Hulu-tengah-hilir

Setelah beberapa waktu yang lalu beberapa kali bermain di hilir, hari Sabtu tanggal 29 Januari 2011 ini saya bermain di sungai bagian pertengahan. Saat itu saya mengikuti pertemuan bersama sebuah komunitas bernama River for Life. Acara ini merupakan acara pertama mereka dan lokasi yang dipilih adalah Sanggar Daun, Lenteng Agung, Jakarta Selatan yang terletak tepat di tepi sungai Ciliwung.

River for Life merupakan sebuah komunitas yang memfokuskan diri pada kepedulian dan kecintaan terhadap sungai pada umumnya, dan khususnya kepada sungai Ciliwung.
Sementara Sanggar daun yang didirikan oleh Bang Syahid memfokuskan pada taman baca dan kegiatan-kegiatan yang kreatif untuk anak-anak di lingkungan sekitar. Bang Syahid dan teman-temannya mendirikan sebuah saung yang terletak tak jauh dari sungai dan digunakan sebagai taman baca dan untuk kegiatan-kegiatan seperti menggambar, mewarnai, nonton-bareng, dan bermain alat musik. Lokasi itulah yang dipilih dalam acara pertama River for life.

Acara hari itu dimulai dengan dongeng untuk anak-anak di saung Sanggar Daun yang dikelilingi pepohonan dan diiringi kicauan burung Cucak Kutilang. Kak Dwi selaku pendongeng (juga pernah mendongeng di panti asuhan pada acara kesehatan gigi lalu) membawakan sebuah cerita  untuk anak-anak, yang semuanya duduk lesehan di lantai kayu saung, mengenai hewan-hewan yang tinggal di dalam hutan namun kemudian mencemari sungai yang menjadi sumber kehidupan mereka sendiri sehingga merugikan semua penghuni hutan. Selain isi cerita yang menarik, kemampuannya menirukan berbagai suara hewan dan suara-suara lain yang menjadi backsound cerita dan ekspresi wajah yang ditunjukkan membuat mata semua anak tertuju padanya dan mereka mendengarkan dengan penuh konsentrasi, serta tertawa geli dan mundur dari duduknya manakala Kak Dwi mengaum menirukan suara singa dan menyerbu ke barisan anak-anak. (Saya rasa kemampuan itu memang ada pada semua profesi pendongeng hehe). Tawa geli dan antusias anak-anak, untuk berlomba-lomba maju ke depan dan berperan menjadi tokoh ayam, kuda, monyet, dan sapi lengkap dengan  adegan menirukan suara hewan tersebut, mewarnai acara pagi itu.

Selesai mendongeng, anak-anak dibagikan kertas untuk mulai mengikuti lomba menggambar. Sementara di waktu yang bersamaan, di sudut lain di tepi sungai, beberapa orang sibuk merakit potongan bambu untuk dijadikan capitan ketika memungut sampah.
Meskipun tema besar lomba menggambar adalah sungai, tapi tetap saja, seperti biasa, 85 % anak-anak menggambar gunung beserta matahari di tengahnya. Namun beberapa anak tampak serius berpikir dan ternyata mereka menuangkan dongeng yang tadi dibawakan Kak Dwi ke dalam gambar mereka; yaitu sungai dan hewan-hewan. Salah satu dari mereka lah yang kemudian menjadi juara I dalam lomba menggambar.

(Dalam acara ini saya menyalurkan donasi buku-buku dari Simple Care untuk taman baca Sanggar Daun. Buku-buku tersebut terdiri dari buku-buku bergambar untuk anak-anak bertema umum, lingkungan seperti pengenalan daur ulang, bumi, tumbuhan, dan juga atlas Indonesia. Semoga buku-bukunya berguna :))

Selesai menggambar, anak-anak mengikuti peserta dewasa lain yang sudah mulai menanam pohon. Pohon-pohon yang ditanam adalah duku, menteng, buni, bambu, sawit, glodokan, petai, flamboyan, tanjung, rambutan, trembesi, karet munding, beringin bayan, dan ketapang mini.

Cuaca yang sempat mendung namun kemudian panas menyengat sempat membuat semangat saya surut ketika memunguti sampah, entah dengan yang lain, kayanya sih saya doank hehe. (beneran deh, nggak kuat sama panasnya -_-‘). Saya pun mencoba menghindar dengan mencari sampah di bawah deretan pohon pisang. (panas menjadi alibi. Ketahuan kan carinya pisang!! )

Karung yang lama-kelamaan bertambah berat karena sampah yang dipungut menggunakan capitan, mengingatkan saya pada sampah-sampah di hilir sungai di Angke. Karena toh sampah-sampah di pertengahan sungai ini pun akan mengalir ke muara laut sana. Kepedulian sekecil apapun bagi sungai bagian hulu dan pertengahan akan sangat berarti pula untuk sungai bagian hilir dan ekosistem mangrove di muara laut.

Cukup banyak yang kami kumpulkan, dan sama seperti di Angke: sampah paling utama adalah kantong plastik dan kemasan makanan. Membuat saya semakin menyadari betapa pentingnya mengurangi satu saja kantong plastik dan sterefoam yang sulit terurai itu. Selain memungut sampah di darat, beberapa orang menggunakan perahu karet yang dibawa teman-teman dari Seni Dan ALam IKJ (SENDAL) untuk mengambil beberapa sampah di sungai.

Selepas pukul 12.30 semua yang hadir menyudahi memungut sampah dan ngariung bareng di saung Sanggar Daun. Kesan, pesan, dan saran semua dituangkan dalam pertemuan tersebut. Hadir pula dalam pertemuan adalah Mas Hapsoro dan Mas Hari dari KPC (Komunitas Peduli Ciliwung), Mas Sudirman Asun dari Jakarta Glue, teman-teman SENDAL IKJ, dan teman-teman dari komunitas lain yang saya lupa namanya hehe. (penonton kecewa, nulisnya nggak komplit neh! )

Meskipun sampah yang terangkut pun belum semuanya (karena memang tidak akan cukup hanya dalam waktu beberapa jam saja untuk mengangkat semua sampah) namun dengan adanya pertemuan singkat itu diharapkan menambah jejaring di antara teman-teman sesama pecinta sungai dan menambah kepedulian dan kecintaan pada lingkungan secara keseluruhan.

Hulu-tengah-hilir sama pentingnya…

-jangan harap ada foto dalam cerita kali ini yah, saya lagi nggak bawa kamera hehe-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *