Trip si kembar ke Taman Arkeologi

Pulau Onrust, yang berasal dari kata un-rest, yang saya temui bulan April lalu adalah bukan perjalanan pertama. Tapi dua pulau yang lainnya adalah kunjungan yang pertama kalinya. Perjalanan kali ini dilakukan bersama kembaran saya. Eh sejak kapan kembar??

Usia kami terpaut 9 tahun dan bukan saudara kandung melainkan saudara sepupu. Ibu Ririn adalah adik dari ibu saya, mereka pun nggak mirip-mirip amat. Tapi entahlah, orang-orang bilang kami saudara kembar. Beberapa dari mereka pun berkeras hati, meski sudah dijawab bukan, eh mereka kekeuh berkata bahwa kami memang kembar. Lha kok jadi maksa?

DSC_6481

Awalnya adalah ketika saya, Dyas, dan Ririn pergi ke salon. Akhir pekan di rumah sepupu memang biasanya dihabiskan untuk memanjakan kepala karena lokasinya yang hanya sepelemparan batu alias dekat banget. Begitu masuk dan tiba disana, seorang ibu dengan handuk basah di kepalanya menatap kami dari cermin besar. Tak cukup menatap sekilas, ibu itu menatap berdetik-detik, bergantian antara saya dan Ririn.

Ah, mungkin orang yang pernah bertemu di jalan. Begitu pikir saya, heran kenapa ibu itu memperhatikan kami.

Lalu kami pun menanti giliran creambath sambil membuka-buka majalah. Tiba-tiba ibu yang tadi, masih menatap kami dari cermin, dan menyeletuk; “Kembar ya?”

Kami bertiga berpandangan bingung. Tak ada orang lain lagi disana selain kami, petugas salon, dan si ibu. Tapi siapa yang kembar?

“Kembar, kan?” ibu itu mengulangi lagi pertanyaannya.

Lagi-lagi kami berpandangan bingung. “Nggak.” jawab kami. “Kembar dari mana?”

“Ah masa sih?” tanya ibu itu lagi, masih memandang saya dan Ririn bergantian.

“Iya. Saya kuliah, ni anak SMP.” jawab saya menunjuk Ririn.

“Adik-kakak?” tanya si ibu masih dari tatapan di cerminnya. Mungkin sebenarnya ia ingin menoleh, sayangnya segala handuk dan printilan di kepalanya membuatnya kesulitan memalingkan wajah untuk menatap kami lebih dekat.

“Bukan juga. Sepupuan.” kali ini Dyas yang menjawab, menahan tawa.

“Hah?” jawabnya, raut wajahnya bingung.

Si ibu masih melirik kami dan terus berkomentar, sementara kami bertiga cekikikan. Kembar dari manenye? XD

Tapi rupanya peristiwa itu tak terjadi satu kali. Kali ini bukan pelanggan salon di tempat lain lagi yang berkomentar, tapi staf salonnya. (Mainan lumpur sih iya tapi perawatan rambut juga tetap nomor satu hehe).

Dan percakapannya pun tak beda jauh dengan yang di atas. Bedanya ibu salon yang ini luar biasa kekeuh. Tetap memaksa kami supaya mengaku kembar. -_-‘

Pada kesempatan lain lagi, ketika Ririn mengunggah salah satu fotonya bersama saya, temannya berkomentar; “Lha Rin, kok lu ada dua?”

Lalu beberapa minggu kemudian ada lagi yang berkata; “Lu kembar yak?”

Waduh, ada apa ini. Lama-kelamaan kami bisa jadi mirip beneran.

Tapi itu masih belum apa-apa dibandingkan ibu kami yang salah panggil. Yeah, ibu kandung sendiri saja salah colek :p.

“Rin.. rin.. Tolong ambilin sambel. Rin.” Mamah Ririn mengulang-ulang panggilannya karena sosok yang berada dekat dengan cobek sambal tak juga kunjung menoleh. Saat itu keluarga besuar kami sedang berada di rumah makan, menempuh perjalanan dari Bandung.

“Riiin..!” mamah memanggil lagi dengan nada lebih kencang.

“Mamah apaan sih, manggil tapi madep sana. Ririn kan di sini.” Jawab Ririn yang kemudian muncul di belakang ibunya, baru kembali dari toilet.

“Lha itu?”

Sosok di dekat cobek sambal pun menoleh karena keriweuhan itu, dengan wajah polos, yang tak lain tak bukan adalah saya. “Apaan ngeliatin?”

Kejadian pun terulang, hanya jeda beberapa menit, dan di rumah makan itu juga. Tapi kali ini ibu saya yang tertukar. Memanggil-manggil saya tapi menghadap ke arah Ririn. -_-‘

^^^^^^^^^^^^

Dan inilah sedikit cerita dari perjalanan bersama kembaran.

Ajakan untuk mengarungi tiga pulau dalam satu hari itu diiyakan dan disetujui oleh orangtuanya. Pulau yang akan kami singgahi adalah pulau-pulau bersejarah yang termasuk dalam Taman Arkeologi yaitu Pulau Onrust, Pulau Cipir, dan Pulau Kelor. Kakak asli Ririn, Anggi, juga ingin turut serta, sayang bentrok dengan acara seminar kampusnya. Sebenarnya juga mau ajak Dyas, tapi takut mabok juga, jadi percobaan dengan Ririn dulu XD.

Supaya lebih mudah, Ririn menginap di rumah saya pada malam Sabtu. Jauh-jauh hari sebelumnya, saya sudah memberitahu barang-barang apa saja yang wajib dibawa; botol minum, pakaian ganti, mukena, dan topi. Semua itu masuk di dalam tasnya, tapi sayang satu kantong belanjaan cemilan yang dibelikan mamahnya lupa dibawa X(

Selalu ada cerita yang ingin dituangkan setiap pasukan sepupu bertemu. Namun sayangnya kami harus membatasi cerita-cerita yang meluncur agar tak terus-terusan terjaga sampai kesiangan esok harinya. Alarm sudah disiapkan dan kami pun terlelap.

Esoknya berangkatlah kami menuju Kota Tua. Kereta tentu saja menjadi alat transportasi kami saat itu. Perjalanan ini dilakukan bersama Nol Derajat Indonesia. Titik tolak keberangkatan adalah di depan museum Fatahillah.

Pukul 07.30 tibalah kami di Kota Tua. Ini adalah kunjungan yang kedua kalinya bagi Ririn. Begitu kami tinggal selangkah lagi menuju titik pertemuan, Ririn menarik saya, menunjuk pada sebuah keganjilan di kaki kirinya. Sandal yang putus. Alamaak! Belum juga berangkat. Syukurlah ada warung yang menjual sandal jepit di dekat situ. Tapi kami bersyukur juga sandal tersebut rusak ketika masih diJakarta, kalau rusak di kapal atau di pulau nanti, mungkin nasib Ririn akan nyeker sepanjang jalan karena tak bertemu warung :p.

Karena alasan masih ada yang belum tiba, keberangkatan menjadi cukup molor menjadi pukul 09.00. Setelah itu kami berjalan menuju jalan raya untuk menaiki angkot yang akan membawa kami menuju penyeberangan Muara Kamal. Satu angkot pun tiba-tiba penuh oleh peserta perjalanan ini.

Dengan santainya saya menjawab “Dekat kok.” ketika Ririn bertanya berapa jarak antara Kota Tua dan Muara Kamal. Dan ternyata saya terpukau akan rute yang ditempuh ketika kami menaiki angkot tersebut. Jauh bo‘ ternyata, hampir satu jam -_-.

Rute berkelok-kelok melewati jalan raya, perumahan padat penduduk, danau kecil dengan eceng gondok yang menyerbu dari segala sisi, dan got besar dengan sampah yang menggenang dengan luar biasanya, ditempuh oleh angkot yang kami naiki.

Angkot kami menjadi yang pertama sampai di Muara Kamal. Di sekeliling kami terhampar kios-kios penjual ikan ataupun yang menjadi tempat penampungan ikan sementara. Gerobak berisi hewan-hewan laut kerapkali lewat di sekeliling kami. Maka tak heran di aspal yang kami injak sering tergeletak ikan, cumi-cumi, atau kepiting mati yang terjatuh dari gerobak dan keranjang para nelayan. Dan sebuah mobil pun tiba di depan kios tersebut, menurunkan balok-balok es yang akan membuat hewan-hewan laut tersebut lebih segar dan tahan lama.

Pemandangan ini dirusak serusak-rusaknya oleh air laut hitam pekat yang terhampar di depan kami. Kapal-kapal motor milik nelayan berjajar dengan rapi di tepiannya. Seolah tak terganggu dengan aroma yang ditimbulkan oleh campuran ikan mati dan sampah yang menggenang.

Lagi-lagi sampah.

Pukul 10 lewat, rombongan lain (akhirnya) tiba di Muara Kamal, dan mulailah dilakukan pembagian kapal. Karena jumlah peserta mencapai sekitar 50 orang maka kami akan dibagi menjadi dua kloter. Kapal pertama akan menuju Pulau Cipir terlebih dulu kemudian Pulau Kelor dan Onrust. Sementara kapal kedua akan menuju Pulau Kelor terlebih dulu kemudian menuju Pulau Cipir dan Pulau Onrust. Di Pulau Onrust lah nantinya kami akan singgah lebih lama.

Ririn dan saya kebagian rute pertama yaitu Pulau Cipir-Kelor-Onrust. Pukul 10.30 mulailah kapal kami melaju membelah lautan.

2012-04-28 10.11.25

Bagan-bagan tempat nelayan menjaring ikan tersebar di sisi kiri dan kanan kami. Ini memang bukan perjalanan pertama saya, tapi jika boleh jujur rasanya saya lebih memilih berangkat dari hutan mangrove Muara Angke seperti perjalanan pertama dulu. Setidaknya di rute itu ada deretan mangrove yang sedikit saja menyejukkan mata dan hati hehe. Bersyukur saya membawa binokuler, sehingga bisa mengamati Pecuk Ular Asia yang melintas.

2012-04-28 15.55.12

Tak sampai 30 menit tibalah kami di Pulau Cipir. Pulau ini merupakan sebuah pulau tak berpenghuni. Sisa-sisa reruntuhan bangunannya serupa dengan yang ada di pulau Onrust. Hal ini karena fungsinya pun tak jauh berbeda dari Pulau Onrust.

Pulau Cipir terletak tepat bersebelahan dengan Pulau Onrust. Dahulu pun terdapat jembatan penghubung antara kedua pulau. Namun saat ini sudah tinggal sisa-sisanya saja.

2012-04-28 10.41.38[0]

2012-04-28 10.29.41

Sama seperti Pulau Cipir, Pulau Kelor pun merupakan sebuah pulau tak berpenghuni. Di pulau kecil ini masih terdapat sebuah benteng yang dibangun oleh VOC untuk menghadapi serangan Portugis saat itu. Benteng ini dikenal dengan nama Benteng Martello, dengan ciri khas bangunannya yaitu bulat melingkar. Di pulau ini pun masih bisa ditemukan sisa-sisa benteng yang mengelilingi pulau. Seluruh bangunan tersebut terbuat dari bata merah. Baca lebih lengkap mengenai Benteng Martello di blog arkeologi di sini.

2012-04-28 11.51.38

Setelah itu kami pun menuju pulau terakhir yaitu Pulau Onrust. Yeah makan siang! 😀

2012-04-28 10.44.12

Tak sampai kapal merapat di dermaga, alunan lagu dangdut sudah terdengar berdentum-dentum dari dalam pulau. Musik yang sesungguhnya sudah kami dengar bahkan sejak masih  Pulau Cipir tadi. Rupanya sedang ada karaoke di sini. Ada serombongan siswa dari beberapa SMA di Jakarta yang sedang mengikuti lomba menulis artikel mengenai peninggalan sejarah. Dan lomba tersebut diadakan di Pulau Onrust ini.

Kami makan siang terlebih dahulu, kemudian berkeliling pulau. Tak jauh berbeda seperti 3 tahun lalu, kecuali kali ini ditambah bonus backsound karaoke dangdut yang membahana di Pulau Onrust.

2012-04-28 10.37.04

Pukul 14.00 kami menyudahi trip perjalanan, dan bersiap menyeberang menuju Jakarta kembali. Selamaaaat untuk sang kembaran yang tak mabuk laut! Belum sampai menyentuh daratan, Ririn bahkan sudah menagih untuk memasukkan agenda snorkeling di trip selanjutnya. -_-

Tips bepergian ke pulau:

  1. Minum, minum, dan minum yang banyak supaya tidak dehidrasi.
  2. Topi untuk menghindari sengatan matahari langsung.
  3. Hindari barang sekali pakai supaya tidak menambah sampah, daripada menggunakan stereofoam, lebih baik bawa tempat makan dan tempat minum sendiri.
  4. Jika tempat yang dikunjungi adalah situs bersejarah, pastikan kamu tidak melakukan kerusakan seperti mencoret-coret, memanjat bangunan (sekedar untuk berfoto misalnya), atau mengambil material bangunan. Please, jangan ya.
  5. Buang sampah sembarangan? Mending jongkok aja gih di rumah.
  6. Berdoa.

Daaaaaan….

peluk cium untuk brace yang bersahabat dengan laju kapal :*

“The world is a book,

and those who do not travel read only a page.” ~ St. Augustine.

2012-04-28 11.53.43

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *