Mengantar Mbah pulang

*diunggah dengan ponsel untuk pertama kalinya

Setahu saya mudik tersingkat ke kampung halaman ayah yang pernah kami lakukan adalah 3 hari dengan kereta api. Namun ternyata beberapa hari lalu saya menempuhnya pulang-pergi hanya dalam waktu dua hari.

image

Ini bukan hari libur idul fitri, bukan pula peak season saat liburan sekolah. Bukan pula akhir pekan. Sehingga jalan raya kosong sekosong-kosongnya.

Dan ini pun menjadi mudik dengan rekor barang-barang paling sedikit yang pernah dibawa, sehingga saya bahkan bisa meluruskan kaki di jok belakang. Tak berdesakan dengan koper dan kardus seperti biasanya.

image

Ini pun menjadi mudik yang pertama bagi saya dengan kondisi menggunakan brace. Sehingga 7-8 jam waktu tempuh itu tak terganggu dengan nyeri di sekujur punggung dan pinggang. Setelah bertahun-tahun lamanya menempuh kemacetan mudik lebaran, yang waktu tempuhnya molor menjadi belasan bahkan dua puluhan jam, dengan kondisi punggung yang sangat kacau.

Sayangnya, mudik ini menjadi mudik yang terakhir kalinya bersama mbah Sidareja. Mengantar Mbah pulang ke kampung halamannya. Tempat ia membesarkan anak-anaknya bersama alm. Mbah Kakung selama puluhan tahun, tempatnya bertani di sawah, dan menjual sayur di pasar.

Mengantar Mbah pulang, sebenar-benarnya pulang, setelah 2 tahun 4 bulan meninggalkan rumah dan jatuh sakit di Jakarta.

Tiba di Sidareja, para tetangga dan kerabat sudah ramai memadati rumah mbah. Sedari di Jakarta saya tak menangis, tapi rupanya tak kuasa meneteskan air mata saat mulai masuk menyambangi rumah Mbah. Rumah yang biasa kami jadikan tujuan mudik setiap tahunnya. Rumah yang dipenuhi gelak tawa Mbah saat para cucunya datang. Rumah yang kemudian terlantar saat Mbah kemudian sakit.

Aroma lembab rumah yang sangat saya hafal (yang meruap masuk ke hidung setiap kami menempuh rutinitas mudik dan memasuki seluruh isi rumah dengan mata sembab dan punggung pegal karena seharian dan semalaman duduk di mobil, berjalan terhuyung sambil menenteng koper, tas, dan kardus) masih tetap memenuhi bagian belakangnya.

Kami bersiap menuju makam. Tempat Mbah beristirahat nantinya, tepat di samping makam Mbah Kakung.

Selamat jalan, Mbah.. Semoga Allah memberimu tempat terbaik dan dikumpulkan bersama Mbah Kakung di surga. Aamiin.

image

image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *