Orang dulu yang “tak repot”

Beberapa tahun lalu setiap saya atau kakak bercerita pada ibu; “Si A sedang ada si Malang”, atau “Si B sedang kuliah di luar negeri”, atau “Si C sebentar lagi menikah”, atau “Si D sudah melahirkan”, ibu selalu menjawab dengan sebuah pertanyaan “Tahu dari mana?” dan jika kami menyahut dengan jawaban “Dari facebook.” sambil menunjuk ke komputer atau layar handphone, ibu menyahut lagi dengan nada heran; “Kok bisa ketahuan sih? Emang kelihatan?”

Rupanya ibu mengira facebook dan segala macam media sosial ini adalah semacam alat yang membuat seseorang secara otomatis bisa langsung ketahuan sedang ada di mana, sedang makan apa, dan apa saja yang sedang dilakukan. “Emang nggak serem yah?” tanyanya lagi. “Gawat dong kalo ketahuan lagi ada di mana, nanti kalo diikutin orang gimana?”

Hal di sini yang kurang dimengerti ibu adalah bahwa bukan alat facebook atau twitter-nya yang membuat otomatis, tapi si orangnya lah yang mengungkapkan sendiri apa yang sedang ia lakukan, di daerah mana ia berada, dan bahkan apa yang ia rasakan.


Semua berlangsung sangat cepat, padat, dan berantai. Dan penggunanya ribuan, atau bahkan jutaan! Tak heran jika Indonesia masuk sebagai salah satu pengguna twitter dan facebook terbesar di dunia (peringkat berapa saya lupa).

Saya tak kan lebih lanjut mengomentari mengenai arus internet ini karena sudah di luar jangkauan saya. Tapi suatu hari ketika menunjukkan status dan foto beberapa teman yang mengungkapkan pendapatan bekerjanya selama (baru) beberapa tahun serta mengunggah rumah yang baru saja dibelinya, ibu berkata, “Ih… kok pamer sih? Masa kaya gitu diumbar-umbar? Kan kasihan sama yang belum punya rumah.”

Apalagi ketika kemudian ia mengetahui tak hanya satu orang yang seperti itu.

Awalnya saya hanya mengangkat bahu menanggapi komentarnya, tapi lama kelamaan sambil menatap laman-laman media sosial jadi berpikir; “Iya juga sih. Semakin lama social media atau media sosial ini menjadi hanya semacam ajang pamer.”

Rasanya di sisi lain media sosial kerapkali juga menjadi semacam ajang “dulu-duluan”, “gaya-gayaan”, dan “hebat-hebatan” mengenai apa saja yang dilakukan dan apa saja yang dimiliki.

image

Atau jangan-jangan tulisan ini memang hanya karena saya saja yang merasa terganggu? XD

Hmm… entahlah. Biarkan saja pembaca yang menilai :p.

Waaaah sudah satu halaman padahal bukan ini inti tulisannya :))

Saya akan cerita sedikit mengenai orang-orang ini. Orang-orang sederhana yang ditemui dalam rutinitas mudik yang terhenti sejak beberapa tahun lalu. Orang-orang dalam balutan kesederhanaan yang –sepenglihatan saya- adalah apa adanya.

Beliau-beliau ini adalah orang-orang yang “tak repot”. Misalnya tak repot update status atau berkicau untuk memberitahu seisi dunia dan teman-temannya setiap habis shalat, setiap berpuasa, atau sehabis memberikan sepiring pisang goreng untuk tetangganya. Mereka pun tak repot mengabarkan pada dunia bahwa mereka sedang kesusahan atau sakit.

Mereka-mereka ini juga yang kerapkali menahan saya untuk tak sekedar berkicau, dan sukses juga membuat saya sempat merasa bersalah atas tulisan-tulisan mengenai brace. “Jangan-jangan ada yang tersinggung juga karena kondisi tubuhnya tidak pas dengan brace.” Begitu pikir saya. Tapi lalu menjawab sendiri bahwa tulisan-tulisan itu dimuat di blog, setidaknya jika ada yang tak suka orang akan tinggal menutup layarnya atau meninggalkan halaman blog saya, dan bukannya muncul secara otomatis di timeline milik mereka.

Inilah mereka, orang-orang dulu yang “tak repot” menurut saya:

  • Mbah Tambak

Begitulah kami biasa memanggilnya. Ibu bilang rata-rata para mbah ini dipanggil namanya sesuai dengan lokasi tempat tinggalnya. Alasannya supaya para cucu atau cicit atau saudara jauhnya tak keliru memanggilnya dengan mbah-mbah lain. Mbah Tambak berarti mbah yang tinggal di daerah Tambak, Jawa Tengah. Baik laki-laki atau perempuan, kami tetap sama menggunakan “Mbah Tambak” sebagai kata ganti nama aslinya. Tapi jika sedang berbincang dengannya secara langsung tentu kami cukup memanggilnya “mbah” saja.

Mbah Tambak

Lahir 85 tahun yang lalu, Mbah Tambak dulunya adalah seorang pegawai puskesmas. Sebagai orang yang bekerja di bidang kesehatan, Mbah Tambak giat sekali menjaga kesehatannya. Beliau sejak usia mudanya sampai umur sekarang ini tak makan daging merah, tetapi memperbanyak buah dan sayur-sayuran, dan rajin berolahraga.

Beliau dan istrinya tak memiliki anak sehingga akhirnya mengadopsi anak salah satu familinya, menganggapnya anak sendiri dan menyekolahkannya sejak kecil sampai tingkat kuliah. Ibu saya adalah salah satu yang pernah diajak untuk disekolahkan, tapi beliau menolak (jangan-jangan karena homesick :p). Menurut cerita, setiap ibu dan adik-adiknya berlibur ke rumahnya, Mbah selalu menjamunya dan mengajaknya berjalan-jalan ke tempat wisata. Saat ini Bulek Wi, anak famili yang diadopsi, juga sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari situ, sehingga Mbah tambak tetap hanya hidup berdua. Dan sekitar 6 bulan lalu Mbah Tambak putri meninggal dunia. Sehingga otomatis, beliau tinggal seorang diri.

Bulan Mei lalu, Mbah Tambak berkunjung ke Jakarta, menaiki pesawat dan bus sendirian untuk kemudian dijemput di bandara. Rupanya beberapa hari kemudian ketika sedang asyik berbicara dengan kakung dan uti, kami baru tahu bahwa hari itu adalah hari lahirnya yang ke-85 tahun! Beliau tertawa begitu kami bertanya bahwa alasannya berkunjung ke Jakarta adalah untuk merayakan hari lahirnya itu. Ia mengelak dan menjawab hanya ingin berkunjung dan singgah di rumah para ponakan dan sanak familinya setelah sekian lama selalu ia yang dikunjungi. Dan kebetulan saja waktunya pas dengan hari lahirnya, padahal rencana ini juga disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan keuangannya.

Rasanya agak geli yah, jika membayangkan di tengah bus yang menderu beliau update status facebook atau twitter seperti ini;

“ OTW Jakarta, alone :’) ”

Haha XD

Selain rajin menjaga apa saja yang dimakan, mbah Tambak juga rajin menggosok giginya setiap sesudah makan (tentu menggosok gigi sekitar setengah jam sampai satu jam sesudah makan ya supaya tidak merusak gigi juga). Beliau baru akan berhenti makan ketika pukul 08.00 malam. Maka siap-siap ditolak jika menawari beliau makan lewat dari jam tersebut karena tentu giginya sudah dibersihkan.

Sepertinya beliau juga penganut “menjaga kesehatan gigi berarti juga menjaga kesehatan jantung”.

Lima hari Mbah Tambak berada di Jakarta untuk kemudian kembali lagi ke rumahnya, menaiki pesawat lalu di sambung bus kembali. Kabarnya beliau duduk di paling depan, dekat dengan supir karena khawatir kelewatan karena matanya sudah tak terlalu awas dengan jalan jika malam hari.

Sedih juga membayangkan beliau sendirian di rumah besar itu, apalagi mengingat rutinitas mudik kami terhenti sehingga tak singgah lagi di rumahnya, meski hanya setahun sekali.

  • Mbah yang kedua ini saya tak tahu persis namanya. Untuk mempermudah, kita panggil Aki saja ya.

Beliau berpulang beberapa hari lalu, 24 September 2012. Aki tinggal bersama Nini di dalam rumah yang sangat sederhana. Dan rumah ini juga selalu menjadi kunjngan wajib kami setiap mudik.

Menurut penglihatan saya, alm. Aki adalah seorang yang sangat gigih dan pantang menyerah. Beliau bekerja sebagai pembuat anyaman keranjang bambu dan menjualnya sendiri. Sampai 3 tahun lalu, saat terakhir kami mudik, alm. Aki masih setia memotong-motong bambu dengan golok, gergaji, dan menganyamnya. Meski pada saat itu kondisi kesehatan matanya sudah tak lagi baik dan tak jelas lagi melihat.

Aki dan anyaman bambu

Bahkan ketika kami datang dan mendapatinya sedang jongkok di halaman rumah, bekerja dan meraba-raba dengan bambunya, beliau sama sekali tak menyadari kehadiran kami yang datang perlahan. Barulah setelah lebih mendekat, ia menyadari langkah-langkah kaki yang berisik, dan bertanya; “Siapa?”.

Ayah memegang tangannya, membantunya berdiri, dan alm. Aki masih belum jelas melihat kami. Ketika ayah menyebutkan nama, barulah ia “ngeh”. Lalu kami duduk bersama di kursi-kursi kayu di halaman rumahnya.

Ia bercerita mengenai pengalamannya yang berjualan anyaman dengan berjalan kaki dan dengan kondisi tak melihat jelas sampai suatu hari beliau salah arah dan terlampau jauh berjalan. Sampai akhirnya diantar pulang oleh seorang bapak. Dan semenjak itu, alm. Aki tak berjualan jauh-jauh lagi, hanya dekat-dekat rumah saja.

Menurut cerita anaknya, alm. Aki sudah dilarang untuk berjualan dan membuat anyaman bambu, tapi tentu saja tak semudah itu melarang seorang yang sudah terbiasa bekerja untuk duduk-duduk diam saja.

Selamat jalan, Aki… Semoga Allah memberi tempat terbaik dan menghadiahi anyaman surga terindah untukmu… Amin.

  • Mbah Sidareja

Dua tahun tiga bulan sudah beliau terbaring. Tak mampu bergerak, dan tak mampu berbicara. Hanya bisa membuka dan menutup matanya. Mbah Sidareja adalah ibu dari ayah saya. Untuk beliau-lah rutinitas mudik dan segala printilannya dilakukan. Menembus kemacetan pagi, siang, sore, malam. Atau dahulu ditempuh ayah dengan kereta atau bus sendirian. Saat kami masih kecil tak pernah terpikir bagi ayah untuk pulang ke kampung dengan motor dan membonceng kami sekaligus dengan tas dan kardus besar. Pulang sendirian atau tidak pulang ke kampung. Begitu pilihannya.

Mbah adalah orang yang sangat energik, ceria, dan mudah tertawa. Sama seperti Mbah Tambak, beliau juga sangat senang saat anak-anak dan cucu-cucunya berkumpul dan memenuhi setiap kamar yang ada di rumah besarnya, tempat mereka dulu juga bersesakan bersama-sama.

Saat-saat seperti itu Mbah sering sekali tergelak dan tertawa sampai terkekeh bercanda dengan para cucunya. Senang sekali sepertinya :).

2009

Mbah Sidareja sehari-hari berjualan cabai dan sayur-mayur di pasar dekat stasiun. Cabai yang juga berasal dari lahan miliknya. Ia menempati salah satu kios untuk berjualan setiap harinya. Dan sama seperti orang tua lain, ia juga tak mau dilarang berhenti berjualan.

Dua tahun lalu, Mbah datang ke Jakarta dengan niat menengok cucu. Apa daya ketika sedang di Jakarta itulah beliau jatuh sakit sampai kemudian seperti koma, makan dan minum lewat selang di hidung dan infus sampai dua tahun-an ini. Dan minggu-minggu ini dilaluinya dengan berat, karena beberapa hari sempat infus tak bisa masuk meski sudah lewat kaki.

Semoga Allah selalu memberi yang terbaik untuk Mbah. Amin. (baca juga cerita rutinitas mudik)

  • Mbah Uyut

Aih… Mbah buyut, atau kami memanggilnya “uyut” selalu mendapat tempat khusus di hati saya.

Uyut adalah ibu dari uti saya, atau dengan kata lain neneknya ibu saya. Rasanya bersyukur sekali bisa diberi kesempatan menyaksikan sendiri kebaikannya.

Suami uyut adalah seorang veteran perang. Maka tentu saja beliau mengalami masa-masa perang pada zaman penjajahan itu yang sangat sulit. Tapi saya tak pernah melihat sisa-sisa sulit pada wajahnya. Rambutnya yang sudah seluruhnya memutih dan selalu dikepang, wajahnya yang bersih dan cantik meski kerutan-kerutan itu sudah tampak di mana-mana, tapi sebuah senyum selalu ada di sana setiap kami, para cicitnya datang.

(*walah saya nangis haha)

Uyut hanya punya dua anak, Uti dan Mbah Nani. Saat itu usianya belum sangat renta, namun beliau mengalami kesulitan berjalan karena penyakit rematik yang dideritanya. Sepeninggal suaminya, uyut tinggal bergantian di rumah uti dan rumah Mbah Nani. Bahkan seingat saya, beliau sempat tinggal beberapa bulan di rumah saya. Dan saya ingat betul kami memanggil seorang petugas puskesmas untuk memeriksa matanya. Uyut lalu bergantian membaca deretan-deretan huruf yang sering digunakan petugas yang memeriksa mata itu. Saya, yang saat itu baru bisa membaca, senang sekali melihatnya.

Sampai kemudian beliau berpesan untuk ingin tinggal di rumah Uti saja, tak mau dibawa ke mana-mana sampai beliau meninggal. Maka keinginannya itu pun dituruti. Dan otomatis setiap saya ke rumah Uti yang hanya satu kali naik angkot itu, selalu bertemu dengan Uyut.

Lama kelamaan beliau semakin kesulitan melihat, pandangannya kabur, dan kacamatanya sudah tak mampu lagi membantu, sampai akhirnya beliau sudah sama sekali tak bisa melihat dan kemudian juga sudah tak mampu lagi berjalan.

Uyut menempati tempat tidur di dekat lemari makan. Meski sudah tak bisa melihat dan berjalan, beliau tetap saja lebih banyak ceria dan tersenyum. Meski menurut beberapa cerita beliau sempat merasa sedih juga.

Saya selalu punya cara unik menegur sapa beliau, yaitu datang ke tempat tidurnya tanpa suara, lalu menempelkan tangan saya pada tangannya. Dengan begitu beliau kemudian akan tertawa, meraba-raba tangan saya, dan kemudian menebak sambil berkata ceria; “Ade ya? Kecil banget nih tangannya.” Hihi.

Setiap bulan Uyut mendapatkan pendapatan dari uang pensiun suaminya. Dan uang itu seringkali sampai ke tangan kami pula, para cicitnya. “Buat jajan ya, ‘De.” katanya sambil menggenggamkan selembar uang sepuluh ribuan pada saya. Sepupu-sepupu saya yang lain pun juga memamerkan uang di tangannya, lalu kami ramai-ramai memanggil tukang es krim yang lewat. Seiring kami yang semakin besar, lambat laun kami menyadari ternyata memang bukan jumlah uangnyalah letak kebaikan Uyut, tapi betapa di tengah keterbatasan dirinya itu, ia masih tetap ingin berbagi.

Meski tak bisa melihat, Uyut selalu tahu hari dan tanggal berapa saat itu. Beliau hafal hari lahir seluruh cucu dan cicitnya, lalu memberi bonus tambahan sambil mendaraskan doa.

Saat pendengarannya mulai berkurang, kami seringkali harus berteriak di kupingnya. Aulia, salah satu pasukan sepupu yang saat itu berusia sekitar 5 tahun, senang sekali jika saat-saat kumdang adzan datang, karena ia kemudian akan berlari ke bilik Uyut, lalu berteriak kencang di telinganya; “UDAAAAH AZAAAN, YUUUUT.”

Ya, dengan kondisinya yang terbatas itu, Uyut tak meninggalkan sholat. Ia akan meraba-raba dinding, bertayamum, memakai mukenanya, lalu sholat sambil duduk.

16 September 2004.

Saya ingat saat itu kabarnya Uyut sempat sesak nafas dan minta para cucunya berkumpul untuk membacakan doa. Sementara rumah kami sedang ramai oleh pasukan sepupu sehingga tak bisa berkunjung ke sana. Begitu saya menelepon ke rumah Uti, kabarnya beliau sudah merasa lebih baik.

Akhir-akhir ini kondisinya memang menurun, dan hal yang sangat saya sesalkan (terkadang sampai sekarang) adalah saya yang, entah kenapa, semakin menurunkan ritme untuk meraba tangannya dan berbincang dengannya.

23 September 2004 20.00

Malam itu seisi rumah heran dengan lampu ruang tamu dan kamar saya yang terus berkedip-kedip seakan mau putus. Aneh padahal seharusnya belum saatnya.

24 September 2004 03.00

Saya terbangun tiba-tiba dengan kondisi kamar yang gelap gulita. Lampu putus beneran, begitu pikir saya.

Lalu tiba-tiba ibu masuk ke kamar, menyuruh saya dan kakak bangun, dan berkata bahwa Uyut sudah pergi.

Rumah Uti sudah ramai saat kami datang, dan saya tak sanggup menahan air mata sambil terus merangkai bunga. Ketika Ririn datang, kami menangis lagi.

Uyut akan dimakamkan di kampung halamannya, di Gombong, di samping makam suaminya, sesuai  pesan beliau jauh sebelum ini. Ambulans dan beberapa mobil rombongan sudah siap mengantar. Sebelum wajah beliau ditutup saya, diikuti Ririn, mencium keningnya.

Dan saat-saat saya mencium kening pemilik wajah yang luar biasa bersih itu, berkilau karena air wudhu, rasanya dingin sekali. Dan kecupan terakhir itu tak mampu saya lupakan rasa dinginnya. Bahkan sampai sekarang.

Uyut pergi dengan sejuta ikhlas. Dengan hantaran para kerabat, anak, cucu, dan bahkan cicitnya, saya dan Ririn, yang memutuskan ikut ke Gombong di detik-detik terakhir sebelum berangkat.

Sehari setelah Uyut dimakamkan, kami sekeluarga kejar-kejaran di sawah dan sungai, bukan sebagai cicit dan cucu durhaka seperti yang dikatakan salah satu dari supir kami, tapi karena menyadari bahwa beliau mungkin juga sedang bersenang-senang di surga bersama suaminya.

Pohon, langit, & matahari, @ makam Uyut, 2009

Sampai hari ini, rumah Uyut tetap berdiri kokoh, dan menjadi tempat bermalam kami setiap mudik, sambil menikmati angin teduh di halaman rumahnya, dan bermain dengan seluruh propertinya bertaninya.

Sampai hari ini, pasukan sepupu masih suka ledek-ledekan mengenai generasi siapa saja yang tidak bertemu Uyut dan kami hanya cekikikan jika salah satu, dari yang tidak tahu, selalu bertanya dengan penasaran (meski sudah dijelaskan bahwa beliau adalah ibu dari Uti kami); “Uyut siapa siiih?” kata mereka sambil teriak-teriak.

Terima kasih, Allah… sudah sempat mempertemukan kami dengan Uyut, merasakan nikmatnya kebaikan dari seorang nenek buyut :).

^^^^^^^^^^^^^^

Lalu nyambung tidak ya dengan media sosial di atas tadi haha. Bodo lah :p.

Jika ada yang berkata; “Ya iyalah mereka nggak facebook-an, kan orang dulu. Coba kalo mereka tahu teknologi di zaman sekarang, paling juga online terus-terusan!”

Tapi nyatanya memang tetap ada orang-orang seperti ini, yang hidup di masa sekarang, mengerti teknologi, tapi tetap “tak repot”.

Tapi sepertinya orang itu pun bukan saya haha. Karena toh saya juga “repot-repot” menulis ini, apalagi ditutup dengan mengunggah sambil kesal luar biasa karena harus mengulang unggahan sampaiiii hampir 5 kali dan mengulang tulisan akibat koneksi internet yang kacau 😡

Setidaknya orang-orang dulu yang “tak repot” yang saya uraikan di atas memperlihatkan dan mengingatkan saya bahwa hidup harus terus merunduk, terus sederhana, karena di luar sana masih banyak orang-orang yang luar biasa dibanding kita, orang-orang hebat yang jauh dari hiruk pikuk media dan lalu lintas kicauan. Tak banyak bicara, tapi bertindak lebih, dan tak rikuh manakala tindakan baiknya tak diketahui orang lain.

J.K Rowling dalam akun twitternya menguraikan bahwa ia tak kan sering-sering berkicau, karena kertas dan menulis buku tetap menjadi prioritas utamanya.

Well, lalu bagaimana ya dengan orang Indonesia lain yang tingkat menggunakan facebook dan kicauan twitternya sangat tinggi tapi tingkat penerbitan bukunya masih rendah?

:p

~ 28 September 2012

Ditulis dengan hati yang terus dipenuhi harapan di akhir September, tapi masih jauh dari jangkauan. Lembaran halaman ini ditulis dengan kondisi mencoba tak menggunakan brace. Dan rasanya? Jangan ditanya 😡

*langsung pake brace lagi

Catatan:

Mbah Sidareja berpulang sebulan setelah tulisan ini dibuat, Oktober 2012

One thought on “Orang dulu yang “tak repot”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *