FOBI: “perpustakaan” foto biodiversitas

Saat itu saya tengah iseng melakukan pencarian mengenai data kupu-kupu yang pernah saya jepret di halaman belakang rumah. Saat itu rasanya pun belum secara tetap menjadi pengamat kupu-kupu (amatiran) di halaman belakang, hanya tak sengaja saja menjepretnya.

Saat pencarian dengan internet itulah (lupa juga apa kata kuncinya), tiba-tiba nyasar ke salah satu situs. Tulisannya FOBI, singkatan dari FOto Biodiversitas Indonesia. Diikuti dengan tampilan foto-foto kupu-kupu dari beberapa daerah dan berbagai pulau, dengan segala warnanya yang beragam.

Wuah situs apa ini??

Setelah dibaca lebih lanjut, rupanya FOBI ini memuat data foto-foto biodiversitas atau keanekaragaman hayati yang ada di nusantara. Foto tersebut dikirim oleh siapa saja yang berniat memuatnya di situs. Karena mencakup seluruh keanekaragaman hayati, maka tak hanya foto kupu-kupu, tapi juga ngengat, laba-laba, serangga, tumbuhan berbunga, tumbuhan perdu, bahkan juga jamur, dan lain sebagainya.

Menarik sekali. Begitu pikir saya. Dan setelah beberapa kali hanya melongok-longok, mengintip-intip, dan tenggelam dalam beragam warna biodiversitas itu, akhirnya saya pun mendaftar untuk menjadi kontributor foto.

Sabodo teuing lah. Minder-minder deh. Yang lain fotonya keren, saya berantakan. Yang lain sudah hafal spesiesnya, saya baru tahu satu spesies kupu saja. Yang lain adalah mahasiswa atau peneliti yang bolak-balik masuk hutan, sementara cakupan saya adalah kebun rumah!

Bodo ah. Pokoknya daftar!

Dan setelah sign up, tampilan sign in nya (menurut saya) keren. Membuat saya seperti akan masuk ke dalam perpustakaan keanekaragaman hayati, dan di gerbang masuknya disambut dengan deretan pohon tinggi-tinggi dengan tajuk rapat seperti ini:

Kontributor yang masuk saat itu masih tergolong sedikit. Seingat saya jumlahnya meningkat seiring dengan FOBI yang kemudian meluncurkan majalah digital volume pertamanya.

Dan majalah ini menjadi majalah biodiversitas pertama di Indonesia. Eh ternyata saya kebagian nongol sedikit di bagian testimoninya. Trims buat redaksi :p Meski nongol sedikit tapi lumayanlah buat ditunjukin ke ibu. Setidaknya sesudah itu beliau tidak lagi menganggap saya satu-satunya anak di dunia yang suka jongkok-jongkok di dekat kupu-kupu yang hinggap di tanaman.

Situs FOBI ini diluncurkan pada tanggal 22 Mei 2010, bertepatan dengan Hari Biodiversitas Internasional. (Nah mengenai sejarah sampai munculnya ide tentang situs ini silakan baca sendiri di Majalah FOBI edisi 1).

Sampai tulisan ini dibuat, statistik foto takson dan lokasi yang masuk ke FOBI adalah seperti ini:

Majalah digital yang diluncurkan sudah 4 kali, dimulai tahun 2011 lalu, dengan setiap tahun ada 2 volume. Isinya? Ya semua mengenai biodiversitas. Ya tulisan yang juga dimuat di web, ya foto (tentu saja), ya kegiatan kopdar alias kopi daratnya juga.

Situs FOBI dimanfaatkan oleh para pemerhati biodiversitas, mahasiswa, dan juga masyarakat umum (amatiran macam saya ini). Koleksi foto yang ada di situs digunakan untuk rujukan identifikasi spesies di lokasi tertentu, untuk materi perkuliahan (seperti beberapa waktu lalu yang saya baca dari forum), dan juga digunakan untuk mengetahui sebaran biodiversitas di sebuah lokasi (tolong koreksi kalo salah ya).

Dengan ini saya jadi tahu spesies kupu-kupu mana saja yang selama ini ternyata mampir ke rumah saya. Dan tanpa sadar jadi hafal juga nama latin dan nama beberapa kupu tersebut.

Saya jadi membayangkan perpustakaan tempat saya bekerja dan situs FOBI sebagai perpustakaan foto. Di perpustakaan nyata itu, pengguna perpustakaan datang, menelusur satu-satu deretan buku yang berjajar di rak, dibaca, kalau tidak cocok letakkan, lalu cari lagi. Begitu seterusnya sampai terkadang hampir seluruh jajaran rak berantakan alias tidak utuh. Ini hal biasa sebenarnya, apalagi di perpustakaan sehari-harinya yang ramai sekali dengan pengunjung. Atau pengguna bisa juga memanfaatkan fasilitas jurnal, majalah, dan rujukan lain (baik tercetak maupun online) yang tersedia di perpustakaan.

Kegiatan tersebut tak jauh berbeda dengan kunjungan ke situs FOBI untuk mencari sebuah referensi identifikasi spesies. Perbedaannya adalah semua rujukan di FOBI ini tersedia dalam bentuk digital. Pengguna (baik member ataupun bukan) masuk ke situs, telusuri foto, identifikasi, identifikasi salah, telusur foto lagi, identifikasi lagi. Syukur kalo yang ini sih nggak lewatin proses acak-acak rak foto.

image

Tak hanya di kebun rumah, setiap bepergian ke suatu tempat dan berkesempatan menjepret keanekaragaman hayatinya, pikiran saya hanya satu yaitu ingin mengunggahnya ke FOBI dan mengetahui nama spesiesnya. Terkadang jika ada waktu luang saya main tebak-tebakan masuk ke genus manakah spesies itu. Dengan cara ini dan (secara otomatis) membuka setiap foldernya saya jadi tahu dan tambah wawasan juga. Misalnya jadi tahu kalau Glory Bush itu satu genus sama Senduduk. Tapi kalau lagi bingung atau koneksi internet kacau, sedang malas atau puyeng karena susah mengidentifikasinya ya sudah upload sajah dan biarkan pak Jenderal Bas yang ident (peace yo, pak).

Nggak tahu sih, amatiran macam saya ini bisa masuk kategori citizen scientist atau belum, seperti yang diuraikan Mas Swiss di sini. Tapi kata tulisannya “Memulai dari lingkungan terdekat adalah awal yang baik. Bahkan di pekarangan rumah adalah rumah biodiversitas.” Waah cocok nih buat saya yang cakupannya memang masih di halaman belakang rumah. Hore! (ya gimana donk, maunya sih ikutan ke Cangar, Baluran, dan sebagainya, tapi belum bisa. *usap-usap daypack yang belum pernah dipake.

FOBI sebagai perpustakaan foto digital yang berisi foto-foto keanekaragaman hayati dari seluruh nusantara semoga terus bermanfaat dalam perkembangan bidang subjek yang masih jarang diperhatikan saat ini.

Tapi meskipun begitu, FOBI adalah dan (hanyalah) perpustakaan foto digital. Perpustakaan nyatanya? Ya seluruh biodiversitas yang ada di sekitar kita.

DSC_0014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *