(4) Temaram

Temaram cahaya

Malam itu adalah yang pertama kalinya saya mengunjungi Bulik Pikoh pasca operasi. Tubuhnya yang dulu gemuk, kini melangsing. Berat badannya turun sekitar 10 kilogram. Terlihat jelas dari pipinya yang tak lagi gembil seperti dulu. Ia tersenyum senang menyambut kedatangan saya, sambil agak meringis sesekali, mengingat jahitannya masih belum mengering. Kondisinya pun masih lemah sehingga  menggunakan kursi roda untuk berpindah dan lebih banyak berbaring di kasur yang diletakkan di ruang keluarga.

Saat itu di rumahnya ada saya, adik ipar Bulik Pikoh (Bibi Eci) beserta dua anaknya, serta Luki. Bayu, anak ke-2 Bi Eci, yang berusia 2 tahun sibuk mengejar laron yang masuk ke dalam rumah, bersama Luki. Semakin lama ternyata semakin banyak jumlah laron yang masuk ke dalam ruangan, mengerumuni lampu dan beterbangan di setiap sudut.

“Matiin aja deh, ki lampunya.” Pinta Bulik Pikoh. Satu laron rupanya terbang dan masuk ke sela-sela bajunya, membuatnya, yang belum bisa banyak bergerak, kesulitan.

Luki bergegas ke belakang, lalu kembali dengan senter di tangannya. Ia kemudian mematikan lampu. Dalam suasana yang gelap, sosok Bayu, yang sedikit terkena sorot lampu senter Luki, terlihat panik, celingukan mencari pegangan, dan merengek meminta lampu dinyalakan kembali.

Pasukan laron yang semula mengerumuni lampu kelimpungan, lalu lambat laun terbang ke luar rumah, berganti mengerumuni lampu di ujung jalan.

Bayu masih merengek meminta lampu dinyalakan kembali. Luki memberikan senter pada saya, lalu berusaha membuat Bayu diam dengan membuat bayangan di tembok.

“Lihat! Ada bebek, Bayu!” seru saya, mengarahkan bayu supaya menoleh ke tembok, di mana seekor bebek, yang ditimbulkan dari bayangan tangan Luki, berada.

Bayu diam beberapa detik, lalu tertawa kegirangan ketika Luki mengubah bayangannya menjadi rahang buaya yang mengatup-ngatup. Bi Eci ikut meramaikan dengan angsanya.

Tiba-tiba satu sosok lagi bayangan muncul.

“Ada kelinci.” Seru Bulik Pikoh tiba-tiba.

Bayu tambah girang. Tak perduli lagi dengan tidak adanya penerangan di dalam rumah. Ruang kecil itu penuh dengan suara kami yang bercerita tentang kelinci, angsa, bebek, dan buaya.

Sambil berbaring, Bulik Pikoh terus membuat bayangan kelinci yang melompat-lompat. Ia melipat tangannya sedemikian rupa sehingga membentuk, tak hanya kepala, tetapi juga tubuh kelinci.

Klik. Luki menyalakan lampu.

“Ibu, gimana sih tangannya?” Rupanya ia menyalakan lampu untuk meminta ibunya mengajarkan melipat jari supaya berbentuk kelinci.

Bulik Pikoh menjelaskan satu per satu cara melipat jarinya. Saya dan Luki berusaha keras mengikuti, tapi tak berhasil.

“Masa sih nggak bisa? Ibu bisa kok!” seru Bulik Pikoh sambil tertawa.

“Coba lagi.” Luki mematikan lampu, lalu mengarahkan senter kembali pada tangan ibunya. Lagi-lagi sosok bayangan kelinci muncul. Melompat-lompat di tembok dengan riang, kabur dari bayangan angsa tangan Luki yang mengejarnya, membuat Bayu semakin tertawa senang dan meraih-raih bayangan sehingga tangannya pun ikut menari-nari di tembok.

Saya dan Luki terus mencoba membuat bayangan kelinci dengan susah payah di kegelapan dan hasilnya nihil.

“Ih, gampang tau..” seru Bulik Pikoh lagi.

Sambil terus berusaha melipat jari, untuk kesekian kalinya saya menyadari bahwa saya salah. Saya pikir kunjungan pasca operasi ini akan terisi penuh dengan Bulik Pikoh yang mengeluh sakit dan menangis-nangis. Nyatanya tidak. Ia memang meringis kesakitan karena jahitan operasinya yang belum hilang sepenuhnya, ia pun sempat menangis. Tapi ia tak mengisi hari-harinya dengan ratapan. Ratapan bahwa sekarang kondisi pasca operasi berbeda dengan kondisinya sebelumnya.

Sosok kelinci terus menari-nari riang di tembok, memberi pengertian pada saya tentang sebuah harapan untuk tersenyum menatap masa depan. Untuk berusaha dengan sebaik-baiknya. Bulik Pikoh menerima kondisinya, bersama sebuah kantong di perutnya mulai sekarang sampai seterusnya, dan ia tetap tersenyum sama seperti senyum sebelumnya. Cerah menatap harapan.

Suara jangkrik memenuhi sekeliling rumah, pasukan laron masih mengerubungi lampu jalan dan sesekali kelelawar pemakan buah terbang melintas dengan sangat cepat. Malam semakin larut, ruangan yang gelap sekarang dipenuhi semua yang sudah mengantuk dan lelah bermain bayangan. Saya berpamitan pada Bi Eci, berbalik menatap Bulik Pikoh yang tertidur, tidur yang sepertinya lebih pulas dibanding dahulu ketika setiap malam ia merasakan sakit yang amat sangat di perutnya. Saya menunduk dengan perlahan, mengecup pipinya.

You’re the best.” Bisik saya.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Hope is the only bee that makes honey without flowers.” ~Robert Ingersoll~

Cerah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *