Mangrove Angke setelah 2 tahun

Setelah dua tahun lamanya saya tak berkunjung ke hutan mangrove Angke di pesisir Jakarta, akhirnya pertengahan September lalu kembali menyambangi mangrove di sana. Tempat di mana saya belajar berorganisasi di ruang terbuka, belajar menyusun acara dan tepat waktu, serta belajar menjadi relawan. Tempat kabur dari kepusingan skripsi kala itu dan tempat kabur dari hiruk pikuk kota.

[baca tentang mangrove Angke di sini]

Rasanya tempat ini sudah masuk dalam daftar tempat di Jakarta yang harus dikunjungi Abang, hanya saja kami (selalu) belum sempat ke sana. Maka kali ini saya jadi pemandu amatiran bagi Abang, yang belum pernah berkunjung sama sekali. [iih norak ih :p]

Saya menyiapkan barang-barang yang wajib dibawa; binokuler untuk mengamati burung, 2 buku panduan birdwatching yaitu buku Burung Ibukota dan modul mangrove Trashi, payung, kamera, serta botol minum.

wpid-2012-09-22-06-08-55

Sabtu itu kami berangkat pukul 07.00 dengan transportasi umum. Bus kota-Transjakarta-angkot. Transportasi sekarang sudah lebih baik dari 2 tahun lalu. Dulu biasanya saya harus naik metromini dulu lalu dilanjutkan dengan lama menanti bus Patas dan turun di Grogol untuk kemudian naik angkot lagi. Sekarang sudah ada rute TransJakarta yang langsung dari Pancoran hingga Grogol.

wpid-2012-09-22-08-05-32

Sekitar pukul 08.30 kami tiba di Suaka Margasatwa Muara Angke. Esensi untuk bisa kembali ke hutan mangrove terakhir di Jakarta itu rasanya sudah meruap sejak lama. Sehingga, ketika mulai menapaki jembatan panggungnya dan menyapa monyet ekor panjang (Macaca Fascicularis) yang sedang berebut makanan, seluruh diri ini berharap sangat lebih akan perbaikan yang muncul pada tempat ini. Berharap ada banyak perbedaan selama 2 tahun tak berkunjung.

wpid-2012-09-22-09-03-33

wpid-2012-09-22-09-03-16

Hutan mangrove ini merupakan tempat tinggal monyet ekor panjang, burung air (waterbird), serta burung hutan. Ada pula burung endemik yaitu burung bubut jawa. Semuanya hidup dengan bebas, mencari makan, dan ada pula yang terbang ke Pulau Rambut di Kepulauan Seribu.

Karena perannya yang penting itulah ruang terbuka hijau, yang menjadi hutan mangrove terakhir di Jakarta ini, diharapkan mendapat perhatian lebih.

Nyatanya ketika lama tak berkunjung? Malah menjumpai lubang di beberapa tempat di jalan panggung. Pegangannya pun sudah mulai goyah dan cukup berbahaya. Tak kokoh seperti dulu.

2012-09-22 09.06.52-min

Kami terus berjalan menyusuri jalan panggung, papan informasi mengenai keberadaan spesies kupu-kupu dan burung-burung pun sudah tak terlalu jelas lagi tulisannya. Aih.. Siapa lah saya mengeluhkan semua ini. Tapi tetap muncul pertanyaan; kenapa jadi begini? Kenapa RTH 30% itu selalu tak dipenuhi meski keberadaannya penting? Kenapa tetap mall yang diperbanyak? Dan deretan pertanyaan protes lain yang cuma bikin panas sendiri.

Di antara deretan mangrove yang rapat, kami menjumpai kaladi di batang pohon yang sedang mencari makan. Entah kaladi tilik atau kaladi ulam, saya belum bisa bedakan. Kaladi ini semacam burung pelatuk. Tak hanya hidup di mangrove, burung ini juga hidup di pekarangan. Saya pernah melihatnya di belakang rumah.

Menjelang jalan menuju danau, eceng gondok mulai tampak memenuhi permukaannya. Mungkin karena lama tak diguyur hujan, deretan eceng gondok itu berwarna coklat seluruhnya. Kering kepanasan.

2012-09-22 09.14.18-min

Dari kejauhan tampak kuntul, cangak, dan pecuk yang bertengger di pohon ataupun sedang terbang.

Ketiga jenis burung tersebut merupakan burung air yang hidup di lahan basah semacam area mangrove ini. Burung kuntul berwarna putih dan biasa pula dijumpai di area persawahan. Sesuai ukurannya, ada kuntul besar, kuntul sedang, dan kuntul kecil. Pecuk, berwarna hitam, sejak awal menarik perhatian saya (terutama pecuk ular Asia) karena ia memiliki perilaku unik yaitu berjemur sambil merentangkan sayapnya. Salah satu ciri lainnya yaitu lehernya yang panjang. Pecuk juga terkadang berenang dan menyembulkan lehernya di permukaan danau.

Itik benjut (Anas giberifrons) pun tampak di sana. Itik ini berwarna cokelat abu-abu. Entah kenapa disebut benjut, mungkin karena kepalanya benjut seperti habis kejedot .

Sampah? Waaah tetap ada juga.

Matahari yang mulai meninggi mengiringi langkah kami, disertai pula iringan ruwak-ruwaknya kareo padi yang sosoknya menyempil di antara ilalang. Tak terlihat. Kareo padi juga salah satu favorit saya.

2012-09-22 09.22.19-min

Kami ragu melanjutkan langkah sampai ujung hutan mangrove. Abang yang agak khawatir dengan ular, ditambah gesekan angin di daun nipah yang tiba-tiba bersuara, membuat saya akhirnya memutuskan untuk menyurutkan langkah dan berhenti pada satu titik. Haha pemandunya juga takut XD. Kami akhirnya melanjutkan mengamati pecuk ular dan kuntul besar yang terbang dekat dengan kami, mencoba mengidentifikasi dua ekor itik benjut yang lalu kami sepakat untuk mengkoreksinya sebagai belibis batu, lalu tebak-tebakan pada hitungan berapa kareo padi akan lompat di antara campuran sampah dan daun-daun serta ranting yang mengambang di permukaan danau.

Setelah semakin siang dan burung-burung mulai menyingkir kami pun kembali ke pintu masuk.

Haaah ada banyak pertanyaan mengapa ruang terbuka hijau ini begini dan begitu. Kenapa seperti tak diperhatikan pemerintah (sejak dulu) meski saat itu para relawan komunitas berkegiatan di sana.

Kami pun pulang, dengan saya yang masih terus bertanya ini dan itu yang tak mampu dijawab sendiri.

Tapi yang jelas 2 tahun tak kembali ke deretan mangrove ini benar-benar membuat rindu.

wpid-2012-09-22-10-05-41

One thought on “Mangrove Angke setelah 2 tahun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *