Gagal dan tidak: 3 hal yang harus diperhatikan saat membuat acara untuk anak-anak

Saya menyadari betul bahwa tahun 2011 kemarin, saya dan teman-teman relawan komunitas tak banyak mengadakan acara-acara seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Ada beberapa kendala yang timbul. Dan salah satunya mungkin adalah pertanyaan yang dulu saya tanyakan berulang-ulang dalam hati; “Bisakah kami, bisakah saya melakukannya?”

Berikut adalah sharing beberapa acara yang berjalan di luar rencana kami. Semoga bisa bermanfaat sebagai antisipasi ketika semua tak berjalan sesuai apa yang direncanakan.

Hal paling mendasar yang saya lengah dan terlena untuk dilakukan adalah menyusun satu per satu rencana dan apa-apa saja yang dibutuhkan di awal tahun kegiatan. Saya (saat itu) berharap hanya pada ide acara yang tiba-tiba muncul mendadak, menyeruak secara tiba-tiba ke dalam kepala. Sebenarnya ini memang pernah terjadi, tapi saya terlupa bahwa saya harus tetap menyusun rencana kegiatan. Akibatnya sepanjang tahun, tak ada target yang dicapai, dan hanya mengikuti arus saja.

Point #1 : kumpulkan semua ide dan susun rencana kegiatan untuk 6-12 bulan berikutnya. Ini penting sebagai ancang-ancang apa-apa saja yang bisa dan tidak bisa dilakukan. Jika di tengah tahun ternyata ada tambahan ide kegiatan, bisa dimasukan ke dalam rencana dan bisa dijadikan cadangan jika kegiatan yang satu ternyata tidak bisa dilaksanakan. Tuliskan semua rincian yang dibutuhkan, masalah yang dihadapi (misal: minimnya dana, waktu, dsb), lalu mulailah latihan membuat mind map untuk memaparkan semua hal tersebut satu per satu.

Maret 2011 adalah saat di mana kami dan anak-anak panti asuhan mengikuti sebuah acara. Event ini memang sudah pernah dilaksanakan setiap 1-2 tahun sekali oleh sebuah yayasan, tapi pencapaian untuk sampai bisa ikut serta dalam acara ini lah yang menjadi fokus kami. Fokus yang pada awalnya menjadi salah satu alasan kami untuk mendirikan sebuah perpustakaan di sana.

Kami, terutama saya, sangat antusias pada acara itu. Sehingga dari jauh-jauh hari membuat rincian apa-apa yang harus dilakukan dan berpesan ini-itu pada anak-anak. Ternyata pada event itu ada salah satu lomba yang harus dibuat bersama, dan baru akan dikumpulkan pada hari H.

Minimnya waktu untuk berkumpul bersama antar para relawan, dan anak-anak panti asuhan yang juga masih tidak kompak, menyebabkan kegiatan “membuat prakarya bersama” ini bubar jalan! Anak-anak bisa berkumpul dan menjalankan kegiatan dengan baik selama kami berada bersama dengan mereka, tapi jika tugas itu harus mereka buat bersama tanpa keberadaan kami, rupanya terkadang masih belum bisa. Tapi kami tetap mencoba, mengajak mereka bekerja sama mengerjakannya sehingga nanti ketika kami kembali benda kreatif itu sudah tinggal dibuat lanjutannya.

Ketika saya kembali lagi ke panti asuhan pada hari yang ditentukan, ternyata tak satupun benda-benda itu disentuh untuk mereka buat rancangan dasarnya. Entah karena gengsi, tak ada waktu karena sibuk belajar, atau memang malas. Saya menarik nafas, tak mudah memang untuk masuk dan membentuk pola pikir, terutama ketika frekuensi untuk kami bertemu hanya dalam kurun waktu setiap beberapa bulan. Lagipula siapa saya yang seenaknya masuk ke dalam ruangan ini untuk memerintahkan mereka membuat sesuatu sementara saya tak mendampinginya?

Akhirnya kami harus membuat dari awal, mengejar waktu yang tercecer karena molor dari yang sudah ditentukan, sementara Hari H tinggal seminggu lagi dan satu-satunya waktu kami bisa mendampingi adalah di hari minggu itu. Akhirnya kami putuskan untuk mengesampingkan prakarya ini. Kami tetap mengerjakan, namun biarlah dibuat seadanya, semampunya, setidaknya anak-anak belajar untuk membuat prakarya ini melalui proses kerja sama.

Hujan turun deras saat itu. Dari pinggir rel yang sama sekali tak tercium aroma wangi rerumputan basah, saya memperhatikan anak-anak yang menjahit sampah kemasan dengan bergantian. Betapa kota besar ini dengan segala carut marutnya, mungkinkah telah menumpulkan kecintaan dan kepedulian mereka? Dengan segala kepengapan polusi kota serta kotak bodoh yang rutin ditonton karena minim lahan bermain? Betapa masih banyak sekali yang harus kami lakukan dan perhatikan.

Seminggu kemudian tibalah hari kami untuk mengikuti rangkaian lomba antar taman baca itu. Sebagai pengalaman dari kejadian sebelumnya, saya mengingatkan diri untuk tak menganggap acara ini sebagai puncak kesuksesan, bahwa kami bisa mengikuti lomba ini bersama ratusan anak-anak lain adalah sesuatu yang biasa-biasa saja dan merupakan suatu kewajaran. Supaya tak kelewat senang ataupun terlalu berharap pada acara ini.

Dari 8 relawan yang biasa datang, plus beberapa orang yang katanya ingin ikut mendampingi, hari itu ternyata hanya Shella dan saya yang bisa. Menjadi 3 orang, ditambah dengan satu LO dari panitia. Sementara jumlah anak yang kami bawa ada 10 orang, dengan paling kecil adalah Kiki dan Themas berusia 6 tahun.

Dari keseluruhan rangkaian, acara yang kami sangat harapkan berjalan lancar (tak berharap sama sekali untuk menang), ternyata berubah total. Kami yang memang diwanti-wanti panitia untuk datang pagi ( dan memang benar pagi), ternyata menjadi kepagian karena acara molor cukup lama. Sehingga ketika acara dimulai, anak-anak sudah lelah menunggu dan konsentrasi buyar.

Saya berusaha memotivasi mereka dengan membuat yel-yel yang dicari secara mendadak, dan nyatanya tak berhasil. Mereka mengikuti tapi konsentrasi buyar. “Kaak, kapan lombanyaa?” rengek Kiki dan Themas bergantian. Sementara yang lain hanya setengah mendengarkan apa yang saya ucapkan sambil melirik pada tim-tim di sebelah kami yang meneriakkan setiap yel-yel dengan suara lantang dan penuh percaya diri.

Acara pun dimulai ketika matahari sudah meninggi. Area terbuka itu semakin lama semakin riuh dengan anak-anak usia 6-11 tahun plus para pendamping plus panitia juga dengan jumlah mungkin mencapai seratus.

Ketika permainan lomba dimulai, anak-anak panti tertinggal dari tim lain, paling belakang. Harusnya ini jadi hal biasa, dan mereka lalu mengejar. Tapi yang terlihat mereka jadi saling menyalahkan, ribut di telinga temannya, dan menyerah begitu saja. Dan saya tak bisa mendekati untuk memotivasi mereka karena sibuk mengejar Themas dan Kiki yang berlarian ke area lomba tim lain dan melempar sandal sampai mengenai orang lain.

Aih, aih… jauh sekali dari bayangan saya tentang acara ini. Saya menoleh pada Shella yang mengangkat bahu, meringis juga memegangi dua anak yang berontak ingin lari lagi.

Pukul 10.00, area acara semakin padat dengan peserta dan pendamping. Matahari pun semakin garang saja. Kami berbaris untuk mengikuti rangkaian acara yaitu menuju stand pameran. “Kak, yang lain karyanya bagus-bagus.” Bisik Edwin pada saya dengan suara pelan. Saya membuka mulut, sempat ingin mengatakan sesuatu tapi lalu hanya bisa berkata; “Nggak papa.” Sambil tersenyum padanya, berusaha meyakinkan, meski saya sendiri tak yakin bisa meyakinkannya. Saya menyadari, mereka sepertinya cukup minder dengan papan nama bertuliskan “Panti asuhan X” yang kami bawa-bawa, ditambah dengan segala hal ini buyarlah sudah semua niat dan semangat yang kami kumpulkan berminggu-minggu lalu.

Di stand salah satu permainan tradisional, Kiki ngambek dan tak mau pergi. Ia tak mau mengikuti kami ke stand lain. Dibujuk dengan cara apapun dia tak mau, rupanya sebelumnya pun sempat ledek-ledekan dengan yang lain sehingga makin menjadi-jadi marahnya. Sewaktu kami berjalan, ia malah makin menjauh dari kami, menuju kerumunan lain. Didekati ia malah berteriak dan berlari menjauh. Saya panik takut ia hilang.

Dari jauh ia menatap kami dengan mukanya yang cemberut. Keringat mengalir di keningnya. Bibirnya terkatup rapat sehingga deretan gigi ompongnya tak terlihat. Kami memanggilnya dari jauh untuk mengikuti, tapi Kiki malah menggeleng.

Somad, yang berbadan besar mengambil alih, ia mengejar Kiki dan begitu dapat langsung menggendongnya. Kiki langsung berteriak histeris, ngambek berat, dan nangis sekencang-kencangnya. Saya dan Shella membawa anak-anak menyingkir dari area lomba. Dengan Kiki yang kemudian diturunkan dan masih terus menangis, dan juga kondisi hati anak-anak yang sudah tak nyaman, selesailah kami mengikuti acara ini. Saya memutuskan kami akan pulang duluan. Rasanya dengan kondisi baru 2 minggu memakai brace dan belum terbiasa, saya pun juga sudah tidak sanggup lagi kalau cuacanya panas menyengat seperti ini.

Kami menyingkir ke area pepohonan, dengan suasana yang lebih teduh dibanding area lomba yang panas menyengat, dan udara yang lebih sejuk. Satu persatu anak-anak panti meminum es teh yang dibeli dari penjual minuman di bawah pohon. Sementara yang lain sudah memegang minumannya, Kiki masih sesenggukan, jongkok di rerumputan, mengambil jarak dari kami. Bersama Irvan, saya mendekatinya. Kami ikut duduk di rerumputan di kiri dan kanannya. Membujuknya dengan pelan-pelan sambil sesekali menyeruput minuman. Kiki melirik, saya tahu ia pasti lelah dan haus sekali. Selama sekitar beberapa menit kami hanya duduk saja di sana sambil terdiam.

“Kiki kenapa sih ngambek, masa nangis-nangis begitu?” Tanya saya hati-hati, menatap matanya. Ia terdiam, masih sesenggukan. “Kiki mau minum nggak?” Tanya saya lagi.

Kiki melirik minuman dalam genggaman saya, perlahan tapi pasti ia lalu mengangguk dan menurut ketika saya dan Irvan menggamit tangannya untuk bangkit.

Hhhh… *langsung tarik nafas lega :p

“Sambil nunggu mobil yang jemput datang, kita di sini saja. Pulang duluan.” Ucap saya pada Dian, pendamping kami. “Iya deh kak, kasian anak-anak sudah capek. Saya bilang panitia dulu ya.” jawabnya.

Dian kembali dengan dua orang panitia yang menanyakan dengan sangat serius kenapa kami ingin pulang duluan. Sepertinya mereka tak terima kami pulang sebelum acara selesai hehe. Saya bersikeras anak-anak sudah lelah dan butuh istirahat.

“Anak-anak lain juga lelah kok mbak, tapi nggak pada pulang duluan.” Celetuk salah satunya.

Saya menarik nafas, terus mendebatkan bahwa kami tetap harus pulang duluan. Salah satu dari mereka pun membujuk anak-anak; “Nggak mau liat sulap? Nanti ada permainan lagi lho.” Anak-anak pun menjawab datar; “Nggak.” Dan Shella, tanpa bisa ditahan, mengikik mendengar rayuan yang hanya dijawab dengan datar itu.

“Baiklah.” Sahut anggota panitia akhirnya.

Sambil menunggu beberapa hal yang harus diurus, saya memperhatikan anak-anak yang sekarang sedang lomba lari. Wajah mereka sudah cerah lagi, tertawa lagi. Tidak seperti tadi, masam, lelah, dan susah sekali diajak kerja sama. Kenapa begini?

“Kakaaaak, jadi juri lomba lariii…!” Teriak salah satu anak pada saya. Saya maju ke depan, mengambil jarak sekitar 3 meter di hadapan 4 orang anak yang sedang melepaskan alas kakinya masing-masing, lalu mengambil ancang-ancang.

“Satuuu… duaa…. TIGAAA…” saya memberi aba-aba, berteriak sambil melompat di hitungan terakhir.

Empat anak di hadapan saya berlari menerabas angin, merentangkan kedua tangannya, sesekali menatap langit biru luas di atas kami, lari mereka deras layaknya rinai hujan, menyongsong saya yang terpaku di depan mereka.

Empat anak yang menyongsong saya dengan berlari, dengan matanya yang berbinar…

Empat anak yang penuh tawa, penuh keriangan, dan penuh akan masa depan…

Saya terpaku. Seolah saya berada di antara mereka, tanpa alas kaki, berlari sederas kijang, merentangkan tangan menabrakkan diri pada angin. Seolah saya menyongsong diri saya sendiri.

“Kikiii kalaaah!” Ledek Themas. Sementara kiki, yang sudah tidak ngambek lagi, hanya tertawa. Disambut tawa anak-anak lain di antara nafas ngos-ngos-an.

Sementara saya masih terpana pada apa yang saya lihat barusan.

Mobil jemputan tiba. Kami pun pulang. Di tengah perjalanan, Kiki mual dan sepertinya akan muntah. Shella mencari kantong di tasnya dengan panik, dan benar saja anak itu langsung muntah begitu kantong diletakkan di depan wajahnya. Kami mengolesi tengkuk dan lehernya dengan minyak kayu putih, Themas membantu memegangi kantong sambil menatap Kiki, partner in crime nya, dengan wajah khawatir.

Begitu kami tiba di panti asuhan, Kiki berguling di lantai, sudah nyaris tak kuat bangun lagi. Dan saya bersyukur atas keputusan kami pulang duluan.

Point #2: Anak-anak bisa cepat merasa gelisah dan tak nyaman di tengah suasana panas, dan ramai orang. Terutama jika mereka memang tak terbiasa dengan keramaian dan suasana hati mereka pun tak mendukung, dalam kasus ini: cukup minder dengan anak-anak lain yang sudah berulang kali bepergian dan mengikuti deretan lomba.

Motivasi untuk anak-anak penting sekali diberikan. Tapi ketika suasana sudah semakin tak mendukung, ambil keputusan terbaik, meski itu berarti mengabaikan acara. Jika mereka sudah merasa nyaman, mereka bisa cepat sekali langsung kembali menjadi riang. Pastikan juga jumlah anak dan pendamping seimbang supaya jangan sampai kewalahan.

Saya bersyukur kami mengikuti acara itu, meski tak bisa dibilang lancar. Tapi setidaknya bisa menjadi pelajaran selanjutnya. Dan rasanya senang sekali hari itu anak-anak benar-benar membuang sampah pada tempatnya.

Just because something doesn’t do what you planned it to do, doesn’t mean it’s useless.” ~Thomas Alfa Edison

Thanks to Pandu atas kaosnya utk mereka, dan Shella yang ikut di hari itu 🙂

Bulan-bulan berikutnya akhirnya kami hanya berfokus pada distribusi buku yang meleset jauh dari tanggal yang ditargetkan. Baru bulan selanjutnya kami berniat mengadakan acara lagi. Sayangnya tanggal yang sudah diatur sedemikian rupa, nasi kuning yang sudah dipesan, dan pengajar daur ulang yang akan memberikan materi harus buyar pula. Bapak panti asuhan lupa dengan tanggal yang telah kami booking, sehingga 2 hari menjelang acara, terpaksa kami batalkan semuanya.

Point #3: Pastikan semua tanggal sudah tersusun dengan baik, ingatkan semua pihak, baik pemilik panti, pengisi acara, pembuat nasi kuning, dan semua relawan yang ingin terlibat. Jika memang tetap tak bisa terlaksana, mungkin Tuhan punya maksud lain. (haha sekarang bisa ngomong gini, dulu waktu ngebatalin saya nangis-nangis juga :p).

Sekian sharing-nyaaa. Sesungguhnya kalo kata teman-teman lain ini bukan kegagalan, tapi hanya kekurangan dari sekian deret acara.

“I have not failed.  I’ve just found 10,000 ways that won’t work.” ~Thomas Alfa Edison

Semoga point-point ini cukup membantu dan menghindari kalian (dan juga kami) dari keriweuhan-keriweuhan di kegiatan selanjutnya. Amin. 🙂

Ketika menatap Kiki yang kelelahan dan mual, serta mengingat keputusan untuk pulang duluan saat acara tahun lalu, rasanya saya mulai menyadari kata-kata ini, meski jauh dari arti sepenuhnya, dan semoga suatu hari nanti saya bisa benar-benar menyadarinya:

“When you are a mother, you are never really alone in your thought. A mother always thinks twice, one for herself, and one for her child.” ~Sophia Loren

Yeah, SEMANGAT untuk Kelana KELAPA di tahun ini!!! :*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *