Lombok (4): seashore

Meski Lombok dikelilingi dengan perairan, tapi sejak peristiwa minyak tumpah di Gili Trawangan saya jadi agak ragu bisa menemukan relaksasi di sini, selain ketenangan yang saya temukan di Ampenan bersama anak-anak Rumah Baca Unyil.

Apalagi ketika sesudah kunjungan itu, agenda kami adalah menuju Kuta di wilayah selatan Lombok. Yup Lombok juga punya Kuta, bukan Bali saja.  Namun hujan turun dengan sangat deras menyapa sehingga kami batal untuk menyambangi Kuta. Hanya menatap hujan dari area rumah makan.

Meskipun begitu, kunjungan ke Tanjung Aan yang terletak lebih ke selatan lagi tetap kami lakukan. Meski dengan pasrah nantinya akan bisa turun dari minibus atau tidak, karena hujan yang masih terus membasahi bumi.

Lambat laun hujan berubah menjadi rintikan. Saya membuka kaca jendela. Udara segar dan petrichor sesudah hujan ditambah pula dengan aroma khas pesisir, kuat menjelajah hidung.

Kondisi jalan menuju Tanjung Aan tergolong rusak. Kami berguncang-guncang di tempat duduk dan berpegangan pada sisi bangku karena takut kejedut. Tapi di sinilah serunya. “Coba kalo lewat ke sini pake jeep.” ucap ayah sambil nyengir, teringat mobil favoritnya.

Area lahan basah membentang di sekitar kami. Penuh dengan lumpur dan bakau setinggi sekitar 10 cm yang sepertinya baru ditanam. Setelah itu pemandangan dipenuhi semak-semak dan pepohonan tinggi, serta bukit-bukit hijau di kejauhan. Bentangan pun berganti menjadi area padang rumput luas yang dipenuhi kawanan sapi.

Jalan berkelok-kelok dan masih saja rusak. Jalur ini pun tak terlalu cukup dilewati dua mobil sehingga adakalanya kami harus berhenti terlebih dulu agar kendaraan dari sisi berlawanan bisa lewat.

Setelah bentangan bukit dan pepohonan, batu karang hitam besar-besar pun kemudian terhampar di depan kami nun jauh di sana. Hamparan pasir putih dan langit luas khas senja setelah hujan membuat kami terpikat dan seolah memanggil untuk memainkan butiran pasirnya dan merentangkan tangan memeluk cakrawala. Siapa pula yang mau tetap di dalam bus dalam kondisi macam ini?

Sampai akhirnya minibus berhenti di area parkir, ajaibnya hujan mereda dan hanya menyisakan rintiknya saja. Kami bergegas turun, sambil tetap melindungi kamera karena tetes air yang rupanya masih cukup deras.

Pasir di area ini luar biasa lembut, sampai bahkan untuk jalan saja cukup susah karena telapak kaki terbenam di antara butiran pasirnya. Laut sedang surut saat itu sehingga batu-batu karang hitam terhampar menggoda pengunjung untuk menjejakinya sampai ke tengah laut.

Kami pun bisa mendaki bukit dengan undakan tangga dan dari atasnya bisa melihat keseluruhan lukisan alam Tanjung Aan. Langit masih jauh dari cerah, tapi angin dan aroma laut, yang menyeruak menerpa wajah kami di atas bukit, sudah cukup menciptakan suasana rileks untuk kami.

^^^^^^^^^^^

Rupanya ada satu lagi kejutan bagi kami di sore itu, selain hadiah pelangi pagi tadi dan hujan yang mereda di Tanjung Aan. Satu hadiah lagi adalah matahari terbenam di pantai sebelum Senggigi, yang saya lupa namanya.

Awan kelabu memang menghiasi langit saat itu, tapi nuansa merah, oranye, dan kuning ditimbulkan dari matahari yang mulai bergerak perlahan menuju peraduannya.

Buih-buih mengejar langkah-langkah kesunyian dalam keheningan. Hanya ada suara debur ombak yang bergulung-gulung menghampiri setiap kaki. Seolah semua terdiam dan larut dalam keheningan menyaksikan sebuah adegan alam menakjubkan: matahari terbenam.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *