Kembali ke rumah – Bojong

(Buat kamu yang nggak tahu Bojong itu ada di mana) daerah Bojong jika ditempuh dengan kereta api dari arah Kota Jakarta, terletak di area sebelum Stasiun Bogor. Area pinggir kota yang masih banyak ditumbuhi pepohonan ini juga menjadi area kemping saya bulan Januari lalu. Namun sejak belasan tahun lalu, nama “Bojong” sama sekali tak asing bagi kami. Dan rute menuju kemping di tepi sungai waktu itu belum ada apa-apanya jika dibandingkan rute ke Bojong yang kami tempuh. Karena di sanalah semua rencana ayah itu pada awalnya berasal.

DSC_2957

Ayah selalu mewanti-wanti ke mana kami akan pindah dari rumah dinas yang sekarang jika beliau pensiun. Dan kehati-hatiannya itu sudah sejak jauh-jauh hari, bahkan sejak beliau masih berusia sekitar 30 tahun. Dan itu berarti masih berjarak 25 tahunan untuk sampai masa pensiun. Karena menurutnya mencari rumah itu tak bisa hanya dengan waktu setahun atau dua tahun.

Dan di sinilah rumah yang ia beli untuk pertama kalinya. Terletak di paling ujung pedesaan di daerah Bojong. Dahulu ketika kami akan menjenguk rumah tersebut maka kami harus berjalan berkilo-kilo dulu karena angkutan umum tak sampai ke rumah. Hihi benar deh mendaki bukit lewati lembah :p.

Rumah di Bojong tidak hanya menjadi cerita tersendiri bagi keluarga kami, tapi juga bagi keluarga Bulik Pikoh. Nah, pada waktu itu selagi rumah Bojong tidak ada yang menempati, maka keluarga Bulik Pikoh-lah yang akhirnya tinggal di sana untuk sementara waktu.

Saat pindah ke sana, Ica masih berusia sekitar 5 tahun. Maka perjalanan kami kali itu ke Bojong rasanya seperti mudik, mudik bagi ibu dan ayah ke rumah yang mereka cicil setiap bulannya dengan susah payah dan mudik bagi Ica dan keluarganya yang sempat menempati rumah itu selama beberapa tahun.

Bagi keluarga Ica ini bukan perjalanan ke Bojong untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun dulu. Karena pernah beberapa kali mereka menjenguk rumah tersebut yang kemudian dikontrakan orang lain seiring dengan keluarga Ica yang pindah dan menempati rumah lain. Tapi bagi saya iya.

Semasa masih SD dulu, biasanya saya beserta ayah atau ibu akan menengok rumah setiap beberapa bulan sekali dengan kereta, atau ayah sendirian dengan menaiki motor vespanya. Atau datang menjenguk Luki yang baru lahir. Tapi semenjak keluarga Ica pindah dan rumah itu disewakan ke orang lain, maka bertahun-tahun itu pulalah saya tak berkunjung. Sehingga ketika kembali ke sini dan menemukan udaranya masih terasa sejuk, area persawahan dan ilalangnya masih ada, meski tak seutuhnya sama dengan belasan tahun lalu, dan tidak serta-merta berganti mall dan apartemen, rasanya saya langsung tarik nafas lega….

Ketika kami datang, kondisi rumah yang penuh nostalgia cicilan ayah dan ibu ini sangat tak terawat. Rumput dan semak belukarnya tumbuh di sana-sini dengan liar. Lantainya rusak dan beberapa pintu copot, bahkan 1 pintu hilang. Listriknya pun sudah diputus karena ternyata orang yang menyewa (dan sekarang sudah pergi itu) tak juga membayar tagihan listrik.

Ica, kembali ke rumah

“Haduh… kasihan ini rumah. Nyicil dari tahun ’92. Bayar cicilannya Rp. 78.000 tiap bulan dulu cengap-cengep, sambil bayar sekolah ade. Lunasinnya berapa puluh tahun itu! Sekarang nggak ada listriknya.” Ucap ibu tak putus-putus sambil menyeret sapu lidi yang dipinjam dari rumah saudara Ica di dekat situ. Ibu pun menyempatkan diri untuk menyabit rumput meski cuma beberapa helai. “Biarin ah, kasihan.” jawabnya lagi ketika dilarang.

Ibu dan ayah

Kami pun berkeliling perumahan, menemui beberapa warga sekitar yang dulu menjadi tetangga dan akrab dengan keluarga Mamah Luki. Ica pun sibuk tertawa ketika diledek ayahnya bahwa teman-teman kecilnya dulu sekarang sudah menikah dan punya anak. Tapi sedih juga ketika menanggapi tetangga yang kondisi kesehatannya sudah tak mendukung sehingga harus terus duduk di kursi roda. Bapak itu menatap mata ayah Luki untuk sekedar menyapa, tapi tak ada suara yang keluar.

Selagi mengobrol dengan beberapa tetangga, saya dan Ica membeli balon tiup! Hihi ini sih beneran perjalanan mengenang masa kecil 😀

Foto kok malah mainan balon tiup -_-

Makan siang hari itu kami disuguhi dengan soto ayam buatan Bulek yang tinggal di dekat sana. Waah ini sih makanan favorit ibu :p. Sambil mengbrol mengenai area perumahan sekitar, pertanyaan yang terus menerus dilemparkan oleh ayah adalah; “Mau diapakan rumah Bojong yang sekarang rusak itu? Dibetulkan lalu dikontrakan lagi? Atau dijual saja?”

Tapi mengingat semua nostalgia yang menyeruak saat kembali ke rumah itu, rasanya saya tidak setuju dengan pilihan terakhir. Apalagi saat saya menemukan di area ini masih terdapat ngengat berukuran besar ini. Rasanya kali ini saya lah yang menyusun sebuah rencana.

Attacus Atlas, ngengat dengan ukuran besar
Attacus Atlas, ngengat dengan ukuran besar
Trio mudik :D
Trio mudik 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *