Zona nyaman (1): dikepung bukit

18 Juni 2011; 22.45

Kami terus menelusuri jalan setapak berbatu yang naik turun, dengan suasana penerangan di kiri dan kanan yang semakin redup. Tak ada penerangan lampu, kecuali lampu sorot mobil kami. Kalaupun ada sinar lain, hanyalah bulan terang dan bintang-bintang di langit cerah nun jauh di sana.

Kabut menyelimuti bukit teh yang mengepung kami. Udara dingin perlahan menyusup ke dalam mobil, membuat kami memasang wajah serius mengenai arah jalan yang ditempuh. Salah jalan bisa berabe. Apalagi ini tengah malam. Begitu pikir saya. Dari lampu sorot mobil, diketahui kini kami punya dua jalan bercabang. Kiri dan kanan. Sejenak pak supir ragu. “Neng, kiri apa kanan ya?”.

Hening sejenak. “Kiri, pak”. Seru satu suara akhirnya.

Mobil pun mengambil jalur kiri. Lama kelamaan semakin menurun, membuat kami semakin merasa janggal. Apalagi ketika jalan setapak lama kelamaan semakin sempit. Suasana semakin dingin karena kabut rasanya semakin tebal menyelimuti. Sampai kemudian di belokan terakhir, ternyata kami malah kembali ke jalan percabangan yang sudah kami lalui.

Are we lost?” tanya Mrs. Bule di sebelah saya dengan nada khawatir. Nyasar di tengah malam sama sekali bukan bagian dari rencana perjalanannya dengan mengikuti kami.

Yes and no.” Jawab saya sekenanya, tapi lalu kembali menyahut dengan cepat, “But don’t worry. We’ll be okay.

Laju mobil pun berhenti. Beberapa dari kami turun dari mobil, yang langsung disapa oleh suhu dingin perbukitan tengah malam, mencari sinyal handphone untuk menghubungi mereka yang sudah lebih dulu tiba di tujuan. Tapi sama seperti bukit teh yang mengepung, sinyal ponsel pun naik turun.

Ketika akhirnya berhasil mendapatkan sinyal dengan kondisi baik, jawaban mengenai rute pun didapat; “harusnya tadi belok ke kanan.”

Kami pun kembali naik ke mobil, dengan saya yang setengah melompat-lompat karena kedinginan. Setelah berbelok ke kanan, benar saja. Tak sampai 10 menit, dengan jalanan yang sedikit menanjak, kami akhirnya tiba di lokasi. Disambut oleh sebuah saung berukuran tak terlalu besar, yang berdiri kokoh di antara rimbunnya perbukitan gelap.

Sambil menurunkan barang, mencoba mengakrabkan diri dengan penerangan yang minim, saya akhirnya menapaki tanah lembek di area halaman saung dengan perasaan campur aduk yang sulit untuk dilukiskan.

Cahaya lilin yang dinyalakan di tengah ruang terbuka, namun dinaungi atap rumbia, itu pun membuncahkan kegirangan dalam diri. Seolah seperti kemping sungguhan. Is this trully adventure? Tanya saya dalam hati ketika kami bersama-sama duduk membentuk lingkaran, sambil meniup-niupkan uap dari mulut ke telapak tangan.

Dinginnya suhu udara membuat saya harus ekstra keras beradaptasi sehingga tak mampu duduk sedikit saja jauh dari lilin. Tapi jabat tangan erat dari mereka-mereka yang tiba lebih dulu, setidaknya membuat suasana beku dalam diri sedikit mencair. Menimbulkan setetes harapan mengenai acara esok hari.

Sekilas, bayangan seorang anak yang sedang membaca sehelai kertas lusuh pada tengah malam di antara lampu petromaknya, muncul.

Bukit. Langit malam. Deru angin. Dan nyala lilin yang redup.

“Luar biasa.” bisik saya dalam hati sambil tersenyum girang sendiri, tepat ketika mister bule menoleh ke arah saya untuk bertanya mengenai termasuk jenis apakah laron itu.

Nyalakan lilinmu!

^^^^^^^^^^^^^

Saya sempat terlupa dengan peristiwa berikut ini. Tapi rupanya ganjalan yang muncul dalam diri terus mencuat. Semua yang saya alami di Cibulao itu; bukit-bukit teh, udara dingin yang menusuk tulang hingga dini hari, yang menyelinap di antara dinding-dinding kayu dan menyayat pertahanan diri saya hingga akhirnya tumbang, serta embun pagi yang saya lihat tertampung di rekahan bunga, mengingatkan saya akan sesuatu. Yaitu udara dingin sesudah hujan dan anak-anak termos di antara bukit teh, 8 tahun lalu.

Saat itu hampir tengah malam, sepulang kami menjalani rutinitas mudik Idul Fitri. Hujan deras mengguyur area Puncak satu jam yang lalu. Menimbulkan suhu dingin meski AC mobil sudah diturunkan dengan tingkat paling kecil. Jalan menurun yang kami lalui padat oleh kendaraan dengan tujuan yang sama; pulang kembali ke rumah selepas mudik lebaran dari rumah orangtua.

Sudah sejak beberapa jam lalu kendaraan melaju selangkah demi selangkah. Sementara kantuk, rasa dingin, serta lapar mulai menyerang. Sudah tak terhitung waktu yang kami lewati dengan kemacetan.

Di antara kendaraan yang tersendat di jalan beraspal yang basah karena hujan itu, seorang anak dengan usia sekitar 10 tahun berdiri di tepi jalan, memegang termos dan ember. Tak hanya anak itu saja, sejak tadi sudah berdiri anak-anak lain dengan usia yang kira-kira tak jauh berbeda dan usia remaja dengan penampilan yang sama; membawa termos dan ember yang rupanya berisi botol minuman dan cemilan.

Ayah membuka kaca jendela, memanggil si anak yang kemudian langsung sumringah mendekati mobil kami.

“Pesan satu kopi ya.” Pinta ayah pada sang anak yang wajahnya terhalang redup cahaya.

Si anak menjawab senang; “Iyah.” Entah riang karena sejak tadi belum mendapatkan pembeli atau senang karena bisa menjumpai kepulan uap panas termos di suhu dingin tersebut atau memang karena pembawaan anak itu yang ceria.

Si anak mengeluarkan gelas plastik, membuka tutup termos lalu menuangkan isinya. Seisi penumpang mobil memperhatikan setiap gerakannya dalam bayang gelap.

Tanpa disangka sama sekali, tiba-tiba laju kendaraan, yang semula luar biasa terhambat, menjadi lancar. Kendaraan-kendaraan di depan kami melaju begitu saja. Sementara kami panik, karena si anak belum selesai menyeduh kopi. Di belakang, bunyi klakson mobil terus memperingatkan. “Jalan dulu dikit ya.” Seru pakde selaku supir.

Mobil sedikit melaju di jalanan menurun itu. Saya, tak berkedip, menatap sambil terus menoleh ke belakang, pada si anak yang sekarang sibuk meletakkan gelas di tepi jalan, kemudian tangannya menutup termos dengan rapat, lalu mengangkatnya dengan tangan kiri. Ember di tangan kanan, dan jemarinya kemudian mengambil gelas yang semula diletakannya. Ia lalu tergopoh-gopoh mengejar kami.

“Ayah sih belinya di sini. Kasian kan tuh.” Seru ibu.

“Yaah tadi kan macet banget.” Jawab ayah, sedikit menyesal, sambil sesekali menoleh ke belakang.

Mobil tersendat kembali. Anak itu pun memberikan gelas berisi air panas dengan kopi yang belum diseduh. “Saya seduh sendiri saja.” Pinta ayah.

Anak itu mengucapkan terima kasih, memasukkan selembar uang ke saku celananya, lalu kembali berdiri di tepi jalan menanti pelanggan berikutnya.

Laju kendaraan yang semakin lama semakin cepat dan kondisi jalan yang semakin lancar membuatnya kemudian berjalan semakin ke tepi jalan. Tak ada mobil yang berhenti untuk membeli dagangannya.

Saya, di antara tumpukan koper dan kardus oleh-oleh dari kampung yang menghimpit, terus menghadap ke belakang. Menatap sosoknya yang lambat laun menghilang di antara gelap malam dan kabut pekat perbukitan teh.

^^^^^^^^^^^^^^^

Empat tahun setelah peristiwa mudik itu, manakala menuruni jalan yang sama kembali (namun kali ini pada siang hari), kenangan mengenai hal itu muncul ketika melihat barisan anak menuruni bukit-bukit perkebunan teh. Berjumlah sekitar 7 orang dengan beberapa di antaranya masih mengenakan seragam sekolah. Tapi semuanya dengan tentengan yang sama; termos dan ember. Persis seperti kejadian malam mudik.

Mereka yang menuruni bukit sambil menenteng termos dengan tawa riang itu, seolah gigih berjuang dengan caranya sendiri. Dan tersenyum dengan caranya sendiri pula. Tentulah mereka punya mimpi.

Sementara saya. Sampai kapan terus seperti ini? Terus berada dalam kungkungan dan tak beranjak ke mana-mana. Sampai kemudian letupan cahaya menghantam, membuat dobrakan besar yang selama ini membentengi diri, menyeret kaki untuk keluar dari ruangan bernama “zona nyaman”. Comfort zone.

Sampai kemudian, 19 Juni 2011 ini, berada di sebuah desa di perbukitan teh dalam keadaan menggunakan brace pun menjadi seperti “tak masalah” (meski sempat pula timbul rasa tak percaya diri dengan keadaan yang berbeda). Demi untuk menghirup udara yang sama seperti yang dihirup anak-anak itu. Demi menginjak jalan berbatu yang sama yang ditempuh anak-anak itu dengan berjalan kaki pergi dan pulang sekolah atau menumpang truk yang lewat. Jalan berbatu yang ketika hujan lebat menjadi curam sehingga waktu tempuh menjadi lebih panjang.

Demi mengejar harapan akan bertemu Lintang, sosok yang menyeret saya keluar dari zona nyaman.

Proses perubahan yang luar biasa tak mudah. Tak mudah tapi menyenangkan. Sama seperti langit yang sama yang muncul ketika meninggalkan Cibulao malam hari setelah acara. Kabut dan bukit tehnya pun sama seperti ketika tiba satu malam sebelumnya, membuat saya berbisik seandainya esok hari masih libur agar kami masih bisa bermalam, tertawa dan bermain lagi dengan anak-anak di sana. Menggigil tapi riang.

Mobil terus menderu memecah kesunyian perbukitan teh. Suhu dingin yang menyusup di antara lubang kecil di jendela pun sama; melenakan tapi membuat rindu akan ketegaran yang ditimbulkan olehnya.

Saya berbisik ke langit; keluar dari zona nyaman rupanya menakjubkan.

Glory Bush dan embun pagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *