Ngebolang ke Warabal (lagi)

wpid-IMG_20130122_181533.jpg
Menuju Warabal

Kami (terutama saya) cukup merasa bersalah karena menunda kunjungan ini sampai bebeberapa bulan lamanya. Kunjungan untuk kembali ke Warabal milik Bu Kiswanti di Parung, Bogor. (masih ingat tentang Warabal kan? Baca sebelumnya di sini.)

Beberapa bulan sebelumnya, Bu Kiswanti meminta bantuan kami untuk mendata buku-buku yang dimiliki Warabal. Karena jadwal yang cukup padat dan juga ingin memberi kesempatan pada mahasiswa di angkatan sesudah kami, kami pun memasang pengumuman secara online mengenai dibutuhkannya relawan untuk mendata buku-buku Warabal tersebut. Apa daya ternyata cukup susah mendapatkan relawan mahasiswa itu. Entah karena sibuk atau tidak tertarik dengan bumbu “volunteer” alias tak berbayar ini huehehehehe (nyengir lebar), atau memang pengumumannya tidak terbaca. Semoga sih bukan karena point ke-2 yah.

Rencana untuk berkunjung ke Warabal sudah kami rencanakan sejak bulan Desember dan menjadi salah satu rencana kegiatan Kelana Kelapa di bulan Januari. Rencana kunjungannya yaitu tanggal 13 Januari 2013, hari minggu.

Satu minggu sebelum hari H, Bu Kiswanti menelepon dan berkata kalau buku-buku di Warabal sudah didata dengan baik oleh seorang ibu. Wuah saya jadi deg-deg-an, senang karena sudah beres, tapi khawatir kedatangan kami nantinya hanya sekedar meluruhkan kewajiban untuk sekedar datang dan bukannya benar-benar membantu.

Tapi Bude Is (panggilan akrab Bu kiswanti) berkata bahwa ia mati gaya mengenai pengaturan rak di perpustakaan Warabal, dan tak mengerti dengan susunannya meski keseluruhan buku rata-rata sudah diberi label. Untuk itulah kami tetap datang meski dengan cukup deg-deg-an karena takut tak bisa memenuhi harapan Bude Is.

Syukur rencana untuk berkunjung tanggal 13 Januari itu bisa benar-benar terwujud tanpa halangan dan akhirnya saya, Runi, serta Ucup pun tancap gas untuk ngebolang ke Parung. HORE!

wpid-IMG_20130122_124923.jpg

Saya berangkat dari Pasar Minggu, Ucup dari Cengkareng, dan kami bertemu di Stasiun Depok Baru untuk kemudian menaiki angkot menuju Parung, sementara Runi langsung berangkat dari Ciputat menuju Warabal. Ucup sempat lama menempuh perjalanannya yang luar biasa panjang karena banjir di daerah Daan Mogot sebelum ia sampai di stasiun. Fiiuhh.. beneran ngebolang nih Cupi XD.

Sampai di sana rupanya hari sudah cukup siang. Kami pun langsung mengobrol panjang lebar mengenai apa yang Bude Is inginkan. Ia rupanya bingung mengenai penjajaran buku dan lokasi di rak. Sebaliknya, kami justru takjub pada kemajuan pesat Warabal yang sudah berlantai dua ini. Dulu saat kedua kali berkunjung, Warabal masih dalam tahap renovasi, sekarang ruang perpustakaan jadi lebih luas dan menyenangkan.

Lantai bawah digunakan untuk aula dan ruang komputer. Sementara lantai 2 untuk perpustakaan. Rak bukunya tetap sama tapi koleksinya jelas bertambah.

image

wpid-IMG_20130122_125316.jpg

Relawan yang diceritakan Bude Is untuk mendata buku rupanya adalah seorang ibu rumah tangga yang berniat mencari kesibukan, ia bersedia mendata buku dari hari Senin sampai Kamis, membuat nomor klasifikasi, dan memberi label. Jumlah buku yang sudah didatanya berjumlah sekitar 2.000 eksemplar. Wuuaah… hebat euy si ibu.

Bude Is menuturkan bahwa penomoran klasifikasi yang digunakan di Warabal adalah menggunakan standar DDC. Kami bertanya apakah menggunakan DDC online dan Bude Is menjawab “Bukan, DDC tercetak.” Saya dan Runi langsung berpandangan. Takjub Warabal ternyata juga memiliki DDC asli dari luar negeri itu, 4 volume! Bener-bener iri deh hehe.

(red– DDC atau Dewey Decimal Classification merupakan sebuah standar penomoran klasifikasi perpustakaan yang disusun oleh Melvil Dewey dengan 10 kategori utama yang kemudian dibuat lebih spesifik lagi menjadi 100 kategori, dan seterusnya. Baca lebih jauh tentang klasifikasi perpustakaan di sini). Penampakan DDC yang terdiri dari 4 volume adalah seperti contoh disini.

“Ini, warnanya pink.” Jawab Bude Is sambil mengambil DDC yang ia maksud. Oooh ternyata DDC yang dimaksud adalah buku berjudul “Pengantar klasifikasi persepuluhan Dewey” seperti ini. Sampul bukunya berwarna pink. Kategori dan inti utamanya sama, hanya saja tidak spesifik seperti DDC pada umumnya.

Klasifikasi menurut DDC yang ini jauh lebih sederhana, bukunya juga tidak tebal. Menurut Bude Is, Bang Wien Muldian, salah satu pustakawan dan alumni lah yang mengajarkan cara mengklasifikasi buku. Yeah! Thanks to
Bang Wien!
wpid-2013-01-13-14.23.51.jpg
Bude Is pun mencatat beberapa masukan dan saran dari kami mengenai perpustakaan Warabal (terlepas dari tidak tahu yah kami ngebantu apa ngerecokin hehe). Kami menyarankan penggunaan label warna untuk koleksi yang tidak boleh dipinjam dan koleksi buku bacaan anak.

Hal yang lebih mengagumkan adalah Warabal juga sudah menggunakan sistem automasi perpustakaan, sehingga relawan bisa langsung meng-scan barcode yang ditempel pada buku ketika ada anak-anak yang meminjam, dan data buku pun langsung masuk ke dalam sistem komputer. Tapi sayangnya, karena belum ada relawan yang sepanjang hari bertugas di sana (full time) sehingga barcode scanner ini seringkali tidak digunakan dan disimpan saja karena jika tidak diawasi sering digunakan untuk main belanja-belanjaan oleh anak-anak hehe. Sehingga pencatatan peminjaman buku pun masih tetap manual, yaitu ditulis di dalam buku peminjaman.

wpid-IMG_20130122_132307.jpg

Karena waktu yang terbatas, kami pun berniat untuk pulang. Tapi serupa seperti workshop daur ulang tempo lalu, Bude dan keluarga mengajak kami makan dulu sebelum pulang. Lesehan di lantai 1 Warabal alias aula. Nikmaat…! (ini kayanya dari pas mulai dateng udah ngincer masakan deh XD).

wpid-IMG_20130122_182040.jpg
Bude, Pakde, dan Afief

Perbincangan rupanya masih dilanjutkan setelah makan. Bude Is sempat medongengkan kami dengan sebuah cerita menggunakan media origami. Setelah itu kami asyik membuat origami burung yang dicontohkan oleh Ucup.

IMG_20130113_142115

IMG_20130113_143518

IMG_20130113_144010
Bu Kiswanti

Kami melirik jam dinding dan akhirnya memutuskan untuk berpamitan (beneran) karena hari sudah sore untuk kembali menempuh jalur pulang. Semoga nge-bolang kali ini pun bermanfaat. Amin.

IMG_20130113_150134

IMG_20130113_150247

Notes:

Yeeaah volunteer of the day is Ucup, yang menembus banjir dari Cengkareng-Parung, dan pulang lagi dari Parung-Cengkareng (ya iyalah!). Hihi sampai bingung pulangnya mau lewat Ciputat apa lewat Depok.

Bravo deh Cupy! 😀

wpid-IMG_20130122_181804.jpg

Foto: oleh Runi dan saya (edited through instagram)

0 thoughts on “Ngebolang ke Warabal (lagi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *