Lombok (3): hadiah pelangi

Rute ini tak ada dalam rute rombongan kami, tapi luar biasa penting bagi saya. Bahkan bisa dibilang menjadi semacam fokus utama dari keseluruhan rangkaian perjalanan ini. Sehingga, sejujurnya, bisa sampai ke tempat ini adalah sebuah berkah luar biasa.

wpid-dsc_1313

Setelah diberi tahu mengenai perjalanan ke Lombok, secepat kilat saya langsung mulai googling mengenai keberadaan perpustakaan lokal atau rumah baca di Lombok. Tapi saat itu, satu hal yang menjadi masalah adalah saya belum tahu sama sekali daerah-daerah mana saja yang akan kami tempuh. Sehingga sulit untuk menemukan sebuah rumah baca yang kira-kira lokasinya dekat dengan kami nanti. Ya, saya hanya bisa menebak, mengira-ngira. Karena bahkan saya belum tahu akan bermalam di penginapan mana.

Pencarian perpustakan di Lombok pun mengerucut menjadi beberapa titik. Ada yang berlokasi di Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, dan juga Lombok Barat. Lombok Timur dan Lombok Utara sepertinya cukup jauh. Kalaupun kami menuju ke sana, entah waktunya cukup untuk ke rumah baca dan meninggalkan rombongan sejenak, atau tidak.

Sampai akhirnya saya membaca mengenai salah satu rumah baca di Ampenan dari blog milik Mbak Yennesy. Dilihat pada peta, lokasinya berada di sebelah Mataram, entah seberapa jauhnya tapi setidaknya masih berada dekat dengan Mataram. Toh saya ingat ada tetangga yang tinggal di kota tersebut, dan saya pikir jika nanti kepepet saya akan minta tolong diantar saja ke Ampenan.

Nama rumah baca itu adalah Rumah Baca Unyil. Tapi saya sempat ragu karena sampai beberapa hari sebelum hari H, saya masih juga belum mendapatkan nomor kontak pengurus tersebut. Nomor kontak Mbak Rilla, salah satu penggagas rumah baca tersebut, baru berhasil didapatkan saat dua hari sebelum keberangkatan, lengkap dengan alamatnya.

Setelah itu, buku-buku bacaan pun disiapkan, dengan jumlah yang tak terlalu banyak karena terbatasnya ruang di koper. Tapi sama seperti lemari pakaian yang baju-bajunya disingkirkan demi bisa memuat buku-buku yang jumlahnya semakin membengkak, beberapa helai pakaian pun saya keluarkan kembali dari koper agar buku-buku bacaan tersebut bisa muat. Tak lupa ditambah dua boneka tangan dan satu set kartu pintar.

Oh this is gonna be an exciting trip!

Terima kasih para donatur!
Terima kasih para donatur!

Sampai tiba di Lombok dan bermalam di sana, saya mengabarkan pada si empunya kontak Rumah Baca Unyil perihal pertemuan dan kedatangan saya. Dari pesan singkat dengan Mbak Rilla, saya lalu diberikan nomor kontak Mbak Sholehah, relawan yang standby mengurus rumah baca.

Tapi rupanya jam buka rumah baca bertolak belakang dengan jam kosong di luar rombongan kami. Rumah baca buka siang, jadwal kosong kami terletak pada pagi hari sebelum jam 8 dan malam hari setelah jam 7. Saat itu saya khawatir, tak sempat mampir dan harus pulang kembali ke Jakarta masih dengan membawa buku-buku yang sama seperti saat berangkat.

Tapi tidak. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Maka saya pun berkata pada Mbak Sholehah,  bahwa saya belum menemukan waktu yang tepat untuk bertemu di malam pertama kami di Lombok itu.

Esoknya sepulang dari Gili Trawangan, kami belum juga bisa menemukan waktu yang tepat untuk bertemu. Sampai akhirnya Mbak Sholehah bersedia saja kapanpun kami bisa berkunjung. Saya mengajukan rencana kunjungan pada pagi hari pada ayah, karena beliaulah ketua rombongan antara saya dan Ica.

Senin pagi pukul 5, ayah akhirnya setuju jika kami pergi sejenak dari penginapan untuk mencari rumah baca tersebut. Pukul 6 pagi, kami pun sudah siap sambil menenteng buku-buku bacaan. Di daerah ini tak ada angkot, dan satu-satunya yang bisa kami gunakan adalah taxi yang ternyata mangkal di depan penginapan. Kami memberikan alamat dan patokan pada supir taxi, dan pak supir pun menyanggupi daerah tersebut. “Sekitar 30 menit dari sini.” katanya.

Setelah menempuh jalan sekitar 35 menit, melewati rumah-rumah penduduk dan pura, tibalah kami di gang kecil dekat kuburan Cina. Saya menelepon mbak Sholehah dan ia berkata lokasi kami sudah dekat.

Pukul 06.40, setelah berbelok di ujung gang, celingukan, dan bertanya arah pada penduduk yang memperhatikan kami dengan heran, tibalah kami di Rumah Baca Unyil. HORE!

Gang itu khas sekali dengan aroma kuat perkampungan. Jauh dari hingar bingar dan dentum musik seperti yang terasa saat kami melewati Sengigi. Tapi siapa sangka ada nada-nada riang mengalun yang akan kami temukan di sini.

Mbak Sholehah menyambut dan mempersilakan kami masuk. Rak berisi buku-buku pun berdiri di ruangan tersebut. Jumlahnya ada tiga rak. Ada satu ruangan lagi yang di dindingnya ditempelkan hasil karya anak-anak.

Cahaya matahari belum sepenuhnya menyinari rumah sehingga penerangan di area rak buku ini terasa kurang, Mbak Sholehah pun membuka pintu belakang. Adegan ini kemudian diikuti oleh mata saya dan Ica yang langsung membelalak saat mendengar suara debur ombak begitu pintu belakang dibuka.

Rumah baca ini ternyata berada tepat sekali di tepi laut. Aiiih..

Saat kami sedang mengobrol dan melihat-lihat buku, beberapa anak masuk ke rumah baca dan menyalami saya, Ica, serta ayah. Semakin lama, jumlah anak yang datang semakin bertambah. Semuanya masih dengan wajah bangun tidur, dan malu-malu saat bersalaman.

Kami lalu memutuskan untuk langsung membuka buku-buku bacaan yang kami bawa. Mereka pun menyambut dengan antusias. Ayah memainkan boneka tangan kelinci sambil menirukan suara anak kecil, beberapa anak tertawa melihatnya dan langsung memainkan boneka tangan satu lagi yang berwujud kuda.

Dalam sekejap, ruangan itu pun dipenuhi oleh anak-anak yang membuka buku bacaan satu persatu.

wpid-picsart_1357114290696

Ah, saya lupa. Berapa lama ya saya memimpikan hal ini terwujud di depan mata? Bayangan anak-anak yang haus bacaan menari-nari di pelupuk mata. Satu lagi kepingan mozaik dari sebuah impian sederhana yang selama ini hadir.

wpid-img-20121231-wa0008
Sayangnya kami tak bisa berlama-lama di sini, kami pun mengajak anak-anak untuk berfoto bersama di halaman belakang, yaitu di bibir pantai dengan pasirnya yang luar biasa lembut.

Setiap kamera akan dijepret setiap itu pula ada anak yang datang lagi dan lagi. Suasana pun menjadi riuh karena setiap anak mengajak temannya untuk ikut berfoto bersama.

Saat itulah Ica berseru. “Ada pelangii..!” sambil menunjuk arah di belakang kami. Kami menoleh ke belakang dan tampaklah seleret warna-warni pelangi. Tipis tapi menghiasi langit pagi itu.

Lintang, bukankah kau anak pesisir juga? Pikir saya takjub. Baru teringat akan hal itu.

Tak ada hal lain yang mampu menghipnotis saya dan melarutkan segala rasa di dalam diri menjadi satu.

Debur ombak, butiran pasir lembut, anak-anak yang girang membaca, dan untaian nada pelangi menyiratkan satu kata optimis.

Kami pun melangkah pulang, dengan saya yang masih takjub dan membisikkan kata terima kasih atas hadiah pelanginya.

wpid-img_20130101_084855

wpid-img-20121231-wa0009

Anak-anak Rumah Baca Unyil
Anak-anak Rumah Baca Unyil

^^^^^^^^^^

Notes:

Baca tentang Lintang di sini.

0 thoughts on “Lombok (3): hadiah pelangi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *