Zona nyaman (2): keluar

“I’ll take a risk, take a chance, make a change…

And breakaway…” ~ Kelly Klarkson, Breakaway

2003

“Does anybody knows what’s the English word for “ember. Ada yang tahu bahasa Inggrisnya ember?” Miss. Rahma, guru bahasa inggris paling ramah sedunia, melempar pertanyaan pada sekitar 20 murid di hadapannya.

Ruangan kelas dengan suhu cukup dingin itu sunyi. Beberapa anak berpandangan sambil mengangkat alis, mencoba mengaduk-ngaduk kata dalam memorinya tentang jawaban atas pertanyaan sang guru.

“I’ll give you A if you can answer it.” Pancing sang guru lagi.

Di salah satu sudutnya, menggigil sejak satu jam lalu, seorang murid tercenung. Ragu untuk menjawab pertanyaan, meski sudah tahu jawabannya sejak pertama kali Miss. Rahma mengajukannya. Dan meski pancingan nilai A sudah dilemparkan, ia tak bergeming. Tetap tak mampu mengangkat tangannya untuk sekedar menjawab satu kata; “Pail.”

Come on.” ucap sang guru lagi. Seolah tahu ada satu anak yang mengetahui jawabannya namun tak kuasa menjawab.

Tangan anak itu semakin berkeringat dingin, berusaha sekuat tenaga meredakan detak yang berpacu dengan sangat cepat dalam dirinya.

Ten… nine…eight…” Miss. Rahma mulai menghitung sambil tersenyum. “….two… one. Okay. I cancel the A point.”

Seiring dengan hitungan waktu yang semakin habis, anak itu pun menyerah di sudut kelas. Mencoba berdamai dengan detak yang mulai mereda, memandangi Miss. Rahma dengan tatapan yang sulit dilukiskan.

Zona nyaman atau comfort zone yang saya ceritakan di sini adalah sebuah zona dalam diri yang mengukung pijakan kaki sehingga tak beranjak ke mana-mana.

Anak dalam cerita di atas, yang tak lain adalah saya, selalu merasa sulit mengeluarkan pendapat. Jangankan pendapat yang harus disusun dulu kalimatnya, hanya mengucapkan “pail” saja rasanya sulit sekali. Peristiwa masa lalu yang pernah menyebabkan rendah diri, rupanya tak mudah pergi begitu saja. Sulit sekali rasanya untuk berdamai dengan rasa percaya diri.

Masa-masa sekolah menengah pertama yang penuh dengan ledekan karena kondisi fisik yang tak mendukung, membuat saya menjadi mudah kikuk berada di tengah orang banyak, merasa khawatir akan ejekan yang mungkin diterima, dan merasa jengah pada setiap lingkungan baru.

Rasa khawatir, dan jantung yang terus dibuat berpacu karena rasa cemas mungkin salah satu yang menyebabkan MVP kemudian datang (entah benar atau tidak). Apapun itu, rasanya saya pernah terpuruk dalam lubang besar di mana rasa percaya diri menghilang jauh-jauh.

Bayangan kabur

^^^^^^^^^^^^^^

2008

Books can be dangerous.  The best ones should be labeled “This could change your life.”  ~Helen Exley

Saya termangu dengan memangku sebuah buku. Ribuan kata-kata, yang tertuang di dalamnya, rasanya tak bisa dibendung bahkan oleh penulisnya sendiri. Pena yang dipakainyakah yang menyihir? Atau kertas yang dipakai sebagai medianya? Atau segala rasa yang tercampur aduk di sana?

Dua tokoh dalam sebuah buku yang menohok saya begitu dalam.

Lintang, si anak pesisir.

“Suatu hari rantai sepedanya putus dan tak bisa disambung lagi karena sudah terlalu pendek sebab terlalu sering putus, tapi ia tak menyerah. Dituntunnya sepeda itu puluhan kilometer.” ~ Laskar pelangi ~

Siapa yang tak kenal anak keriting nan cerdas ini? Ralat: mungkin bukan cerdas, tapi jenius. Tak ada yang mampu mematahkan semangatnya untuk menempuh pendidikan, menerima deretan ilmu yang diberikan sang guru terbaik di sekolah, berusaha mendobrak belenggu kemiskinan yang melingkupi keluarganya. Tak ada yang bisa menghalangi itu semua, bahkan seekor buaya yang melintang di tengah jalan sekalipun.

Semangat Lintang menyadarkan saya, tentang sebuah kecerdasan di tengah keterbatasan. Kecerdasan yang diperolehnya tengah malam, di tengah petromak berasap, di dalam sebuah gubuk reyot, dengan latar belakang suara debur ombak di kejauhan.

Tapi tak ada pula yang bisa mencegah ketika sang ayah meninggal dunia dan Lintang lah yang harus menjadi tumpuan keluarga. Anak kecil itu, anak yang setiap semangatnya mengalir pada kayuhan sepeda, harus berhenti di tengah jalan.

Dengan mimpi-mimpi yang lambat laun memudar, dan kemudian patah. Ada berapa anak yang seperti Lintang?

Saya yakin ada banyak kecerdasan. Tapi di mana dan yang mana?! Perjumpaan dengan Lintang di halaman kertas yang aromanya meruap, membuat saya bertekad menjumpainya, menemukan potongan mozaik dengan bertemu dengan anak-anak yang memiliki semangat baja seperti dirinya, melalui media buku, di manapun.

“Buku baginya adalah obat dan sumur kehidupan yang airnya selalu memberi kekuatan baru agar ia mampu mengayuh sepeda menantang angin setiap hari.”~ Laskar pelangi, p. 96.

Dan Arai?

“Ia mampu melihat keindahan di balik sesuatu, keindahan yang hanya orang temui di dalam mimpi-mimpi. Maka Arai adalah seorang pemimpi yang sesungguhnya, seorang pemimpi sejati.” ~ Sang pemimpi; p. 51-52

Siapa yang sanggup menolak pusaran di mata Arai? Bahkan Perancis yang letaknya ribuan kilometer pun menjadi luar biasa dekat jika menatap matanya yang dipenuhi sinar optimis. Jika sudah seperti ini, jika ada ratusan orang yang berteriak “tidak bisa” pun, rasanya ia tetap tak kan bergeming satu jengkal pun dari jalur mimpinya. Alih-alih membuatnya jatuh, teriakan pesimis itu tak malah akan mendorongnya maju.

Arai dan rasa optimisnya lebih dari sekedar warna pelangi, lebih dari sekedar rasa lemonade chocholate, dan lebih dari sekedar aliran air di sungai kecil. Ia dan rasa optimisnya tak sekedar lewat lalu menghilang. Tapi serupa seperti tetes terakhir yang tertampung di dedaunan lalu tertempa sinar matahari, kilauan di butiran beningnya memantulkan harapan baru, yang bisa muncul hanya jika diiringi rasa optimis dan diikuti langkah yang bergerak maju.

Dari dua tokoh ini saya belajar banyak hal; bahwa tak ada kata menyerah, dan bahwa hasil yang diperoleh dari usaha maksimal itu akan lebih manis rasanya daripada madu, lebih sejuk dari embun pagi, dan lebih riang dari burung-burung yang pulang ke sarang ketika senja muncul.

Bukankah mereka hanya tokoh fiktif? Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Kalaupun iya, saya yakin ada Lintang dan Arai sungguhan, meski dengan nama dan lokasi yang jauh berbeda.

Dan sialnya, bayangan Lintang terus menghantui ketika halaman terakhir buku itu ditutup. Menyeret saya setiap detik ke sebuah padang luas bernama pendidikan dan menghimpit saya ke sudut. Bayangan ia sedang membaca buku di tengah gelapnya malam, tanpa cahaya penerangan kecuali cahaya dari petromak, terus beterbangan di atas saya. Lalu muncul bayangan Arai yang tak pernah berhenti menyerah untuk terus melangkah. Semua campur aduk dengan bayangan anak-anak termos yang pernah saya lihat, menjadi secercah nyala api.

Munculnya sebuah ide mengenai sebuah impian sederhana sayangnya masih tertimpa dengan “tidak mampu dan tidak percaya dirinya saya mengluarkan pendapat”. Ditambah dengan belum bisanya diri ini menerima MVP dan segala macamnya. Sehingga yang ada di pikiran hanyalah sakit, sakit, dan sakit.

Bagaimana saya bisa mengadakan sebuah acara jika jantung saya saja memiliki MVP?! Bagaimana saya bisa melakukan ini dan itu, ke sini dan ke situ, mengajak si ini dan si itu, jika mengajukan pertanyaan dalam sebuah diskusi kampus saja tak pernah?!

Tapi lagi-lagi bayangan Lintang, buku-buku, dan petromaknya terus berlarian. Dan dari belakang rasanya Arai menyodok-nyodok saya dengan pikulan ikannya!

Perlahan tapi pasti, lamat-lamat tanpa sadar saya meninggalkan zona nyaman dengan membuat susunan acara dan daftar peserta. Perlahan tapi pasti, butiran bening yang berkilauan itu luruh manakala seorang anak dengan matanya yang berbinar menatap saya sambil menggenggam sebuah buku cerita, di antara deru kereta api yang lewat tepat di belakang kami.

Meski sempat dan masih terjatuh, tapi rupanya aroma yang keluar dari hamparan ilalang di padang savana yang dilalui Lintang dan Arai menimbulkan esensi tersendiri. Sehingga ketika merasa tak percaya diri dengan acara yang diajukan, memejamkan mata sambil membayangkan laju dan kliningan sepeda Lintang yang melawan angin, rupanya cukup berpengaruh.

^^^^^^^^^^^^

“There are two ways of spreading the light; to be the candle, or the mirror that reflects it.” ~Edith Wharton

Mungkin tak perlu saya rinci segala hal yang saat itu dilakukan. Tapi pada kenyataannya ketika perlahan memberanikan diri mengungkapkan niat, sederet efek lain mengikuti. Seperti efek domino. Sehingga perlahan tapi pasti menyeret saya jauh-jauh dari kungkungan zona nyaman.

Saya, yang awalnya bertanya sedikit mengenai ide kreatif untuk membentuk sebuah acara pada beberapa orang dalam sebuah komunitas. kemudian malah terseret ke dalam komunitas relawan tersebut. Tak kenal satupun orang, dan tak tahu harus berbuat apa. Tapi lagi-lagi hal ini, malah menimbulkan rentetan kegiatan berbuntut panjang lain yang ternyata malah melatih kemampuan bekerja sama, dan meningkatkan rasa percaya diri yang selama ini menghilang.

Welcome, boi… to the world called voluntary…

Mengenai relawan atau volunteer ini mungkin nantinya perlu chapter tersendiri, nanti malah tak nyambung, karena di sini saya hanya ceritakan peristiwa keluar dari zona nyaman. Bertemu banyak orang, mengeluarkan pendapat, demi mimpi yang saat itu muncul.

Sebuah impian sederhana… akan terbukanya akses bahan bacaan. Agar tak ada lagi yang kesulitan mendapatkan buku bacaan seperti Lintang. Dan untuk itu, diperlukan usaha ekstra maksimal, seperti yang Arai lakukan untuk meraih mimpinya.

Sekarang ketika empat tahun sudah berlalu, sudah lebih baik kah kemampuan mengeluarkan pendapat dan rasa percaya diri? Ehem… apalagi dengan sekarang plus menggunakan brace di punggung hehe. Jawaban dari pertanyaan itu; rasanya belum.

Rasa minder, rasa tak percaya diri, dan segala hal sering menggoda saya. Zona nyaman itu selalu memanggil kembali. Tapi rentetan efek domino yang ditimbulkan empat tahun lalu pun terus bergulir. Sehingga tanpa sadar, mimpi ini pun menyebar, membentuk galaksi kecil bernama Kelana Kelapa.

Dan kalimat selanjutnya dari buku lain pun muncul, menguatkan diri setiap ketika rasa tak percaya diri itu menyeruak, sebuah kalimat dari Erik Weihenmayer, seorang pendaki gunung dengan keterbatasannya yang tidak terbatas.

~ bersambung

“Life is either a daring adventure or nothing.” ~Helen Keller~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *