Zona nyaman (3): mendaki

Terima kasih kepada Bang Hendi yang telah meminjamkan buku luar biasa ini,

dan terutama untuk abang,

yang berusaha agar saya bisa meminjamnya 🙂

Awalnya sederhana saja. Saya hanya mencoba mencari quotation dari para penjelajah. Lalu munculah sebuah nama;

Erik Weihenmayer.

Di bawah tulisan itu disertai keterangan; “tuna netra yang mencapai puncak Everest.” Pada situs lain disertai foto dirinya di puncak sebuah gunung es dengan kalimat “touch the top of the world: farther than the eye can see.”

Kening saya berkerut, alis menyatu, dan menatap tajam kalimat tersebut. Pencarian kali ini difokuskan pada satu namanya saja dan kalimat tadi, yang rupanya merupakan judul buku yang ia buat.

Pada sumber lain, tertera sebuah kalimat yang diucapkan Erik; “I refused to be the weak link of the team…”

Saya terpaku sejenak, membaca berulang-ulang lagi dan lagi. Membacanya seolah serasa seperti ketika baru menceburkan diri ke dalam kolam renang.

Imajinasi saya melayang pada seorang yang sedang mendaki gunung es, memegang walking pole, meraba-raba carrier, melakukan aklimatisasi di basecamp, dan menuruni tebing curam. Semua dengan kondisi mata yang tak melihat.

Kenapa rasanya seolah seperti melihat diri sendiri? Dengan segala keterbatasan ini?

^^^^^^^^^^^

Hari-hari selanjutnya difokuskan untuk mencari bukunya. Sayang, di setiap toko buku baik online maupun nyata, tak ada satupun stok buku Erik Weihenmayer yang tersedia. Baik di toko buku impor maupun lokal.

Bulan demi bulan berlalu, keinginan untuk membaca keseluruhan tulisannya timbul tenggelam seiring dengan tak kunjung ditemukannya buku itu. Berpikir bahwa mungkin buku asing memang sulit ditemukan, maka saya mencoba mencari buku keduanya, “turning the adversity into advantage”, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Mengubah masalah menjadi berkah”. Lagi-lagi harus bersabar, setelah menunggu hampir dua bulan sejak pesanan, stok buku tersebut pun tetap kosong. Uang yang sudah dikirimkan ke toko buku online tersebut pun dikembalikan karena cetakan buku tak kunjung ada.

Sampai akhirnya saya pun terlupa dengan keinginan itu. Sibuk dengan hal lain, sibuk dengan buku lain. Namun keinginan untuk membacanya kemudian meluap lagi manakala tanpa sengaja menemukan buku tersebut terjajar rapi di sebuah lemari bersama deretan buku-buku panjat tebing, arung jeram, Mount Everest, Ekspedisi Kalimantan dan sebagainya di sekretariat sebuah UKM kampus.

Saat itu, kami (saya dan dirinya) baru saja selesai jogging pagi hari mengitari lapangan kampus. Kami lalu berbelok ke sekretariat. Abang mencari gelas untuk mengambil minum, sementara saya membelalak di depan lemari kaca, dengan kondisi hidung sudah menempel pada kacanya yang berdebu. Di tengah nafas yang masih memburu akibat dua putaran penuh jogging, di tengah suara desingan sayap kumbang yang nyaring dan suara jangkrik di seantero hutan, dan di tengah semerbak pohon petai yang dengan baik hati menyebarkan aromanya, saya memiringkan kepala untuk memastikan judul yang tertera pada punggung bukunya;

“Touch the top of the world”

There you are…” bisik saya, menatap lemari dari atas sampai bawah, celingukan ke kiri dan kanan yang tak tampak satu orangpun, bahkan dirinya yang belum juga kembali dari mengambil minum.

Gagang lemari saya sentuh pelan. Seolah seperti menyentuh es beku. Saya menelan ludah, menempel pada kaca kembali. Ingin mengucapkan mantra agar tiba-tiba si buku meloncat keluar menembus lemari kaca.

Rasanya seolah seperti menyentuh butiran salju Everest, seolah beku di antara kaki yang terbenam di tumpukan salju dengan crampon. Beberapa menit berlalu dan saya tak juga berani menarik gagang lemarinya untuk sekedar memastikan terkunci atau tidak.

Aih, tak bolehkah buku ini dipinjam?

^^^^^^^^^^^^^

Satu setengah tahun kemudian entah bagaimana sampai kemudian keinginan untuk menemukan buku tersebut muncul lagi. Mungkin karena keinginan kuat untuk mencari semangat di tengah keterbatasan, maka kemudian terbuka sedikit jalan. Meski ketika saya kembali menghubungi toko buku, bertanya ke sana ke mari untuk ke sekian kalinya, satu persatu, dan hasilnya tetap nihil.

Ah, bukankah proses mendaki itu memang tak pernah mudah? Tentu termasuk juga proses menemukan buku ini. Sampai kemudian dirinyalah yang ikut mencari-cari pinjaman buku pada temannya yang bekerja di sebuah toko buku impor. Yang ditanya hanya menjawab; “silakan cek dan datang langsung ke kantor.”

Toko tersebut tutup pukul lima, maka kami bergegas melesat ke sana begitu jam pulang kantor. Tiba di sana, staf bagian gudang yang kami temui mengecek seluruh data di komputernya, judul buku tersebut memang kemudian muncul dalam hasil pencarian, namun setelah dicek ulang ternyata stok dalam gudang kosong.

Haah. Kami bersiap akan pulang sampai kemudian teman yang dihubungi abang keluar dari kantor, menenteng tas dan bersiap akan pulang juga. Ia melihat kami dan kemudian menanyakan buku macam apa sih yang kami cari-cari.

“Oh, Everest itu? Kamu mau praktik ke Everest?” Laki-laki berusia sekitar 45 tahun itu tiba-tiba berpaling menatap saya, yang kemudian sejenak bingung, lalu kemudian menggeleng sambil tertawa; “Sepertinya tidak.”

“Mari ikut ke ruangan.” Ajaknya. Kami mengikutinya masuk ke kantor utama yang terdiri dari banyak ruangan itu. Lorong-lorong di antaranya penuh dengan buku-buku. Sampul bukunya yang penuh warna-warni itu memenuhi pemandangan di kiri dan kanan kami. Buku perjalanan, ekspedisi, arsitektur, cara menggambar, buku fotografi, dan sebagainya. Aih, surga dunia..

Ruangan kantornya tak besar, hanya meja kerja dan dua rak. Jendela di dekat langit-langit dibiarkan terbuka.

“Sepertinya ada di sini, tapi saya tak hafal letaknya.” Katanya menunjuk pada rak. “Coba kamu cari sendiri.”

Saya berjongkok, mencari di rak paling bawah terlebih dulu. Denali, K2, Everest, Norman Edwin, Rock climbing, dan deretan buku-buku tebal dan besar lainnya yang sungguh menarik hati dan sangat ingin saya sertakan dalam daftar pinjaman. Tapi tidak. Cari satu buku saja lalu beli dan bawa pulang. Saya mengingatkan diri sendiri.

Dan di sana. Berjajar rapi di antara buku tujuh puncak gunung es dan panjat tebing, sedikit berdebu, menempel bukan pada cover atau halamannya tapi pada bungkus plastiknya. Ya, buku Erik Weihenmayer itu masih lengkap dengan bungkus plastiknya. Sama sekali belum dibuka.

Saya menarik buku yang telah dicari selama satu setengah tahun itu, mengusap debunya, dan bertanya pada Bang Hendi dengan riang; “Ini berapa harganya, bang?”

“Itu nggak dijual.” Jelasnya. “Itu milik saya. Bacalah dulu. Nanti baru kembalikan.”

Saya berpandangan pada abang, tentu ia mengerti bahwa tujuan awal kami datang ke sini adalah kerena saya ingin memiliki buku yang sudah dicari sejak lama ini, supaya bisa membacanya berulang-ulang.

“Maksudnya ia ingin punya, bang.” Jelasnya sambil menatap saya dan buku bergantian

Senior abang itu menggeleng. Sepertinya sedikit gusar. “Apa bedanya?! Kamu mau baca kan?” katanya menatap saya. “Bacalah buku itu lalu kembalikan. Saya tak masalah. Baca saja dulu. Apa bedanya dengan beli?”

Saya membuka mulut seolah ingin mengungkapkan pendapat lagi. Tapi lalu mengurungkan niat.

“Baiklah. Saya pinjam.” Jawab saya akhirnya. Tersenyum, dengan setengah kemenangan.

Kami pun pulang, dengan saya yang memegang erat buku di genggaman. Mungkin ini serupa dengan Everest yang didaki setiap penjelajah. Semua meninggalkan jejak di sana, bahkan ada yang kembali lagi dan lagi, namun toh tetap tak punya hak untuk menjadi pemilik gunung tertinggi tersebut. Serupa dengan saya saat itu yang belum diizinkan memiliki tapi diberi kesempatan untuk membacanya.

^^^^^^^^^^^

Ada dua hal menarik yang terjadi selama membaca buku ini. Yaitu cuaca di luar tak menentu dan angin bahkan seringkali bertiup kencang sampai batang pohon seolah ingin patah. Dari kamar yang tak berjendela itu, rasanya deru angin pun terdengar sangat jelas, membuat saya bisa membayangkan pula angin kencang yang bertiup di Aconcagua.

Hal kedua adalah bayangan gunung es semakin jelas manakala saya membaca sambil mengenakan sarung tangan khusus untuk udara dingin. Ini karena kondisi telapak tangan saya yang seringkali berkeringat sehingga seringkali pula basah. Dan mengingat buku pinjaman ini (menurut pemikiran saya) bisa dibilang merupakan buku satu-satunya yang masih baru (di belahan bumi indonesia), tentu halaman-halamannya pun harus dijaga dan tak boleh keriting seperti buku-buku milik saya yang lain yang basah kena telapak tangan dan ujung jari. Untuk itulah saya menghindarinya dengan memakai sarung tangan :))

Dan dimulailah lembar demi lembar baris perjalanan seorang Erik Weihenmayer, tidak hanya mengenai pendakian gunung esnya, namun juga setiap inchi kehidupannya. Segera saja saya diakrabkan pada kata “crevasse”, “avalanche”, “crampon”, “sled”, “mountain sickness”, “crane”, dan deretan istilah lain.

Erik Weihenmayer memiliki penyakit retina sejak kecil. Dokter memvonis penglihatannya akan semakin kabur di usia mudanya. Pada setiap bab ada cerita-cerita ketika Erik berada di lingkungan sekolah normalnya, dengan susah payah mencoba mencari sendiri toilet, menolak menggunakan tongkat, menolak menggunakan bus jemputan yang ditujukan untuk penyandang difabel, menolak menerima bantuan dari orang lain, dan menolak menerima kenyataan bahwa ia memang berbeda.

Dan setiap satu bab seolah saya terlempar ke masa 12 tahun lalu, masa di mana seorang anak SMP berbeda secara fisik dari teman-temannya, gamang di lingkungan baru dan asing, serta cemoohan dari orang-orang setiap hari, berulang, setiap waktu sehingga selalu dipenuhi pikiran buruk bahwa gerombolan anak yang tertawa-tawa ketika ia lewat adalah benar-benar menertawainya.

Ke masa di mana anak itu selalu panik setiap masuk kelas baru dan bertemu dengan guru baru, khawatir guru tersebut akan meledeknya di depan semua teman sekelas. Ke masa di mana semua kekhawatiran berujung pada sebuah rentetan yang bernama tidak percaya diri.

Pada bab lain manakala tiba saatnya Erik bekerja dan telah mengirimkan lamaran ke banyak lowongan. Tahap wawancara dilewati dengan banyak perusahaan dan perkantoran yang menolaknya karena berpikir bahwa ia tidak akan bisa melakukan segala pekerjaan yang diberikan padanya dengan kondisi tak bisa melihat. Mereka bahkan mengabaikan bahwa Erik bisa datang ke tempat wawancara itu dengan menaiki bus, membeli karcis kereta, berjalan kaki, atau menaiki tangga tanpa gagal sedikitpun.

Saat itu seolah rasanya seperti melihat seorang remaja hampir dewasa yang terus berusaha menaiki tangga kemajuannya meski lingkungan sekitar meneriakinya dengan perkataan “tidak bisa.” Ia pun bimbang akan ketidak bisaan dan ketidakmampuan yang tiba-tiba menyeruak ke segala arah, secara otomatis lalu memanggil kembali semua bentuk ketidakpercayaan diri yang sudah bertahun-tahun berusaha ia runtuhkan.

“Some guy told me i needed to realize my limitations. I think too many people sit around realizing their limitations, when maybe, they should spend more time realizing their potential.” (p. 181)

Limitations.

Batasan. Sebuah batas yang dimiliki.

Mengapa harus ada batas? Sebuah batas yang menghalangi melakukan ini dan itu. Sebuah batas besar yang membuat semuanya gagal.

Benarkah sebuah batas seperti itu?

Ataukah karena terlalu tidak percaya pada diri sendiri? Terlalu sibuk mengurusi batasan yang dimiliki dan terlupa bahwa setiap diri memiliki potensi besar untuk maju?

^^^^^^^^^^^^

Saya sama sekali tak menduga kalimat Erik yang mencuri perhatian saya akan berada pada bagian awal buku. Ingat kan kalimat “I refused to be the weak link of the team” di atas? Saya pikir kalimat itu keluar di tengah usahanya mendaki Everest, atap dari segala atap dunia. Ternyata tidak. Di persiapan menuju McKinley, yang notabene adalah pendakian pertama dari 7 pendakian pundak dunia-lah, kalimat itu keluar.

Gunung Mckinley (saya lebih suka menyebutnya Denali), berada di Alaska dengan ketinggian 6.194 meter. Menurut catatan Norman Edwin, suhu di tempat itu bisa mencapai minus 40 derajat celcius dengan kecepatan angin 160 km per jam.

“Dari Talkeetna, setiap pendaki gunung menggunakan menggunakan pesawat kecil dan mendarat pada padang es yang menjadi kemah induk sebelum melakukan pendakian ke gunung McKinley atau gunung-gunung lain di sekitar.” (Norman Edwin, 1989).

Dalam persiapan menuju Denali, Erik mengalami kesulitan dalam membangun tenda. Ia menekankan “my hands were my eyes.” Sayangnya sarung tangan yang harus ia kenakan justru menghalanginya meraba-raba peralatan untuk bisa membangun tenda. Sehingga ketika mencoba mendirikan tenda tanpa sarung tangan, ia justru malah terluka.

Menyesalkah ia karena tak bisa melihat sehingga tak bisa membangun tenda?

Tidak.

Pendakian sebuah gunung bersalju membutuhkan sebuah persiapan yang luar biasa matang. Dan dalam persiapan itu ia menuju sebuah lapangan di dekat rumahnya.

Di tengah terik matahari yang menyengat, ia mencoba berlatih mendirikan tenda dengan sarung tangannya, meraba-raba, membongkarnya, membangunnya lagi, membongkarnya lagi, membangunnya lagi. Terus sampai ia mahir.

Dan kalimat utuhnya adalah; “But i refused to be the weak link of the team. I wanted them to put their lives in my hands, as i would put mine in theirs. I would carry my share. I would contribute as any other team member. I would not be carried up to the mountain and spiked on top like a footbal. If i were to reach the summit, i would reach it with dignity.” (p.4-5).

Jelas-jelas ia menolak mentah-mentah bahwa ia, seorang tuna netra yang akan mendaki gunung bersalju, akan merepotkan dan membuat orang lain susah. Dengan segala rasa dan kegelapan di matanya itu ia menolak untuk menjadi yang terlemah. Bahwa jika anggota tim lain harus membangun tenda, ya ia juga akan membangunnya. Bahwa jika ia berpegangan pada anggota lain dengan penuh keyakinan di antara tumpukan salju itu, orang lain pun juga akan berpegangan erat pada dirinya dengan penuh rasa percaya pula. Bahwa tak ada perbedaan antara dirinya dan yang lain.Saya tak bisa mendefinisikan dengan jelas seperti apa Denali itu. (lihat salju saja belum pernah hehe), tapi mari kita lihat lagi tulisan Norman Edwin sewaktu ia dan beberapa rekannya mendaki Denali:

“Dengan ransel di punggung kami bergerak terseok-seok di padang salju yang luas di gunung itu. Kabut kadang-kadang terlalu tebal, sehingga sering kami harus menghentikan pendakian sambil menunggu cuaca terang kembali. Kalau tidak begitu, boleh jadi rekahan lebar crevasse (jurang es) tak sengaja terlanggar. Paling ngeri membayangkan bagaimana crevasse itu tertutup salju, lalu ambruk ketika kami menginjaknya. Belum lagi avalanche (guguran salju) yang sering sangat mengejutkan lantaran suaranya bak luncuran jet.” (p. 47)

Saya hanya bisa membayangkan mungkin di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut itu hanya ada pemandangan putih semua. Kiri, kanan, depan, belakang. Seluruhnya tertutup salju. Satu garis pemisah antara salju dan langit.

Apakah serupa seperti apa yang saya lihat dari atas pesawat? Meski, saat itu putih, adalah awan dan bukannya salju.

Dalam perjalanan mendaki gunung salju pertamanya itu, Erik berusaha sepenuhnya berkonsentrasi pada setiap langkahnya.

“I tried to concentrate on my breathing and the placement of each step. “Rhythm.” I willed. “Find the rhythm.” (p. 186.)

Langkahnya mendaki Denali seolah seperti ketika langkah seseorang waktu sedang menuju Cibereum. Find the rhythm of each step 🙂

^^^^^^^^^^^^^^

Tak hanya mendaki gunung bersalju, Erik juga seringkali memanjat tempat yang menjadi surga pemanjat tebing dunia; Yosemite. Dan justru dari memanjatlah ia menemukan apa yang ia bisa lakukan.

“Lembah ini terkenal di kalangan pemanjat-pemanjat tebing curam dari seluruh dunia. Dinding-dinding tegar yang memagari lembah ini, terdiri dari batu granit yang keras dan kasar.” (Norman Edwin, p. 168)

Juga pendakian menuju beberapa gunung lain. Dan suatu hari dalam pendakian bersama Jeff, hari sudah larut malam sementara penglihatan Jeff tak begitu baik di malam hari. Ia pun mempersilakan Erik yang memimpin jalur turun. :O

Di sini tak hanya kemampuan memimpinnya yang diuji. Tapi yang penting adalah kepercayaan dirinya.

“As i stepped tentatively forward, i tried to feel confident, but the confidence didn’t come naturally. I was unsure, questioning each step …” (p. 233)

Seolah seperti melihat seorang anak yang mencoba keluar dari zona nyamannya. Zona nyaman yang selama ini dibiarkan membatasinya. Zona nyaman yang akhirnya berusaha dipatahkan.

“…. Perhaps leadership was not so much a matter of raw talent, as raw courage. Leading was the ability to move forward through darkness toward those immense possibilities, unseen yet sensed, while others allow the darkness to paralyze them.” (p. 233)

Jika 4 tahun lalu seorang anak, yang dalam masa dewasa, tak mencoba mendobrak zona nyamannya, dan membiarkan berada dalam batasan kegelapan rasa tidak percaya dirinya, mungkin semua senyum ini tak kan pernah menimpa hidupnya:

^^^^^^^^^^^^^^

Sampai halaman ini, saya benar-benar menyadari bahwa dorongan dari dalam hati memang yang terpenting. Di bawahnya adalah dorongan dari lingkungan sekitar.

“From time to time, i had traveled this way with Sam too. There had been those who were afraid to connect with me. Perhaps they feared a friendship with blind person would require too much work, too much adaptability, or even too much risk.”

Terkadang ada rasa khawatir. Maukah mereka bekerja sama dengan saya? Maukah mereka semua melakukan perjalanan dengan saya? Dengan semua yang ada ini? Dengan kondisi fisik seperti ini?

Jika sejak dulu saya hanya mengajukan pertanyaan tersebut tanpa mencoba keluar dari zona nyaman, mungkin itu tak kan terjawab sampai sekarang.

Tentang Sam, rekan sependakian, ada cerita tersendiri tentangnya. Sam adalah orang sangat tidak bisa konsentrasi di sekolahnya dulu, tapi ia paling bisa konsentrasi ketika melakukan pendakian.

Kelemahan yang dimiliki seringkali justru menghalangi segala yang ingin dilakukan, serupa seperti teori “batasan” di atas.

“Most people only dream when they’re asleep, but you, Sam, allow yourself to do dream when you’re awake. All of it, this whole great thing we’re doing, started with your dreaming about it.  (p. 250)

Lagi-lagi tentang mimpi. Never stop dreaming, boi….

^^^^^^^^^^^^

 “A summit isn’t just a place on a mountain. A summit exist in our hearts and minds.” (p. 297)

Sampai hari ini, dengan masa lalu, MVP, skoliosis, pertemanan dengan brace, dan semua hal yang sempat (ataupun terkadang masih) membuat rasa percaya diri menghilang, dari tempat yang saya jejak di sini, puncak itu masih tetap terlihat.

“Why did people, including myself, envision a summit as only a place on a mountain?… ” (p. 208)

Tidak puncak milik orang lain, tidak pula puncak gunung yang nyata-nyata tak bisa saya capai. Tidak pula mimpi menyelam yang lambat laun berdamai dengan hati.

“Maybe the real beauty of life happened on the side of the mountain, not the top.” (p. 208)

Bukan saatnya mempertanyakan mengapa ada MVP, mengapa ada skoliosis, mengapa ada rasa percaya diri yang sempat menghilang.

“Some have said; if you could only see, your life would be so much easier. Easier, definitely, but more exciting, more satisfying, i’m not sure.” (p. 304)

Apapun batasan yang dimiliki, yakinlah bahwa dengan batasan itu kita masih bisa terus maju. Bahwa kekurangan yang kita miliki bisa berbalik menjadi kelebihan.

“You just have to reach. It won’t often be easy, little angel, but it always be a great adventure.” (p. 304)

 

Referensi:

Norman Edwin. 2010. Catatan sahabat sang alam. Kepustakaan Populer Gramedia

Weihenmayer, Erik. 2002. Touch the top of the world: farther than the eye can see. Plume

One thought on “Zona nyaman (3): mendaki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *