karatan, kaca jendelanya pun tak utuh seluruhnya. Bus itu pun dikutuki pengguna jalan yang berada di belakangnya lantaran asap hitam pekat yang dihembuskan oleh bagian ekornya yang bernama knalpot dirasa berbahaya bagi kesehatan siapa saja yang menghirupnya.
Bahkan pengguna sepeda pun mencak-mencak karena meskipun ia sudah memakai masker anti asap knalpot, namun sepedanya ternyata tak tahan dengan asap itu: mogok di tengah jalan karena setangnya yang mengkilap berubah menjadi kusam.

Dilihat dari dalam, bus itu tak jauh lebih baik. Kain bangkunya bocel-bocel. Manusia-manusia yang tak kebagian tempat duduk pun harus berpegangan pada besi karatan di atas kepala mereka jika tidak mau terjatuh ketika sang supir yang hobi teriak-teriak itu menginjak rem secara mendadak. Penderitaan itu belum apa-apa jika dibandingkan dengan minimnya angin yang masuk ke dalam bus sehingga segala aroma tumpah ruah di sana.

Namun di dalam bus itu, duduk di salah satu bangku yang kain penutupnya bocel-bocel dan penuh coretan, adalah aku yang, dengan sekuat hati dan tenaga, menahan diri untuk tak cekikikan dan tertawa lepas karena tulisan di pangkuanku.

Sulit sekali rasanya menahan diri untuk tidak tertawa, dan bahkan senyum simpul yang paling simple sekalipun tak bisa kutahan di tengah bus yang penuh itu.

“Bodoh..! Bodoh sekali orang yang menulis tulisan ini. Sampai-sampai aku harus menahan tawa ketika membaca tulisannya di tengah keramaian.” kutuk ku dalam hati.

Bus terus melaju, menikung dengan tajam, berhenti secara mendadak sampai semua orang terdorong ke depan, lalu tancap gas dengan gahar sampai orang-orang condong badannya ke belakang. Sang supir mengumpat dengan makian kasar. Tapi aku tak perduli semua itu.
Aku masih saja terus berusaha menahan tawa. Berusaha menahan diri agar orang-orang tak menengok secara langsung ke arahku jika aku cekikikan karena tulisan bodoh ini.

                                                     *************************

Hari berganti dan kejadian kemarin terulang lagi, kali ini dalam perjalanan pulang. Rupanya tulisan ini lebih banyak bodohnya dibandingkan tulisan-tulisan miliknya sebelumnya. Alasan mengapa aku terus membacanya di tengah keramaian padahal aku harus menahan tawa adalah karena aku sudah bertekad untuk tidak seperti mereka-mereka yang tidak membaca dengan alasan : “tidak ada waktu untuk membaca”.

Maka di bus, di angkot, dan di kendaraan umum aku berusaha terus membaca meski dahulu aku terasa mau muntah jika melihat deretan huruf-huruf di saat kendaraan yang kutumpangi bergerak maju.
Dan di rumah nanti aku hanya tinggal meneruskan bacaan yang belum selesai saja, dan jika sudah waktunya mengerjakan yang lain sementara aku belum selesai membaca, maka besok di bus pun akan kuteruskan lagi bacaan bodoh ini.

                                      ************************

Bus berhenti dan aku turun dengan pikiran bahwa aku harus cepat berjalan kaki ke rumah untuk meneruskan kembali membaca tulisan ini.
Sore berganti malam dan aku pun membaca di meja makan. Tanganku berusaha menggapai gelas berisi teh di depanku sementara mataku terus tertuju pada deretan-deretan huruf di depanku.
Lima detik kemudian air pun menetes-netes ke lantai karena jemariku malah menubruk gelas dan menggulingkannya. Menimbulkan semacam rentetan omelan dari mulut ibu dan kakakku mengenai kenapa tak taruh dulu bukunya lalu minum tehnya.
Aku mengepel lantai sambil merutuki sang penulis:
“Rusuh benar si penulis ini sampai-sampai aku tak bisa memalingkan pandanganku dari tulisannya.”, teringat salah satu paragrafnya:

“Hujan membasahiku. Kurentangkan kedua tangan lebar-lebar. Aku menengadah dan kepada langit kukatakan: Ini aku! Putra ayahku! Berikan padaku sesuatu yang besar untuk kutaklukan! Beri aku mimpi-mimpi yang tak mungkin karena aku belum menyerah! Tak kan pernah menyerah! Takkan pernah!”
     -dipikirkan dan ditulis ketika sedang dan sesudah membaca Padang Bulan milik Ikal-

Ooooh, aku sangat cinta buku ini…


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *