Pusi :)

Kami tidak pernah memimpikan untuk memiliki seekor hewan peliharaan berupa kucing. Kalaupun pernah punya, hewan itu adalah ayam, bebek, dan kelinci ketika saya kelas 4 SD. Merengek-rengek pada ayah saya untuk dibelikan seekor bebek.

Sampai kemudian Pusi datang ketika saya duduk di kelas 3 SMP.

Saat itu sedang musim banjir dan wabah leptospirosis, yang katanya disebabkan oleh air seni tikus, merebak. Tapi malam hari itu tak hujan. Ketika ayah mengecek kondisi langit yang mendung di belakang rumah, seekor kucing berwarna abu-abu garis hitam melintas. Ayah mengangkatnya dan memasukkan ke dalam rumah. “Periksa sana ada tikus tidak?” katanya. Ternyata kucing kemudian tak sekedar masuk untuk kemudian keluar lagi, ia masuk ke seluruh ruangan rumah, mengeksplorasi, dan menemukan saya dan kakak yang sedang berada di kamar.

“Waah kucing sapah?”. Kucing itu menatap saya, mengeong, lalu kembali ke belakang rumah.

Esok harinya kucing itu datang lagi dan lagi, kembali lagi dan lagi ke rumah kami. Terkadang tertidur di keset rumah, dan ketika ibu membuka pintu agar udara pagi hari masuk ke dalam rumah, kucing itu pun ikut masuk. Jika siang hari pun ia rutin keluar masuk rumah kami sampai akhirnya tulang ikan dan ayam dihibahkan untuknya.

Begitu terus berulang-ulang selama beberapa bulan. Saya, serta keluarga, memanggilnya Pusi. Nama panjangnya Nicky Pusi Tora haha. Tora dalam bahasa jepang yang berarti macan. Pusi ya maksudnya kucing. Nicky… ehm… iseng aja sih :p

Ketika Pusi akhirnya menjadi kesayangan keluarga, kami pun mulai membelikannya makanan khusus kucing. Makanan kaleng itu diaduk secara merata bersama nasi. Biasanya sehari sekali aja, soalnya harganya lumayan mahal hehe. Setiap akan diberi makan, Pusi harus dikeluarkan dulu dari rumah lalu semua pintu masuk ditutup. Karena biasanya dia tidak sabar sehingga lebih dulu mencoba mengambil makanan yang belum rata diaduk.

Seingat saya kucing ini memang tidak suka tikus. Pernah mengejar tikus tapi itu jaraaang sekali. Selebihnya jika ada tikus lewat, ia hanya menoleh, lalu tidur lagi. Bukan karena pemalas karena diberi makanan tadi, tapi karena sifatnya memang seperti itu.

Hal yang lucu adalah bahwa sepertinya kucing ini doyan lalapan. Sejak dulu ia doyan tempe mentah, lalu kemudian kentang rebus, labusiem rebus, kimpul rebus, kulit melinjo yang dimasak, dan bahkan buah pepaya!

Terkadang Pusi pergi siang hari, entah mencari makan atau berkelahi, lalu masuk ke rumah sore harinya, dan akan dikeluarkan malam hari menjelang kami tidur. Hal menyebalkan adalah jika ia terdesak dalam perkelahian, ia akan lari ngibrit masuk ke dalam rumah.

Pusi selalu mendengarkan cerita, menatap mata kami, kadang leyeh-leyeh di rerumputan halaman belakang lalu berlari menyongsong anggota keluarga yang tiba-tiba keluar, berlari mengejar kami yang mencabut tumbuhan anting-anting (kucing doyan menjilat akarnya yang wangi), menonton televisi bersama kami, bahkan ikut berbaring di sajadah jika kami sholat dan lupa menutup pintu.Alasan kami mengeluarkan Pusi malam hari adalah supaya jika ingin buang air, Pusi tak perlu membangunkan kami tengah malam. Pernah suatu hari kami lupa mengeluarkannya, sementara keponakan ayah sedang bermalam dan tertidur di kursi. Rupanya tengah malam Pusi kebelet dan mengeong sekerasnya di dekat keponakan ayah. Sayangnya karena perjalanan jauh yang ditempuhnya, ia tertidur pulas sekali, rupanya kelelahan. Hasilnya? Karena sudah berusaha membangunkan tapi tak bisa bangun, Pusi pun buang air besar di dekat kaki keponakan ayah itu, yang bangun dengan kaget luar biasa esok harinya. Iiiih….!!

Pernah lagi kami lupa mengeluarkannya, karena terkadang kucing ini tidur di tumpukan koran di bawah meja, di atas pemutar CD, di bawah meja komputer, ataupun di kolong meja sehingga luput dari pencarian. Tengah malam pun ia mengeong tak henti di depan kamar ayah. Dan suatu hari saya yang kena hehe. Dalam suasana sangat mengantuk memang terdengar suara Pusi mengeong keras, namun saya abaikan. Tapi lama kelamaan suaranya semakin kencang. Begitu saya membuka mata, Pusi mengeong kencang tepat di depan wajah saya. Rupanya karena saya tak merespon, ia nekat naik ke atas tempat tidur. -_-. Begitu saya buru-buru bangun dan membuka pintu rumah, ia pun langsung lari sekencang-kencangnya. Fiuuuh… syukur keburu +_+

Terkadang ia tak pulang dua hari, tapi lalu kembali lagi. Tapi pernah juga sampai lebih dari 5 hari ia tak pulang. Kami memanggilnya di kebun belakang, membuka pintu sore hari, tapi tetap ia tak pulang. Sampai semua berpikir mungkin ia sudah mati, karena menurut cerita banyak orang, seekor kucing yang sudah lama bersama sebuah keluarga tak mati di lingkungan dekat rumah itu. Katanya kucing itu mungkin tak mau membuat sedih. Entah cerita dari mana. Tapi seisi rumah pun bermimpi tentang Pusi, ibu pun terkadang seperti mendengar suara Pusi di luar rumah. Beliau mengira ia sendiri sedang bermimpi.

Sampai kemudian pagi hari minggu, saya membuka mata dan samar-samar seperti mendengar suara Pusi yang mengeong heboh. Lalu diikuti dengan suara ibu. Sontak saya bangun dan menuju suara berasal, belakang rumah!

Pemandangan yang saya lihat pagi hari itu berupa ayah yang menyandarkan tangga pada tembok pembatas untuk kemudian menarik Pusi dari genteng rumah tetangga di luar perumahan. Wuaaah rupanya ia main ke luar sana! Ketika mendengar cerita ibu, katanya beliau sedang berada di samping rumah ketika mendengar suara Pusi terdengar jelas. Karena penasaran, ibu mencari sumber suara, dan terlihatlah bagian atas kepala kucing di antara genteng rumah belakang. Tubuhnya tertutup tembok tinggi tapi suara dan warnanya menunjukkan ciri Pusi. Ibu pun memanggil namanya dan dibalas dengan suara mengeong yang lebih keras, seolah balas memanggil ibu. Kucing nyasar itu pun melompati genteng ke genteng, mencari genteng rumah yang lebih tinggi agar bisa diambil ibu. Ibu mencoba menariknya tapi tidak sampai, dan akhirnya ayah mencari tangga untuk bisa menariknya.

Rupanya suara kucing yang kadang didengar ibu memang benar suara Pusi, hanya saja ia tidak terlihat karena terhalang genteng rumah. Begitu sudah kembali, ia berlari kencang masuk ke rumah, dan setelah itu tak pernah main jauh-jauh lagi :))

Pusi pun pernah mengalami bengkak parah di ujung matanya. Sampai berminggu-minggu tak juga sembuh dan matanya semakin bengkak. Dengan terpaksa kami membawanya ke rumah sakit hewan karena tak tega dan dorongan dari tukang koran langganan yang berkata pernah menemukan kasus sama pada kucing dekat rumahnya, mata kucing itu pun bengkak luar biasa. “Bawa aja tuh ke rumah sakit, kesian.” Katanya dengan logat asli Jakarta.

Akhirnya kucing itu kami bawa bukan dengan keranjang khusus kucing yang biasa kami temui ketika sampai di rumah sakit itu, melainkan dengan kardus bekas yang diberi banyak lubang di setiap sisinya. Ketika sampai sana dan diputuskan untuk operasi serta menginap seminggu, ayah menelan ludah memikirkan isi dompet. Akhirnya pembayaran pun dilakukan dengan DP yang kurang. Begitu seminggu berlalu dan Pusi boleh pulang, ia berguling-guling heboh di dalam kandang ketika melihat ayah datang menjemputnya. Haha.

Pusi dan kepusingan ujian seolah seperti teman. Ia menemani saya melewati ujian SMP, ujian masuk SMA, ulangan harian dan mata pelajaran kimia yang memabukkan di kelas 2 SMA, lalu menemani melewati hari-hari ujian nasional yang menegangkan beserta ujian praktek pidato dengan latihan di depan kaca yang dipandanginya dengan heran. Jika saya melepas kepusingan di kebun, ia mengikuti dan duduk di dekat saya. Pusi menemani ketika belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi negeri, dan menemani belajar untuk UAS mata kuliah paling sulit seantero jurusan kami. Empat tahun di perguruan tinggi dengan segala ceritanya Pusi terus mendengarkan, sampai akhirnya ia pun menemani dengan tidur di dekat komputer ketika saya begadang untuk mengejar sidang skripsi sampai larut malam.

Hampir 11 tahun ia bersama keluarga kami. Membuat keributan dengan tak sengaja menggigit ibu yang juga tak sengaja menginjak ekornya, tertidur di dekat ibu yang mengaji dan duduk di lantai ketika habis magrib, mengejar ayah setiap beliau pulang kantor, memecahkan vas bunga, mengambil tempe mentah di dapur, membuat kami keheranan karena ia mengejar buah pepaya, menemani emak menggosok dan mendengarkan setiap ceritanya.

Bulu di bagian lehernya semakin lama sering rontok. Jalannya menjadi perlahan, dan ia tak lagi mengejar kucing-kucing lain. Sampai kemudian suatu hari ia tak kunjung terlihat di rumah. Ibu mencurigai obrolan ibu-ibu sekitar yang pagi harinya melihat kucing mati di depan rumah kami. Salah satu ibu meminjam pacul ke rumah untuk menguburkan. Ibu bertanya; “Pusi bukan?” ibu tetangga menjawab; “Bukan kok.” Sehingga kemudian ibu tak keluar rumah karena sibuk di dapur. Dan para ibu itu pun ramai-ramai menguburkan kucing (karena memang sedang mengobrol habis membeli di tukang sayur).

Tapi malam harinya Pusi tak juga pulang. Saya mencetak fotonya di kertas supaya esok hari bisa ditanyakan ke ibu tetangga apakah Pusi atau bukan yang kemarin dikuburkan. Meski belum pasti, tapi entah kenapa saya mengira itu memang Pusi karena memang dua hari tak terlihat. Kakak saya meyakinkan bahwa ia mungkin hanya nyasar lagi.

Tapi benar saja jawaban ibu tetangga, kalau kucing kemarin itu memang Pusi. Rupanya ia salah mendeteksi ukuran kucing itu. “Yah, maap yah. Kemarin tak kira bukan Pusi. Kayanya warnanya beda deh.” Sesalnya.

Seisi rumah sedih? Tentu. Yang nangis sih saya hehe. Sampai-sampai adik ibu yang berniat mengganggu ketika datang ke rumah diperingatkan oleh ibu; “jangan gangguin ade, kucingnya mati tuh.” Ia pun mengurungkan niatnya untuk menggedor-gedor pintu kamar saya. Dan kakak ipar yang biasanya meledek pun berucap; “Sedih lah, 11 tahun.”

Sekarang setiap tamu yang datang ke rumah pun bertanya; “Pusi ke mana ini?”

Kalo kata emak; “Yaaah nggak ada lagi deh yang nemenin emak gosok baju. Biasanya ngomong aja sama Pusi, eh ini sepiii.”

Ibu mengulang kata-katanya; “Yaaah, 11 tahun di sini, pas mati nggak ada yang lihat yah. Tapi biar kita nggak sedih kali jadinya nggak ketahuan, malah ibu tetangga yang tahu.”

Ayah pun kehilangan Pusi yang selalu mengejar-ngejarnya setiap baru pulang kantor, menunggunya di depan kamar mandi, menanti di pintu kamar ketika berganti baju, dan duduk bersamanya ketika menonton televisi.

Buat orang lain mungkin ia memang hanya seekor kucing. Tapi buat kami Pusi seperti seorang sahabat yang mendengarkan dan menemani. Belakangan dalam buku “Kisah-kisah abadi bersama ayahku, Buya Hamka” diketahui bahwa kucing kuning Buya Hamka yang tinggal selama bertahun-tahun itu selalu mengiringi beliau setiap akan berangkat untuk sholat ke Masjid. Dan ketika Buya Hamka meninggal, kucing itu pernah terlihat tertidur di atas pusara beliau, lalu kemudian menghilang tak pulang lagi ke rumah.

Aih Pusi… Terima kasih ya untuk 11 tahun ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *