Goyang pena

Untuk Teteh,

yang memegangi tanganku di saat diri ini limbung….

^^^^^^^^^^

“You are not going to be a writer someday. You are a writer today. Discipline yourself to write and take time to enjoy writing.

Do it a lot. Have fun with it. Begin now.” ~ Jack Heffron, writer’s idea book

dsc_1040-copy

Menulis, dalam artian menuangkan ide, pemikiran, dan apa yang diraskan ke dalam tulisan, rasanya sudah saya mulai sejak kelas 4 SD.

Saat itu dimulai dengan menulis diary. Menulis diary atau buku harian ini menjadi hal yang umum dilakukan, baik oleh anak-anak maupun orang dewasa. Saat itu, diary yang saya miliki dilengkapi dengan gembok dan kuncinya. Tujuannya ya supaya tidak ada orang lain yang semena-mena membacanya tanpa izin. Namun hal ini belakangan malah menimbulkan masalah karena kuncinya kemudian hilang dan saya sendiri tak bisa membuka gemboknya. Dikhianati diary sendiri.

Alhasil saya sempat berhenti menulis di buku harian sampai kemudian bisa lagi membuka gemboknya dengan jepitan. (Alamak, mungkin McGyver dulu terinspirasi dari bocah ingusan yang tak bisa masuk rumah karena terkunci). Setelah itu saya sudah malas menulis di buku harian bergembok lagi dan akhirnya menggantinya dengan buku harian biasa, dengan catatan tidak meletakkannya sembarangan. Pilihannya yaitu di tumpukan baju atau di antara buku-buku pelajaran.

Kebiasan menulis buku harian ini kemudian sempat berlanjut sampai kelas 2 SMP lalu berhenti saat saya patah hati (halah). Rutinitas menulis ini baru dilanjutkan lagi saat kelas 2 SMA. Saat itu kebiasaan menulis mulai dilakukan melalui media digital alias komputer. Maklum, saat itu ayah baru saja membeli seperangkat komputer bekas. Tulisan elektronik itu pun saya simpan di disket, dengan format tulisan yang tetap sama seperti buku harian tercetak. Disertai tanggal, dan keterangan lokasi. Sayangnya di kemudian hari hal ini rupanya juga menimbulkan masalah akibat serangan virus. Ya, disket tak mau dibuka dan tulisan tak dapat lagi dibaca isinya. Ah, sudahlah.

Bersamaan dengan menulis diary elektronik itu, saya mencoba menulis cerita pendek atau cerpen. Halaman ini kemudian membengkak sampai akhirnya menjadi semacam novel fiksi remaja. Tapi memang saya tak berniat mengirimkannya ke mana-mana, sehingga hanya disimpan dalam komputer.

Oh iya. Sebelumnya, saat kelas 1 SMA, saya bersama beberapa teman kelas memiliki sebuah buku untuk diisi bersama. Awalnya buku tulis biasa itu hanya milik saya pribadi, lalu saya persilakan beberapa teman dekat untuk menulis dan mengisinya dengan apa saja. Kami sempat senang sekali dengan keberadaan buku ini dan sempat terpaku saat salah satu tulisan mengungkap kesedihan mengenai seorang teman sekelas kami yang berpulang. Deretan tulisan dari berbagai teman itupun kemudian terhenti karena buku menghilang ketika salah satu dari kami membawanya ke rumah.

Ketika kelas 2 SMA, salah satu sahabat terdekat melontarkan ide untuk melanjutkan buku tersebut, namun penulisnya hanyalah kami berdua, bergantian. Mengingat saya adalah orang yang lebih mudah mengungkapkan sesuatu lewat tulisan (dan bukannya lisan), maka saya pun menyanggupinya.

Ide ini pun rupanya memudahkan komunikasi kami karena saat kenaikan kelas itu kami berada dalam kelas yang berbeda, sehingga sulit untuk pulang bersama dan saling bercerita. Buku tulis biasa tersebut kami beri nama “buku bintang” karena sampul depannya bergambar bintang besar transparan.

Lembar demi lembar buku tersebut kami isi secara bergantian. Kadang saya merasa mengisi terlalu banyak sehingga merasa tak enak padanya, kadang buku menginap terlalu lama di rumahnya karena lupa dibawa.

Menginjak kelas 3, buku tersebut hampir mencapai halaman terakhirnya. Kami sepakat untuk melanjutkan buku dan membeli yang baru, dengan tetap berupa buku tulis biasa, bukan hardcover mengingat kami tak punya banyak uang untuk membeli yang lebih mahal haha. Kami pun lalu menyempatkan diri untuk membelinya di akhir pekan, memasuki deretan toko buku, lalu memilih berbagai buku tulis dengan sampul depan yang menarik. Dan akhirnya “buku cookies”, dengan sampulnya yang transparan dan bergambar kue-kue kering serta biskuit yang dihiasi tulisan “cookies” berwarna cokelat menggiurkan, menjadi pilihan kami bersama.

Kami semakin seru melanjutkan cerita lewat tulisan. Misalnya mengenai pengalaman dikunci di luar gerbang sekolah karena telat, atau hal menyenangkan macam melihat hal lucu di angkot menuju dan dari sekolah. Menjelang akhir semester, “buku cookies” dipenuhi dengan dag dig dug menjelang ujian kelulusan.

Saat itu, karena terkadang merasa tak enak akibat menulis terlalu banyak, saya juga memiliki buku harian sendiri (lagi). Dengan ini berarti saya bebas menulis sepuasnya hehe. Buku ini pun tak hanya berisi tulisan tetapi juga foto, stiker, gambar, bahkan teks pidato yang dibawakan saat ujian praktik Bahasa Indonesia.

Memasuki kuliah, “buku cookies” tak lagi kami lanjutkan karena ternyata kami memasuki universitas dan bahkan kelas yang sama. Sementara buku harian pribadi saya terus berlanjut selama masa kuliah, sampai 4 tahun lamanya. Setiap halamannya habis saya membeli yang baru lagi di deretan toko buku di pinggir rel kampus.

Sekedar informasi, lembar demi lembar buku harian pribadi tersebut baru sekitar satu setengah tahun lalu saya hancurkan. Saya sudah cukup puas dengan menuliskan semua pengalaman mengharu biru saat itu, terutama mengenai runtuhnya saya karena MVP di saat menjalani masa perkuliahan. Saya membaca ulang semuanya. Dan ketika tulisan-tulisan tersebut lebur menjadi abu, perasaan saya saat itu lega saja, berharap menjadi pribadi baru yang lebih semangat. Karena rupanya sampai usia sekarang ini rasanya sudah banyak hal yang terjadi.

“Buku bintang” dan “buku cookies” milik bersama itu masih ada sampai sekarang, tak ikut saya hancurkan karena di dalamnya ada banyak kata-kata menakjubkan dari sang sahabat yang terus menyemangati hingga saat ini.

wpid-2012-12-19-06.23.36.jpg

^^^^^^^^^^

“Whatever space you use, fill it with things you love,

things that make you feel happy, confident, and creative.”

~ Jack Heffron, writer’s idea book

Di tahun kedua kuliah, saya mencoba menulis di blog. Masalah kemudian muncul ketika mengutak-ngatik pengaturan halaman blog lalu format huruf dalam tulisan menjadi super besar dan tak kunjung bisa dikecilkan kembali.

Saya pun kemudian lupa password untuk masuk ke dalam blog tersebut, sehingga kemudian membuat yang baru di multiply. Di blog yang baru ini, pengaturan penulisannya lebih bisa dimengerti. Blog ini juga dilengkapi dengan album foto dan disertai kolom komentar. Tahun 2007 itu pun menjadi awal penulisan rumah baru saya di dunia maya. Isinya terkadang curahan hati, puisi, tulisan secara acak dan sesuka hati, sampai liputan acara dan tempat-tempat yang saya datangi. Di blog ini pula saya sempat mengikuti lomba penulisan multiply Indonesia dan masuk sebagai finalis serta gagal sebagai pemenang.

Sekitar tahun 2009, seorang senior yang saat itu sudah bekerja mengirim pesan ke saya. Ia rupanya mengetahui sekilas mengenai hobi menulis saya ini, lalu memberikan informasi bahwa media tempatnya bekerja menerima tuliasn perjalanan beserta foto lampirannya. Waah, tulisan yang dibuat sendiri dan bisa dimuat di majalah memang menjadi salah satu cita-cita saya. Maka akhirnya saya mengirimkan tulisan mengenai catatan perjalanan ke sebuah tempat wisata untuk redaksi majalah tersebut dan benar dimuat beberapa bulan kemudian. Senangnyaa!

Sebagai pengangguran yang baru lulus saat itu, saya pun berpikir untuk ingin menjadi penulis saja. Saya mengirimkan beberapa tulisan lagi ke media lain. Kali ini hasilnya nihil. Tak ada satu pun dimuat, bahkan dihubungi pun tidak.

Saat tengah kuliah, saya juga membuat beberapa tulisan mengenai apa saja hal yang menjadi inspirasi saya saat itu, apa saja yang saya rasakan, dan apa yang membuat saya bangkit dari masa-masa MVP.

Tulisan tersebut saya update dan tambahkan terus menerus, sampai jumlah halamannya mencapai ratusan, seolah seperti sebuah memoar. Namun tulisan ini sempat terhenti hampir setahun lamanya karena skoliosis di punggung yang saya miliki. Ketika tulisan memoar tersebut saya baca ulang sekitar satu tahun lalu, saya baru tersadar bahwa terdapat banyak sekali kesalahan pada susunan kalimat, penggunaan kata, dan bahkan alur yang luar biasa berantakan. Kesalahan ini rasanya hampir mencapai 90% dari seluruh tulisan. Wuaah bagaimana bisa saat itu saya sempat ingin menyerahkan memoar abal-abal itu ke penerbit?

Saya sempat berniat menyusun ulang tulisan itu kembali tapi rupanya kesalahannya terlalu banyak sehingga malah membuat alur semakin kacau dan tak karuan. Ketika kemudian ide “mengirimkan ke penerbit” saya singkirkan jauh-jauh, saya pun bermaksud memperbaiki dan mencomot beberapa di antaranya untuk kemudian dimuat di blog saja. Tujuannya supaya bisa dibaca gratis oleh banyak orang. Tapi lalu saya tersadar kembali bahwa blog yang sudah 4 tahun bersama itu ternyata tak mampu mengkategorikan tulisan saya yang berisi banyak hal.

Setelah berbagai pertimbangan, intip blog tetangga kiri-kanan, dan meski awalnya dengan berat hati, saya akhirnya memutuskan membuat blog baru, yaitu yang sedang anda baca saat ini.

Di blog ini, saya bisa mengkategorikan tulisan dan bahkan bisa memetakannya di dalam otak. Keseluruhan tulisan yang dimuat di sini adalah mengenai hal-hal yang saya cintai. Mengenai perpustakaan, buku, lingkungan, skoliosis, MVP, dan inspirasi yang saya temukan.

Dengan berbagi tulisan dan tak hanya sekedar berpikir mengenai  diterbitkan, menulis rupanya menjadi sangat menyenangkan.

“Publishing is a tough business, full of frustations for even the most successful writers. If you write primarily to be published and to be an author, you will never be a happy writer.” ~ Jack Heffron, writer’s idea book

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *