Tulungagung dan Blitar, 2009

Sejak awal saya sudah tahu bahwa ini pastinya bukanlah perjalanan wisata. Sejak satu minggu sebelum sidang, Mamak berkata bahwa ia akan menjenguk adiknya yang terbaring di rumah sakit di Tulungagung. Ia berencana berangkat pada hari rabu. Mengingat jadwal sidang skripsi yang jatuh pada hari Jumat, 2 hari sesudahnya, tentu saja saya tak mengiyakan ajakannya. Hanya bisa mendoakan perjalanan Mamak supaya lancar dan berkata mungkin lain kali bisa ikut.

Maka hari Sabtu Mamak berangkat ke stasiun membeli tiket kereta. Ternyata faktanya adalah tiba-tiba ia menelepon dan berkata bahwa tiket untuk perjalanan hari senin, selasa, rabu, kamis, dan jumat habis, yang ada adalah tiket untuk hari sabtu.

Saya cekikikan mendengarnya, lalu langsung meminta izin pada ayah untuk ikut Mamak. Maka jadilah beliau membeli dua tiket, dan kami akan berangkat satu hari selepas saya sidang skripsi.

10 Juli 2009

Sambil melangkah pulang dengan nilai yang (buat saya) sudah luar biasa, saya pun mulai berpikir mengenai perjalanan esok hari. Perjalanan ke Jawa Timur yang kedua kalinya setelah Malang tahun 2008 lalu. Dan kali ini juga tentu saja bersama si biru.

11 Juli 2009

Selama perjalanan ternyata tak jauh berbeda seperti sewaktu naik kereta satu tahun lalu itu, kecuali kali ini AC kereta jauh lebih dingin dan kami tiba lebih cepat 3,5 jam karena turun di stasiun Tulungagung, sekian kilometer jauhnya dari Malang.

Stasiun Tulungagung
Stasiun Tulungagung

Tulungagung merupakan sebuah kabupaten yang berbatasan dengan Blitar, Kediri, dan Trenggalek. Setibanya di stasiun kami dijemput oleh kakak ipar Mamak dan anaknya, lalu menaiki becak menuju rumah yang tak terlalu jauh dari stasiun. Di sinilah saya bertemu Eca, bocah 3 tahun yang sudah pandai sekali merangkai kata.

Siang harinya kami menuju rumah sakit. Adik Mamak rupanya terserang stroke. Kabarnya ia adalah seorang yang sangat aktif. Tepat sebelum sakit, ia dan teman-teman satu komunitasnya ramai-ramai mengayuh sepeda mendaki dan menuruni bukit. Dugaan besar faktor utama sakitnya adalah kelelahan.

Setiap harinya rutinitas kami di Tulungagung ini adalah bolak-balik ke rumah sakit dengan naik becak. Saya tahu ini bukan perjalanan wisata, maka saya tak terlalu mengharap Mamak mengajak saya putar-putar kota. Ajakan itu justru datang dari istri adik Mamak itu. Mungkin karena jenuh dengan suasana rumah sakit yang sudah ia datangi dan mengingat kondisi suaminya selama satu bulan ini, di suatu sore ia mengajak saya putar-putar kota dengan becak yang sudah dipesan. Kami ke pasar membeli kerupuk, makan nasi goreng, dan berputar lagi sampai hari gelap.

Tulungagung pagi hari
Tulungagung pagi hari

Becak dan sepeda sepertinya adalah alat transportasi utama kota ini. Kendaraan bermotor roda dua ada namun tak terlalu banyak saat itu. Dan sejauh yang saya lihat seluruh pengendaranya menggunakan helm (hal yang pada tahun itu masih banyak dilanggar di Jakarta).

Bceak dan sepeda :)
Bceak dan sepeda 🙂

Namun hati-hati jika menaiki becak di jalan utama kota ini, karena merupakan jalur lintas kota, ada banyak sekali truk-truk besar yang melintas dengan barang-barang berat.

Esok harinya saya mengajak salah satu sepupu untuk mengantar saya ke Alun-Alun Tulungagung, yang saya lihat ketika berputar dengan becak kemarin. Alun-alun ini berupa taman yang ramai dikunjungi orangtua, dewasa, dan anak-anak untuk melepas penat. Di beberapa sudut diletakkan batu-batu kecil yang biasa digunakan, umumnya oleh orangtua, untuk terapi kaki. Di sudut lain, sosok kakek dan cucunya yang sedang memberi makan burung merpati menarik perhatian saya.

Anak kecil dan merpati
Anak kecil dan merpati
Masjid Agung Al-Munawwar
Masjid Agung Al-Munawwar
Arsitektur masjid
Arsitektur masjid

DSC03903 copy

15 Juli 2009

Kanan atau kiri?
Kanan atau kiri?

Hari itu kami diberi kesempatan untuk berkeliling ke Blitar. Berbicara tentang Blitar tentu saja berkaitan erat dengan Presiden Soekarno. Makam Bung Karno yang menjadi tujuan utama wisatawan di Blitar ini terletak di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan. Kompleks makam ini terdiri dari beberapa bangunan pendukung seperti Gapura Agung, masjid, taman, dan halaman parkir.

Kompleks makam
Kompleks makam

DSC03954 copy

Makam ini menjadi area wisata religi dan terbuka untuk umum. Bangunan utamanya yaitu Cungkup Makam Bung Karno, memiliki tipe arsitektur Joglo. Cungkup Makam Bung Karno ini disebut dengan Astono Mulyo.

Astono Mulyo
Astono Mulyo

Kompleks pemakaman ini juga dilengkapi dengan museum dan perpustakaan yang dibangun pada tahun 2003. Museum tersebut berisi foto-foto dan lukisan yang berkaitan dengan kehidupan Presiden pertama Indonesia tersebut. Seperti biasa peraturan di dalam museum adalah pengunjung dilarang memotret! Sayangnya kami tak masuk ke dalam perpustakaan, Eca sibuk menangis karena kelelahan XD.

Perpustakaan
Perpustakaan

DSC03938 copy

Setelah itu kami menuju Bendungan Wonorejo dengan waktu tempuh dari Blitar adalah 1,5 jam. Jalan menuju bendungan ini berkelok dan menanjak. Ternyata jalur inilah yang biasa digunakan adik mamak untuk bersepeda.

Waduk ini terletak di Desa Wonorejo, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung. Pembangunannya dimulai pada tahun 1992. Waduk ini membendung Kali Gondang dan Kali Song, yang juga merupakan sub DAS (Daerah Aliran Sungai) Brantas, dan diresmikan tahun 2001.

Landscape sekitar waduk
Landscape sekitar waduk
Di tepi bendungan
Di tepi bendungan

Waduk Wonorejo berfungsi sebagai penyedia bahan baku air minum, pembangkit tenaga listrik, pengendali banjir, serta sebagai objek wisata. Tiket masuknya yang tergolong murah, yaitu Rp. 2000,00, dan keteduhan tempatnya cocok dijadikan tempat wisata bersama keluarga untuk sekedar melepas penat.

DSC03991 copy

Sama Eca :D
Sama Eca 😀

Dua hari kemudian kami bertolak ke Jakarta dari Surabaya. Mamak berpamitan pada adiknya, yang dalam kondisi lemahnya tak mau melepas tangan sang kakak. Selama 1 minggu ini dikunjungi Mamak, beliau ternyata mengalami perbaikan kesehatan yang signifikan.

Sekitar dua bulan kemudian beliau pergi menghadapNya, tepat ketika Mamak dan kakak-kakaknya yang lain dari Payakumbuh berniat menjenguk kembali.

Keluarga Tulungagung
Keluarga Tulungagung

^^^^^^^^^^^^^^

Terima kasih kepada Allah SWT yang memberikan kesempatan pada saya untuk merenung akan karunia kesehatan dariNya.

DSC03959 copy

Sayangnya saya lengah sejenak. Sepulang dari Tulungagung saya lantas memperoleh hadiah perjalanan lulus ke Pulau Rambut. Dan masalah terjadi karena saya kurang minum selama perjalanan yang penuh sengatan panas itu, sehingga esok harinya langsung terserang gejala thypus. Alasan saya nggak mau banyak minum karena takut kebelet beser pas lagi di kapal kayu haha. Pemikiran yang sangat salah di tengah perjalanan yang butuh banyak cairan, lagipula kan bisa numpang di Pulau Untung Jawa T_T

“If you have health, you probably will be happy, and if you have health and happiness, you have all the wealth you need, even if it is not all you want.” ~Elbert Hubbard~

0 thoughts on “Tulungagung dan Blitar, 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *