MVP (1): Terkunci

Untuk Adina, Nisa, Esti, Titis, Nabila, Dina-Dini, Dyshelly

dan semua yang sedang menjalani masanya dengan penuh senyum… 🙂

Suatu hari seseorang membalik telapak tangan saya, keningnya berkerut menatap garis-garis tangan yang tercetak di sana. Bukan, dia bukan peramal, bukan juga sang pacar. Hanya seorang asisten di sebuah salon. (eh tumben amat maennya ke salon, biasanya maenan tanah di kebon :D).

“Banyak amat garisnya.” katanya. Saya hanya tertawa melihatnya keheranan. “Hidup kamu kayanya…..” sang asisten salon melanjutkan lagi, sambil terlihat memutar otaknya untuk mencari kata-kata dan terus menatap sejumlah garis-garis di tangan, membandingkannya dengan tangannya sendiri dan tangan asisten lain. “Penuh petualangan hehe.” ucapnya di akhir, menutup kalimat atau lebih tepatnya: komentarnya.

Saya tersenyum lagi, menebak bahwa sebenarnya yang mau ia katakan adalah “RUMIT”, “RIWEUH”, atau kata-kata lain namun khawatir menyinggung saya hehe.

Tapi mungkin benar juga.

Penuh petualangan.

Seperti kata-kata Erik Weihenmayer di bagian akhir salah satu bukunya; “It won’t often be easy, little angel, but it always be a great adventure.”

^^^^^^^^^^^^^^^^

“Bagaimana bisa anak ini terkena dan mengantri di rumah sakit yang sama dengan saya?”

Begitu kira-kira rasanya pemikiran sebagian besar ibu atau bapak berusia di atas 45 tahun serta orangtua lanjut usia yang sedang menanti giliran di ruang tunggu sebuah rumah sakit jantung di Jakarta.

Pada umumnya mereka ditemani dengan anak, cucu, menantu, atau pengasuh lansianya di ruang tunggu yang berukuran cukup luas itu. Meski tergolong luas, area tersebut rasanya tetap terasa penuh. Saya, berdiri di luar barisan kursi, dengan pandangan yang dilayangkan ke sana ke mari dengan maksud menghindari tatapan para orangtua yang berpikir seperti tadi.

Sistem di rumah sakit ini dibuat sedemikian rupa dengan urutan: mengantri, menumpuk kertas berisi nama dan pemeriksaan hari itu, lalu selanjutnya akan dipanggil oleh para perawat.

Barisan kursi yang nyaris tak pernah kosong itu biasanya adalah barisan kursi yang ada di depan ruangan  bernomor 10. Dengan dokter, sebut saja bernama pakdok berusia sekitar 67 tahunan. Jangan salah dengan usianya, lihat saja barisan kursi penuh itu. Beliau banyak fansnya! Termasuk saya 🙂

Mitral Valve Prolapse atau MVP adalah (tolong dikoreksi jika pemahaman saya salah) sebuah kondisi dimana katup (valve) pada jantung tidak bekerja dengan sempurna. Ini karena lipatan pada katup tersebut tidak menutup rapat. Lipatan ini, pada kondisi normal, berfungsi membuka atau menutup katup jantung. Namun pada penelitian lain membuktikan bahwa mereka yang pernah didiagnosa memiliki MVP kemungkinan tidak mengalami masalah pada katupnya namun karena masalah lain lagi, seperti misalnya dehidrasi atau jantung yang kecil (small heart) (?).

Istilah lain dari MVP adalah click syndrom. MVP ini terjadi pada 5-15 % dari keseluruhan populasi. Penyebab pasti MVP tidak diketahui, ada yang memang sudah sejak lahir atau keturunan dalam keluarga. MVP terjadi pada semua usia, baik laki-laki maupun perempuan. (namun pada literatur lain ada juga yang mengatakan bahwa MVP lebih sering terjadi pada wanita dan berat badannya di bawah rata-rata).

MVP pada beberapa orang tidak memiliki banyak gejala, namun pada yang lain bisa juga memiliki gejala seperti  palpitasi (detak jantung yang sangat cepat), nafas pendek, nyeri dada, sakit kepala, ataupun kelelahan.

Bagaimana bisa saya kemudian terdeteksi MVP? Begini ceritanya.

2007

Pernahkah anda terkunci? Di kamar mandi? Di rumah sendiri? Di kamar? Saya pernah terkunci di sebuah kamar mandi di rumah teman. Kuncinya rusak. Sambil mencoba-coba sendiri, memutar-mutar gagang pintu, tak enak menggedor-gedor memanggil si yang punya rumah, akhirnya pintu terbuka. Fiiuh…

Namun peristiwa terkunci di klinik bersama seorang dokter adalah suatu hal yang jarang terjadi dan rasanya sulit dilupakan.

Saat itu ketika sedang check up untuk hampir ke-lima kalinya, dengan keluhan yang sama yaitu sesak nafas. Dokter ke empat menyarankan saya untuk check up menyeluruh, mulai dari ginjal, paru-paru, jantung, usus, dan sebagainya. Saya menuruti kata-katanya, lalu melakukan tes menyeluruh di laboratorium.

Ketika tiba saat pemeriksaan oleh dokter umum, sang dokter cantik itu membaca semua hasil lab dan berkata semuanya baik-baik saja. Ia lalu menyuruh saya naik ke tempat tidur untuk diperiksa dengan stetoskop. Karena khawatir ada suster yang tiba-tiba masuk menjeblak pintu, ia pun menguncinya, lalu memeriksa denyut jantung dengan stetoskop. Menit demi menit berlalu. Tak ada suara dari bu dokter, tak ada komentarnya pula. Hening. Hanya detak jarum jam yang saat itu saya dengar.

Ia lalu menyuruh saya kembali ke tempat duduk, kemudian membaca ulang semua hasil pemeriksaan yang tertera di kertas dan berkata; “Saya agak bingung yah… hasilnya semua baik. Namun barusan dengan stetoskop saya merasa ritme jantungnya kok agak nggak seirama yah…?”

Saya juga bingung dok. Dokter aja bingung, apalagi saya.

“Kayanya kamu ada arithmi sama bulop nih…” katanya sambil menulis sesuatu. Saya tak begitu jelas mendengar apa yang ia katakan. Saya melirik kertas di tangannya, lalu menggeleng. Bahasa dan tulisan dokter sama susahnya untuk dimengerti.

Bu dokter berjalan ke pintu dan mencoba memutar kembali kuncinya.

“Waduh… macet..” katanya sambil menatapku heran.

Ia mencoba memutar-mutar kembali kunci pintu itu, namun tetap tak bisa. Ia kembali ke tempat duduknya dan menelepon resepsionis.

“Halo. (ia menyebut nama resepsionis itu), saya terkunci nih. Tolong bantuin buka dari luar bisa nggak? Coba panggil pak satpam.”

Menit demi menit berlalu. Bu dokter dan saya di dalam, dua orang satpam dan tiga orang staf klinik di luar tetap tak bisa membuka pintu. Saya mengintip lewat jendela kaca, beberapa satpam masih mencoba membuka secara paksa pintu itu. Dan ibuku, menyembul di antara mereka, setengah ingin tertawa tapi juga setengahnya lagi tidak. Terkunci bersama ibu dokter yang sedang memeriksa kita memang bukan kejadian yang bisa terjadi setiap hari sehingga mungkin ibu pun ingin tertawa. Namun pasti ia juga cemas dengan hasil pemeriksaan.

Ketika saya menoleh, bu dokter sedang menyeret kursi dan naik ke atasnya, kemudian meminta tang, obeng, dan segala macam alat lewat bagian atas pintu. Sayangnya alat-alat itu tak muat melewati bagian atas pintu yang penuh dengan ukiran.

Setelah hampir setengah jam terkunci, akhirnya pintu terbuka juga oleh bu dokter yang tak kenal menyerah memutar-mutar kunci pintu yang macet itu.

Fiiuuuh…. Alhamdulillah

Kejadian terkunci itu rupanya menjadi sederet peristiwa yang terjadi berikutnya di rumah sakit yang berbeda. Setidaknya bagian “terkunci” itu menjadi salah satu yang masih bisa membuat saya tertawa. Karena begitu kembali ke dokter yang menyarankan tes keseluruhan di laboratorium, sarannya menimbulkan kabut yang seolah datang tiba-tiba di siang hari, menyingkirkan tawa, yang seharusnya tak perlu saya singkirkan.

Kening dokter itu berkerut, alisnya naik, ia menopang tangannya di dagu sambil menatap tajam selembar kertas hasil check up milik saya.

“Kenapa, Dok?” tanya saya.

“Saya bingung. Kok dokter Grei menulis bahwa melalui pemeriksaan stetoskop ia menemukan irama jantung kamu tak seimbang. Ini disebut arithmia. Terus ada gullop juga. Tapi pada pemeriksaan lewat EKG menunjukkan bahwa tidak ada yang tak beres. Hasilnya normal…” katanya sambil membandingkan dengan kertas berisi sandi rumput.

“Hah? Bullop?” siapanya bulog? Kata saya dalam hati.

Gallop. Semacam……” ia menjelaskan dan saya tetap tak mengerti itu apa.

Dokter kemudian memeriksa berulang kali denyut jantung saya dengan stetoskopnya, sesekali menyuruh saya menarik nafas. Lalu meraih tangan kanan saya, mencari denyut nadi, menghitungnya dengan jam di pergelangan tangannya. Kemudian pindah ke tangan kiri. Setelah itu kedua tangan diperiksa denyut nadinya sekaligus. Ia seperti gusar karena kebingungan yang melandanya.

“Aneh. Saya tak menemukan ada yang tak beres.” Ia menyuruh saya balik lagi ke bangku. Kemudian membandingkan lagi kertas-kertas di hadapannya.

“Begini saja yah. Saya bukannya mau nakut-nakutin, karena bisa saya yang salah bisa juga dokter Grei yang salah. Beliau menemukan ada yang tak beres dengan jantung anda, namun itu tak terlihat lewat EKG, dan saya pun tidak menemukan apa-apa. Namun, sekecil apapun masalah di jantung itu, lebih baik cepat diperiksa lebih lanjut. Saya bukannya mau nakut-nakutin, namun sebaiknya anda periksa ke dokter spesialis jantung dan akan dilakukan pemeriksaan lebih mendetail. Semoga sih tidak ada apa-apa mengingat usia anda yang masih sangat muda, bahkan belum genap 20 tahun. Jika kamu mau, saya bisa tuliskan surat pengantar ke dokter spesialis, dan terserah anda mau ke dokter spesialis di mana. Apakah RS Harapan Kita, RS Cipto, atau mungkin keluarga anda punya dokter spesialis sendiri, silahkan.” Jelasnya panjang lebar.

Saya menelan ludah. Rumah sakit lagi?

“Tapi kenapa hasilnya bisa beda-beda gitu?” tanya saya lagi.

“Bisa saja kesalahan pada alat, bisa juga pada dokter Grei atau kesalahan saya. Namun terkadang –walaupun jarang sekali- arithmia memang tak terlihat lewat EKG. Maka saya menganjurkan anda untuk periksa lebih lanjut.”

Setelah mengucapkan terima kasih atas penjelasannya yang sangat mendetail, saya pun keluar dari ruang dokter itu dengan membawa hasil check up, lengkap dengan surat pengantar ke dokter spesialis jantung, dan lengkap pula dengan kekhawatiran yang memenuhi diri. Seolah ada bagian yang menutup pintu di pikiran ini dan mulai terkunci.

Di dalam batas

^^^^^^^^^^^^^^

(masih) 2007

Pemeriksaan pertama lanjutan di salah satu rumah sakit jantung di jakarta saya lalui dengan tes EKG (lagi). Perlu diketahui kabarnya untuk tes EKG ini memang tidak boleh sering-sering, harus berjarak beberapa bulan. Pertama bertemu dengan tes yang disebut EKG, saya tak menyadari bahwa selanjutnya akan sering melewati beberapa bulan dengan tes tersebut. Saat itu mata saya terpana melihat suster memasangkan alat-alat, seperti kabel yang semuanya tersambung ke mesin EKG dan ke diri saya. Ujung satunya, berwarna-warni cerah dan berbentuk seperti jepitan, dijepitkan masing-masing pada pergelangan kaki kanan dan kiri, pergelangan tangan kanan dan kiri, dan 4 sisanya berbentuk seperti lingkaran dipasang pada dada. Rasanya ngeri melihat begitu banyak kabel dipasang. Kemudian tombol ditekan, sang mesin merekam denyut jantung, dan kemudian yang keluar dari mesin itu adalah kertas yang di atasnya tertera gambar naik turun seperti rumput. Yang jelas bukan sandi rumput Pramuka.

Hasilnya? Tak jauh berbeda seperti tes EKG sebelumnya. Ketika masuk ke ruangan dokter, yang memandang saya dari balik kacamatanya, dokter berusia sekitar 67 tahun itu memberikan rujukan pada saya untuk melakukan tes echo dan treadmill, sambil mengedip pada saya. -_-

Keluar dari ruangan, nyali saya kembali mengecil manakala kembali menyadari 90% pasien yang menanti giliran ke ruangan dokter itu adalah pasien berusia di atas 40-50 tahun. Semua pasien tersebut, memandangi saya dari kepala sampai bawah. Saya memutar bola mata, mengalihkan wajah, ke tempat di mana saya tak bisa memandang wajah mereka.

Treadmill? Tak perlu saya jelaskan ya. Layaknya sedang fitness, saya berjalan di atasnya dengan kecepatan yang semakin lama semakin bertambah, bedanya di tempat ini kabel-kabel dihubungkan pula antara mesin dan tubuh saya. Walpaper gunung Fuji di sebelah kiri, dan pegunungan Tibet di sebelah kanan adalah hal pertama yang membuat perasaan sedikit tenang di tengah nafas yang menderu. Hal kedua? Perawat dengan suaranya yang merdu dan memegangi saya dari belakang supaya tidak jatuh, dan selalu mengingatkan setiap 15 menit bahwa kecepatan akan ditambah. Keringat mengucur deras dan detak jantung berdetak dengan cepat.

“Sebentar lagi kecepatannya semakin berkurang dan selesai.” Ucap si perawat.

Setelah selesai mengatur nafas, perawat menuntun saya –yang seperti habis naik pegunungan Himalaya-. “Atur nafasnya, tarik nafas, kakinya dilurusin.” Ucapnya sambil tersenyum, tetap dengan suara merdunya.

Selanjutnya tentu saja echo alias echocardiography atau istilahnya usg jantung. Echo menggunakan gelombang suara dan memperlihatkan ukuran dan bentuk jantung dan seberapa baik ruang-ruang pada jantung, otot, dan katup bekerja. Rasanya diperiksa dengan alat ini? Aduh, jangan banyak tanya deh :)).

Jika saja ibu ikut masuk ke dalam, mungkin saya sudah berpegangan erat padanya. Bukan karena sakit, tapi menahan tawa karena geli! Alat USG jantung itu ditempel pada bagian di mana jantung berada dan digerak-gerakkan, dan itulah yang membuat saya geli. Sayangnya suster, yang memeriksa, serius sekali memperhatikan hasil USG yang muncul pada layar, sehingga tidak bisa diajak berbincang-bincang (apalagi diajak tertawa bareng), dan saya harus menahan geli sendirian selama kira-kira 10 menit sambil sesekali cekikikan beneran, sendirian. Iih geuleuh yah -_-

^^^^^^^^^^^^^^

“Lukisan indah karena perpaduan warna, masakan nikmat karena perpaduan rasa. Hingga ketika kelabu mewarnai atau pahit dirasai, maka sabarlah… dengannya hidup akan lebih bermakna.”

-Kak Marai-

Bayangan kabur

Saya memandangi hujan yang ditumpahkan dari langit dengan seksama, dari pinggir jendela ruang kelas. Hujan turun semakin deras, terkadang disertai angin yang bertiup ke barat. Pohon bougenville di pinggir lapangan bergoyang-goyang, daunnya seolah mau rontok terguyur hujan deras dan tertempa angin kencang. Jika ia tidak bertahan, saya menduga ia akan seperti pohon yang pernah saya gambar di kertas -hanya menyisakan beberapa lembar daun- nyaris seperti pohon yang meranggas untuk menghemat air di musim kemarau.

Dosen belum datang. Kabarnya malah berhalangan hadir, maka kelas ini hanya dipenuhi oleh beberapa gelintir mahasiswa. Selebihnya kabur ke kantin atau perpustakaan.

Rinai hujan itu turun semakin deras, kali ini diiringi kilatan cahaya yang membelah bumi yang sedetik kemudian akan diikuti dengan suara keras yang akan membuat orang yang mendengarnya bisa berucap: “Astaghfirullah!” atau “Allahu Akbar!”

Saya merapatkan jaket. Bangkit dari kursi dengan hati-hati dan membuka jendela kelas yang semula tertutup rapat sampai tidak ada celah bagi sang air hujan untuk mampir ke ruangan ini.

Angin dingin serta merta menyambut. Saya mengulurkan tangan ke luar jendela, menengadahkan tangan, membiarkan tetesan hujan memenuhi telapak tangan. Beberapa detik tertampung, namun kemudian meluncur menetes dari telapak tangan menuju rerumputan di bawah sana.

Sesekali petir menghiasi langit, terkadang diikuti dengan suaranya, namun terkadang ia hanya kilatnya saja tanpa suara. Awan cumulunimbus pembawa hujan sudah sejak kemarin seolah tidak mau menggeser tubuhnya menuju kota lain untuk menyamaratakan hujan. Seolah ada bagian dari awan itu menyangkut pada tongkat tak terlihat yang berdiri kokoh di wilayah ini yang membuatnya tidak bisa pergi.

Tetesan hujan meluncur deras dari langit, mampir sebentar di dahan dan genteng untuk kemudian terjun bebas lagi ke tanah. Meresap masuk memberi suplai air pada setiap hewan dan tumbuhan yang hidup. Semua pohon bergoyang-goyang ketika angin menghembuskan nafasnya dan kondisi beberapa tumbuhan saat tertimpa hujan deras sangat menyedihkan. Merunduk seolah berlindung dari timpaan hujan deras dan angin kencang, tidak bisa lari berteduh karena akar mereka sudah berjanji untuk terus tertancap pada bumi dan tidak akan lari hanya karena hujan. Namun tak sedikit dari mereka yang mendongak tegak menantang hujan.

Tidak. Saya meralat ucapan saya barusan; mereka tidak menyedihkan.

Hujan yang selalu mampu memanggil memori. Mengingatkan saya ketika hari hasil echo dan treadmill itu dibacakan oleh dokter.

Pakdok mengamati hasil echo dan treadmill.

“Nanti, setiap pengobatan harus dijalani dengan sabar yah. Harus kuat.” katanya sambil menatap kertas di hadapannya dan saya bergantian.

“Emang jantungnya kenapa?!” saya memotong panik, memandang semua kertas-kertas hasil pemeriksaan yang kata-katanya satu pun tak bisa dimengerti.

“Ndak, ndak pa-pa. Hanya sedikit. Ada MVP sedikit.”

“Apa??”

“MVP.”

“APV?” mobil?

“MVP.”

“MPV?”

“MVP!”

MVP?” saya bertanya heran.

MVP? Most Valuable Player? Pertandingan basket? Apa sih?

“Iya, MVP.”

“MVP apaan?”

Mitral Valve Prolapse. Katup jantung yang seharusnya menutup, dia malah membuka sedikit. Tapi ndak pa-pa. Ini ndak bocor, jadi ndak harus operasi.” Jawabnya lagi dengan logat Sumatera yang kental.

Saya dan ibu berpandangan. Selanjutnya dokter memberi tahu untuk kembali lagi 4 bulan kemudian. Jika tak ada yang perlu dikhawatirkan, tegasnya, lebih baik saya dan beliau bertemu di cafe, mall, warung, stasiun, atau tempat lain saja, dan bukannya di rumah sakit. Saya menaikkan alis. Baiklah. Semoga ini memang tidak perlu dikhawatirkan.

Tak kau lihatkah ranting itu?

Dia bukan bersedih.

Dia sedang menari.

^^^^^^^^^^^^^^^^

Sejumlah kecil pemilik MVP membutuhkan obat-obatan untuk mengatasi gejalanya, dan sejumlah yang lebih kecil lagi membutuhkan operasi pada katupnya. Namun kebanyakan orang-orang yang terkena MVP tidak memiliki gejala atau masalah kesehatan dan tidak membutuhkan perawatan.

MVP-ers bisa hidup dengan normal, hidup aktif, dan bahkan ada yang tidak menyadari bahwa mereka memiliki MVP. Sayangnya saya mengetahui hal ini belakangan, setelah banyak senyum menghilang.

(bersambung)

Sumber:

What Is Mitral Valve Prolapse? National Heart Lung and Blod Institute.
http://www.nhlbi.nih.gov/health/health-topics/topics/mvp/  (Diakses tanggal 14 Mei 2012)

Women and heart disease. LYNDA E. ROSENFELD. p. 243. (diakses tanggal 13 Desember 2011)

14 thoughts on “MVP (1): Terkunci

  • November 29, 2017 at 9:59 pm
    Permalink

    Mbaknya penderita MVP. Boleh share donk mbk tntg MVP yg mbk jalani selama ini

    Reply
    • November 30, 2017 at 12:00 am
      Permalink

      Halo, pada kasus saya detak jantungnya lebih cepat sehingga tidak bisa terlalu lelah. Tapi saat itu saya mengimbangi dengan rutin jalan kaki dan jogging supaya detaknya lebih terartur. Cerita tentang MVP sudah ada di blog dengan tag Empvipih di sini >> http://rumahijau.web.id/tag/emvipih/ Atau ceritanya juga bisa dibaca di buku saya yang bisa dipesan ^^.

      Reply
  • December 1, 2017 at 2:52 am
    Permalink

    Sejak 6 bulan lalu saya didiagnosa MVP tanpa MR juga mbk. Saya bingung mau sharing atau tanya2 kesiapa lg mbk. Umur sy juga masih sekitar 23thn. Kadang dada saya rasanya tidak nyaman sekali. Smp sy bingung apakah ini serangan jantung atau bukan mbk. Atau nyeri karena psikis sy saja.

    Reply
    • December 1, 2017 at 3:51 am
      Permalink

      Berarti sudah periksa ke dokter jantung ya? Kata dokter kondisinya bagaimana? Masih bisa beraktivitas biasa kah?

      Reply
  • December 1, 2017 at 7:01 am
    Permalink

    Sudah pernah echo sy mbk. Kata dokter “jantung u itu ibarat Kehidpn dex, kadang lurus kadang berkelok-kelok, nah u dapat yg Berkelok2”. Waktu dicek alhamdulillah semua baik mbk. Gak ada drh yg bocor juga ke ventrikel. Cuma kadang nyerinya itu mbk lama banget. Mbknya Minum obat gak mbk selama ini? Kalau untuk aktfts alhamdulillah msh bs mbk.

    Reply
    • December 2, 2017 at 2:13 am
      Permalink

      Aku dikasi obat. Tapi ga aku minum sering2 saat itu. Cuma kalo berasa nyeri aja. Lupa nama obatnya tapi kalo ga salah waktu itu harganya Rp 2.000 saja. Aku waktu itu sering sesak nafas karena aku juga ternyata punya Skoliosis di tulang belakang.
      Setelah aku sempat marah2 dan kesal sama takdir, akhirnya (setelah liku-liku panjang) aku berdamai sama MVP-ku. Aku terima semuanya dan mulai memilah mana yang harus aku lakukan. Waktu itu aku putuskan untuk rutin jogging. Tapi sebelumnya aku tanya dulu ke dokter apakah boleh, katanya ga masalah. Maka aku pun latihan jogging. Setelah berdamai dan belajar atur nafas dan olahraga, Alhamdulillah semua terasa lebih baik. Oh ya, jangan lupa satu lagi: berbagi sama orang lain. Insyaa Allah makin sehat ya, Dek.

      Reply
  • December 2, 2017 at 8:38 pm
    Permalink

    Berati MVP memang menimbulkan rs nyeri dibagian kiri y mbk? Alhamdulillah sesak nafas sih engk mbk tp kadang2 nyeri aja. ju2r mbk smp saat ini aj ortu q blm tau kondsi sy krn sy tkt mrk jd khwtr. Sempet sy sedih dan kcw dng MVP yg sy miliki mbk. Bahkan kalau nyeri dtng sy mikir yg engk2. Tp sy sadar mbk Allah kasih ujian ini sm sy pasti pny maksut dan tujuan. Sy seneng bget Allah izinkan sy untuk membc web jenengan mbk.setidky ada motivasi trsdri buat sy untk sll berfkr positif lg. Dan ap yg mbk katakan memang ad benary bahwa sy hrs berdamai dng MVP saya

    Reply
    • December 3, 2017 at 8:01 am
      Permalink

      Iya, nyeri di bagian kiri krn jantung adanya di sebelah kiri. Ketika nyeri datang biasanya (kalo memungkinkan) saya berbaring, lalu atur nafas, berusaha memikirkan hal yang baik2. Kalau tdk bisa berbaring karena misalnya dulu pas lagi di kelas, saya berusaha atur nafas saja. Awalnya memang sulit tapi lama kelamaan insyaa Allah bisa.
      Kalau menurutku sebisa mungkin pelan2 kasi tau orangtua saja. Kalau belum bisa sendirian, minta temenin kawan atau mungkin saudara untuk bantu menenangkan orangtua misalnya takut meereka khawatir.
      Kamu tinggal di mana? Semoga kapan2 kita bisa ketemu ya misalnya butuh untuk sharing2 langsung.

      Reply
  • December 3, 2017 at 10:35 am
    Permalink

    Hehe itu dia mbk,,, sy takut ortu khawatir. Smp saat ini aj yg tau kondisi sy cuma kakak sy mbk. Sy cuma ngerasa gak nyaman aj mbk dng nyerinya. Kadang seharian nyeri smp menjalar ke punggung. Kalau untuk obat sebenry sy hmpir sm dng jenengan mbk “jarang sy minum”. Oiya mbk sy asli orang solo tp saat ini sy kerja disemarang mbk. Kalau boleh tau USG mbaknya dulu sempet ad kbocoran atau cm berkelok2 aj mbk pintunya? Hehe

    Reply
    • December 4, 2017 at 7:42 am
      Permalink

      Berkelok-kelok aja hehe. Jadi dari usg terlihat katupnya terbuka sedikit tapi Alhamdulillah tidak bocor.

      Reply
  • April 24, 2018 at 9:43 pm
    Permalink

    Mba, saya juga ada kelainan katup jantung kayak mba, boleh share selama sakit ini obat yg mba konsumsi apa aja ?

    Reply
    • May 12, 2018 at 5:27 pm
      Permalink

      @Kurn punya kelainan MVP juga?sudah lama kah mbk?

      Reply
      • May 15, 2018 at 2:51 pm
        Permalink

        Iyah, Kurn juga punya. Tidak saya jawab di sini karena sebelumnya sudah dijawab via IG. Ia baru terdeteksi.

        Reply
  • September 16, 2018 at 8:38 am
    Permalink

    Ternyata bukan sy saja.. Mbak yulia, sy baru search dan menemukan tulisan ini. Sy jg didiagnosa MVP mba, ada medsos yg bisa dihubungi? Ingin sharing.. Sebelumnya trima kasih

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *