Lombok (1): bukan backpacker

Saya sudah mengetahui bahwa perjalanan ini pastinya bukanlah perjalanan backpacking seperti yang selama ini saya idam-idamkan; berkeliling membawa daypack di sebuah daerah yang masih asing, bertanya sana-sini mengenai rute dan arah tujuan sambil melihat peta, makan dan minum di pinggir jalan, serta menaiki angkutan.

Bukan. Sama sekali tak seperti itu.

Malam hari sejak turun pesawat di bandara, kami bahkan disambut oleh pemandu wisata yang mengalungkan sehelai scarf tenun khas Lombok lalu langsung mengarahkan kami ke sebuah mini bus berkapasitas 25 orang, meski saat itu jumlah rombongan kami adalah sekitar 12 orang.

wpid-DSC_1168.JPG

DSC_1621

Dengan adanya paket wisata, lengkap dengan pemandu selama di Lombok ini, berarti kami akan mengikuti jadwal yang sudah disiapkan, dan akan selalu diantar serta dijemput dengan minibus ke tempat tujuan. Jadwal makan pun tak perlu khawatir. Semua sudah diatur dan kami hanya tinggal makan.

Penginapan? Saya dan Ica terbengong-bengong di depan pintu kamar hotel, mengutak-ngatik kartu yang diberikan untuk mencoba menemukan bagaimana agar pintu kamar mau terbuka. Kami mencoba menyelipkannya pada celah gagang pintu, menggeseknya, memutarnya, bahkan membolak-balik semua sisinya, tapi pintu tetap tak mau terbuka sampai kemudian kami meminta bantuan teman ayah. Ternyata cara membuka pintu kamarnya cukup dengan menempelkan kartunya saja di dekat alat sensor di gagang pintu, dan kunci pintu pun langsung nonaktif, dan pintu bisa dibuka (tapi jangan bayangkan pintu langsung menjeblak terbuka atau terdorong dengan sendirinya macam pintu asrama di Hogwarts ya XD).

Kartu kemudian diletakkan pada tempat yang sudah disediakan, di dinding dekat pintu, maka kemudian lampu ruangan kamar, lampu kamar mandi, dan televisi akan langsung menyala otomatis. Setelah bingung dengan cara membuka pintu, kami kemudian dibingungkan dengan bagaimana cara menyalakan shower di kamar mandi. Putar knop sana, putar sini, sampai air langsung mengucur keluar.

Saat kamar akan ditinggalkan, kami tak boleh lupa membawa serta kartu yang tadi (ke manapun kami pergi). Begitu kartu dicabut dari tempatnya, seluruh alat elektronik pun akan mati secara otomatis pula.

Isn’t it too lux? tanya saya dalam hati.

wpid-DSC_1638.JPG
Best room-mate ever!

Bus kami pun penuh dengan AC sehingga saya tak bisa menghirup aroma khas pedesaan di Lombok selama kami berkendara membelah setiap kotanya. Dalam novel Edensor karya Andrea Hirata rasanya saya pernah membaca ungkapan kalimatnya bahwa berwisata dengan menaiki bus dengan pemandunya hanya cocok bagi turis kakek-kakek dan nenek-nenek. Tak melihat kondisi alam dan kondisi masyarakat daerah yang sesungguhnya.

Menjadi backpacker memang bukan berarti melarat, bermalam di tempat yang tak jelas, atau luntang-lantung, dan kere. Tapi bukan berarti juga duduk di minibus dan diantar ke sana kemari. Terkadang saya iri juga pada mereka-mereka yang menelusuri tiap jalan di Lombok dengan memanggul tas-tas besar di pundak.

Tapi bukankah tujuan saya di sini adalah menempuh jarak panjang bersama ayah dan Ica? Tanya saya lagi, berpikir ulang sambil melirik mereka berdua yang terkantuk-kantuk dalam goyangan minibus.

Maka saya punya trik untuk duduk di dalam minibus ber-AC ini. Yaitu duduk di bagian paling belakang dengan alasan agar bisa mengambil gambar secara leluasa. Pandangan saya di bagian belakang ini rupanya masih terbatas pada kaca jendela yang tak bisa dibuka, kecuali satu, yaitu di bagian paling pinggir.

Dengan alasan ini, saya bisa sejenak membuka jendela satu-satunya itu, mengambil foto, sambil diam-diam meresapi udara khas Lombok yang saat itu dipenuhi dengan aroma petrichor, lumpur, hamparan pasir, dan aroma khas pesisir.

Aih, syukuri saja rezeki dalam mini bus ini. Mungkin nanti saya akan kembali ke sini, memanggul daypack untuk menuju kaki gunung Rindjani.

wpid-DSC_1536.JPG

(bersambung)

3 thoughts on “Lombok (1): bukan backpacker

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *