Transportasi publik: Jakarta oh Jakarta

wpid-DSC_3134.JPGJakarta. Ada yang bilang roda penggerak ekonomi berpusat di ibukota negeri ini. Ada yang bilang pusat pembangunan pun ada di sini.

Saya bukan ahli tata ruang kota, bukan pula ahli ruang terbuka hijau, hanya warga yang sehari-harinya melewati waktu di sudut-sudut kotanya sejak meluncur ke luar dari rahim sang ibu sampai saat ini.

Maka berdasarkan pengalaman selama tinggal di kota ini, benarkah semua kemewahan itu ada di Jakarta?

Tapi yang jelas, keruwetan juga toh ada di sini.

Jakarta entah sejak kapan terkenal juga sebagai kota penuh kemacetan. Sejak dulu, saya mengenal rutinitas kemacetan hanya ketika mudik Idul Fitri. Ya saat itu saja. Sejak masa Taman Kanak-Kanak hingga SMA, lalu lintas kota bagi saya sangatlah bersahabat.

TK dan Sekolah Dasar saya tempuh dengan dibonceng ayah naik sepeda, barulah ketika kelas 5 SD saya mulai diizinkan untuk mengayuh sepeda sendiri ke sekolah yang melewati jalan raya yang ramai (meski tak seramai saat ini). Lalu dilanjutkan sekolah tingkat menengah pertama yang notabene tak dilewati jalur angkot sehingga mau tak mau ditempuh dengan berjalan kaki pergi dan pulang sekolah setiap harinya.

Setelah itu barulah sekolah tingkat atas berada pada lokasi yang cukup jauh, dengan kondisi harus menyeberangi jalan yang sudah semakin ramai. Tapi itupun tak terkena macet. Karena SMA saya saat itu berada pada lokasi yang tak searah dengan arus kerja Jakarta.

Kuliah? tak jauh berbeda. Depok, bisa ditempuh dengan kereta api dari rumah, dengan arus yang juga tak searah dengan para pekerja. Sehingga jika jadwal kereta sesuai, penumpangnya pun tak sampai bersesakan di dalam.

Kosong dan lancar.

Sampai di sini rasanya jalan raya masih lancar-lancar saja. Kecuali seperti yang sudah dibilang tadi, yaitu saat rutinitas mudik Idul Fitri ditempuh. Merasakan Jakarta si hutan beton rupanya baru benar-benar terjadi saat telah lulus kuliah.

Yeah, welcome to the jungle!

Kalimat itu mungkin merupakan kalimat yang tepat bagi saya yang baru benar-benar merasakan kacaunya lalu lintas kota setelah lulus kuliah.

Saat itu saya masih sebagai pustakawan lepas yang baru saja akan melakukan proyekan di perpustakaan sebuah keluarga di daerah Tanah Abang. Dan saya termangap-mangap melihat metromini yang dipadati penumpang bahkan sampai ke pintunya. Si kenek malah bergelantungan saja sambil terus menarik ongkos dari penumpang. Mereka yang berdiri di dekat pintu tak hanya kaum laki, tapi juga wanita. Sementara mereka yang kebagian duduk atau berdiri lebih di dalam, mengipas-ngipasi dirinya dengan kertas atau apa saja, berusaha mencari udara segar.

Di tengah kemacetan itu, si metromini pun hanya bergerak sejauh beberapa senti saja. Sampai-sampai jika saya masih akan berpikir untuk naik atau tidak, rasanya juga masih bisa.
Tapi saya pilih untuk menunggu metromini lain di belakangnya, siapa tahu lebih kosong. Ternyata? Sama penuhnya. Saya tunggu lagi. Ternyata malah lebih penuh lagi. Saya akhirnya menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk mencari metromini yang lebih kosong. Sehingga esoknya harus merubah rute dengan yang lebih jauh, tapi memang lebih lowong, meski tentu saja dengan biaya pengeluaran lebih besar.

Beberapa bulan setelahnya, saya mendapat pekerjaan di tempat yang sekarang dengan ketentuan masuk dan pulang jam sekian. Maka saya pun menjadi salah satu dari sekian banyak warga kota yang memadati jalan raya pada jam padat pagi dan sore hari. Saya menjadi salah satu dari mereka yang berjalan tergesa-gesa saat melihat metromini datang dan kondisinya masih kosong, menjadi salah satu yang menutup mulut dan hidung dengan tangan atau sapu tangan atau apa saja demi terhindar dari asap kotor knalpot buskota, menjadi salah satu dari mereka yang tertidur pulas di bangku kopaja, yang bangkunya morat-marit, saat kemacetan parah terjadi. Dan bahkan saya menjadi salah satu dari penumpang yang berdiri dekat pintu (meski kemudian langsung berusaha beringsut lebih ke dalam demi mengingat ibu yang akan melotot melihat keadaan “berdiri dekat pintu bus” ini).

Tak nyaman? Tentu. Apalagi jika mendengar komentar-komentar miring lain mengenai transportasi publik yang memang penuh sampai miring-miring itu. Tapi ternyata pengalaman bertemu banyak rupa di dalam transportasi publik juga menjadi suatu hal tersendiri. Bahkan berjalan kakinya saja sudah bisa menguraikan beberapa cerita.

Cerita tentang kota yang katanya sih maju dan gemerlap. Katanya. Mari saya uraikan pengalaman bepergian dengan transportasi publik ini.

1. Trotoar

Berjalan kaki menjadi salah satu unsur utama jika kita menggunakan transportasi publik, manfaatnya pun banyak bagi kesehatan. Sayangnya berjalan kaki oleh sebagian orang diidentikkan dengan kekurangan. Meski memang menghemat biaya, berjalan kaki seharusnya tak selalu juga dikaitkan dengan kemiskinan.

Ada banyak hal yang ditemui dengan berjalan kaki. Kita bisa berhenti sejenak untuk memperhatikan suatu hal kecil yang seringkali luput. Misalnya saja anak kecil yang tertawa saat sedang bermain lompat karet, atau tupai yang pernah saya lihat melompat di pepohonan di atas trotoar dan juga melenggang begitu saja dengan cepat lewat kabel listrik, menyeberangi masyarakat di jalan di bawahnya yang sedang uring-uringan karena macet. Pada kasus ini, jalan kaki tentu saja dilakukan saat sedang tidak dalam keadaan terburu-buru dan ditujukan untuk kesenangan dan rekreasi.

Walking for pleasure.

Dalam Urban Transportation Systems: Choices for Communities diuraikan bahwa ada tiga tipe pejalan kaki berdasarkan pergerakan atau perpindahannya.

Pertama yaitu walking briskly, yang berarti berjalan cepat dengan mengabaikan segala gangguan yang menghalanginya, dengan tujuan berpindah dari Point A menuju point B. Contohnya adalah berjalan berangkat menuju tempat kerja di pagi hari atau menghadiri sebuah acara agar tepat waktu. Dalam situasi ini, pejalan kaki biasanya memilih jalan yang lebih singkat dan berjalan dengan cepat seperti terburu-buru.

Kedua disebut meandering. Pejalan kaki ini berpindah dari poin A ke poin B namun tidak berjalan dengan tergesa-gesa dan dengan kecepatan konstan, tetapi punya cukup waktu untuk menikmati apa yang terjadi di sekitarnya yang menarik perhatiannya. Aha! Rupanya ini seperti walking for pleasure yang saya ceritakan di atas sebelumnya.

Ketiga yaitu tarrying. Berjalan kaki tipe ini tidak memiliki kepentingan darurat sehingga harus terburu-buru, tetapi berjalan hanya untuk menikmati pemandangan, berjumpa dengan orang lain, atau menikmati makan siang di luar ruangan. Sehingga berjalan kaki yang ini hanya untuk kesenangan sendiri atau personal enjoyment. Hmm.. ini sepertinya mirip seperti waktu saya berjalan kaki di Hutan Kota UI di sini.

Sayangnya (lagi), tren yang berlaku di lalu lintas kota Jakarta justru adalah menggunakan kendaraan pribadi. Ini didukung pula dengan kurangnya trotoar yang layak bagi warga Jakarta. Entah tren kendaraan pribadi atau trotoar yang kurang layaklah yang hadir lebih dulu.

Tapi yang jelas berjalan kaki di kota, yang katanya besar ini, sangatlah tidak mudah. Trotoar yang berlubang di sana-sini, batu-batu besar bergeletakan, trotoar yang dijadikan tempat sampah, atau bahkan trotoar yang berubah status menjadi lajur untuk kendaraan bermotor. Sehingga untuk berjalan kaki saja, pejalan kaki harus berkompetisi dulu dengan pengendara. Bahkan tak jarang pejalan kaki lah yang harus menyingkir dari trotoar.

Pada beberapa tempat, pejalan kaki bahkan harus melompati tali atau batu atau pot terlebih dulu untuk berjalan di trotoar. Benda-benda tersebut diletakkan di tempat yang tak seharusnya itu dengan fungsi menghalangi trotoar dari disalahgunakan oleh pengendara motor.

Saat menyeberang jalan, pejalan kaki pun kerap dituntut untuk menengok kiri dan kanan secara sekaligus. Ini terjadi akibat perilaku pengguna kendaraan bermotor yang melaju dengan melawan arus. Sehingga alih-alih menengok ke kendaraan yang datang hanya dari arah kanan, pejalan kaki pun harus pula secara cepat berpaling ke arah kiri, ke arah para pengendara motor tak tahu aturan itu melaju, yang tentu saja sangat berbahaya.

Tata kota di kota ini mungkin memang sudah tak jelas. Tepi jalan yang seharusnya dijadikan lahan untuk berjalan kaki pun dibabat menjadi lahan parkir. Saluran air ditutup dengan tujuan kendaraan pribadi bisa nangkring di atasnya. Dan rupanya tak hanya Jakarta. Kota lain sebagai tetangga pun mengikuti. Ini terlihat dari sepanjang jalan yang dipenuhi beraneka ragam restaurant atau tempat nongkrong, lahan tersebut justru dijadikan lahan parkir bagi tamu pelanggan.

If we took human needs seriously in recasting the whole transportation system, we should begin with the human body and make the fullest use of pedestrian movement, not only for health but for efficiency in moving large crowds over short distances.” ~ Lewis Mumford . Transportation: A Failure of Mind ~

2. Transportasi publik

wpid-IMG1055A.jpg

Dalam  Berkshire Encyclopedia of Sustainability, bab transportasi publik, Elizabeth Deakin mengatakan bahwa transportasi publik (disebut juga mass transit)  merupakan berbagai jenis layanan transportasi yang penggunaannya ditujukan untuk umum. Transportasi publik dilihat sebagai sistem berkelanjutan yang sangat berperan penting, memungkinkan seseorang bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Sistem transportasi publik yang dirancang dan dilaksanakan dengan baik dipercaya akan memberikan manfaat yang sangat penting bagi ekonomi dan lingkungan.

Transportasi publik ini merupakan strategi penting bagi pembangunan yang berkelanjutan, terutama di wilayah kota yang merupakan tempat populasi paling banyak.

Di banyak negara, pemerintah berperan sangat besar dalam setiap aspek penyediaan transportasi publik, mulai dari perencanaan, perancangan, konstruksi, pelaksanaan, pemeliharaan, pengawasan, sampai pada tahap evaluasi.

Hmm.. kalau di Indonesia sini sudah seperti itu belum ya? *nyengir

Menurut saya ada beberapa tipe orang yang menggunakan transportasi publik. Pertama mereka yang menaiki transportasi publik dengan alasan “mau tidak mau”. Mau tidak mau naik angkot karena tak punya mobil atau motor. Mau tidak mau naik bus karena tak bisa atau tak berani menyetir.

Tipe kedua adalah penumpang yang memiliki dan bisa mengendarai kendaraan pribadi namun sadar bahwa menempuh jarak dengan kendaraan pribadi hanya akan menambah kemacetan kota. Sehingga ia pun memilih untuk berjalan kaki saja untuk jarak dekat atau menaiki transportasi publik dan meninggalkan kendaraannya di rumah.

Tipe ketiga adalah mereka yang mampu membeli kendaraan pribadi, namun berpikir hal yang sama seperti tipe penumpang kedua. Sehingga ia menyimpan tabungan pribadinya itu untuk hal lain yang dianggapnya lebih penting.

Tipe yang manapun toh sudah berkontribusi dalam mengurangi kemacetan dan semrawutnya kota Jakarta. Karena macet rupanya tidak hanya pada jam sibuk saja, tetapi juga pagi menjelang siang, saat istirahat makan siang, siang menjelang sore, sore menjelang malam, dan terkadang malam hari pun masih macet juga.

Menurut Deakin lagi, lebih sedikit mereka yang memiliki atau  menggunakan mobil maka jumlah lahan yang digunakan untuk lahan parkir juga akan jauh berkurang. Nah, ingat kan cerita tadi tentang trotoar yang berubah fungsi menjadi area parkir?

Transportasi publik meliputi angkot (angkutan kota), bus kota (dalam hal ini adalah Kopaja, Metromini, Patas, dan sebagainya), becak, bemo, bajaj, KRL, dan sebagainya. Dan dalam tulisan ini saya hanya akan membahas pengalaman seputar Kopaja dan metromini saja.

Dengan tarif Rp 2000 (yang kemudian naik menjadi Rp 3.000) untuk jarak dekat dan jauh, penumpang memang tak bisa berharap terlalu banyak mengenai kemewahan yang bisa didapatkan dari buskota ini. Kalaulah penumpang mengharapkan adanya hiburan musik, sang supir memang kadang menyediakan radio tape plus speaker. Musik pun akan mengalun kencang ke seantero bus, bahkan tak jarang sampai ke luar bus. Jenis musiknya? Mulai dangdut, dangdut koplo, pop tahun 70-an yang biasa juga disetel ayah, sampai musik pop terbaru macam Bruno Mars dan Rihanna. Tapi yang paling sering diputar adalah lagu daerah asal supir dan kenek bus. Alasannya mungkin supaya terus mengingat kampung halaman mereka.

2012-09-06-07-05-44

Kapasitas tempat duduk bus kota ini adalah sekitar 28 penumpang. Saya kurang tahu mengenai kapasitas penumpang berdiri. Namun seringkali meski bus sudah penuh, kenek atau kondektur bus masih saja terus menyuruh calon penumpang di tepi jalan untuk naik, dan berkata; “Ayo… kosong..! kosong..!”. Penumpang yang sudah sewot biasanya akan langsung berkata; “Lantai dua kosong, bang!!”.

Dan ketika si penumpang benar-benar naik ke dalam bus yang sudah penuh itu, kenek bus akan memaksa para penumpang lain untuk merangsek terus ke dalam. Dengan kondisi memiliki AC alias angin cepoi-cepoi dan kondisi sarat penumpang, udara di dalam bus pun tentu saja meningkat drastis.

Hal pengap dan panas itu belum ditambah dengan kemacetan luar biasa yang membuat bus hanya berjalan tersendat. Jalan raya, yang seharusnya bisa ditempuh dengan waktu 5 menit ketika lancar, bisa berubah menjadi 30 menit. Rute pulang kantor yang biasanya hanya membutuhkan waktu 30 menit, harus direlakan dan diikhlaskan menjadi 120 menit alias 2 jam.

Pegal bagi mereka yang berdiri, pantat panas bagi mereka yang duduk, dan pengap bagi kesemuanya. Maka tak heran, banyak yang begitu sampai rumah langsung tumbang. Padahal masih ada lagi rentetan pekerjaan dan aktivitas yang seharusnya bisa dilakukan sepulang beraktivitas. Misalnya saja bercengkerama dengan anak dan keluarga atau membantu anak mengerjakan tugas sekolahnya, membereskan rumah, membuat rencana kegiatan esok hari, atau menyelesaikan tulisan yang tak kunjung selesai (haha ini saya banget).

Supir pun melaju, kadang ngebut tak karuan, lalu berhenti hampir mendadak saat di pinggir jalan ada calon penumpang yang menyetop busnya. Penumpang di dalam bus yang berdiri pun berayun kiri dan kanan mengikuti laju bus yang cepat, syukur jika struktur bus memungkinkan untuk berpegangan pada tiang di atas kepala. Ada beberapa bus yang tiang pegangannya pun tak ada. Jika tiang pegangan ini tak cukup membuat penumpang berdiri kokoh dan tak jatuh, biasanya penumpang berinisiatif untuk berpegangan juga pada sandaran bangku penumpang yang duduk.

Alasan supir kopaja dan metromini ngebut ini biasanya karena kejar setoran. Atau berdasarkan penglihatan saya, untuk berkompetisi dalam memperebutkan penumpang. Ini biasanya terjadi bagi bus yang jumlahnya cukup banyak.

Tenang, bang… rezeki sudah diatur.

Tentu tak semua supir bus berjalan tak tentu, zigzag di jalan hanya untuk menghindari macet, melenggang kiri kanan lalu naik ke busway,  atau ngebut lalu menginjak rem mendadak sesuka hati demi mengejar setoran. Ada juga supir dan kenek bus yang berjalan tak pelan tapi juga teratur. Ia rupanya ingat bahwa yang dibawanya adalah penumpang, dan bukannya batu.

Saat penumpang hendak turun dari bus pun, kenek dan supir seringkali mengingatkan, berulang lagi dan lagi, mengenai cara turun dari bus kota; “Kaki kiri, neng. Kaki kiri” dan ditambah peringatan; “Awas! Liat belakang. Awas motor!”. Karena seringkali motor tetap melaju meski penumpang atau pejalan kaki sudah memberi tanda untuk menyeberang.

Elizabeth Deakin mengatakan juga bahwa transportasi publik memberikan manfaat lingkungan yang sangat penting. Sistem transportasi publik yang baik bisa mengurangi penggunaan energi dan emisi gas buang daripada bepergian dengan kendaraan pribadi seperti mobil dan motor pribadi. Sistem transportasi publik juga berarti mengurangi jejak karbon sehingga memberikan dampak lebih kecil bagi keseimbangan alam dan lingkungan kota. Dan di sinilah tantangannya, di seluruh dunia transportasi publik harus bersaing dengan bisnis kendaraan pribadi yang semakin meningkat.

wpid-IMG-20121012-WA0000.jpg

Sistem transportasi publik yang belum baik inilah yang menyebabkan maraknya penggunaan kendaraan pribadi. Apalagi saat marak pemberitaan mengenai pemerkosaan di dalam angkutan kota. Peraturan saat itu pun ditingkatkan menjadi tidak bolehnya angkot atau buskota disupiri oleh supir tembak alias supir yang tak memiliki izin menjalankan transportasi publik. Supir pun diwajibkan memiliki kartu tanda pengenal yang dipasang pada bagian paling depan dan wajib memakai seragam. Sepengamatan saya, masih banyak para supir yang enggan mengenakan seragam. Entah karena kepanasan atau hal lain.

Ini belum ditambah dengan turunnya harga pembelian motor. Sehingga kebanyakan warga di kota pun ramai-ramai membeli motor. Mereka seolah balas dendam atas transportasi publik yang belum membaik, padahal ini justru menambah deretan masalah yang sudah ada, dan bahkan menimbulkan masalah baru.

Yaitu tingkat kemacetan melesat naik.

Beberapa pengguna kendaraan pribadi ini seolah menggunakan mobil atau motornya hanya sebagai sarana berpindah secara cepat dan kilat dengan berdasarkan prinsip; “yang penting sampai”.

wpid-IMG-20121012-WA0001.jpg

Mobil di lajur menyeberang

Maka tak heran ada di antara mereka yang mengemudi di jalur pejalan kaki, jalur penyeberangan, dan bahkan melawan arus. Pernah dengar kan cerita #ojekfromhell beberapa minggu lalu? Nah! Banyak pengguna motor yang memang seperti itu. Melarikan motor menaiki jembatan penyeberangan, melintas di trotoar, dan tak mau kalah dengan melawan arus.

Perilaku melawan arus ini karena kabarnya berprinsip cepat sampai. Keinginan untuk lekas sampai di rumah pun malah semakin jauh karena membahayakan diri sendiri dan orang lain. Melawan arus seperti ini justru malah membuat lalu lintas semakin kacau dan tak beraturan sehingga waktu tempuh malah menjadi lebih panjang.

Motor di lajur menyeberang

Hal serupa juga dikatakan Krygsman et al. (2004) dalam Public transport integration into urban planning oleh Burinskiene, Marija, Faustina Tuminiene, dan Rasa Uspalyte-Vitkuniene yaitu bahwa transportasi publik berperan secara jangka panjang sebagai alat transportasi yang berdampak positif bagi lingkungan dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan bepergian tanpa kendaraan pribadi, serta mengurangi kesenjangan sosial.

^^^^^^^^^^^

Macet rupanya tak hanya membuat lelah, tapi juga meredam kreativitas dan mengganggu kesehatan. Menit demi menit yang dihabiskan dengan berdiam di dalam bus kota membuat tubuh terkena paparan polusi udara dari asap kendaraan bermotor.  Maka tak heran, penjual masker laris manis menjajakan dagangannya.

Sewaktu awal bekerja, karena tak terbiasa bertatap muka dengan semua kemacetan dan kepadatan bus setiap lima hari dalam seminggu, saya sempat mendapat teguran karena sering absen. Rasanya terlalu lelah di jalan. Sampai saya bahkan bertanya pada diri sendiri apa benar pilihan bekerja seperti ini yang saya inginkan? Bukannya lebih baik bekerja saja dari rumah? Tapi yah rupanya itu memang pilihan.

Sehingga berusaha menyenangkan diri sendiri tentang pilihan yang sudah diambil, berusaha merilekskan diri di tengah suasana pengap meski kaki terjepit dan terinjak orang lain, dan berusaha duduk senyaman mungkin ketika kemacetan parah dan membuat tulang punggung yang sudah bengkok ini semakin tak karuan rasanya.

wpid-2012-06-25-07-26-46

Salah satu cara agar perjalanan menjadi lebih menyenangkan yaitu dengan melakukan kegiatan seperti membaca, menulis, serta memperhatikan apa yang terjadi di luar jendela.

Bertemu dengan sesama pengguna transportasi publik yang ramah pun bisa menjadi salah satu pengalaman yang menyenangkan. Mungkin di saat seorang pemilik kendaraan pribadi yang duduk nyaman dalam mobilnya marah-marah akibat macet berkepanjangan, seorang nenek dengan barang bawaannya yang cukup banyak duduk di sebelah saya, menyapa dengan ramah, dan meminta tolong agar saya memberitahunya jika gang kecil lokasi tempat ia turun sudah dekat. Matanya sudah tak awas untuk melihat keluar jendela yang saat itu sedang mendung karena turun hujan. Saat saya bertanya balik mengenai payung, ia menjawab sambil tersenyum. “Ketinggalan di rumah cucu. Nggak pa-pa. Nanti neduh aja.”

Pengalaman lain adalah ketika saya dibangunkan oleh seorang wanita yang usianya mungkin tak jauh dari saya. Ya, salah satu cara menghadapi macet, selain membaca buku dan menulis, tentunya adalah tidur.

Biasanya beberapa orang berpikir; “Lumayan tidur sekejap.”. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa perilaku ini berbahaya, waspada dengan tas dan barang bawaan. Jangan lengah. Begitu katanya. Tapi kalau sudah ngantuk berat. Ya bobo deh hehe.

Wanita itu membangunkan saya yang tertidur. Saya, yang jetlag, menoleh ke arahnya dan ke luar jendela bergantian (syukur nggak ileran ya). Karena rupanya saat itu tempat tujuan saya belum sampai. Jadi kenapa saya dibangunkan? Beberapa orang memerhatikan dan menatap wanita itu yang kemudian merasa agak malu karena merasa sok tahu telah membangunkan saya. Ia pun berdiri, bersiap turun karena lokasi kerjanya sudah dekat.

Saat itu saya berpikir dan ketika diingat memang sepertinya kami sering bertemu di dalam bus. Dan dulu memang saya sering turun di tempat yang sama dengannya. Mungkin mbak itu mengira tempat turun saya masih sama lalu khawatir saya kebablasan, sehingga akhirnya ia membangunkan saya. Karena tak tega melihat wajahnya yang memerah akibat malu, sebelum ia turun dan menghilang, saya mencoleknya, nyengir, lalu mengucapkan terima kasih sudah dibangunkan. Ia membalas, namun masih dengan senyum kikuk.

Pengalaman lain lagi adalah ketika seorang ibu di sebelah saya kekeuh tak mau dibayar. Jadi ceritanya ada seorang ibu (sebut saja ibu A) yang hendak membayar bus dengan uang Rp 50.000. Entah karena lupa membawa uang receh atau apa. Dan tentu saja si kenek bus tak mau menerima. Ibu A mencari-cari uang lagi di tasnya tapi tak menemukan recehan. Seorang ibu lain (Ibu B) di sebelahnya langsung mengeluarkan uang Rp 2.000 dan memberikannya pada kenek bus. Ibu A pun langsung memberikan uangnya pada ibu B. Tapi ia berkelit. Dan terlibatlah mereka dalam beberapa perseteruan (eh tapi nggak sampe berantem kok).

“Nggak usah. Sama-sama penumpang kok.” jawab ibu B.

“Eeh, jangan! Masa saya nggak bayar!”

“Nggak usah bu. Kan sama-sama.”

Dan akhirnya karena penolakan yang terus menerus, ibu A pun mengucapkan terima kasih karena naik busnya gratis alias dibayarin hehe.

Pengalaman lain lagi saat setelah hujan. Metromini yang kami naiki sepertinya bocor sehingga di beberapa bangku terdapat genangan air. Karena saat itu adalah pagi hari tentu tak ada yang berniat duduk di sana dan membuat baju kerjanya basah. Beberapa penumpang yang memiliki tissue memberikan pada penumpang lain. Penumpang yang kesulitan mengelap bangku karena posisinya di pojok pun akhirnya dibantu oleh penumpang lain untuk mengelap bangkunya.

Saya tak berpikir untuk merindukan kemacetan Jakarta. Tapi saat saya kecelakaan setahun lalu akibat lengah dalam berjalan kaki dan selama tiga minggu sesudahnya harus berangkat kerja dengan diantar mobil pribadi, rupanya saya merindukan menaiki bus kota.

“Hayo, cepat sembuh! Ditungguin tuh sama Kopaja.” begitu ledek pakde yang menyupiri saya saat itu.

Aih, seandainya saja transportasi publik membaik dan macet bisa dikurangi, maka kesehatan dan kreativitas warga mungkin juga bisa semakin meningkat.

2012-09-06-07-05-52

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *