MVP (2): Satu banding seribu

Setiap kembali ke dokter, dan mengabaikan pandangan aneh dari orang-orang sekitar, lama kelamaan saya merasa dokter yang pantas dipanggil kakek ini memang punya performa kuat untuk membuat pasien di depannya merasa lebih baik.

Di luar, di ruang tunggu itu. Kakek-kakek, nenek-nenek, ibu, bapak, rela dengan tulus ikhlas mengantri berjam-jam demi bertemu dengannya. Apalagi mengingat ini demi kesehatan dirinya sendiri. Dan adalah kekecewaan luar biasa ketika pintu ruang dokter dibuka kami tak menemukan wajah ramah itu dan hanya menemukan penggantinya yang tak semuanya sebaik dirinya.

Kata-kata sang dokter periang itu mampu membuat pasien seperti saya, yang awalnya membenci profesi dokter, menjadi berbalik 180 derajat, memperhatikan setiap inchi kata-katanya dan bahkan bisa tertawa dan mengusir rasa tegang dalam diri yang muncul setiap berkunjung ke rumah sakit untuk kontrol setiap 4 bulan sekali.

Dan benar saja. Manakala ia pergi seminar ke luar kota, banyak pasiennya yang kecewa. Saya juga. Ruangan itu sepi. Dokter pengganti ini terlalu serius rupanya. Hanya mencoret-coret pada kertas, dan sesekali bertanya. Ketika tiba giliran saya, (entah kenapa saya curiga pada raut wajahnya), ia menanyakan beberapa hal lalu menuliskan resep (resep yang sama seperti sebelumnya). Lalu entah kenapa kemudian berucap satu hal, satu kalimat yang mampu merubah sampai beberapa tahun setelahnya;

“Kamu klo nanti punya anak ya sakit jantung juga.” Katanya menatap saya, sambil tersenyum samar.

Saya membeku. (Jika saja sendal saya berlumpur, mungkin detik berikutnya sendal itu saya ceplak di atas kertas-kertas yang berserakan di meja kerjanya).

Tapi tidak ada detik berikutnya. Seolah saat itu waktu ikut membeku, bahkan sampai saya melangkah dengan sangat berat untuk pulang.

Rumah sakit itu selalu dingin dengan AC. Dan dengan hujan yang turun deras di pagi harinya, suhu udara hari itu rasanya dingin sekali, maka ketika pulang kami meminta supir taxi untuk mematikan AC. Saya membuka kaca jendela, memalingkan wajah dari ibu yang menatap dengan penuh khawatir, ke luar ke langit luas yang menurunkan gerimis.

Entah kenapa rasanya semuanya samar. Really, I don’t like this situation….

I can’t stand to fly.

I’m not that naive.

I’m just out to find…

The better part of me..”

(Five For Fighting; Superman (it’s not easy))

^^^^^^^^^^^^^^^^

Perlahan tetapi pasti, pertemuan dengan dokter pengganti dan kalimatnya itu menimbulkan semacam pergolakan dalam diri. Antara kalimat “ndak pa-pa” milik pakdok, dan kalimat dokter pengganti itu. Beragam kalimat berkecamuk dalam diri.

Aih, kalau lah saya anggap ia gadungan, lalu untuk apa kalimatnya saya pikirkan? Tapi bagaimana jika benar? Tapi toh dia bukan Tuhan yang menentukan? Tapi kenapa dia sok tahu?

Lama kelamaan saya mengerti bahwa, pada banyak kasus, seseorang bertambah sakit justru bukan karena penyakitnya, tapi karena apa yang dipikirnya. Kalimat “Ndak pa-pa” yang diucapkan pakdok justru yang harus saya perhatikan. Tapi sayangnya, manusia memang terkadang terlalu riweuh pada satu kekurangan sehingga terlupa pada seribu kelebihan yang diberikan.

Berbulan-bulan, sampai bahkan bertemu dengan pakdok tua itu, rasa percaya diri saya hanya sedikit naik. Tapi tetap tak mengubah seperti awal lagi.

Apalagi ketika bertanya kepadanya kapan saya akan sembuh, kapan MVP ini menghilang dan saya bisa mulai belajar untuk menyelam sesuai mimpi saya? Pak dokter menggeleng, kalimatnya tentu saja menenangkan tapi tak mampu menorehkan senyum di wajah saya.

“MVP tak bisa hilang. Ia bisa tetap begitu, atau bertambah. Nah, kamu, berusahalah untuk tetap begini saja. Saya harap ndak bertambah yah.” Katanya dengan melanjutkan pertanyaan kapan undangan akan mampir ke meja kerjanya.

Mengabaikan pertanyaan undangan, kuliah yang masih baru setengah jalan dan ucapan dokter pengganti membuat saya tak mendengar kata “undangan”. “Selamanya tak bisa hilang?” Tanya saya, mengerutkan dahi.

Pakdok mengangguk.

Saya mengatupkan rahang.  Runtuh lah karang-karang dan anemon karena ledakan bom di pikiran saya.

Kekhawatiran yang berlebih pada kalimat-kalimat tersebut malah menyeret saya menuju pinggir jurang. Perlahan tapi tanpa disadari merubah banyak yang ada pada diri saya. Dan anehnya saya tak menyadarinya. Ya, ini karena pengaruh 1:1000 tadi.

Sampai suatu hari ada yang aneh pada desktop layar laptop yang biasa saya gunakan. Ada satu gambar di sana. Satu gambar smileyseperti ini:

Mr. Smile 🙂

Siapa yang menaruhnya di sana? Saya melirik abang. Rasanya bukan. Dan ketika ditanya memang bukan ia pelakunya.

Pasti kerjaan dia. Lirik saya lagi, kali ini pada sahabat sejak SMA.

Dan benar saja ketika ditanya, si pelaku ini memang mengakui bahwa ia lah yang meng-copy gambar Mr. Smile itu pada layar desktop saya. Alasannya? Cukup membuat saya terpaku. Dan menghilangkan tawa saya sejenak.

“You lost your smile.” Katanya sambil menatap saya tajam. “Dan jangan hilangkan lagi yang tersisa.”

Sejenak saya membuka mulut, ingin membantahnya, tapi tak ada yang keluar.

^^^^^^^^^^^^^^

Ketika gejala jantung berdetak cepat dan sesak nafas menghampiri di tengah kuliah, saya, yang dibawa oleh teman-teman ke dokter kampus, malah diomeli oleh dokter tersebut. Di awal percakapan, dokter tersebut tak tahu apa itu MVP, tapi begitu saya sebut nama pakdok, beliau langsung meninggi dan berkata; “beliau itu dokter hebat! Profesor! Masa kamu gak sembuh-sembuh juga! masih sesak nafas gini. Periksa lagi sana.”

Buset dah. Orang baru bangun abis digotong malah diomelin -_-.

Begitu saya kembali ke pakdok, apa katanya? Beliau seperti biasa berkata santai seperti di pantai dan slow seperti di pulau, mendengarkan saya yang bercerita panjang lebar dengan panik, sambil kadang senyum-senyum, lalu berkata; “Kamu takut mati ya?” Beliau lalu terkekeh. “Ya memang begitu gejalanya, makanya jangan sering-sering kelelahan. Atau sekarang lagi musim ujian? Pulang sana. Istirahat. Jangan sering-sering lah bertemu di sini, lebih baik bertemu di restaurant untuk traktir makan.”

Well, kesalahan pada waktu itu adalah: kecewa dan sedih karena merasa kondisi yang berbeda dari sebelumnya. Merasa diri berubah menjadi tak bisa melakukan ini, tak bisa melakukan itu. Dan perasaan terpuruk itu justru malah berujung pada semakin buruknya kesehatan dan menghilangnya senyum. Yes, you go to the wrong way!

Meingingat pembicaraan jengah dengan dokter di klinik kampus di atas, sesudahnya teman-teman tidak lagi membawa saya ke sana ketika tumbang. Mereka, yang sudah selalu saya repotkan, membiarkan saja saya menenangkan diri dulu sejenak, mengatur nafas dan memikirkan hal positif semampunya. Aih, mereka yang selalu saya repotkan, sementara yang saya berikan adalah wajah murung dan gusar karena belum bisa menerima sesak ini.

Semester berlalu, dan betapapun saya mencoba untuk tersenyum dikala semua runtuh, rasanya tetap saja sulit. Pada beberapa waktu memang saya tertawa sampai terbengek-bengek di tengah lelucon yang lain, tapi di waktu lain, mungkin memang lebih banyak “tanpa senyum.”

Pada sebuah permainan di penghujung akhir pekan, di saat kami hampir wisuda. Seolah saya kembali pada momen beberapa tahun sebelumnya di kasus Mr. Smile itu. Saya lupa bagaimana persisnya peraturan permainan itu, yang jelas masing-masing menuliskan sifat atau karakter seseorang di sebelahnya pada sebuah kertas kecil, kertas itu kemudian diputar berkeliling sehingga semua akan kebagian menulis mengenai seseorang tersebut.

Begitu kertas dikembalikan. Saya membacanya satu per satu. Beberapa menuliskan hal-hal tak penting dan hanya sebuah ledekan, tapi sisanya mengikuti permainan dengan serius.

Beberapa orang memang menuliskan hal yang saya pikir memang sesuai dengan saya, tapi 3-4 kata yang sama dari tulisan yang berbeda-beda tentu tak bisa begitu saja diabaikan.

“Kurang senyum, pendiam.”

Begitu bunyinya.

Saya menarik nafas menatap tulisan-tulisan di sana. Aih, masih kurang juga ya?

^^^^^^^^^^^^^

Juli 2010

Saat itu pipi saya bengkak sebelah akibat masalah gigi yang dibiarkan berlarut-larut. Terakhir saya ke dokter gigi adalah ketika kelas 5 SD! Aargh.. kenapa masalah dokter selalu menjadi hal menyeramkan sih? Karena khawatir bengkak di gusi berlanjut dan merambat ke tempat lain, saya memutuskan pergi ke dokter gigi dengan catatan: dokter gigi itu adalah teman abang.

Saya dengar beliau punya praktek di rumah juga. Dengan dokter kenalan ini, tentu selama mulut saya diberi perlakuan macam-macam, abang bisa tetap berada di dalam ruangan itu sehingga saya tak panik. Begitu dokter yang hanya terpaut sekitar 3 tahun dari kami itu mengetahui bahwa ada MVP pada jantung saya, ia tak berani mengambil resiko. Gigi yang sudah akut ini harus dicabut karena tinggal akarnya saja. Dan untuk mencabutnya butuh anestesi pada gigi sekitarnya. Obat yang digunakan khawatir berpengaruh pada jantung dan pembuluh darah. Meski dosisnya kecil tetap saja ia tak mau.

“Minta izin dulu pada dokter jantung, baru kembali ke sini. Sekarang bersihkan karang gigi saja.” Katanya.

Akhirnya dua hari kemudian saya terpaksa menuju rumah sakit lagi. Saat itu pak dokter utama sudah memberitahu dan menegaskan tak perlu saya kembali-kembali lagi kecuali untuk mengantar undangan. Dan saya pun kemudian dibingungkan oleh beliau yang pindah ke bagian eksekutif. Aih, kehilangan dokter ini di saat persetujuannya dibutuhkan untuk masalah gigi-geligi rupanya seperti kehilangan jarum ketika akan lomba meletusin balon! Begitu kembali, saya tak punya rekomendasi dokter lain. Bagaimana jika dokter yang akan menjadi dokter saya ternyata galak, kacau, dan tak ramah? Tapi kalau tak segera diputuskan bagaimana nasib gusi bengkak ini? Akhirnya saya menurut saja pada dokter yang dpilihkan petugas. Berdoa semoga dokter yang ini tak galak.

Bu dokter menatap pipi saya yang bengkak, tersenyum kecil. Ucapan selanjutnya kali ini merubah lagi semuanya.

“Nggak papa kok sebenernya klo mau langsung dicabut juga giginya. MVP tak menghalangi. Tapi saya mengerti sih, dokter gigi itu tak mau sembarangan.” Ia diam sejenak. Tersenyum, menatap jemari saya, menatap mata saya. Seolah menangkap apa yang selama ini mengukung dalam diri.

“Tak ada yang perlu dikhawatirkan sebenarnya, selama kamu tidak dipenuhi dengan kekhawatiran. Sama saja dengan yang lain. Kamu bisa jatuh cinta, dicintai, menikah, punya anak, bekerja, beraktivitas, bisa saja. Tak jauh berbeda dengan yang lain.”

Saya terdiam, mendengarkan setiap kata-katanya. Apa yang beliau ucapkan memang tak jauh berbeda dengan apa yang pakdok ucapkan. Dan seharusnya sudah saya mengerti 2 tahun belakangan ini.

Bu dokter lalu membubuhkan tanda tangan pada surat rekanan yang nantinya akan diberikan pada dokter gigi. “Kontrol ke sini setahun sekali juga boleh.” Ucapnya lagi, masih dengan senyum di wajahnya.

Begitu keluar dari ruang dokter, rasa lega luar biasa melingkupi diri saya. Menggantikan batasan-batasan yang justru saya buat sendiri, saya khawatirkan sendiri.

Benar rupanya kalimat; “too much worrying makes you nowhere.”

Semoga, belum terlambat untuk menggantikan deretan senyum yang selama ini hilang… Bahwa satu banding seribu itu tetap harus diyakinkan di dalam diri.

“I think everyday bring surprises,

you just have to keep your eyes wide open

and let things fall into their places.” ~ Karolina Kurkova ~

~ Menarilah

^^^^^^^^^^^^^

Bagaimana hidup dengan MVP? Eh tapi rasanya ini umum juga ya bagi semua orang supaya terhindar dari segala macam penyakit:

  • Pola hidup sehat: atur pola makan (ini nih yang masih berantakan, ada yang bisa bantu saya? hehe)
  • Hindari asap rokok! (apalagi merokok -_-). Batuk-batukilah orang-orang yang merokok. (kompor inih :p)
  • Cari tahu tentang relaksasi (lakukan hal-hal yang bisa membuat diri sendiri rileks, misalnya mendengarkan musik, atur nafas dan berhitung 0-10 ketika mulai sesak dan riweuh, mengamati rerumputan hijau, atau bermain di luar ruangan).

    It’s tea time
  • Cari tahu tentang batas kemampuan diri sendiri dan tidak melakukan semua hal dalam satu waktu.

Kecewa memang ketika pertama kali didiagnosa MVP lalu kemudian rasanya ngap-ngap-an ketika menuju kelas yang berada di lantai 3, atau ketika berkeliling lapangan bola dan bertemu dengan orang-orang yang selalu berseru; “Ayo lari! Jangan jalan!” pada saya yang saat itu berjalan kaki pagi hari.

Mengapa bisa terjadi sesak nafas sesudah berlari? Jawabannya seperti yang sudah diuraikan di atas. Ketahui batas diri. Jogging lah, dan bukannya lari lah. Jogging alias lari kecil. Jika ini memang mampu dilakukan, maka lakukanlah. Jika tidak maka jangan lakukan. Dan saat itu pula untuk pertama kalinya saya belajar untuk jogging secara konstan. Salah satu sebab sesak nafas waktu itu adalah karena melakukan lari-jalan-lari-jalan. Ritmenya BERANTAKAN dan rasanya jantung pun ikut bingung karena aktivitas yang cepat-lambat-cepat-lambat.

Dan jangan lupa pemanasan dulu. Peregangan untuk melemaskan otot-otot, tarik nafas, dan mulailah lari-lari kecil dengan kecepatan konstan. Bisa mulai dengan setengah lapangan, atau bisa juga langsung satu putaran lap, dengan syarat kecepatan KONSTAN.

Putaran pertama saya? Walaaah. Keringat dingin di tangan, nafas dag-dig dug, perut sakit. Tapi walau begitu harus tetap diselesaikan sampai satu putaran dan tak boleh berhenti begitu saja.

Saran yang tak kalah penting: jangan lakukan ini sendiri tapi bersama orang yang sudah pengalaman dengan jogging, sekalian men-support gitu jika sudah mulai ngap-ngap-an hehe.

Lakukan ini secara tetap minimal seminggu 2x. Sesudah jogging, misalnya 2 putaran, jangan langsung berhenti tapi lanjutkan dengan jalan kaki satu putaran lagi supaya jantung juga tidak kaget, apalagi jika kaki langsung ditekuk dan tidak diluruskan.

Dan jika sudah terbiasa, jogging dua putaran sekaligus pun bisa dilakukan. :). Meski kemudian jogging (untuk sementara) tak saya lakukan karena menjalani perawatan tulang punggung, tapi rasanya puas sudah pernah melakukannya bersama MVP. Dan ternyata setelah terbiasa, jalan kaki pun menjadi rutinitas yang sangat menyenangkan.

Berjalan dengan baik kah semuanya? Tidak ketika saya lupa dengan “melakukan semua hal dalam satu waktu”. Nanti Insya Allah saya ceritakan kejadian di Pulau Tidung.

Rasa senang bisa ikut mengikuti kegiatan bersama anak-anak Cibulao pun membuat saya mungkin terlalu bersemangat sehingga kemudian justru melupakan satu hal penting: udara dingin. Rule no.2: avoid chilly weather. Jika memang harus berada di udara dingin, ya jangan lupa dengan benteng-bentengnya alias segala jaket dan baju hangat.

Apa yang salah sewaktu ke Cibulao? I forgot to bring my legging. Yeah, baju hangat macam itu penting sekali apalagi di tempat tinggi yang dikelilingi bukit-bukit dan angin dingin. Meski yang lain tidur di luar sementara saya di dalam saung bersama Mrs. bule. Tapi ternyata angin yang masuk melalui celah-celah papan saung seolah seperti tak ada bedanya dengan dingin di luar. Akibatnya? Walaah serbuan kedinginan sepanjang malam dan sama sekali tak bisa tidur. Akibatnya lagi? Fiuuh… kurang tidur kurang energi, padahal esok harinya acara butuh banyak energi. Yaah tak perlu heran jika sesudah itu tumbang hehe.

Maka ketahui-lah batas diri. Peraturan nomor satu dalam MVP,

rule no. 1: avoid overworked.

Jika ini sudah diterapkan Insya Allah lancar seperti sewaktu kemping di Bojong dan mendaki ke Cibereum :).

“Temukan kecepatanmu sendiri. Kenali diri sendiri, lakukan tugas. Rileks. Jangan khawatir, dan nikmati perjalanan.” ~ Garry P. Scott ~

  • Paling utama: kembangkan pemikiran positif. Saya adalah orang yang sering sekali dihantui dengan pikiran negatif. Apalagi sewaktu awal didiagnosa memiliki MVP. Rasanya gamang. Pernah suatu hari membaca sebuah catatan mengenai seorang ibu yang terkena penyakit kanker. Setiap akan menjalani kemoterapi yang menyakitkan, sang ibu itu membawa makanan yang memacu nafsu makannya beserta keranjang pikniknya sekaligus. Alasannya? Supaya ia berpikir bahwa pergi ke rumah sakit itu juga bagian dari piknik! Ya, alih-alih terpuruk, beliau menyetir pikirannya supaya berpikir positif. Hal yang masih terus berusaha saya pelajari. Sehingga rileks dan melakukan hal yang menyenangkan menjadi hal yang sangat penting.

“Think positive yaa.. We all in God’s hand, remember? Jadi Dia yang menguasai jantungmu. sebut Dia, Insya Allah lebih tenang, sayang. Pikirkan hal indah. About nitefurry misalnya =)” ~Ime~

Sampai di sini rasanya memang banyak petualangan yang dialami diri ini. Dan saya rasa setiap orang memiliki jalur petualangannya masing-masing, berusaha dengan caranya, dan sebenarnya pun mampu bangkit dari segala hal yang pernah membuatnya terjatuh, meski mungkin pernah sampai nyusruk.

Menemukan caranya sendiri.

Yes,

We can not direct the wind but we can adjust the sail.”

~unknown.~

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *