Pasir Putih-Nusakambangan

Selain memiliki penjara di dalamnya, Nusakambangan ternyata juga memiliki nilai sejarah yang panjang dan pasir putih yang cukup memikat. Pintu masuk menuju pulau ini terdiri dari beberapa jalur. Jalur menuju pasir putih berbeda dengan jalur menuju lapas. Kami menyeberang ke Pulau Nusakambangan melalui perahu yang disewa dari Pantai Teluk Penyu.

Teluk Penyu

Perahu yang kami tumpangi ngambat di tepi pantai, dan untuk bisa melaju, bapak nelayan yang akan membawa kami harus menunggu ombak yang cukup besar datang lebih dulu supaya ia bisa mendorong perahu lebih ke tengah.

Dua puluh menit kami menunggu. Akhirnya segulungan ombak yang cukup besar datang, perahu pun didorong oleh dua nelayan yang siap mengantarkan kami meninggalkan pantai Teluk Penyu menuju Pulau Nusakambangan.

Perahu lain

Sesekali kami berjumpa dengan perahu nelayan lain. Selain kesamaan dalam bentuk, ternyata semua perahu nelayan itu juga memiliki kesamaan lagi. Yaitu dipenuhi dengan bendera partai warna-warni. Saya menoleh pada perahu yang kutumpangi, ah tak jauh berbeda. Tapi di ujung kayu kecilnya ada sebuah bendera merah putih kecil yang sudah mulai usang.

Kira-kira lima belas menit waktu tempuh yang dibutuhkan untuk menyeberang. Perahu disandarkan dan kami pun turun. Batu-batu karang kasar menyambut kami yang tak memakai alas kaki.

Rupanya perahu yang mengantar kami akan kembali ke Teluk Penyu terlebih dulu, sehingga mereka bertanya berapa lama kami akan di pulau ini untuk kemudian mereka jemput kembali.

Seorang anak menghampiri kami, menawarkan jasanya untuk menjadi pemandu pulau. Rangga, nama anak itu.

Sambil berjalan kami bertanya pada Rangga yang duduk di kelas 2 SD, mengenai dirinya dan mengenai pulau ini. Ternyata ia adalah anak dari pemilik warung yang ada di depan pulau tadi. Jika sedang membantu ibunya berjualan, ia harus berangkat ke sekolah dengan menyeberang pulau naik perahu terlebih dulu. Saya memandang Rangga yang sedang lomba lari dengan ayah menyusuri jalan menanjak berbatu, menyesal tak membawa buku cerita anak.

Jalan menuju pasir putih ternyata lumayan jauh dari tempat kami berlabuh tadi. Kiri dan kanan kami dipenuhi dengan pepohonan, jalanan terkadang menanjak dan menurun. Suasana sunyi, hanya terdengar sesekali suara burung elang di atas pohon.

Jalan teruuuus

“Ini meriam jaman Portugis dulu.” kata Rangga, menunjuk pada meriam besar di sebelah kanan kami.  “Nanti di dalam sana juga ada benteng.” lanjut Rangga.

Kami terus berjalan melewati semak belukar, sungai kecil, pepohonan tinggi-tinggi, dan menjumpai kepiting kecil di jalan berbatu itu.

Rangga lalu berkata. “Lewat sini. Lewat dalam benteng.” katanya sambil berbelok ke kiri, lalu menuruni tangga menuju suatu bangunan di bawah yang suram sekali.

Saya berpandangan pada kakak. Dari luar saja hawanya sudah tidak enak. “Ke pasir putihnya harus lewat situ? Nggak ada jalan lain?” tanya saya meyakinkan Rangga.

Rangga menjawab sambil hampir tak menoleh, “Enggak.” Jelas sekali hanya ia yang sudah biasa dan sama sekali tak keberatan masuk ke dalam benteng. “Gelap, jadi harus pake senter.” lanjut Rangga lagi.

Haduuuh maaak! Harus masuk ke benteng jaman Portugis, gelap-gelap pula. Saya menoleh pada semua keluarga. Yah mau tak mau harus lewat sini, apa boleh buat. Dengan komat-kamit baca doa kami lalu menuruni tangga dan mulai masuk benteng. Jalanan yang kami lewati merupakan sebuah lorong sempit, langit-langitnya pun rendah. Di sebelah kiri dan kanan kami ada banyak sekali pintu masuk ke ruangan benteng, namun ruangan itu sama sekali gelap dan tak terlihat apa-apa.

“Di sana banyak sesajen.” kata Rangga sambil mengarahkan senternya pada ruangan-ruangan itu.

Saya tak menoleh ke arah yang ditunjuk Rangga, pokoknya jalan terus, nggak usah tengak-tengok.

Kami pun keluar dari benteng bertingkat itu dan kembali bertemu jalan berbatu. Di luar benteng tertera tahun pembuatannya (namun saya lupa tahun berapa).

Beberapa meter dari benteng, kami menuruni anak tangga kayu dan akhirnya tiba di Pasir Putih yang dimaksud.

Saya menoleh ke kanan. Hanya ada sekitar 4 orang anak remaja yang sedang bercanda sambil mencipratkan air. Dan tepian pantai yang bisa ditelusuri memang tak banyak, karena ini hanya seperti cerukan di sebuah pulau. Istilahnya ini hanya satu sisi pulau. Bukan susur pantai dari ujung ke ujung seperti di Ujung Genteng.

Pasir di pantai itu lembut, dan terdiri dari dua macam pasir. Pasir putih disertai bebatuan karang kecil, dan jika berjalan ke cerukan pulau, kaki kita akan disapa dengan pasir lembut sekali yang bercampur dengan warna abu-abu. Ada yang menyebutnya dengan nama “pasir-besi”.

Di ujung cerukan bisa dijumpai mata air yang mengalir dari sela-sela pepohonan lalu langsung mengalir menuju laut. Ketika kami menghampirinya, di dekat mata air itu tertera tulisan: “Jangan dikotori, karena air ini bisa langsung diminum.”

Ombak di cerukan pantai ini besar sekali karena langsung menghadap ke samudera sehingga tidak bisa untuk berenang. Tapi hanya bermain-main di pinggir saja sudah nikmat. Karena serasa pantai keluarga saking sepinya.

Saya dan kakak berlari-lari mengejar kepiting-kepiting yang warnanya serupa sekali dengan warna pasir. Dan di tebing di depan kami terlihat ada tiga ekor biawak yang sedang memanjat dengan cepat.

Setelah puas berfoto-foto kami pun meninggalkan pantai itu. Kembali menyusuri jalan berbatu, dan kembali memasuki Benteng Portugis, kemudian menyempatkan diri makan tempe mendoan dulu di warung, untuk kemudian kembali menempuh 15 menit perjalanan kembali ke Teluk Penyu.

One thought on “Pasir Putih-Nusakambangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *