5. Pantang padam

Untuk mereka,

yang sering kejedot brace saya di dalam bus penuh. 🙂

Maret, 2011

Saya terus mengayuh sepeda, sedikit terengah-engah karena sudah lama tidak menggenjot pedal sepeda terutama di tengah cuaca yang saat itu cukup panas. Rasanya ingin lekas sampai, tapi tak mungkin menambah laju kecepatan. Kemudian merasa sedikit lega karena diuntungkan dengan kondisi jalanan yang menurun sehingga bisa sejenak menarik nafas tanpa harus mengayuh. Sepeda pun meluncur dengan sempurna, membiarkan diri diterpa angin yang datang dari arah berlawanan.

Ah, bukan. Ini bukan adegan kabur dari rumah menuju tempat sekian meter. Meski tempat tujuannya sama seperti beberapa tahun lalu, namun kali ini dengan maksud yang berbeda.

Saya berbelok di ujung jalan, melewati pohon dengan pucuk batangnya yang selalu tak berdaun dan selalu mengingatkan saya pada pohon berjenis sama dengan elang-perut putih sedang berdiam di sarang di atasnya di Pulau Rambut.

Ketika akhirnya tiba di tujuan, saya mengerem sepeda yang kemudian menimbulkan bunyi decit roda, membuat sosok yang sedang jongkok di tepi selokan menoleh. Mamah Luki, memegang gelas besarnya yang telah kosong, nyengir pada saya. Sisa-sisa susu masih terlihat sedikit di bibirnya. Ah, pasti susu untuk kesehatan usus dan kemoterapinya lagi. Begitu membuatnya mual sampai ia memilih untuk meminumnya di luar rumah dekat selokan agar ketika muntah bisa langsung disiram dan mengalir hilang dengan lancar menuju gorong-gorong. Selepas operasi dan masuk dalam tahap pemulihan, berat badannya memang belum sepenuhnya naik. Tapi wajahnya sudah lebih segar dan ia bahkan sudah mulai bolak-balik lagi ke pasar.

Ia menyuruh saya masuk lebih dulu. Tak lama kami sudah larut dalam perbincangan di ruang sederhana itu. Sialnya, tiba di tempat tujuan ini justru membuat kata-kata yang sudah saya siapkan menguap ke udara. Hilang tenggelam. Bukannya menceritakan apa yang sejak seminggu lalu sudah tak sabar ingin disampaikan, saya malah bercerita mengenai persiapan pernikahan kakak satu-satunya yang semakin mepet saja waktunya.

Ketika  menemukan satu kata kunci, saya akhirnya menyibakkan jaket dan memperlihatkan brace yang saya kenakan. Alih-alih bertanya dan heran, Mamah Luki hanya menampakan wajah maklum dan tenang-tenang saja.

“Ooh itu..” jawabnya enteng.

Saya menatapnya heran; “Ibu emang udah cerita?”

Mamah Luki menjawab lagi; “Cerita apa? Itu yang buat pake kebaya kan?”

Saya tersedak dan menggeleng sambil menahan tawa. Rupanya Mamah Luki mengira brace ini adalah long torso yang akan digunakan ketika memakai kebaya di hari pernikahan kakak saya nanti.

“Bukan. Ini brace. Untuk tulang punggungku yang miring. Kaya penyangga gitu.”

Mamah Luki barulah mengerutkan kening, persis seperti yang sudah dibayangkan, meminta brace diperlihatkan lagi, kemudian mengajukan pertanyaan panjang lebar mengenai skoliosis. Dengan brace yang baru terpasang dua minggu, saya menahan segala hal yang selama ini mengendap dan kadang tercekat di setiap kalimat.

Ia menarik nafas panjang. “Sini.” Katanya menepuk karpet maksudnya agar saya ikut berbaring di sisinya.

Saya mengikutinya, berbaring di karpetnya, dan menatap langit-langit rumah di atas kami.

“Nggak papa lah pake itu. Supaya tulangnya kejaga kan? Supaya lebih sehat. Kalo memang harus dipakai ya nggak pa-pa. Aku aja sekarang buang air nya di kantong. Kita sama kan. Sama-sama berdoa. Sama-sama semangat.” Sambungnya lagi sambil menatap saya, dalam sekali.

Lilin di hadapan saya seketika menyala kuat kembali.

“When you treat the disease, first treat the mind” ~Chen Jen~

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Mei, 2011

“When I am down… and oh my soul so worry…

When troubles come..” ~Josh Groban; You raised me up~

Seiring dengan denting piano yang mengalun dan sang penyanyi mulai membuka suaranya, Mamah Luki menoleh ke arah saya, matanya yang kecil semakin menyipit, wajahnya cerah, melebihi kerudung dan pakaian warna ungu muda yang dikenakannya. Ia berkata sambil tersenyum sangat riang; “Aku nggak ngerti lirik lagu ini, tapi setiap kali dengerin lagunya jadi merinding. Kaya lagi disemangati.”

Saya tertawa mendengarnya, meski tak mengerti tapi ia paham makna lagu ini.

Ya, kau benar. Ini adalah tentang semangat menyemangati. Jawab saya dalam hati.

Saat itu kami sedang menghadiri seminar kanker usus (colon cancer). Mamah Luki, sebagai pasien cukup sering mendapatkan undangan seminar seperti ini. Biasanya undangan ditujukan untuk pasien dan 1-2 orang keluarganya. Hari itu suaminya memberikan kesempatannya untuk saya. “Gantian. Pasti ade mau ikut juga. Aku mah hari ini mau ngepel aja di rumah.” Katanya sambil tertawa, di dekatnya tergeletak sapu dan kain pel.

Saat kami datang, ruangan mewah itu masih sepi. Meja bundarnya masih terisi sedikit orang. Kami bersalaman terlebih dulu pada beberapa orang yang duduk tak jauh dari kami. Setelah mengambil kue pembuka yang sudah disediakan, mengalunlah lagu tadi.

Saya melirik kartu undangan, acara dimulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 14.00. Tak perlu khawatir nyeri punggung karena duduk. Insya Allah sekarang aman. Kan ada brace, seru saya dalam hati, menarik nafas lega.

Seminar pun dimulai. Para pembicaranya merupakan tiga orang dokter yang pernah menangani pasien kanker usus. Di setiap jeda antara satu pembicara ke pembicara lain, panitia menghadirkan para pejuang kanker (cancer survivor) yang telah mereka undang untuk berbagi cerita.

Survivor pertama menjalani hidup bersama kanker usus selama 15 tahun. Kanker di ususnya rupanya masih bisa ditangani, sehingga dipotong sedikit dan tak sampai memakai kantong di perut seperti Mamah Luki. Ironisnya, kakaknya yang seorang dokter bedahlah yang memotong usus adiknya tersebut.

Sang bapak yang merupakan karyawan sebuah bank itu menguraikan suka dukanya pada masa-masa ia akan dan selesai menjalani operasi. Ia mengeluarkan lembaran-lembaran kertas, dan mulailah membacakan tulisan-tulisan berisi doa-doa dan harapan yang ia panjatkan semasa sakit dan pasca operasi.

Ketika tiba giliran satu pembicara, yang merupakan satu-satunya pemateri wanita, panitia mematikan lampu sesuai dengan permintaannya. Ia kemudian memutar sebuah video, dan pandangan kami pun tertuju pada layar.

Saya menatap layar yang dibentangkan di dekat panggung dengan hati riang, mungkin ini video tentang cara-cara pencegahan kanker usus. Catatan kecil dan pulpen sudah saya siapkan sejak tadi di tangan.

Dugaan itu salah besar. Sedetik kemudian saya terdiam melihat tayangan tersebut.

Sesosok wajah muncul di awal video, usianya mungkin sekitar 28. Ia berpembawaan ceria. Bahasa yang dibawakan bukan bahasa Inggris, teksnya lah yang berbahasa Ingris. Frame kamera tetap pada wajah ceria tersebut. Usai ia bercerita, kamera kemudian zoom out. Dan terlihatlah sosoknya seluruhnya.

Tak ada dua tangan dan dua kaki pada tubuh itu. Nick Vujicic, bercerita dengan riangnya, mengenai kehidupannya yang seolah normal saja. Berjalan, berlari ke sana ke mari, makan, berkomunikasi dengan teman-teman dan bahkan datang ke sekolah-sekolah tingkat atas untuk (sepertinya) memberikan motivasi.

Ruangan saat itu gelap dan pandangan hanya tertuju pada satu-satunya penerangan di layar. Tapi saat itu rasanya seolah ada hujan bulan purnama di langit di dunia saya. Bulan purnama penuh yang seolah menjadi saksi sebuah makna pantang menyerah dan bangun lagi setelah jatuh.

Sungguh brace yang dulu saya hindari, betapapun kaku dan risihnya, tak ada apa-apanya dibanding apa yang Nick rasakan. Tak memiliki tangan dan kaki sejak lahir. Tentu sulit baginya. Tapi ia berdiri tegak dan tersenyum. Bangkit lagi dari apa yang pernah dirasakan semua orang sebagai “masa jatuh”. Tentu awalnya tak mudah bagi semua orang.

Ah, lagipula ingat kan kata-kata Garry P. Scott dalam tulisan saya waktu itu? Tentang kisah Garry Guller?

“Ia membuat pilihan untuk menaruh sebuah senyum di wajahnya….”  (Lihat tulisan di sini mengenai mimpi menyelam dalam diri)

Lampu dinyalakan kembali, tepuk tangan menggema di seluruh ruangan, sementara saya sibuk menghapus air mata yang menetes, masih dengan diam-diam. Bu dokter kemudian berkata lagi sambil tersenyum ramah; “Saya ingin memulai sesi ini dengan berkata pada orang di sebelah kanan atau kiri anda. Bunyi kalimatnya adalah; “Anda luar biasa!”

Saya menoleh pada Mamah Luki, dan begitu pun sebaliknya. Secara serentak seisi ruangan riuh dengan seruan; “Anda luar biasa!”

Tapi rasanya, bukan hanya Mamah Luki yang luar biasa. Seisi ruangan tersebut adalah orang-orang luar biasa. Ada seorang ibu yang datang dengan suami dan anaknya, ada seorang bapak yang datang dengan anaknya yang masih berusia 7 tahun, ada juga seorang guru yang bercerita bahwa selama ia sakit murid-muridnya selalu menjenguk dan memberi dorongan semangat untuknya. Tentu semangat itu muncul dari orang-orang sekitarnya, dan yang paling utama datang dari hatinya sendiri.

Saya memandang ke seluruh ruangan, pada setiap wajah tercermin keinginan untuk tak menyerah, betapapun mereka pasti pernah sempat terpuruk dan terseok-seok karena kanker yang dimilikinya. Dan orang-orang yang tak pernah menyerah ini adalah mereka yang kuat. Mereka yang positif dan optimis.

Ah, kalau sudah mengingat orang-orang yang pantang menyerah ini apa masih pantas saya mengeluh?

“Once you choose hope, anything is possible.” ~ Christoper Reeve~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *