Bogor-Jakarta: relaks sejenak

Ke mana kompas anda diarahkan ketika hari libur tiba? Menuju lapangan terbuka? Menuju hutan lebat? Taman kota? Duduk di kebun belakang rumah? Atau berputar-putar di mall?

Tak melarang pilihan terakhir, tapi bagaimana kalau kita bahas lagi ruang terbuka hijau? (setelah sebelumnya sudah dibahas kegiatan luar ruang di sini).

Ruang terbuka hijau. Hanya dengan mendengar tiga kata itu saja rasanya sudah tercium aroma petrichor yang meruap dari rerumputan hijaunya, terbayang tetes air di ujung rerumputannya yang masih tersisa, seolah memanggil siapa saja untuk duduk di sana atau sekedar memperhatikan pantulan yang tergambar pada bulatannya.

Ruang terbuka hijau tempat di mana setiap diri bisa melakukan aktivitas luar-ruang seperti bermain bola, berjalan kaki dengan lingkup udara bersih, pengamatan burung (birdwatching), dan aktivitas lain yang bermanfaat bagi kesehatan jiwa dan raga karena meliputi juga peran ruang terbuka hijau sebagai tempat mengakrabkan diri dengan anggota keluarga ataupun teman seperjalanannya.

Dua tempat yang akan saya ceritakan berdasarkan pengalaman ini merupakan ruang yang telah ditetapkan dan diketahui sebagai ruang terbuka hijau sejak lama. Sementara satu tempat yang terakhir disebutkan nanti adalah area yang masih belum diperhatikan pemerintah dan (mungkin juga) masyarakat, yaitu daerah tepi sungai.

^^^^^^^^^^^^

25 Januari 2011, Kebun Raya Bogor

Menyambung perjalanan ke Kebun Raya Bogor yang tertunda sewaktu cerita di sini, kami (terutama saya) mengulangi niat untuk bertemu dengan Raja Udang Meninting yang seringkali dilihat dan dijepret oleh para pengamat burung di Kebun Raya Bogor itu, tapi belum pernah sekalipun dilihat oleh saya.

Bogor dikelilingi oleh 4 gunung dan hutan hujan tropis; yaitu gunung Salak, Gunung Gede, Gunung Pangrango, dan Gunung Pancar. Kota ini terkenal dengan kota hujan karena curah hujannya yang tinggi.

Gunung Salak dari kejauhan

Kebun Raya Bogor mudah dijangkau dengan kereta api, dengan harga tiket Rp 2.000 untuk ekonomi dan Rp 6.000 untuk Commuter Line. Transportasi ini murah dan ramah lingkungan, sehingga kereta api juga menjadi transportasi yang menyenangkan, apalagi jika tak banyak gangguan dan tingkat penuhnya masih wajar. (Lha jadi mengkritik lagi :p).

Tiket masuk Kebun Raya Bogor adalah Rp 9.500. Di meja informasi di pintu masuk terdapat leaflet yang berisi peta keseluruhan area yang bisa dibawa oleh pengunjung.

Hadi Susilo Arifin dan Nobukazu Nakagoshi (2011) menyebutkan bahwa Kebun Raya Bogor turut ambil bagian dalam ruang terbuka hijau di kota ini. Kebun Raya Bogor merupakan area konservasi eks situ dengan total 2.972 spesies dari 55 famili tumbuhan dan menjadi tempat habitat bagi hidupan liar seperti burung, mamalia kecil, dan serangga.

Menurut Levelink et al. (1997), ada lebih dari 50 burung yang teridentifikasi yang hidup di Kebun Raya Bogor. Di antaranya yaitu kepodang (Oriolus chinensis), walik kembang (Ptilinopus melanospila), kutilang (Pycnonotus aurigaster), kucica (Copsychus saularis), and cinenen kelabu (Orthotomussepium), Cinenen biasa (Orthotomus sutorius), kowak (Nycticorax nycticorax), kuntul perak (Egretta internedia), kuntul perak kecil (Egretta garzetta), dan burung udang atau cekakak (Halcyon chloris) (Hadi Susilo Arifin; Nakagoshi, Nobukazu. 2011)

Burung terakhir yang disebutkan adalah yang saya cari-cari :p

“Bogor ~ kami penasaran pada spesies pohon itu. Jongkok di bawahnya, memperhatikan bentuk daun & aroma buahnya. Macam ilmuwan nyasar.”

Raja Udang Meninting belum juga ditemukan ketika kami baru melewati beberapa belas meter dari pintu masuk. Deretan pohon-pohon besar berusia ratusan tahun menarik perhatian saya yang rasanya terakhir berkunjung sekitar 14 tahun lalu.

Cucak Kutilang atau Pycnonotus aurigaster -lah yang ramai menyambut kami. Burung yang biasa saya lihat bertengger di pohon jati di halaman belakang rumah itu melompat dari satu dahan ke dahan pohon lain yang masih mudah dijangkau kamera.

Cucak Kutilang

Untuk ukuran seluas ini, Kebun Raya Bogor memang tergolong cukup sepi. Kami mengikuti saja jalan setapak beraspal halus, sesekali menengok ke arah yang terdapat aliran air, siapa tahu bertemu Raja Udang dan kawan-kawannya.

Papan penunjuk jalan menunjukkan kolam teratai di depan sana. Di jembatan menuju lapangan terbuka, terdapat stand penjual makanan; nasi uduk, nasi kuning, beserta beberapa jenis kerupuk. Saya nyengir lebar pada nasi kuning dengan harga Rp 5.000 itu. Jalan kaki rupanya membuat cukup lapar. Semoga berat badan bisa sedikit naik setelah ini :p.

Teratai dengan daunnya yang lebar bertebaran di kolam. Air mancur yang berada di salah satu kolam menambah sejuk ruang terbuka itu, apalagi matahari bersinar tak terlalu terik.

Teratai, Hairy Water Lily, Kebun Raya Bogor

Di sinilah saya, 14 tahun lalu, saling berlari menyongsong Ririn yang saat itu berusia 3 tahun. Dan sekarang, belasan tahun kemudian, anak itu kerap kali dikira saudara kembar saya. Ada-ada ajah, gimana bisa kembar beda 8 tahun -_-.

Area ini mungkin yang lebih ramai daripada area lainnya. Dan seperti kami 14 tahun lalu itu, saat ini pun orangtua beserta anak-anaknya beraktivitas hilir mudik; ada yang berlarian mengejar bola, memegangi anaknya yang baru belajar berjalan, bahkan bermain bulu tangkis. Ingat kan manfaat bermain di outdoor? yaitu bermanfaat bagi fisiologi, psikologi, fisik, dan sosial.

Tashiro (2009) dalam Hadi Susilo Arifin dan Nobukazu Nakagoshi (2011) juga menyebutkan bahwa dari segi perspektif lanskap ekologis, Ruang Terbuka Hijau memiliki fungsi kultural dan estetis, yaitu menjadi area hijau yang menyenangkan dan tempat di mana masyarakat bisa melakukan relaksasi.

Bermain di luar

Saya mendudukkan diri di tepi kolam, memandangi teratai warna kuning, membuka nasi kuning dalam bungkusan, dan menyuapnya. Rasa nasinya jauh daripada yang dibuat oleh Uti (-red: nenek), tapi rasanya segala makanan yang disantap di area terbuka dalam suasana menyenangkan menjadi jauh lebih nikmat.

Kota hujan yang seringkali juga dijuluki sebagai kota seribu angkot pun saat itu terlihat berawan. Ditambah lagi dengan adanya pohon tinggi-tinggi besar yang menaungi jalan setapak di area ini. Beberapa tumbuhan menarik perhatian kami, sayang ada di antaranya yang tak diberi keterangan spesies.

Salah satu tumbuhan menarik kami untuk memungut beberapa buahnya yang masih kecil yang berjatuhan di tanah, meneliti sejenak daunnya, menghirup aroma buahnya yang kemudian disusul dengan gerakan mengernyitkan kening.

“Jambu??”

Entah kenapa, kami berhenti cukup lama di bawah pohon itu, memutari batangnya, berdiri sejenak di bawah ranting-ranting dan dedaunan yang melingkupi.

(benar saja tumbuhan ini memang sejenis jambu-jambuan).

Habitat yang beraneka ragam di Kebun Raya Bogor, seperti tepi sungai, danau, kolam, rerumputan, semak belukar, dan pepohonan tinggi sangat penting bagi keberlangsungan burung dan hidupan liar lainnya.

Selain kolam teratai yang tadi, juga terdapat kolam kedua untuk latihan pengamatan burung (birdwatching). Luas kolam ini lebih besar daripada kolam teratai tadi. Di spot kedua ini terdapat beberapa koloni burung air spesies Kuntul (eh koreksi jika salah ya) yang beterbangan ramai-ramai.

Spot mana lagi yang wajib dikunjungi? Terakhir tentu saja Museum Zoologi! Akhirnyaaaah setelah sekian lama saya bisa ke sini juga 😀

Museum Zoologi didirikan pada tahun 1894 oleh Dr. J.C. Koningsberger. Museum ini semula adalah laboratorium kecil. Dengan ruang seluas 1.500 m2, saat ini Museum Zoologi memiliki koleksi spesimen hewan yang terdiri dari fosil-fosil hewan langka dan yang sudah punah dari seluruh Indonesia.

^^^^^^^^^^^^^

23 Maret 2012, Taman Monas

Sebagai manusia, seseorang dengan aktivitas padat pun juga harus memiliki kesempatan untuk beristirahat dengan cukup dan memulihkan diri. Jika terdapat keseimbangan antara minat, aktivitas, apresiasi, dan istirahat, maka seseorang tersebut perduli dengan kesehatan tubuhnya, dan stres yang disebabkan oleh kelelahan bisa dihindari (Maslach. 2001; p.3)

Ruang terbuka hijau di Jakarta meliputi taman kota, area bermain, pemakaman, kebun botani, jalur kereta api, tepi sungai, pesisir, danau, rawa, bendungan, dan tempat pembuangan yang ramah lingkungan. Semua jenis ruang terbuka tersebut merupakan bagian dari hutan kota (Soedarsono Riswan, Themy Kendra Putra, Nurul Jannah, 2005).

Ruang terbuka hijau dengan tumbuhan di dalamnya memberi banyak manfaat bagi masyarakat kota, yaitu sebagai peredam kebisingan, mengenalkan alam, menghalangi radiasi sinar ultraviolet, serta menciptakan kualitas udara yang lebih baik untuk dihirup manusia.

Hari libur saat itu, kami berempat bertemu di Mall. Dan ini pertama kalinya bagi saya berkunjung ke mall megah dan besar tersebut haha. (Belum pernah ke mall ini dan itu tidak menjadi indikator masalah kan?, kalo saya belum pernah ke Jawa Tengah yang notabene kampung ayah dan ibu itu baru masalah BESAR :p).

Usai putar-putar tak jelas di sana (iyalah gak jelas, orang nggak ada yang mau dibeli :p), kami bingung akan ke mana lagi. Karaoke, pulang, atau main bowling? Duh, masalah deh pilihan terakhir, bola yang nggak tahu berat atau tidak buat saya itu rasanya bikin khawatir. Khawatir malah ikut kebawa pas bola meluncur :)). Gimana kalo kita maen bekel aja, sodara-sodara?

Syukur area permainan itu penuh dan ngantri! Alhamdulillah 😀

Setelah menimbang, memutuskan, menghitung kancing, dan berdiskusi di tengah hiruk pikuk mall, akhirnya pilihan kami jatuh pada “Es Krim Ragusa” dan Monas sesudahnya! HOREEE! *sebar confetti

Es Krim Ragusa terletak di Jalan Veteran I No. 10. Atau di samping Masjid Istiqlal. Kabarnya es krim ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda dan sejak dulu es krim Ragusa ini tidak menggunakan bahan pengawet dalam pengolahannya.

Karena daya tarik dan sejarahnya itulah, tempat ini selalu ramai dan penuh. Saat itu kami bahkan mengantri cukup panjang sampai ke luar ruangan dan berebutan tempat duduk dengan orang lain. Ieh serem euy berebutan gara-gara es krim -_-.

Usai kenyang dan kedinginan dengan es (lebay ih) kami menyeberang jalan menuju Monas, yeah!

Tempat ini selalu menjadi sasaran liburan warga kota. Terdapat di pusat kota Jakarta, Monas memiliki cakupan area berupa tugu Monas, museum, dan juga taman. Biasanya pada hari libur, masyarakat mengantri untuk sampai ke atas tugunya, memandangi Jakarta dari atas.

Monas didirikan pada tahun 1959 dan diresmikan dua tahun kemudian oleh Bung Karno pada tahun 1961. Taman Monas dulu sempat bernama Lapangan Gambir, kemudian berganti nama menjadi Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas dan kemudian menjadi Taman Monas.

Jumlah dan kualitas ruang terbuka hijau mempengaruhi pola kegiatan penduduk, frekuensi rekreasi sehari-hari, cara memperoleh pengetahuan lingkungan hidup, peluang untuk bisa relaks dari tingkat stres dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan sebagainya. Sebuah penelitian juga mengungkapkan bahwa ruang terbuka hijau memenuhi fungsi yang berbeda-beda dalam setiap tingkatannya. Contohnya, hutan yang luas di tepi kota berperan penting bagi penduduk sebagai sasaran rekreasi di akhir pekan, sementara taman kecil di tengah kota memiliki peran yang kuat dalam kehidupan sehari-hari warga kota (Van Herzele, Ann; Wiedemannp, Torsten. 2012).

Hal ini terlihat dari area taman Monas yang ramai dengan warga kota di hari libur itu. Sejumlah anak dan keluarga bermain bola, berjalan kaki, atau duduk-duduk saja menikmati angin yang cukup kencang di sore itu. Di taman ini juga terdapat penjual layang-layang dan penyewaan sepeda. Angin kencang rupanya turut menyuburkan pendapatan penjual layangan :).

Woaah, saya dan Vidy semangat ingin membeli layang-layang kecil berharga Rp 5.000 itu. Dan akhirnya beberapa menit kemudian kami ber-empat sudah larut hilir mudik berjalan ke sana ke mari dan berteriak-teriak menerbangkan layangan. Memegangi benang layangan dan menerbangkannya bergantian.

Apa waktu kecil tak pernah main layangan ya? Seinget saya sih….. saya pernah kok :p

Terakhir rasanya beberapa tahun lalu, dan di Monas juga. Tapi saat itu bermain layangan dengan kondisi sudah pukul 21.00 dan tak ada angin yang bertiup :)). Sementara senja itu angin bertiup menderu-deru, membuat layang-layang kami terbang tinggi tapi lalu menukik tajam karena kami sulit mengulur benangnya (kesulitan apa norak ya).

Rasanya suara sampai serak karena berteriak; “Tarik.. Tarik! Ulur-ulur! Awass, sepeda!” begitu teriakan dan peringatannya karena terkadang terlalu fokus pada layang-layang sehingga tak memperhatikan sepeda-sepeda yang hilir mudik digowes. Matahari beranjak terbenam. Kami menyudahi menerbangkan layangan, berniat ingin membawanya pulang tapi rupanya tak muat di tas, sehingga layang-layang kecil itupun berpindah tangan pada anak penjual balon.

Dadah layangan :D.

Recent work has shown that living in areas with walkable green spaces, as opposed to living in areas without walkable green spaces, was associated with greater likelihood of physical activity, higher functional status, lower cardiovascular disease risk, and longevity among the elderly, independent of personal characteristics (Urban health: Evidence, Challenges, and Directions. 2005)

^^^^^^^^^^^^

17 Agustus 2011, Ciliwung-Rawajati

Bagaimana jika kesulitan mengakses ruang terbuka hijau? Karena jarak dan biaya misalnya. Seorang kakek dengan satu cucu ketika melihat liputan tentang sebuah tempat rekreasi secara refleks berkata kepada saya; “Coba tempat-tempat rekreasi kaya gitu murah ya, deket lagi. Jadi kan semua orang, termasuk kita, bisa ke situ juga.”

Idealnya sebuah ruang terbuka hijau yang nyaman memang sebaiknya berada dekat dengan masyarakat dan bisa diakses oleh siapa saja.

Dalam Landscape planning and stress menunjukkan hubungan antara jarak dan frekuensi berkunjung warga ke ruang terbuka hijau. Semakin sulit aksesnya, frekuensi warga berkunjung ke ruang terbuka hijau tersebut semakin sedikit (Maslach. 2001). Padahal seperti yang sudah kita ketahui, ada banyak manfaat yang diperoleh dengan berkunjung ke ruang terbuka hijau tersebut.

Jarak yang jauh dan terbatasnya akses membuat masih banyak warga yang belum bisa merasakan langsung manfaat ruang terbuka hijau. Sehingga akan lebih baik jika terdapat ruang terbuka hijau yang lokasinya dekat dan memudahkan siapa saja untuk bisa mengaksesnya.

Tepi sungai yang sesungguhnya juga termasuk ruang terbuka hijau masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Ini karena masih kurangnya perhatian pemerintah dan kesadaran warga akan lingkungan. Sehingga daerah tepi sungai dimanfaatkan justru sebagai tempat pembuangan sampah.

Namun di beberapa tempat sudah bermunculan para pegiat sungai yang menyebarkan pengetahuan mengenai pentingnya menjaga Daerah Aliran Sungai (DAS) dan giat beraktivitas membangun komunitasnya. Salah satunya seperti kegiatan yang digelar oleh Komunitas Ciliwung Rawajati ini. Acara ini digelar Agustus 2011 lalu dengan memanfaatkan area di tepi Ciliwung Rawajati (sebelum kunjungan ke ke Ciliwung Condet dan Ciliwung Bojong).

Terletak di tepi Ciliwung di daerah Rawajati, Jakarta Selatan. Ciliwung Rawajati digerakkan oleh orang yang akrab dipanggil Om Bob. Dan saat itu Komunitas Ciliwung Rawajati sedang mengadakan peringatan Hari Kemerdekaan. Acara hari itu adalah berkreasi sampah untuk anak-anak di lingkungan sekitar, dan berbuka puasa bareng.

Kreasi sampah dilakukan dengan melukis di media CD yang sudah tidak terpakai. Cat yang digunakan adalah cat air. Melukis dipandu oleh (aduh saya lupa namanya :o). Awalnya anak-anak cukup kesulitan menyapukan kuas di atas CD tersebut, apalagi ketika mereka berebutan untuk mendapatkan pembagian cat. Anak-anak duduk per kelompok, dan di tepi sungai itu mulailah mereka menuangkan imajinasinya ke dalam lukisan.

Kelompok yang berkreasi terbaik menjadi pemenang dan berhak mendapatkan hadiah. Tapi pada akhirnya semua dapat hadiah hehe.

Hari menjelang malam, bedug maghrib tinggal beberapa menit lagi dikumandangkan. Kami pun duduk bersama di tepi sungai dan membagikan takjil untuk berbuka. Lagi-lagi, anak-anak itu kisruh dan berteriak-teriak berebut mendapatkan takjil, padahal semua akan kebagian nantinya. Heran sayah XD. Para panitia hanya bisa geleng-geleng kepala sambil berulang kali memperingatkan mereka untuk duduk, khawatir ada adik kecil yang terdorong-dorong.

Seandainya tepi sungai dimanfaatkan sebagai area pendidikan dan rekreasi, tentu akan semakin banyak manfaat yang diambil oleh masyarakat, sekaligus juga mengurangi masalah tumpukan sampah yang mencemari dan memperburuk kualitas kesehatan.

^^^^^^^^^^^^

Sumber:

Grahn, Patrik; Stigsdotter, Ulrika A. Landscape planning and stress. Department of Landscape Planning, Health & Recreation, SwedishUniversityof Agricultural Sciences, Alnarp, Sweden. http://www.agr.unipg.it/didattica/lingua_inglese/6CFU/Landscape%20planning%20and%20stress.pdf (diakses tgl 11 Juni 2012)

Soedarsono Riswan, Themy Kendra Putra, Nurul Jannah. 2005. Jakarta Green Open Areas and Its Challenges. Journal of International Development and Cooperation, Vol.11, No.2, Special Issue, 2005, pp. 111–122.  IDEC (GraduateSchool for International Development and Cooperation)Hiroshima UniversityJAPAN March.

Urban health: Evidence, Challenges, and Directions. 2005. http://141.213.232.243/bitstream/2027.42/40323/2/Galea_Urban%20Health%20-%20Evidence,%20Challenges,%20and%20Directions_2005.pdf (diakses tgl 11 Juni 2012)

Van Herzele, Ann; Wiedemann, Torsten. 2002. A monitoring tool for the provision of accessible and attractive urban green spaces. Department of Human Ecology, Free University Brussels, Laarbeeklaan 103, B-1090 Brussels, Belgium http://www.hisgis.be/torsten/mira/Article%20Landscape%20and%20Urban%20Planning.pdf (diakses tgl 11 Juni 2012)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *