Buku di dalam buku

Mungkin saya tahu jawaban kenapa saya suka sekali dengan boneka beruang (selain karena beruang adalah yang paling banyak ditemukan di tukang boneka) sepertinya juga karena buku “Si Rambut Emas dan tiga beruang” adalah buku cerita pertama yang selalu dibacakan ayah untuk saya. Saking cintanya pada buku tersebut, saya minta dibacakan ayah setiap malam sampai usia 5 tahun.

Sesudah itu kami berlangganan majalah BOBO yang harganya saat itu sepertinya Rp.1.500,00. Bertahun-tahun kemudian, ketika harganya melonjak menjadi Rp 10.000,00 untuk satu majalah, kami pun berhenti berlangganan. Ayah terkadang membelikan buku cerita dalam waktu-waktu tertentu sebagai gantinya. Karena terbiasa, ketika menginjak SMA saya pun rela tak jajan, menabung demi membeli buku tebal yang harganya cukup mahal saat itu.

Malam hari dalam cahaya penerangan yang meredup, saat ayah mulai membuka halaman demi halaman, yang mungkin beliau pun sudah hafal isinya di luar kepala, menunjukkan gambar sesosok anak dengan rambutnya yang keriting dan latar belakang rumah keluarga beruang sambil suaranya mulai melantunkan cerita sehingga mata saya hanya terpusat pada buku dalam genggaman, saat itulah pertemanan saya dengan buku dimulai.

Kegiatan membaca dilakukan oleh banyak orang. Di stasiun, di terminal, di ruang tunggu rumah sakit, di kereta, di bus, dan bahkan di toilet.

Seorang ibu memperdengarkan bacaan ayat suci Al Quran pada anaknya yang masih dalam kandungan. Ia membacakan dan mengenalkan ayat tersebut pada sang janin, di dalam perut, yang mendengarkan dengan seksama lantunan terindah di seluruh alam semesta.

Ketika usia anak menginjak sekian bulan, para orangtua pun sudah bisa mengenalkan buku untuk mereka. Buku untuk bayi biasanya berbahan tebal dan tidak mudah robek, ada juga yang berbahan kain dan berwarna-warni sehingga menarik. Bahkan ada lagi buku yang bisa dibawa sang bayi ketika berendam di bak mandi.

Mengenalkan buku sejak dini

Pengenalan buku pada anak sejak usia dini turut berpengaruh pada kemampuan membaca dan kecintaannya pada buku kelak. Anak-anak yang mengenal buku sejak kecil biasanya memiliki perbendaharaan kata yang lebih luas dibanding anak-anak yang tidak. Kegiatan membaca bagi anak pun mampu menciptakan kegiatan positif sehingga anak tidak melulu menonton televisi dengan tayangan beragam yang seringkali tidak mendidik.

Baca bersama

Menurut Sulistyo-Basuki (1993), tujuan seseorang membaca adalah untuk kesenangan, kegembiraan, dan santai. Tujuan lain yaitu untuk memperoleh informasi, untuk memperoleh pengetahuan dan belajar, serta membaca untuk kombinasi hal tersebut.

Dalam tulisannya, Lasa H.S (2009) menguraikan bahwa membaca merupakan usaha penyebaran gagasan dan upaya kreatif. Siklus membaca sebenarnya merupakan siklus mengalirnya ide pengarang ke dalam diri pembaca yang pada gilirannya akan mengalir ke seluruh penjuru dunia melalui tulisan (buku, artikel, makalah seminar, hasil penelitian) dan rekaman lain. Membaca menumbuhkan kreativitas karena dalam proses membaca tidak saja terjadi proses penyerapan informasi, tetapi juga ada proses seleksi, pengolahan, dan usaha kreatif untuk dikembangkan. Manfaat lain yang diperoleh yaitu merangsang sel-sel otak, karena dengan membaca pemikiran yang positif seseorang dapat menjaga kinerja otaknya secara psikologis sehingga tetap berfungsi optimal. Manfaat lain yaitu meningkatkan perbendaharaan kata dan membantu mengekspresikan pemikiran.

Pada beberapa tulisan diuraikan bahwa minat baca bangsa Indonesia rendah. Benarkah?

Tahun 2008 lalu sebelum berdirinya perpustakaan di panti asuhan Kalibata, saya datang sambil membawa beberapa buku bacaan anak. Berhubung pasukan sepupu memang berjumlah banyak, maka tersedia cukup banyak bacaan anak di rumah. Saya mengeluarkan buku-buku dari tas, yang kemudian disambut anak-anak itu dengan malu-malu. Tapi tak lama kemudian mereka cepat sekali melahapnya dan bertanya adakah buku yang lain lagi?

Selesai berkunjung, saya pun pulang dengan tetap membawa buku-buku tersebut ke rumah. Minggu berikutnya saya datang dengan membawa buku yang berbeda. Begitu terus berulang-ulang dan mereka seolah ketagihan. Suatu hari saya datang dengan tidak membawa buku, karena kunjungan tersebut hanya selewat mampir. Mereka (terutama yang kecil) meloncat-loncat ketika saya datang dan hal pertama yang ditanyakan adalah apakah saya membawa buku atau tidak. Mereka tidak percaya pada jawaban saya dan baru percaya begitu isi tas diperlihatkan. Dan terlihat jelas raut kecewa di wajah mereka. Momen itu menjadi dering bel bagi saya sebagai tanda bahwa: “sudah saatnya mereka memiliki perpustakaan”. (lihat cerita perpustakaan mereka di sini)

Mungkin bukan minat bacanya yang rendah, tapi akses terhadap buku bacaannya yang rendah. Harga buku yang tinggi membuat banyak keluarga tidak menjadikan buku bacaan sebagai kebutuhan utama mereka. Ditambah dengan perpustakaan sekolah yang hanya menyediakan buku pelajaran serta metode pengajaran yang tidak melibatkan perpustakaan dalam prosesnya, serta tidak tersedianya perpustakaan umum yang memadai dengan lokasi terjangkau.

Seseorang yang banyak membaca buku adalah seseorang yang kemudian banyak menulis. Mereka yang membaca buku kemudian menuangkan ide dan pemikiran yang dimilikinya ke dalam sebuah tulisan untuk kemudian disebarkan ke banyak orang. Dan begitu seterusnya sehingga tercipta sebuah siklus pengetahuan yang diharapkan semakin meningkatkan kualitas masyarakat.

Bagaimana nasib membaca buku dengan semakin maraknya penggunaan internet dan peningkatan e-book? (bahkan saya menulis ini di blog). Beberapa pihak memperkirakan buku akan punah sebentar lagi, di mana semua orang akan membaca bahan pustaka dalam bentuk elektronik.

Namun pada hakekatnya keberadaan buku tetap dibutuhkan dan tetap mendapat tempat di hati banyak orang. Tentu saja itu karena buku tercetak bisa dibaca di mana saja, mudah dibawa (kecuali berat dan tebalnya melebihi kemampuan si pembaca), tidak membutuhkan perangkat untuk membacanya seperti komputer, jaringan internet, atau listrik. Misalnya ketika seorang peneliti akan menembus hutan belantara untuk meneliti serangga selama berhari-hari, maka akan lebih baik jika ia membawa buku panduan tercetak, dibandingkan perangkat untuk membaca e-book identifikasi serangganya.

Buku tetap dibaca di mana saja, baik ketika menunggu teman di halte atau seperti seorang teman dari Jepang yang tetap serius membaca buku di dalam Kopaja 63 dari Blok M menuju Depok yang penuhnya ampun-ampun. Di tengah himpitan manusia di kiri-kanannya, tangan satu sang penjelajah dari Jepang itu sibuk bergelantungan dan tangan satu lagi memegang buku yang penuh tulisan kanji. Atau angkot yang ngebut sana-sini sampai melaju dengan penuh gujlakan tak menyurutkan niat seorang ibu untuk membaca di dalamnya, termasuk saya (pada cerita di sini). Lagipula tentu akan sangat merepotkan dan mengundang copet jika membaca e-book di ponsel atau dengan e-book reader di angkutan dan bus umum.

Books are a uniquely portable magic. ~Stephen King~

Baca bareng Dede Aya

Referensi:

Lasa Hs. (2009). Peran perpustakaan dan penulis dalam peningkatan minat baca masyarakat, Visi Pustaka, Vol. 1,  No. 2, Agustus 2009, h. 6-14

Sulistyo-Basuki. (1993). Pengantar ilmu perpustakaan. Jakarta: Gramedia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *