Perjalanan panjang; mimpi Edelweiss

“I’ll spread my wings and i’ll learn how to fly.. i’ll do what it takes ’till i touch the sky.. “ ~Kelly Clarkson, Breakaway~

Awal 2008

“Boleh naik gunung nggak?” tanya saya pada sang profesor yang sedang memasang ujung stetoskop di telinganya.

Sejenak saya merasa dia akan mengeluarkan sederet pertanyaan seperti; “Gunung apa? Sama siapa? Di mana?”.

Ia kemudian menjawab dengan sangat cepat, lebih cepat dari yang saya duga, sambil mendengarkan ritme detak jantung saya dengan stetoskopnya; “Boleh. Tapi jangan cepat-cepat.” Katanya ringan, seolah yang saya tanyakan adalah tadi pagi makan pakai apa.

“Boleh??” tanya saya lagi tak percaya.

“Boleh saja. Tapi jangan lari naiknya.” Jelasnya lagi. Tetap ringan, dan santai. Lalu diteruskan dengan memuji kalung manik-manik yang saya kenakan.

Saat itu rasanya dentingan irama kicauan burung, suara jangkrik, gemericik air, dan gesekan daun yang tertiup angin memenuhi seantero kepala saya.

Begitu keluar dari ruangan sang dokter, aula rumah sakit tiba-tiba dipenuhi pepohonan tinggi-tinggi, Owa Jawa (Hylobates moloch) bergelantungan di dahannya. Lichen memenuhi permukaan kayunya, beberapa jamur menempel di batang kayu yang patah di permukaan tanah, dan lambat laun terlihatlah puncak Gede Pangrango di depan sana.

13 Mei 2010

(Ditulis setelah turun dari Bukit Cipanas, sekian meter di atas permukaan laut)

“Mendaki”.

Entah karena apa yang saya lihat begitu membuat terpana, sampai-sampai ulat bulu gendut yang biasanya bisa membuat jejeritan pun kulihat sambil tersenyum. Sepertinya memang butuh mendaki dan lebih banyak jalan kaki. Meski hanya bisa sampai Cibereum, meski hanya bisa sampai Ranupane dan itupun harus mengulang puluhan kali.

Masih dengan alasan yang sama ditambah dengan alasan mengatasi diri sendiri…

Perjalanan ke bukit

4 Desember 2010

Mari berhitung berapa kali saya bermimpi. Bermimpi melewati gerbang besar bertuliskan “Taman Nasional Gede Pangrango”, sesudah melewatinya saya pulang lagi, lalu terbangun karena alarm. Atau bermimpi caving di gua, entah di mana, dan ketika baru saja pasang harnest dan alat-alat lain di mulut gua, tiba-tiba saya terbangun, dibangunkan emak untuk shalat subuh.

Atau bermimpi bergabung bersama gelembung-gelembung di kedalaman sekian meter dengan visibility yang sangat baik bersama penyu hijau (Chelonia mydas).

Ah, jangan ditanya. Apalagi jumlah mimpi yang terakhir disebutkan itu banyak sekali muncul. 🙂

Ada banyak keterbatasan, bahkan untuk hal yang terakhir disebutkan itu keterbatasan ini mendekati kata “tak mungkin”.

Dan untuk masalah mendaki. Saya pun hanya berani bermimpi, pun ketika sang dokter langganan sudah memberi lampu hijau, saya tetap merasa belum mampu bergabung bersama ajakan orang-orang dalam suatu perjalanan pendakian menuju puncak gunung.

Saya pernah berkata jikalau suatu hari nanti bisa sampai di Cibereum atau Ranu Pane saja, itu sudah bonus luar biasa dariNya.

Dan kesempatan itu datang beberapa tahun kemudian. Beberapa teman kampus mengajak untuk sampai ke Cibereum. Biasanya mereka naik sampai puncak Gede-Pangrango, namun kali ini mereka berniat untuk sampai di ketinggian Cibereum saja.

Semua dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Jogging yang terkadang bolong di sabtu minggu saya penuhi keduanya. Dua putaran lapangan kali ini sudah bisa ditempuh sekaligus, mengingat sekitar satu-dua tahun yang lalu berjalan cepat saja detak ini sudah bergemuruh dengan sangat kacau.

Ternyata intinya adalah latihan teratur secara rutin. Memperbanyak jalan kaki, lalu meningkat sedikit demi sedikit menjadi lari kecil alias jogging.

Saya memasukkan kamera dan makanan kecil, menjejalkannya di antara pakaian ganti, lalu memilih antara dua jaket. Mana yang akan saya bawa dan mana yang akan dikenakan. Satu hal yang sangat penting adalah saya harus membawa dua jaket ke tempat yang udaranya dingin atau berpotensi kehujanan.

Tiba-tiba saya melirik pada sesuatu di atas tempat tidur: Cibe.

Ajak, nggak, ajak, nggak.

Saya kembali menengok pada sisa ruang di tas. Tak muat.

Ah, Cibe. Maaf yah tak diajak. Padahal Cibereum adalah tempat di mana namamu berasal.

Cibe ke Cibereum

^^^^^^^^^^^^^^^^

19.30

Kami ber-enam berangkat dari Depok menuju Terminal Kampung Rambutan, kemudian menunggu bis yang melewati jalur puncak untuk kemudian turun di Cibodas. Sementara saya akan menuju rumah kerabat di Cipanas dulu untuk menyampaikan titipan nenek.

Sampai di Kampung Rambutan sudah hampir pukul setengah 9. Cukup lama kami menunggu bus antar kota itu. Terminal semakin ramai dengan bus yang lewat dan calon penumpang. Manakala ketika satu bis datang, seorang bapak yang duduk di dekat jendela mengedipkan matanya pada arah saya (atau orang di belakang saya). Saya menoleh ke belakang, laki-laki yang sedang menghadap ke arah kanan, sibuk mengobrol pada temannya. Baiklah. Saya berdiri semakin merapat pada teman-teman saya. Berharap bus kami segera datang.

Pukul 21.00 akhirnya kami naik, mencari tempat ternyaman untuk tidur. Seperti biasa saya duduk dekat jendela, supaya lebih leluasa memandang ke luar (asal nggak kedip-kedip kaya bapak tadi ya).

Bus melaju meninggalkan terminal, celotehan teman-teman saya kadang menghilang karena tertidur, kadang muncul lagi. Saya yang memejamkan mata, yang ternyata sampai bus memasuki Puncak pun tetap tak bisa tidur. Seperti biasa, sulit bagi saya untuk tidur dalam situasi berada di atas alat transportasi yang menempuh perjalanan. Lebih mudah memandang langit di luar dan kelap-kelip lampu penduduk di depan sana.

Pukul 23.00 teman-teman saya pun turun lebih dulu di Cibodas. Sementara saya (dan si abang) masih beberapa meter lagi ke Cipanas. Ketika turun dari bis, lelah karena tak bisa tidur dan belum mandi sejak sore, saya berjalan sambil tersandung-sandung di antara jalan berbatu yang tak diberi penerangan itu. Sondi, sang sepupu, menunggu di ujung gang. Salakan anjing yang khas setiap saya datang ke tempat bermain masa kecil ini terus membahana mengiringi langkah kami di tengah jalan gelap menuju rumah sepupu nenek itu.

Setelah memberikan titipan nenek, mengobrol ke sana kemari bersama bude dan keluarganya, pukul 00.30 akhirnya saya tertidur sambil membayangkan gerbang besar yang pernah ada dalam mimpi saya itu. Kami memutuskan untuk bertemu (dengan mereka yang sudah di Cibodas) esok pagi pukul 06.00 di pintu masuk balai Taman Nasional Gede-Pangrango.

5 Desember 2010, 05.00

Inilah yang namanya icip-icip cuci muka atau mandi bebek. Saya bergidik sambil mencuci muka dan sikat gigi. Buru-buru kabur dari kamar mandi (yang bahkan lantainya pun dingin), lalu bergegas ke luar, hampir saja menginjak Ringo yang tidur dekat pintu, anjing kesayangan alm. Kakek yang sudah tinggal di sini sejak lima tahun lalu.

Begitu masuk kembali ke dalam rumah, terlihat bude sudah sibuk dengan segala nasi bungkus, bihun goreng, ayam kecap dan kerupuk di piring di depannya.

“Sudah mau jalan? Nanti dulu, belum dibungkusin.” Katanya sambil menuangkan nasi ke dalam kertas-nasi, lalu membungkusnya.

“Belum. Mau bangunin si abang dulu.” Jawab saya cengar-cengir sambil melirik semua makanan yang akan dibungkus.

Seru nih makan di hutan! 😀

Pukul 06.00 saya, abang, dan sepupu menuju jalan raya. Sondi hanya akan mengantar kami sampai naik angkot yang waktu tempuhnya hanya sebentar dari Cipanas, melewati jalan kecil yang sepertinya akan tembus langsung ke pintu masuk TNGP. Udara pagi yang menyerbu dari jendela angkot membuat saya yakin kali ini bukan mimpi. Berdoa semoga dilancarkan perjalanan ini.

Setelah bertemu dengan empat teman lainnya, pukul 06.40 kami berenam memulai melangkah menuju Cibereum. Sampai melewati pintu masuk TNGP, kami banyak bertemu sekelompok pendaki lengkap dengan peralatannya ataupun anak-anak remaja yang hanya membawa tas kecil sambil memutar radio keras-keras di ponselnya.

Parijoto atau Showy Asian Grapes

“I tried to concentrate on my breathing and the placement of each step. “Rhythm,” I willed. “Find the rhythm.” ~ Erik Weihenmayer ketika mendaki Denali

Undakan-undakan tangga dengan susunan bebatuan tampak menanjak di depan kami. Satu, dua, saya terus melangkah memantabkan kaki, dan juga hati. Tak berpikir apa-apa kecuali melangkah satu per satu menaiki anak-anak tangga bebatuan. Menenangkan hati dan pikiran agar detak ini berdetak (meski lebih cepat dari yang lain) namun tetap teratur.

Jarak tempuh menuju Cibereum adalah 2,6 km. Waktu tempuh normal adalah satu jam, namun mengingat tiga di antara kami belum pernah melakukan pendakian maka saya perkirakan waktu tempuh menuju Cibereum menjadi dua jam.

Permukaan tanah campur bebatuan yang licin membuat kami harus melangkah hati-hati. Tumbuhan paku, lumut, dan tumbuhan tinggi khas ekosistem hutan submontana bertebaran di sisi kiri dan kanan, tetes-tetes embun masih tersisa di ujung daunnya. Seiring langkah yang terus berjalan menanjak, wangi tanah lembab khas hutan terus meruap di sekitar kami.

Pukul 07.48 kami sampai di area yang disebut Telaga Biru. Area ini rupanya menjadi incaran pengunjung untuk sekedar beristirahat sejenak. Kami duduk di akar pohon yang mencuat ke atas tanah, menenggak air minum sambil memandang telaga yang saat itu berwarna kehijauan. Tumbuhan Pacar Air (Impatiens platypetala) marak mengelilingi telaga, sementara beberapa dahan dan ranting di seberang sana terlihat jatuh menjuntai sampai menyentuh permukaan airnya.

Kami meneruskan perjalanan kembali dan beberapa menit kemudian sampai pada sebuah jembatan kayu, yang tersusun rapi, dengan latar belakang Puncak Pangrango yang sedikit tertutup kabut nun jauh di sana. Saya menginjakkan kaki pada permukaan kayunya, sekejap menahan nafas, lalu menghentikan langkah.

Sudahkah saya bercerita bahwa diri ini ingin sekali ke TNGP karena melihat sebuah foto yang diambil di tempat ini? Awalnya mimpi itu bukan sampai di Cibereum, namun jembatan kayu Rawa Gayonggong ini dengan latar belakangnya. Hanya ini saja..

Kecubung Hutan atau Angel’s Tears

Dengan hati-hati saya meneruskan langkah melewati jembatan di antara deretan tumbuhan bunga kecubung yang mencuat di sebelah kiri, berjalan semakin mantab sambil membetulkan tas di pundak. Lalu melompati beberapa lantai kayu yang berlubang sehingga harus ekstra hati-hati supaya tidak terperosok. Suara cuit-cuit burung, kumbang, jangkrik, dan segala penghuni hutan seolah menyeruak di antara semak belukar dan timbul tiba-tiba di antara serasah sambil berkata; “Tak sia-sia kau punya suatu mimpi, boi.”

Bermimpilah 🙂
Enter a caption

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Kami lalu tiba di sebuah pos. Di atasnya terlihat sebuah papan bertuliskan “Panyangcangan”. Di sana sudah ada sekelompok pemuda lengkap dengan tendanya. Kami lalu mengambil posisi, mengeluarkan makanan, menderetkan gelas, membuka bungkus nasi, dan memasak air. Sambil menawarkan cemilan, salah satu dari kami bertanya pada sekelompok orang di sebelah kami itu, rupanya mereka baru saja turun dari puncak.

Lapar luar biasa dengan jalan kaki yang menanjak selama kurang lebih satu setengah jam, membuat kami (terutama saya) menyerbu bekal makan seadanya yang dijejerkan itu. Nasi, ayam kecap, dan kerupuk serta beberapa cemilan pun habis dibagi enam. Sayang sekali aroma bihun goreng mengarah pada “basi”, karena langsung dibungkus ketika masih panas, padahal sepertinya enak 🙁

Serbuuu
Santap makanannya!

“I felt the earth beneath my feet, sat by the river and it makes me complete.”

~ Keane, Somewhere only we know~

Bungkus makanan pun mulai berpindah dari tas ke kantong sampah. Usai mengisi perut dan menghangatkan diri dengan teh lemon panas, kami kembali melanjutkan perjalanan dengan energi baru. Kicauan burung semakin marak terdengar jauh di dalam hutan, tak terlihat sosoknya. Kami terus melangkah dan lamat-lamat gemuruh air mulai terdengar. Semakin lama semakin jelas. Meski tak ada milestone saat itu yang menyembul menembus sela dedaunan, di tengah vegetasi hutan yang semula berada di dalam mimpi, rasanya seolah energi yang jauh lebih hangat mengalir menjalar mulai dari kaki sampai kepala.

Suara luncuran deras air bervolume besar memenuhi telinga kami. Di depan sana, dengan setiap cipratan airnya, Curug Cikundul melontarkan ucapan selamat datang pada kami.

Melimpah ruah

Terdapat tiga curug atau air terjun di lokasi ini, yaitu air terjun Cikundul, air terjun Cidenden, dan air terjun Cibereum. Volume air yang melimpah membuat saya harus menyembunyikan mumu di balik jaket agar tak kena cipratan airnya. Air terjun ini cukup ramai dipenuhi pengunjung yang mengisi hari liburnya, baik warga lokal maupun interlokal seperti kami. Anak-anak kecil yang tak memakai baju berseliweran di sekitar air terjun Cikundul. Kontras dengan saya yang memakai jaket dua lapis.

Karena terasa ramai, kami menyingkir ke sebelah kanan, dekat air terjun Cibereum yang sepi. Lalu duduk dengan asal di bebatuannya, kembali mengeluarkan cemilan, dan memasak air untuk minum kopi atau teh lemon lagi.

Lumayan biar anget :p

Beberapa kupu-kupu spesies Udara Akasa atau White Hedge Blue yang sibuk berkejaran menarik saya untuk perlahan mendekatinya. Entah apa yang sedang ia hisap di bebatuan, mungkin kotoran burung?

White Hedge Blue bertiga
Jamur
Bandotan atau Goatweed atau Whiteweed

Satu jam lamanya kami di sana. Bertukar makanan yang kami bawa (atau meminta makanan bagi yang tidak bawa hehe) sambil sesekali meneropong pepohonan dengan binokuler, mana tahu tiba-tiba ada Elang Jawa yang terlihat, sambil tetap saja meracau yang mengakibatkan tertawa sampai tak bisa berhenti kalau sudah ngumpul seperti ini.

gerombolan Cibereum :p
Gangguin :p

Tiba-tiba kabut turun, dan sepertinya mulai gerimis. Kami membereskan alat-alat memasak, gelas, kamera, binokuler, dan sampah-sampah ke dalam tas.

Setelah memastikan tidak ada barang ataupun sampah yang tertinggal, kami berfoto dulu di bawah air terjun Cikundul untuk kemudian memulai perjalanan turun.

Seru! 😀

Seringkali kami berpapasan dengan sekelompok orang yang memulai perjalanan naik, sambil membawa carrier besar di pundaknya. Baik laki-laki maupun perempuan, memulai pendakian untuk menuju puncaknya, melewati Kandang Badak, menyaksikan matahari terbit, atau mengagumi indahnya Lembah Mandalawangi seperti Soe Hok Gie.

Saya tersenyum pada mereka.

Maybe the real beauty of life happened on the side of the mountain, not the top.” ~Erik Weihemayer~

Adakah yang lebih indah dari ini? Sebuah perjalanan panjang menuju Cibereum yang berawal dari sebuah mimpi 🙂

“Is this the place we used to love? Is this the place that i’ve been dreaming of?”

~ Keane, Somewhere only we know~

tak terdefinisi 🙂

Terima kasih kepada Allah SWT yang telah mengizinkan saya menjejakkan kaki di sana secara nyata.

Dan terima kasih kepada semua teman seperjalanan.

Jalan lagi yuk 🙂

Serta untuk semua pengalaman (dan sebuah omelan) di sana yang mengingatkan saya akan sebuah kesabaran dan pentingnya mengingat (selain jaket) tas yang baik untuk punggung!

4 thoughts on “Perjalanan panjang; mimpi Edelweiss

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *