Perpustakaan komunitas

“Manfaat New Media & Social Media hanya kentara di masyarakat yg berpondasi baca-tulis kokoh; dan di masyarakat spt itulah ada perpustakaan.” ~ Putu Laxman Pendit ~

Setelah sebelumnya menuliskan pengalaman dan pendapat mengenai perpustakaan secara umum (tulisan di sini), mari bicara sedikit mengerucut mengenai perpustakaan komunitas.

Apa itu perpustakaan komunitas? Apakah perpustakaan yang didirikan oleh sebuah komunitas? Ataukah perpustakaan yang ditujukan untuk komunitas tertentu?

Menurut Nove E. Variant Anna (2009) perpustakaan memiliki peran yang besar dan sangat penting untuk menyediakan dan menyebarkan pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. (Bagi saya pribadi) perpustakaan komunitas adalah perpustakaan yang didirikan di tengah masyarakat, baik oleh sebuah komunitas tertentu ataupun perseorangan, yang ditujukan untuk terbukanya akses masyarakat terhadap bahan bacaan, sehingga peran dan fungsinya tak jauh berbeda dengan perpustakaan umum pada umumnya. (bedanya biasanya adalah istilah “perpustakaan umum” ditujukan bagi perpustakaan yang didirikan oleh pemerintah di suatu daerah. CMIIW yah kalo salah hehe.)

Sasaran perpustakaan ini mencakup juga bagi anak-anak yang dalam masa perkembangannya memiliki rasa ingin tahu yang besar dan penuh kreativitas. Adanya perpustakaan yang menyediakan buku-buku bermutu dan kegiatan kreatif memungkinkan anak menyalurkan ide dan hobinya sehingga menuju pada kegiatan yang positif. Pendapat yang mengatakan bahwa minat membaca Indonesia rendah memang sangat perlu dikaji ulang kembali. Apakah memang minat membacanya atau akses terhadap bahan pustakanya yang rendah? Hayoloooo yang mana ya :p

Perpustakaan komunitas biasanya didirikan di tengah-tengah masyarakat sehingga mudah untuk diakses oleh masyarakat di sekitar tempat perpustakaan komunitas tersebut didirikan, serta memiliki visi dan misi yang jelas dan terarah.

Rumah Baca Zhaffa, Manggarai, Jakarta Selatan, 2009

Perpustakaan komunitas juga dapat menjadi tempat dan sarana untuk mendukung proses pembelajaran yang tidak didapatkan di sekolah pada umumnya. Hal ini karena proses belajar manusia tidak cukup hanya dari tingkat pendidikan formal. Selama masih hidup, manusia membutuhkan informasi dan proses pembelajaran yang terus menerus seumur hidupnya, atau disebut dengan life-long learning.

Dalam tulisan Lough disebutkan bahwa menurut Enterprise and Lifelong Committee (2002), istilah life-long learning mengacu pada proses pembelajaran ilmu pengetahuan dan kemampuan (skill) yang terus menerus sepanjang hayat dan bisa berupa proses pendidikan formal, maupun informal.

Sehingga perpustakaan yang didirikan di tengah-tengah masyarakat menyediakan akses informasi secara gratis dan terbuka bagi siapa saja yang ingin menggunakan bahan informasi di perpustakaan tersebut, baik orangtua, anak-anak, maupun masyarakat lain yang tidak terikat usia maupun pekerjaannya. Dan mereka pun melakukan kegiatan membaca dengan penuh kesenangan (reading for pleasure) dan bukannya karena paksaan.

Dalam kaitannya dengan lingkungan, menurut Richard Louv, perpustakaan merupakan tempat terbaik untuk menghubungkan sebuah lingkup keluarga dengan alam. Perpustakaan yang berada di tengah masyarakat menjadi sebuah pusat komunitas, yang didukung oleh lingkungan tersebut serta memiliki bahan pustaka yang berhubungan dengan konservasi alam. Perpustakaan juga menjadi sebuah tempat pertemuan bagi orang-orang yang ingin mengeksplorasi dan berdiskusi mengenai lingkungan alam di sekitar tempat tinggal mereka.

Pada bayangan saya, beberapa tahun lalu, perpustakaan akan berisi anak-anak yang belum bisa membaca dan melihat-lihat gambar pada buku saja, anak-anak yang sudah bisa membaca dan larut dalam tulisan dan gambar yang mungkin tebalnya hanya 15 halaman, para remaja yang membaca novel, membaca buku mengenai alat-alat musik, teknologi sederhana mengelola sampah, maupun pendakian gunung berapi di Indonesia, para penggerak komunitas yang larut dalam buku mengenai ekspedisi Ciliwung dan sejarahnya.

Serta perpustakaan dengan ruang terbuka hijaunya yang juga aktif dengan praktik workshop daur ulang, workshop membuat boneka tangan, riuh dengan tawa masyarakat yang mendengarkan dongeng, pemilahan sampah, permainan tradisional, bedah buku, pengenalan tumbuh-tumbuhan, spesies burung, serta maraknya kupu-kupu Jakarta, dan larut dalam ocehan serta diskusi mengenai kegiatan yang akan dilakukan selanjutnya.

Aih, sebuah mimpi yang rasanya terlalu jauh jika hanya disimpan di dalam hati. Itupun belum bisa terwujud sekarang, dan itu sebabnya saya memulai dari panti asuhan Istiqomah 3,5 tahun lalu supaya kemudian bisa dilanjutkan di tempat lain juga.

Mimpi yang terlalu jauh, tapi jika diwujudkan bersama rasanya mimpi tersebut bisa mungkin terjadi 🙂

Ide itu pun tentu bukan segalanya, para pejuang macam Bu Kiswanti, KKS Melati, Rumah Dunia, Rumah Baca Zhaffa, dan sederet perpustakaan atau taman baca lain sudah lebih dulu berhasil melakukannya sejak bertahun-tahun lamanya, mungkin bahkan sejak saya saat itu baru lulus SMA dan sama sekali belum memikirkan hal ini.

Warabal (Warung Baca Lebak Wangi), Parung, 2010

Dimulai dari hal kecil, yang kemudian menyebar…

Dan hari minggu kemarin acara pertama para tim perpustakaan Ciliwung Condet berhasil digelar dengan sukses. Yeaay! *tepuk tangan 😀

Cerita mengenai perpustakaan komunitas Ciliwung Condet akan saya bahas pada tulisan selanjutnya, sementara tulisan mengenai perpustakaan komunitas juga bisa dilihat pada skripsi saya di sini.

Referensi:

Lough, Vanessa. Citizenship, Computer Literacy and the changing role of the Public Library Service in the United Kingdom. http://www.odeluce.stir.ac.uk/docs/Lough.pdf  (diakses 20 Maret 2012)

Louv, Richard. 2011. How libraries can connect children and adults to nature. http://www.childrenandnature.org/blog/2011/03/02/how-libraries-can-connect-children-and-adults-to-nature/

Nove E. Variant Anna. 2009. Design a space for children in public library in developing country: a case study in Indonesia public library. World Library and Information Congress: 75th IFLA General Conference and Council 23-27 August 2009,Milan,Italy. http://www.ifla.org/files/hq/papers/ifla75/103-variant-en.pdf  (diakses tanggal 21 Maret 2012)

Yulia E.S. 2009. Peran Perpustakaan Komunitas di Masyarakat: Studi Kasus Rumah Baca Zhaffa Kelurahan Manggarai, Jakarta Selatan. Skripsi, UniversitasIndonesia. (Tidak diterbitkan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *