(3) Ia yang kuat

Akhir Desember 2010

13.00

Saya menggigit bibir sambil menatap layar hp yang tak kunjung berbunyi. Berapa lama sih operasinya? Kenapa sekarang belum juga ada kabar selesai?

16.00

Tas hitam yang saya sambar dengan terburu-buru hampir menabrak deretan buku di atas meja kerja saya, dengan langkah yang terburu-buru juga saya bergegas menuju tempat absen dan melesat ke jalan raya, menunggu bus dengan tak sabar menuju Grogol.

Awan gelap pertanda hujan tak mau pergi sejak tadi siang, namun tak kunjung juga ia menurunkan air bawaannya.

Arah Grogol pasti macet banget. Gerutu saya dalam hati.

Bus Patas pun datang, saya naik dan menempati salah satu tempat duduk di dekat jendela. Begitu bus melaju, hujan pun turun, semakin lama semakin deras. Perkiraan mengenai macet tak meleset. Ketika melewati pintu 1 Senayan, bus tak kunjung bergerak selama hampir 20 menit. Jam pulang kantor dan hujan deras adalah dua kombinasi kemacetan parah tak terkira yang bisa membuat saya tertahan di bus selama hampir 2-3 jam dari waktu normal 45 menit menuju Pancoran.

Apalagi sekarang dengan rute menuju Grogol! Saya merutuki resapan air yang banyak menghilang di kota ini.

Bus berjalan perlahan, dua sosok laki-laki naik, membawa gitar dan satu lagi membawa biolanya. Ah, inilah salah satu hiburan yang kusukai jika menaiki bus besar. Permainan musik yang cukup membuat kagum namun dibawakan dengan sederhana bisa kutemukan di sini. Saya bahkan pernah bertemu dengan dua anak seusia SMA yang berduet memainkan biola dengan sangat mahir. Sayangnya, suasana hati yang tak mendukung saat itu membuat saya tak terlalu memperhatikan dua orang yang sedang bersiap tampil di hadapan penumpang itu.

Di luar hujan deras tak terkira. Hembusan angin bahkan bisa terlihat dari sini. Tetes-tetes air yang terbawa ke arah berlawanan dengan laju bus membuat saya bisa merasakan betapa kuatnya tiupan angin itu. Pohon-pohon di tepi jalan pun ikut meliuk menyeramkan.

“When the children cry…”

Sang seniman jalanan mulai bernyanyi, memainkan gitar dan menggesek biolanya. Biasanya setiap melihat biola digesek saya selalu memperhatikan dengan seksama pada si violis bagaimana caranya agar alat musik itu bisa berbunyi. Tapi seperti yang sudah saya bilang, suasana hati yang tak mendukung membuat saya hanya melirik sejenak untuk kemudian berpaling lagi ke jendela.

Namun telinga ini ternyata tetap menyimak dengan seksama. Gesekan biola yang semakin lama semakin mengiris hati, membuat saya semakin berusaha untuk menahan air mata. Ah, tapi bukankah tak usah ditahan. Justru menangis saja sekarang. Menangis saja sekarang sehingga nanti tak ada lelehan air mata di hadapannya.

Dua jam perjalanan rasanya lama sekali. Melewati Slipi, jalan raya banjir parah, hujan mulai mereda, namun tetap deras. Lama beberapa menit kemudian saya pun turun, berjalan menapaki aspal yang semuanya tergenang. Celana panjang dan sepatu yang basah membuat saya tak nyaman. Di rumah sakit nanti seharusnya saya membawa kebersihan dan bukannya kebecekan.

Sambil terus menerabas tetesan hujan, saya memasuki halaman parkir RS Dharmais, berusaha sekuat tenaga menahan air mata ketika melewati gerbangnya. Hujan deras luar biasa tadi rupanya tak sederas air yang saya tahan sekuat tenaga dalam diri ini supaya tidak tumpah. Ketika menapaki lantainya dan melewati pintu yang terbuka otomatis, perasaan saya rasanya semakin tak karuan. Semakin dekat harusnya air mata ini semakin bisa saya tahan. Namun yang ada malah sebaliknya. Sungguh saya tak suka ini.

Saya berdiri kikuk di depan lift. Sejenak ingin kabur dulu ke kamar mandi sebelum naik ke atas. Namun, begitu saya ingin berbalik, pintu lift terbuka, Nisa dan Luki menghambur keluar sambil cengar-cengir. Berikutnya mereka cekikikan menyadari untuk apa mereka keluar dari lift jika kemudian akan naik lagi bersama saya.

“Wah basah semua, mbak?” Nisa memperhatikan celana dan sepatu saya yang basah terkena becekan.

Lantai 3. Saya keluar, mengikuti langkah Nisa dan Luki. Jantung ini berdegup kencang menahan segala campur aduk yang ada di dalam hati. Di depan lobi lantai 3 berturut-turut terlihat ayah Luki, ibu saya, Om Ucup (tetangga nenek yang menyupiri mobil), dan beberapa keluarga dari Mamah Luki.

“Masuk, mbak. Udah jam besuk kok.” Ayah Luki berkata pada saya. Matanya merah, sepertinya campuran antara mengantuk dan menangis.

Saya masuk ke dalam ruangan, lagi-lagi mengikuti Nisa dan Luki. Sampai di depan pintu, alas kaki dicopot, dan kami pun masuk ke dalam kamar cukup besar. Empat pasien yang pertama saya lihat sedang tidur. Seorang suster tampak di samping salah satu pasien, memeriksanya, dan mencatat sesuatu di kertas. Kami melangkah ke ujung kanan. Saya melangkah perlahan, mengatupkan bibir rapat-rapat, dan berdiri di samping Mamah Luki yang tertidur. Entah berapa lama tadi operasinya, pasti dia kelelahan sekali.

Selang yang terhubung pada monitor membentuk suatu grafik, dan alat semacam infus terhubung pada kantong yang di dalamnya ada gelembung-gelembung air. Selimut membungkus tubuh Mamah Luki sampai leher.Sejenak saya hanya terdiam. Sementara Luki sedang sibuk menyikut-nyikut kakaknya supaya bertanya pada suster.

Hening. Di ruangan itu hanya ada suara “nit…nit” dari monitor dan sedikit bunyi dari gelembung air. Lama kelamaan lelehan di mata ini meluncur deras. Mengalir tanpa bisa saya hentikan. Bersyukur Mamah Luki masih tidur sehingga ia tak melihat saya menangis. Air mata ini menetes dan terus menetes sampai akhirnya berhenti secara mendadak ketika sang suster, yang sedari tadi mondar-mandir, menjawab pertanyaan Luki mengenai kapan ibunya akan sadar; “Ibu udah sadar kok, bangunin aja.” Jawabnya sambil tersenyum.

Buru-buru saya mengelap air mata dengan kerudung, baju, dan jaket. Nisa memegang bahu sang ibu, memanggilnya dengan pelan. Sedetik kemudian Mamah Luki membuka matanya. Ia memperhatikan kami bertiga bergantian. Saya nyengir padanya, berdoa berulang-ulang semoga tidak ada air mata yang tersisa saat itu di pipi saya. Namun jika nanti Mamah Luki akan bercerita mengenai perasaan sakitnya sambil menangis terbaring seperti ini, saya rasa saya tak akan bisa menahan tangisan di depannya.

Mamah Luki masih terus menatap kami, ia kemudian mengangkat dagunya sedikit, mengisyaratkan menunjuk sesuatu sambil memandang Luki. Rupanya kondisinya masih sangat lemah sehingga belum memungkinkannya untuk berbicara.

“Kenapa?” tanya saya bingung.

Mamah Luki masih terus berisyarat mengarahkan matanya pada Luki.

Nisa berkata heran; “Jaket? Jaket Luki baru?” tanyanya.

Mamah Luki mengangguk sambil sedikit tersenyum.

Nisa terpaku, namun menjawab; “Iya tuh. Beli tadi di pasar.”

Mamah Luki menunjuk-nunjuk jaket Luki lagi dengan dagunya sambil tersenyum.

“Bagus??” tanya Nisa pelan.

Mamah Luki mengangguk lagi, dan (tetap) tersenyum kembali.

“Jaketnya bagus ki kata ibu!” seru saya senang sambil menoleh pada Luki.

Namun ternyata anak kelas 6 itu sesenggukan, menyandarkan kepalanya pada saya dan mulai memeluk saya. No way.

Saya menoleh ke Mamah Luki. Ia menggeleng-geleng. Wajahnya adalah raut tak suka. “Luki, jangan nangis ki!” saya berkata dengan sudut bibir sambil menginjak-injak kakinya. Menyuruhnya berhenti menangis.

Saya menoleh pada Nisa, memohon agar ia membantu menyuruh Luki diam, karena mamahnya masih menggeleng-geleng tak suka. Namun ternyata Nisa pun sesenggukan, menyadari sang ibu bisa tahu jaket baru Luki begitu ia membuka mata, rupanya membuat kakak beradik ini tak kuasa.

Saya menginjak kaki Nisa. Dan ia pun akhirnya menarik Luki dari pelukan saya untuk keluar ruangan. Saya menelan ludah. Berdoa semoga benteng yang saya bangun sangat kokoh sehingga tetap bisa menahan air mata ini.

Mamah Luki memperhatikan saya dan tanpa diminta saya bercerita bahwa saya baru sampai, di luar hujan deras, macet parah, dan banjir. Cerita saya terpotong ketika suster meminta waktu sejenak untuk memeriksa Mamah Luki. Ia meletakkan kertas besar di meja di ujung dekat kaki pasien, lalu mengangkat selimut yang menutupi Mamah Luki. Sementara yang diperiksa memilih untuk memejamkan mata sejenak.

Dan ketika selimut itu diangkat, terlihatlah lubang di perut sebelah kirinya, tertutup plastik transparan yang terhubung pada sebuah kantong transparan juga. Dan itulah saluran pembuangan permanen milik Mamah Luki mulai sekarang, setelah operasi, sampai seterusnya. Dulu, hati saya rasanya hancur mendengar pilihan yang akan terjadi jika Mamah Luki memilih operasi. Ia akan terus membawa dan bergantung pada kantong itu selamanya untuk buang air besar. Karena itulah dulu ia sempat menolak operasi.

18.45

Saya melirik Mamah Luki yang masih memejamkan matanya. Tak ada air mata sama sekali darinya, jauh berbeda dari apa yang saya duga bahwa ia akan menangis-nangis sambil bercerita perasaannya pasca operasi.

Jam besuk akan habis pukul 19.00 “Ya Tuhan, 15 menit lagi saja. Please… tolong air mata ini tahan dulu. 15 menit lagi…” Rintih saya dalam hati.

Saya kembali cepat-cepat mengusap air mata ketika suster selesai mengecek semua kondisi Mamah Luki. Selimutnya turun. Saya menaikan kembali selimutnya, ia membuka mata dan lagi-lagi ia mengangkat dagunya.

“Dingin ya?” tanya saya.

Ia mengangguk. Rupanya ia ingin selimutnya menutupi bagian leher seperti sebelum suster memeriksanya. Saya menarik selimut sampai leher namun Mamah Luki masih kedinginan.

18.55

Luki dan Nisa kembali masuk. Kami berempat mengobrol mengenai apa yang harus dilakukan supaya ibunya tak kedinginan. Namun dalam hati saya bergetar, menahan diri. Lima menit lagi, Tuhan. 5 menit lagi.

19.00

Suster mempersilahkan kami keluar dan kami pun bergantian mencium kening Mamah Luki. Dalam beberapa langkah saya menoleh dan tersenyum nyengir padanya yang disambut dengan senyuman pula. Dan tetap tak ada air mata di matanya. Begitu keluar ruangan, benteng ini pun runtuh. Saya menarik Luki ke lorong, memeluknya dan menangis sejadi-jadinya.

(bersambung)

0 thoughts on “(3) Ia yang kuat

  • June 6, 2011 at 3:47 pm
    Permalink

    semoga lekas sembuh ya jeng, mamah Luki. semoga diberi kekuatan selama waktu yang diberikan oleh Allah. semoga keluarga diberi kekuatan, ketabahan dan doa yang tak putus untuk mamah luki 🙂

    Reply
    • June 7, 2011 at 1:53 am
      Permalink

      Amin. Terima kasih.
      Waktu mau ikut kegiatan birdwatching pertama kalinya dulu, saya dilarang habis-habisan sama ibu saya. Buat beliau, pengamatan burung, hutan mangrove, burung air dan semacamnya adalah sesuatu yang sama sekali asing baginya. Dan Mamah Luki adalah orang yang meyakinkan ibu sampai saya diperbolehkan dan mendorong saya utk tdkmenyerah selama kegiatan yang saya lakukan adalah sesuatu yg positif.

      thanks bro doanya. 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *