Perpustakaan Ciliwung Condet

25 Februari 2012

Menyambung kegiatan sharing perpustakaan bersama Transformasi Hijau dan Komunitas Ciliwung Condet di awal Februari lalu (tentang sharing tersebut ada di sini dan di sini), mulailah kami menentukan rincian mengenai apa-apa saja yang dibutuhkan sebagai awal perencanaan perpustakaan komunitas ini.

Perpustakaan Ciliwung Condet diprakarsai oleh Bang Qodir, Riyan, Bang Win, serta beberapa volunteer lain. Komunitas ini merupakan komunitas lingkungan yang berfokus pada konservasi Ciliwung, khususnya di wilayah Condet. (Perlu diketahui saat ini telah banyak bermunculan komunitas-komunitas yang berfokus pada Ciliwung, misalnya Ciliwung Bogor dengan kegiatan rutinnya memulung sampah di setiap hari minggu, Ciliwung Bojong yang menjadi tempat kemping beberapa waktu lalu, Ciliwung Rawajati, dan sebagainya).

Komunitas Ciliwung Condet memiliki saung yang dijadikan tempat berkegiatan, dengan jarak sekian meter dari tepi sungai. Di depannya dipenuhi dengan pohon salak, pohon duku, gohok, menteng, dan sebagainya. Saung di awal area ini bukanlah satu-satunya. Berjalan melewati pepohonan salak kita akan bertemu dengan saung lain lagi yang dibangun dari bambu, turun ke bawah sedikit ada saung satu lagi yang berjarak sekian meter dari sungai.

Para pemrakarsa perpustakaan Ciliwung Condet berharap dengan adanya perpustakaan ini, masyarakat dari segala usia dan khususnya komunitas bisa lebih menambah pengetahuan yang dimiliki melalui kegiatan membaca, khususnya pengetahuan mengenai lingkungan serta melakukan kegiatan kreatif di dalamnya.

Hal pertama yang kami lakukan kemudian adalah melakukan pendataan mengenai koleksi-koleksi yang sudah masuk. Hal ini penting untuk mengetahui koleksi apa saja yang dimiliki perpustakaan, sehingga dengan informasi tersebut juga bisa membuat rancangan tata ruang untuk penempatan koleksi nantinya.

Pendataan hari itu dilakukan oleh Riyan, Faisal, Kiki, dan saya. Saung yang kami gunakan bukan saung utama melainkan saung kedua yang terletak sekitar 2 meter dari saung utama. Total ada 3 kardus berisi koleksi buku-buku dan satu kardus lagi berisi majalah, yang tersedia untuk kami data saat itu. (Yeaaah terima kasih banyak untuk Runi dan keluarganya yang telah menyalurkan buku-buku peninggalan taman baca sebelumnya, serta teman-teman lain yang menyalurkan melalui kami :D)

 

Mendata buku-buku

Meski saat itu daun-daun bambu bergesekan dengan semangatnya setiap tertiup angin, sayangnya bagi saya udara semakin panas saja karena sepertinya salah kostum lagi (brace tak mau kompak dengan baju hari itu -_-). Tapi meski kepanasan, yang membuat suasana menjadi lebih menyenangkan adalah faktor lokasi di mana saya berada saat itu. Di antara rimbunnya pepohonan sekitar, kolam di bawah kami yang dipenuhi ikan hilir mudik, dan meski dengan colekan-colekan dari nyamuk, rasanya ini pendataan buku paling menyenangkan karena dilakukan di ruang terbuka, tak terbatas tembok, tak terbatas atap gedung. :D. Waah bersyukur sekali Ciliwung Condet ini yang punya lahan luas. Ini sebenarnya sih impian saya dan teman-teman dulu, ingin punya basecamp perpustakaan, tapi karena memang belum ada lahan dan tempatnya jadinya untuk sekarang menclok sana menclok sini bantuin perpustakaan lain saja, sampai keinginan itu dilupakan dulu :p

Benar deh adanya kata-kata Cicero (yang kata Bang Qodir; “Cicero orang Bandung” :p) ;

“If you have a garden and a library, you have everything you need.”

Mengingat sore hari akan dilaksanakan acara dongeng oleh Kak Resha, beberapa anak mulai hilir mudik di sekitar saung yang kami tempati, memperhatikan, menunjuk-nunjuk, dan mulai mencolek-colek buku-buku yang berserakan di sekitar kami. Lama kelamaan mereka pun ikut membaca di saung, dan bahkan membantu mendata dengan membacakan judul-judul buku serta merapikan koleksi tersebut.

Satu anak bahkan sepertinya punya hobi mirip ibu saya yaitu beres-beres hehe. Buku-buku yang susunannya berantakan itu ia tumpuk dan rapikan ulang lagi dan lagi. Bahkan sampai semua buku tertumpuk rapi, ia terus saja merapikan ulang dari tumpukan buku pertama -_-‘.

Agak sulit juga menyuruh anak-anak itu keluar dari saung yang penuh tumpukan buku untuk menuju sesi dongeng. Mereka tak mau juga beranjak, entah karena keasyikan mendata buku atau keasyikan membuat tumpukan tinggi buku-buku.

Selesai mendata buku, kami akhirnya menyudahi kegiatan hari itu dan melanjutkan menonton dongeng.

Jumlah buku yang berhasil didata berjumlah sekitar 300 koleksi yang terdiri dari buku cerita anak, novel, dan buku pengetahuan lingkungan, serta beberapa buku peternakan dan perkebunan.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

“Jika buku memang adalah sahabatmu, bayangkanlah betapa tak pernah sepi hidupmu menemukan ribuan sahabat di sebuah perpustakaan.” ~ Putu Laxman Pendit ~

3 Maret 2012

Tahap selanjutnya adalah memberi label pada buku, yang kami lakukan seminggu sesudahnya. Agar tidak membingungkan, koleksi yang dimiliki perpustakaan Ciliwung Condet dibedakan dengan label warna. Label warna kuning untuk buku cerita anak, label warna hijau untuk koleksi lingkungan.

Tidak seperti perpustakaan formal pada umumnya, perpustakaan Ciliwung Condet tidak menggunakan nomor klasifikasi untuk jenis koleksi tertentu seperti koleksi buku anak. Hal ini agar tidak membingungkan pengunjung maupun pengelola perpustakaan. Koleksi buku anak ini hanya diberi label bertuliskan nama komunitas dan kata “Sungai Ilmu” di bagian bawahnya.

Kedua kata ini menggambarkan sebuah cita-cita yaitu manfaat ilmu yang ada di Perpustakaan Ciliwung Condet diharapkan bisa mengalir pada setiap masyarakat yang datang dan berkunjung, layaknya manfaat aliran sungai mulai dari hulu sampai hilir, dari sebuah perpustakaan yang terletak di tepi sungai dan berlandaskan kecintaan pada sungai juga. Manfaat ilmu yang didapat tidak hanya berasal dari buku-buku yang tersedia namun juga dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di dalamnya.

Kegiatan label hari itu dilakukan oleh para srikandi yaitu Kiki, Faizah, Tata, Rian Windarsih, Tari, dan Ria. Plus Ilham di sore harinya, serta bang Qodir. Kiki dan Faizah merupakan warga sekitar Condet, sementara Tata yang masih duduk di bangku SMA adalah anggota Young Transformer asuhan Transformasi Hijau. Rian Windarsih (awas keliru nih, ada Riyan cowo ada Rian cewe hehe), adalah mahasiswa program studi Ilmu Perpustakaan UI angkatan 2010. Dan tak lupa juga untuk dua pejuang generasi baru yaitu Tari dan Ria yang duduk di bangku SMP dan rumahnya berada dekat dengan lokasi. Weh keren euy mereka 🙂

Di antara guntingan-guntingan kecil karton warna kuning dan label buku berserakan di sana-sini, tumpukan buku-buku cerita anak, ayam-ayam hilir mudik di sekitar kursi dan meja bambu (mulai dari ayam jantan, ayam betina, sampai anak-anak ayam yang berderet-deret mengikuti induknya), kami terus memberi label koleksi pada buku sambil kadang cekikikan, kadang diam karena terlalu khusyu menggunting, kadang juga riweuh mendengarkan cerita satu sama lain. Jika bosan dengan melabel, mereka mewarnai dan membuat hiasan yang digunakan untuk rak nantinya. (tapi sayang belum bisa dipajang karena masih bingung mau ditempel di mana).

Koleksi buku anak

Saung ini merupakan tipe ruang terbuka, sehingga pun harus dipikirkan masak-masak mengenai area penyimpanan buku agar terhindar dari tetesan air hujan yang tampyas, udara lembab, ataupun faktor hewan pengerat macam tikus. Idealnya untuk tipe ruang terbuka ini adalah rak yang memiliki kaca untuk melindungi dari faktor di atas, namun juga raknya harus yang tidak mengurangi daya tarik untuk membaca karena buku-bukunya mudah terlihat dari luar.

Mengingat pada saat itu baru tersedia satu rak kaca, mau tak mau koleksi-koleksi yang tak kebagian di dalam rak tersebut masih tetap diletakkan di rak terbuka.

Esoknya di hari minggu, para relawan melanjutkan kegiatan memberi label koleksi buku (meski tanpa saya yang tidak bisa hadir).

Kegiatan memberi label cukup dulu untuk dua hari itu, untuk kemudian kami berfokus pada masalah rak supaya buku-buku tidak kehujanan dan rusak :p. Tapi sampai saat itu buku-buku sebenarnya sudah bisa mulai dibaca di tempat 🙂

26 Maret 2012

Voila! Ketika tulisan ini diedit kembali (dan baru bisa saya upload :p) ada kabar baik tentang penambahan 3 meja baca kecil dan rak buku untuk perpustakaan Ciliwung Condet.

Dan tepat hari Minggu kemarin, para tim perpustakaan berhasil menggelar acara dongeng pertama mereka! Yeaay!! *tepok tangan 😀 >> eh kalimat ini juga saya tulis di postingan sebelumnya yah :p

Sejengkal jalan setapak

Faiza, sudah bersiap sejak pukul 09.00 di lokasi untuk mendongeng. Alas untuk duduk anak-anak pun sudah disiapkan. Tapi karena semakin lama lokasi tersebut terkena sengatan matahari yang semakin meninggi, lokasi dongeng pun diputuskan untuk pindah ke bawah pepohonan, yang kemudian dirubah lagi ke saung bagian bawah (akhirnya saya sampai bawah juga :p).

Sekitar pukul 10.30 satu persatu anak-anak mulai berdatangan, Hesti dengan dua adik ciliknya, lalu Dinda dengan pasukan murid bimbelnya, keponakan Faiza, serta anak-anak lain yang berdatangan ke lokasi.

Total ada 22 anak di saung itu. Jumlah ini tentu saja serasa melonjak menjadi sekitar 30 orang, mengingat beberapa anak memiliki kemampuan berkicau dan ekspresi yang luar biasa. Sesekali terdengar kekhawatiran jika saung yang terbuat dari bambu itu bisa roboh gara-gara mereka jejingkrakan haha.

Kami melakukan permainan terlebih dulu. Games yang bertujuan untuk saling mengenalkan nama diri, melatih daya ingat nama teman yang saat itu baru berkenalan, serta menari hoki poki (ooh, i do really love Hoki Poki :D).

Daaaan mulailah Faiza mendongeng dengan membawa salah satu bukunya sehingga dongeng ini bertipe read a loud. Durasinya sekitar 20 menit. Dan usai dongeng, rupanya mereka tak mau begitu saja menyudahi permainan. Setelah rehat sejenak untuk minum dan makan kue kecil, kami pun memenuhi saung dengan tarian hoki poki dan gerakan lain kembali. Juga dengan beberapa permainan daya ingat dan kecepatan berpikir. Yang salah? Maju ke depan dan menari lagi hehe.

Dongeng Faiza :p

Selesai? Nooo! Anak-anak itu belum juga mau pulaaang! Sesekali mereka menanyakan mengenai peminjaman buku di perpustakaan dan meski suhu udara semakin panas, ternyata mereka masih tetap semangat bermain! Akhirnya semua bangkit dan keluar dari saung dan berbaris untuk permainan selanjutnya.

Bersiap main `Burung`

Saya jadi ingat salah satu celetukan dari anak-anak ketika ditanya apa yang mereka lakukan di rumah biasanya pada hari minggu; beberapa menjawab bengong, yang lainnya lagi menjawab menonton televisi, dan sisanya berkata “bosaaan.” Nah inilah manfaat ruang terbuka hijau yang rupanya dirasakan juga oleh mereka. 😀

Tim perpustakaan dan anak-anak dongeng 😀

Meski tata ruangnya masih sederhana sekali tapi hari itu anak-anak sudah bisa meminjam buku untuk dibawa pulang dengan catatan bertanggung jawab terhadap buku yang dipinjamnya tersebut. 🙂

Kegiatan hari itu berjalan sangat baik (*peluk tim satu-satu :p), dan senangnya ketika acara selesai, kiriman dua rak buku-baru pun tiba di lokasi. Rak buku yang tertutup, plus kaca, supaya buku-bukunya tidak kehujanan. 🙂

😀

Dari saya pribadi terimakasih sekali yah kalian yang dari ujung ke ujung sudah berniat membantu sampai detik ini, baik dukungan moril maupun materiil yang masuk ke dalam donasi Kelana Kelapa untuk buku-buku dan pembelian rak. (I’ll tell you more about Kelana Kelapa one day. Dan setelah yang di Condet ini bisa ditinggal dulu, mari menuju program lainnya lagi). :*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *