(2) Raungan Sunyi

Aku tergopoh-gopoh menyambar tas dengan tangan kiri, sementara tangan kanan masih sibuk menyumbat lubang hidung yang sedikit berdarah karena sebuah mata peniti (bukan jarumnya) sempat mampir di sana dan mencolok hidungku cukup keras.

Terdengar ketukan di pintu dan aku berteriak memanggil ibuku yang masih berada di dalam kamar;

“Bu, udah sampe tuh.”

Nisa membuka pintu dan muncul dengan mata yang merah dan sembab. Ibuku bergegas keluar, pamit secara terburu-buru pada ayahku dan kami bertiga berjalan cepat menuju ambulans yang parkir di depan rumah.

Pintu ambulans terbuka dan suasana di dalamnya gelap, aku hanya melihat bayang-bayang orang-orang dan mengenali mereka dari suaranya. Di satu sisi, samar-samar dalam gelap, kulihat Mamah Luki berbaring, menyapaku dengan suara pelan.

Ibuku naik lebih dulu, dan di sampingnya sudah ada suami dari mamah Luki. Ketika ayah Luki menyapa ayah dan kakakku, yang juga keluar rumah untuk menghampiri ambulans, suaranya terdengar parau.

Mobil ambulans mulai melaju ke luar kompleks perumahan, aku mengusap bahu Mamah Luki, mencoba melihat raut wajahnya namun tak terlihat karena gelap. Di bangku depan terlihat kepala Nisa dan Luki adiknya.

Kami sekarang berada di jalan raya, Mang Aman menyalakan sirine, dan mobil ambulans yang kami naiki pun meraung-raung memecah keheningan jalan raya yang sepi akibat ditinggal warga menonton pertandingan sepakbola Indonesia VS Malaysia yang baru saja selesai setengah jam yang lalu.

Mobil, motor, semua minggir ketika kami lewat, beberapa di antara mereka “menumpang” ketika ambulans kami menerobos lampu merah. Sesekali Mamah Luki meringis, tangan kiriku mengusap bahunya, sementara tangan kananku masih menyumbat lubang hidung.

Aku baru sadar kalau sejak tadi ibuku memegang erat tanganku, berpikir bahwa ia mungkin salah pegang (bahwa yang ia ingin genggam mungkin tangan Mamah Luki) maka aku menarik tanganku, tapi ternyata ibuku malah gantian mecengkeram erat kakiku.

Halah mak..aku baru ingat. Dalam situasi seperti ini memang aku sebenarnya tak hanya berusaha menenangkan Mamah Luki dan diriku sendiri tapi juga ibuku. Naik bersama orang yang meringis-ringis menahan sakit di atas ambulans yang meraung-raung dengan kecepatan laju yang tinggi tentu membuat ibuku, yang punya sifat panik, menjadi bertambah panik luar biasa.
Maka kubiarkan saja ibuku mencengkram kakiku. Lampu-lampu jalanan warna-warni di luar sana berkelap-kelip menggoda namun tak kuperdulikan, sama tak perdulinya dengan kekalahan Indonesia 3-0 atas pertandingan yang baru saja selesai. Aku hanya ingin kami cepat sampai di RS Dharmais.

Aku mengusap pipiku yang terkena sedikit lelehan air mata, bersyukur suasana gelap sehingga Mamah Luki tak bisa melihat aku yang menangis. Sungguh aku tak mau menangis lagi di depannya.
Tanpa kusadari kami sudah memutar di dekat RS Harapan Kita. Dan itu berarti beberapa meter lagi sampai. Ambulans berbelok ke pelataran parkir RS Dharmais lalu berhenti di depan UGD.

Ayah Luki, Mang Aman, dan Om Gito menurunkan roda ranjang tempat Mamah Luki berbaring dengan hati-hati. Saat itu barulah aku bisa melihat jelas wajah Mamah Luki yang sayu.

Kami mendorong Mamah Luki masuk ke dalam UGD , sepi sekali ruangan itu. Beberapa kali datang ke RS Dharmais baru kali ini aku “nyasar” ke ruangan ini. Seorang suster jaga menghampiri kami, menanyakan masalah penyakit, kartu pasien, dan sebagainya. Ayah Luki pun menuju lobi untuk pendaftaran, sementara sang suster jaga mulai mengambil peralatan infus, suntikan, dan alat-alat lain.
Nisa berjengit melihat segala suntikan itu. Suster mendorong tirai untuk menutupi dirinya dan Mamah Luki agar bisa diperiksa lebih teliti.

Kami pun menyingkir, duduk di kursi tunggu.
Aku mengusap kepala Luki, matanya merah, entah ia mengantuk atau tadi ikut menangis.

Waktu berjalan sangat lama ketika kami menunggu sampai ayah Luki menyelesaikan semua berkas administrasi dan mencari kamar untuk istrinya.

Suster jaga telah selesai memeriksa Mamah Luki, aku mendekati ranjang dorong dan bercerita pada Mamah Luki perihal hidungku yang kecucuk peniti. Ia meringis dan sedikit tertawa melihat aku memperlihatkan hidungku yang luka. Selanjutnya kami hanya terdiam dan sesekali aku memegang tangannya.

Sudah pukul 11 malam. Mang Aman yang menyupir ambulans akan pulang. Ibuku dan Mamah Luki pun menyuruhku pulang. Meski berat, tapi aku berpikir untuk mengistirahatkan tubuhku dulu agar tetap sehat dan bisa menjenguknya lagi.

Aku pulang dengan ambulans yang kali ini melaju dengan sepi, tanpa raungan sirine. Mang Aman pun tak banyak berbicara. Hanya sesekali ia berkelakar mengenai Mamah Luki yang tak mau dibawa ke rumah sakit sebelum pertandingan bola usai, karena tak mau mengganggu kesenangan suami dan anaknya (padahal sang suami pun pastinya tak konsentrasi menonton).

“Masa ke rumah sakit nungguin bola selesai dulu.” Begitu ledek Mang Aman.

Aku tertawa kecil namun terdiam kembali. Membayangkan pengobatan demi pengobatan yang akan dilalui Mamah Luki di rumah sakit. Suasana jalan yang lengang membuat aku tambah terdiam. Betapapun kerasnya kanker usus itu menyerbu (semoga saja belum menjalar ke mana-mana) aku yakin ia kuat. Hanya dengan dukungan dari lingkungan dan SEMANGAT dari dalam dirinya lah yang akan mampu membuatnya bertahan…

Apapun yang terjadi kau harus kuat…

(bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *