Brace: sebuah catatan

Untuk mereka,

yang sama-sama mengenakan brace.

DSC_1195

“Ade, miringin sedikit kepalanyaa!” teriak ibu dari garasi memperingatkan saya yang sudah melangkah meninggalkan rumah untuk berangkat.

Tanpa menoleh, saya memiringkan kepala ke kiri sedikit, lalu berjalan kembali dengan kaku, nyaris seperti robot.

“Nah, begitu miringnya.” Sambung ibu lagi.

Saya tertawa, masih tanpa menoleh ke belakang dan terus menatap ke depan. Maksudnya khawatir jika saya menoleh ke ibu lalu posisi berubah, maka kepala saya tak dimiringkan lagi seperti yang diperingatkan oleh dokter.

Begitulah. Salah satu ciri skoliosis adalah tinggi bahu tak sama, gelang panggul tak sama, dan punggung menonjol sebelah. Mungkin ini pula yang menyebabkan leher saya sedikit miring.

Pada kontrol tulang punggung yang ke sekian, dokter mewanti-wanti untuk memiringkan kepala sedikiiiit saja ke sebelah kiri. Posisi tersebut menurut dokter adalah posisi leher dan kepala saya yang paling benar, tepat, dan akurat. Sementara saya justru menganggap posisi tersebut adalah posisi kepala yang miring dan sama sekali tak relevan. Tapi ibu setuju dengan dokter. Rupanya sudut pandang saya dan orang-orang yang melihat memang berbeda. Posisi leher yang selama ini saya anggap lurus justru dilihat miring oleh orang-orang.

Meski terasa aneh dengan harus memiringkan kepala, tapi ini suatu keharusan sehingga saya harus menyetujui saran tersebut agar leher saya seimbang. Sayangnya ya itu tadi, karena sudah kebiasaan dan melihat dari sudut pandang sendiri, saya selalu terlupa memiringkan kepala sedikit ke kiri. -___-

Ah, sudahlah. Daripada pusing dengan masalah leher, bagaimana kalau kita bicara tentang brace? 😀

^^^^^^^^^^^^^^

Februari 2010

Saya dan ibu mengikuti Pak Yanto melewati lorong rumah sakit. Semakin lama kami berjalan, semakin kami menuju bagian belakang rumah sakit ini. Sampai akhirnya jalan kami buntu.

Di akhir gang kecil ini terdapat sebuah ruang dengan pintu tebal. Pak Yanto mengetuk, setelah dipersilahkan kami pun masuk. Seorang bapak yang berada di dalam dan membaca sebuah tulisan di kertas, menyalami kami dengan ramah dan mempersilahkan kami duduk.

Bagi saya ruang itu terlihat seperti bengkel dengan ukuran tak terlalu besar, dan satu kipas angin yang berputar dengan sangat kencang. Ada lagi sebuah pendingin udara tapi kelihatannya tak berfungsi. Meja-meja di belakang bapak tadi penuh dengan kertas-kertas dan map-map besar yang saya duga berisi hasil rontgen tulang punggung. Di dinding tergantung alat-alat seperti gergaji, alat pemotong yang digunakan dengan listrik, tang, dan alat-alat lain lagi yang saya tak tahu, baik nama ataupun gunanya. Di lantai ruangan sedikit berserakan potongan-potongan kecil berwarna putih (yang kemudian baru saya tahu itu adalah bagian pinggir brace).

Ketika saya berbalik, di dinding lain lagi terdapat foto seorang wanita cantik yang sedang berjalan-jalan dengan anjingnya. Di dalam foto ia sedang menoleh ke kiri. Rambutnya digelung ke atas, ia mengenakan T-shirt biru, dan celana senam yang menutupi lututnya. Tapi ada yang janggal. Kaki kanan wanita cantik itu tak ada. Berganti dengan sebuah alat menyerupai bagian robot. Tapi ia mengenakan sepatu kets seperti biasa. Saya mengalihkan pandangan lagi, di sudut ruangan ini pun berdiri dengan kokoh sebuah kaki palsu yang baru setengah jadi.

“Maaf menunggu dulu. Anda siap bikin brace?” Tanya pak Bebeng menghentikan pandangan saya yang menyapu seluruh sudut ruangnya.

Saya menjawab pertanyaannya sambil nyengir.

^^^^^^^^^^^^^

Apa yang terjadi jika skoliosis didiamkan saja? Inilah yang harus digarisbawahi. Banyak yang tidak tahu dan tidak mengerti mengenai pentingnya pencegahan supaya tidak terkena dan pentingnya pencegahan agar derajat lengkung tidak bertambah. Bahkan ada juga yang tidak sadar kalau anak mereka atau bahkan diri sendiri ternyata memiliki skoliosis. Sehingga penting sekali untuk mengetahui bagaimana keadaan punggungmu.

Saya uraikan lagi info yang beberapa hari lalu diinformasikan oleh Adis lewat twitter (@dyshelldyshell) mengenai cara mengetahui apakah kamu memiliki skoliosis atau tidak:

1. Berdiri di depan cermin, siapa tahu salah satu gelang bahu lebih tinggi dari satunya, jika iya mungkin kamu skoliosis.

2. Bagi perempuan: cek lekukan tubuh apakah simetris atau tidak.

3. Posisikan tubuh seperti sedang ruku dalam shalat lalu minta salah satu keluargamu meraba punggungmu, jika saat diraba salah satu sisi tulang belakang menonjol, mungkin kamu skoliosis.

4. PALING PENTING: pergilah ke dokter ahli tulang dan melakukan rontgen untuk mengetahui lebih jelas.

Jika sudah melewati tahap tersebut dan tahu bahwa kamu skoliosis cepat putuskan pilihan, diskusi bersama keluarga mengenai tahap selanjutnya.

Mungkin bisa berkata bahwa ini hanyalah teori dan saya mudah saja mengucapkannya, tapi percayalah bahwa jika kamu sudah tahu tahap-tahap di atas dan tahu mengenai penanganannya, segera putuskan yang terbaik.

Saya menunda skoliosis ini selama 8 tahun karena saya tahu saya memiliki skoliosis tapi tak tahu bahwa skoliosis membutuhkan penanganan khusus. Ibu pun tahu punggung kanan saya menonjol tapi tak mengerti kalau harus ke dokter. Ada kasus lain lagi yang bahkan orangtuanya pun tak tahu bagaimana kondisi punggung anaknya. Inilah pentingnya penyebaran info dan pengetahuan sejak dini mengenai skoliosis.

Kondisi pun bisa diperparah jika skolioser takut ke dokter dan terus menundanya. Bukan hanya kamu yang takut, saya pun takut. Apalagi sudah ditunda selama bertahun-tahun. Bagaimana kalau ini? Bagaimana kalau itu? Bagaimana kalau… bagaimanaaaa…. tapi tak juga berangkat ke dokter.

Maka saya pun punya pilihan: terus diamkan saja skoliosis ini, tak usah ke dokter, tak usah diobati dengan risiko terus merasakan nyeri di punggung, dobel sesak nafas karena skoliosis yang berkawan baik dengan MVP saya. Belum lagi ditambah kemungkinan jika derajat meningkat dengan jauh maka jantung dan paru-paru bisa tertekan.

Percayalah: nyeri punggung dan sesak nafas itu rasanya sama sekali tak baik.

^^^^^^^^^^^^^

Seperti yang kemarin diinfokan oleh Adis juga bahwa penanganan untuk skoliosis yang kurang dari 20 derajat adalah cukup dengan terapi, 20-30 derajat dengan terapi dan brace, lebih dari 30 derajat ditambah kemungkinan operasi (ada juga pendapat lain yang mengatakan kalau derajat 40-50 memakai brace dan lebih dari 50 derajat harus dilakukan operasi).

Bagaimana ketika harus pakai brace dan tak betah? Ah, ini tentunya menimpa semua orang yang mengenakan brace, terutama saya. Seperti yang sudah pernah diceritakan, waktu pertama melihat wujud brace pun rasanya luar biasa kacau. Sampai-sampai esok harinya, di lapangan sewaktu jalan-pagi, ketika menceritakan bagaimana wujud brace itu dan larangan bahwa untuk sementara waktu tidak boleh jogging saya masih saja menangis, pasang muka cemberut, dan mulut manyun sampai-sampai membuat mbak-mbak penjual minuman kabur.

Setiap saya mencari info tentang brace, tulisan-tulisan yang muncul hanyalah mengenai brace yang tak nyaman, brace yang membuat minder, brace yang panas, dan sebagainya. Tak adakah kebaikan dalam brace?

Brace terbuat dari bahan gips yang dicetak pada tubuh. Sehingga brace antara satu orang dengan yang lainnya pun berbeda, karena setiap lekukan bagi seorang skolioser tak sama. Bentuknya pun bisa berbeda. Ada yang dari leher sampai pinggang, ada juga yang dari punggung sampai pinggul.

Alat ini berfungsi untuk positioning (menjaga posisi tubuh stabil), mengurangi nyeri punggung, dan menjaga agar derajat skoliosis tidak bertambah.

Catatan: Sampai sekarang saya tak tahu berapa derajat kurva skoliosis saya. Dokter bilang tak usah terlalu dipikirkan. Beliau menatap ibu saya dan berkata serius: “Bu, untuk masalah derajat ini orang yang skoliosis menjadi sangat sensitif. Jadi berpikir: `Saya segini derajat, bertambah derajat dan seterusnya.’ Jadi masalah derajat tak usah sering-sering ditanyakan. Selama masih bisa ditanggulangi dengan brace, yang penting rajin saja memakainya dan rajin berenang. Oke?”

Jadi teman, mungkin hindari menanyakan berapa derajat yang dimiliki pada mereka-mereka yang sensitif atau yang baru berkenalan. Tapi kalau orang tersebut tak masalah ya silakan saja 🙂

Berikut tips bagi diri sendiri berdasarkan pengalaman selama 10 bulan ini menggunakan brace, tentu setiap skolioser punya tipsnya masing-masing agar brace nyaman digunakan karena bentuk dan bahannya yang ternyata berbeda-beda.

1. Brace (bagi saya membuat tubuh menjadi cepat gerah dan kepananasan. Maka kenakanlah pakaian dengan bahan yang mudah menyerap keringat.

Bagi yang memakai kerudung atau jilbab, berdasarkan pengalaman saya, akan lebih panas ketika mengenakan baju lengan panjang hitam yang didobel seperti di bawah ini. Mungkin bahan jenis ini menyerap lebih banyak sinar matahari sehingga lebih dan bahkan luar biasa kepanasan. Saya salah besar memakainya sewaktu ke Candi Prambanan. Macam cacing kepanasan karena tak bisa diam hehe.

Lengan panjang hitam plus brace ini cocoknya di udara dingin
Lengan panjang hitam plus brace ini cocoknya di udara dingin

Kenakanlah baju jenis itu ke tempat yang udaranya dingin. Lagipula  dengan adanya brace justru menambah hangat, seperti yang saya rasakan di Cibulao. Dan jika di tempat yang cuacanya panas, lebih baik mengenakan baju lengan pendek yang menyerap keringat, melapisnya dengan brace, lalu mengenakan baju lengan panjang.

2. (Bagi saya) berusaha memasang brace sendiri adalah suatu kesalahan besar. Karena tentu saja tak bisa menggunakan kedua tangan untuk mengaitkan brace di punggung yang notabene adalah bagian belakang.

Suatu hari saya merasa punggung nyeri karena brace tidak pas dan pergi ke kamar mandi untuk memasang ulang brace sendiri. Hasilnya? Cara pakainya kacau, yang justru malah menambah nyeri di punggung.

Jika memang tidak pas dan harus dipasang ulang, minta tolonglah pada teman. Kalau malu, minta tolong pada teman atau guru atau mereka yang kamu percaya dan tidak hobi menertawakan orang lain.

Mengenai pemasangan brace ini (bagi saya) memang tak sembarang orang bisa. Rasanya sudah belasan orang yang berusaha memasangkan brace saya dan tak semuanya berhasil. Sepupu saya menyerah; “Nggak kuat, mbak!” katanya yang langsung duduk di lantai. (eh lebay? Nggak juga, emang susah nariknya! :p). Adik-adik ibu saya bisa, tapi dengan catatan mengumpulkan tenaga dulu dan mengulangnya berkali-kali, termasuk juga kakak saya yang kalau mau masangin brace harus makan dulu hehe.

Tetangga saya? Mereka juga kebagian pernah dimintain tolong ketika ibu saya sedang tidak di rumah. Ada ibu tetangga yang sukses dan penuh semangat 45, ada juga yang santai saja tapi ternyata penuh kekuatan, ada lagi yang nggak kuat, bahkan sampe ngos-ngos-an! Kasian beliau, nggak lagi-lagi deh minta tolong beliau yang satu itu. Maap ya bu -.-.

Dan jika ada lomba pasang brace, juara 1 tentunya adalah ibu saya! Meski beliau lebih kurus, lebih kecil dari mereka semua. Terima kasih bu, tak kan bisa aku membalas semua ini…

3. Sebenarnya yang ketiga ini bukan tips, tapi sebuah larangan. Skolioser tak diperkenankan untuk membawa atau mengangkat benda-benda berat, termasuk juga menggendong. Dede Aya emang berat -__-. Tapi ini sewaktu saya belum tahu larangan itu :p. Tips ketiga adalah untuk sekarang harus bisa menahan diri dulu untuk tidak menggendong anak kecil yang lucu. Toh suatu hari nanti ada waktunya  menggendong. Di suatu hari nanti itu tentu saja menggendong menjadi sebuah keharusan hehe.

4. Brace harus dipasang dengan kencang agar berfungsi maksimal. Tentu saja kencang dalam arti tidak membuat penggunanya sesak nafas dan malah sakit. Karena dipasang dengan sangat kencang inilah yang membuat kulit di beberapa bagian luka alias lecet. Kasus saya itu terletak pada tulang panggul bagian depan (bener nggak yah namanya), baik kiri dan kanan, serta bagian punggung. Awalnya setiap berkaca rasanya sama sekali tak senang melihatnya, tapi setiap pilihan ada resikonya kan? Lecet itu akan lebih baik jika tak digaruk, karena kalau tambah luka malah tambah repot nantinya. Biasanya sih lecetnya terasa lebih baik jika dioleskan body lotion setiap sebelum pakai brace, atau kadang-kadang malah saya oleskan minyak zaitun yang sebenernya fungsi isi botol itu untuk wajah! Hehe.

5. Ada yang alas kakinya wajib ditinggikan sebelah berdasarkan perintah dokter? Pada saya misalnya, alas kaki (baik sendal atau sepatu) wajib ditinggikan 1 cm untuk sebelah kanan. Bagi orang yang tak mengerti tentu sulit sekali memahami hal ini. Sehingga pesan sepatu dan sandal terbukti beberapa kali gagal, baik di tukang sol yang lewat ataupun di toko sepatu. Katakan yang sebenarnya mengenai tulang punggung supaya mereka mengerti bahwa ini memang kebutuhan, jadi mereka pun serius dan ingat dalam masalah 1 cm ini. Sekali toko sepatu mengerti maka seterusnya mereka pun paham mengapa kita memesan sepatu dengan tinggi tak sama.

Juga katakan tidak untuk high heels. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa sepatu hak tinggi tak baik untuk punggung. Bahkan untuk orang yang tulang punggungnya lurus saja tak baik, apalagi jika memiliki skoliosis. Sedih karena tak bisa memakai high heels? Eh tapi sepatu rata juga okeh lho. Waktu menghadiri pesta pernikahan, saya malah pakai sepatu ankle boots yang sebelah kanannya memang sudah dipesan 1 cm lebih tinggi. Don’t feel worry for leaving high heels in your daily life. Sepatu flat itu juga keren!

6. Pose duduk, berdiri, dan segala macam posisi dalam berkegiatan harus benar-benar diperhatikan. Saya menyadari bahwa dalam beberapa posisi, punggung terasa tak enak dan berkesan encok. Ini berarti meskipun memakai brace tapi ada posisi-posisi yang tetap harus diperhatikan dan hanya diri sendiri yang tahu mengenai posisi tersebut.

Misalnya saja ketika sesudah kontrol pemakaian brace untuk 3 bulan-pertama, dokter memberi tahu bahwa tulang punggung saya mengalami kemajuan dan bagian atas brace pun dipotong sedikit. Karena terlalu senang esok harinya saya langsung berkegiatan di kebun, yaitu: memotong rumput! Hal yang sudah lama tidak dilakukan karena posisi jongkok membuat skoliosis saya bertambah sakit. Dengan adanya brace nyeri bisa dihindari. Tapi saya lupa satu hal, yaitu bahwa saya tetap harus memperhatikan setiap posisi tubuh dalam berkegiatan, meskipun sudah memakai brace. Dalam beberapa waktu saya duduk pada kursi kecil dan posisi tubuh menunduk untuk memotong rumput dengan gunting-rumput. Bunyi ceklak-ceklik gunting rumput terus bersahutan dengan saya yang penuh semangat. Rupanya bagian tulang di pinggang terpentok brace karena saya duduk secara terus menerus dalam posisi menunduk itu sehingga esoknya pinggang saya macam encok saja hehe. Atau lain lagi misalnya posisi tengkurap itu sangat amat tidak disarankan. Saya dipelototin waktu dokter tahu bahwa saya kadang membaca sambil tengkurap. Yang beliau katakan adalah; “Memangnya bisa?!” Lalu saya hanya bisa cengar-cengir sambil jawab; “Tapi efeknya sesudah itu leher sama kepala jadi kecengklak sih, dok.” Nah!

Ingat sekali lagi: tetap harus memperhatikan setiap posisi tubuh dalam berkegiatan.

Ada yang punya catatan berbeda? Silakan dibagi ya. Setiap orang punya solusi berbeda. Mungkin cara kamu lain lagi?

Mengenakan brace atau tidak mau mengenakannya sementara hal tersebut diharuskan bagi skoliosismu itu adalah pilihan. Misalnya sudah dibuatkan brace tapi tak mau dipakai juga buat saya (sekali lagi) itu pilihan. Pilihlah mana yang terbaik.

Setiap brace dilepas ketika mandi atau ditinggalkan di rumah untuk pergi berenang pun saya punya pilihan, membiarkan saja brace di sudut kamar lalu beraktivitas seperti mengepel lantai, mengetik, menulis, dan kemudian nyeri punggung datang. Atau memilih mengenakan brace kembali dan membantu positioning tubuh saya sehingga nyeri dan sesak nafas mau pergi jauh. Alhamdulillah MVP dan skoliosis ternyata bisa bersahabat dengan brace ini. :’)

DSC_0775
Braceku

Masih merasa minder karena memakai brace? Memang ini tak mudah. Saya pun mengalaminya. Tapi kadang ketika rasa minder datang saya justru melakukan ujian mental tahan banting dengan memakai baju yang bracenya bisa terlihat sedikit saja. (bukan yang terlihat jelas seperti foto di atas ya). Orang-orang yang memperhatikan dengan detail mungkin bertanya-tanya apa yang terlihat saya pakai ini. Lalu kenapa?

We’re not really different. Ini hanya brace untuk punggung. Serupa seperti behel untuk gigi.

Mau joget-joget seperti yang saya lakukan di Saung Angklung? Atau mau lompat dengan brace? Selama dokter masih mengizinkan dan kondisi fisik mendukung, ya lompat saja!

You’re not alone and not the only one person who wear brace like me.

“They’ve got a dream. We’ve got a dream.

So our differences ain’t really that extreme.”

~Thugs (Tangled) from Disneywords~

Baca juga sebelumnya: kualitas hidup-skoliosis.

Catatan: Tulisan mengenai brace ini menjadi semacam awal mula untuk kemudian dikembangkan kembali bersama tulisan lain di blog ini untuk kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul “Pantang padam: catatan skolioser”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *