Iboih, Pulau Weh

Dalam rute 5 hari di Aceh, tentu ada tempat yang diharapkan menjadi point of interest bagi kami. Dan yak! Point of interest itu adalah Pulau Weh. Meski sempat pula berubah-ubah haluan dari Pulau Weh, lalu Takengon, lalu Sampoeniet. Alasan berubah-ubah ini adalah adanya pesan sponsor yang berkata untuk tidak snorkeling jika ke Pulau Weh.

Alamaaak, mana tahaaan…! Bawah lautnya itu lho..! O_o

Mengingat kata snorkeling selalu membuat saya ngiler. Sudah terbayang pemandangan bawah laut di Iboih sana yang katanya indah. Ingat kan cerita mimpi menyelam saya? Ah, snorkeling cukup saja laah.

Nah, saat tiba waktunya packing (seminggu sebelum keberangkatan), saya mengeluarkan baju renang dan alat snorkeling yang masih jarang dipakai itu dari lemari, lalu menumpuknya di antara jejeran pakaian. Tanpa disangka sama sekali, ibu berseru keheranan; “Lho? Kok bawa baju renang??!”

Saya menjawab (juga dengan heran); “Lho? Kan sudah bilang mau ke Sabang. Mau snorkeling juga.”

Ibu tambah terkejut, lalu menghambur ke kamar dan berseru pada ayah; “Ade mau snorkeling di Sabang katanya!”

Waduh.. waduh.. Saya mulai merasa ada sesuatu yang horor nih. Waduh gawat.. (hampir aja gigit alat snorkeling saking tegangnya).

Dan dimulailah perdebatan mengenai bolehnya snorkeling dan tidak. Waduuh… (*gerogotin koper). Saya tentu merasa perdebatan ini tak perlu mengingat saya sudah mengatakan tujuan kami ke Pulau Weh bahkan sejak 1 bulan lalu, dan sempat juga mengeluarkan baju renang di depan ibu sebelumnya.

Singkat cerita, orangtua saya mengemukakan alasan tidak bolehnya snorkeling rupanya karena adanya kepercayaan mengenai tidak-bolehnya-pengantin-baru-untuk-turun-ke-laut menurut adat Jawa.

Oh okay baiklah.. (alat snorkeling langsung retak-retak beserta mimpi snorkeling di Pulau Weh). Masalahnya sudah H-7 hari dan kami sudah menentukan itinerary, tapi ini adalah keputusan final ayah dan ibu dan tak bisa diganggu gugat. “Bagaimana kalau ke Sabang aja tapi nggak turun ke laut?” tawar ibu.

Huaaa…!! Rasanya mau nangis di pojokan sambil jongkok. Tapi life plan must go on. Maka secepat kilat saya dan abang berpikir untuk mencari tempat lain sebagai alternatif Sabang (untuk apa ke sana kalau tak snorkeling, jadi pilih hutan saja), yaitu Takengon atau Sampoeniet, pikir kami.

Okay, berhubung calon pengantin nggak boleh cemberut maka saya (harus) rela dadah-dadah dan mengembalikan lagi alat snorkeling dan baju renang dari daypack ke lemari. Huaaaaaa…!! T_T

Makanya tujuan lalu kami rubah menjadi Takengon atau Sampoeniet. Berita buruknya adalah sampai kami sudah menginjakkan kaki di Aceh, provider wisata di Desa Sampoeniet tak kunjung juga ada kabarnya. Ditambah lagi Takengon rupanya memiliki waktu tempuh sekitar 8-9 jam dari Banda Aceh. Khawatir saya kelelahan karena jadwal berkunjung ke rumah saudara di Aceh juga padat, maka kami sempat pasrah dan rela jika harus putar-putar Banda Aceh saja.

Hari pertama di Aceh mulai kembali memikirkan, gimana kalau seperti rencana semula? Ke Iboih, tapi tanpa snorkeling (ihiks..). Dan dimulailah meminta izin lagi ke orangtua lewat telepon. Ya donk, meski sudah menikah dan jadi tanggungan suami, ridho Allah tetap datang dari ridhonya orangtua. Pesannya boleh asal nggak berenang. Siip dah babeh! Mungkin memang belum rezeki saya untuk snorkeling di sana.

Maka mulailah kami mencari kembali informasi mengenai kapal dan penginapan di Iboih secepat kilat. Wuuuzzz..!

^^^^^^^^^^

16 April 2013

Jadwal penyeberangan kapal ferry (karena kami naik motor pinjaman maka harus naik kapal lambat dan bukannya kapal cepat) dari Pelabuhan Ulee Lheue menuju Balohan pada hari Selasa adalah pukul 14.00. Oke, berarti kami masih punya waktu untuk putar-putar kota sebelum menuju ke Ule Lheue, yaitu ke museum tsunami dan Masjid Baiturrahman.

Pukul 12.30 kami sudah melaju menuju Ulee Lheue. Jalan raya menuju arah pelabuhan ini terlihat sangat lengang. Saya dan abang menyempatkan untuk makan mie Aceh dulu di warung kopi di tepi jalan gampong Ulee Lheue.

wpid-2013-04-16-12.03.34.jpg

Puas menyantap mie, kami kembali tancap gas ke pelabuhan. Rupanya sudah cukup banyak pengendara motor yang mengantri untuk masuk ke kapal. Setelah sekitar setengah jam, antrian motor kami akhirnya bergerak juga dan memasuki area parkir motor di kapal.

Saya dan abang segera mencari tempat untuk duduk. Kami bergerak menaiki tangga menuju lantai paling atas kapal. Dari atas sini kami bisa melihat pesisir Ulee Lheue dan laut yang siap kami belah. Menyenangkan berada di paling atas kapal tapi panasnya itu lho! Nggak tahan hehe.

peta1

DSC_0850

Kami turun lagi menuju deretan kursi penumpang di dalam kapal. Berhubung tadi beli tiket kelas ekonomi, jadi tentu ruangan ini tanpa AC dan otomatis banyak asap rokok di mana-mana. Kami pun memilih-milih tempat duduk yang minim asap rokok.

Waktu tempuh ke pulau Weh dengan kapal Ferry ini adalah 2 jam. Sekitar 30 menit kemudian kapal pun berangkat. Lama kelamaan goyangannya rupanya mampu melenakan dan membuat kami mengantuk. Lumayan tidur sejenak, pikir saya.

Seolah seperti dibangunkan, kira-kira 20 menit menjelang kapal merapat saya tiba-tiba terbangun dan kami pun menyempatkan melihat pemandangan biru nan luas di luar kapal. Sebuah pulau hijau sudah tampak di sana.

DSC_0875

Lorong di tepi kapal ini berukuran kecil dan terkadang juga sudah diisi oleh penumpang lain yang juga ingin melihat pemandangan. Bosan juga kali ya hanya berada di dalam kapal hehe.

DSC_0865

Hanya biru dan biru di depan kami. Riak besar yang ditimbulkan oleh laju kapal tertinggal di belakang. Buih-buih air laut yang diterjang kapal muncul lagi dan lagi, tak menghilang selama kapal belum berhenti. Sementara langit biru cerah membentang di atas kami, melengkapi pemandangan yang semakin lama semakin menakjubkan seiring kapal yang semakin mendekat ke Pulau Weh.

Sabang. Sabang. Ke Sabang (Sama Abang).

Going to Pulau Weh
Going to Pulau Weh

Pukul 16.25, motor yang kami naiki melaju meninggalkan pelabuhan dan mulai merasakan angin kencang khas pesisir. Dengan hari yang sudah semakin sore dan rute yang masih jauh, kami mulai ragu dengan rencana menuju tugu nol kilometer terlebih dulu. Setiap orang yang kami tanya mengenai Iboih atau tugu kilometer rata-rata berkata; “Waah masih jauh!”. Sepertinya kami bisa kemalaman jika ke Nol Kilometer. Akhirnya kami putuskan untuk langsung ke Iboih saja dan mencari penginapan.

DSC_0876 1

“Iboih? Oooh masih 20 km lagi.” seru seorang ibu pada kami. “Masih jauh itu.” seru ibu yang lain lagi. Para ibu ini sedang bercengkrama dengan anak dan tetangganya di depan rumah mereka.

Wah hebat juga ya. Saya pikir Pulau Weh adalah sebuah pulau yang tak terlalu besar, makanya saya tinggalin brace di Banda Aceh. Ternyata rasanya sudah jauh kami melaju dan menerjang angin kencang yang mengiringi senja datang, tapi belum sampai juga ke tujuan. Dan rasanya mau tertawa begitu kami sudah menempuh sekitar belasan km sejak bertanya pada ibu tadi (sampai rasanya hampir masuk angin), lalu tiba-tiba membaca plang rute bertuliskan; “Iboih 22 km”.

Haha ternyata masih jauh banget! (Eh, gawat donk ini brace ditinggal O_o)

Jalan di Pulau Weh ini terbilang baik, namun banyak terdapat kelokan dan naik turun sehingga pengemudi diharapkan tetap hati-hati. Semakin jauh meninggalkan pusat kota Sabang semakin berkelok lah jalanan di sana. Pepohonan tinggi-tinggi marak di sekitar kami. Udara semakin sejuk saja. Jarang sekali mungkin wisatawan yang datang tanpa mengendarai atau menyewa mobil karena sejak tadi kami tidak bertemu dengan angkot. Kalaupun ada hanyalah becak motor dan itupun dengan rute yang luar biasa jauh.

Gerimis mulai turun sementara jarak tempuh kami masih sangat jauh. Lama kelamaan hujan turun semakin deras dan di sebuah kelokan kami memutuskan untuk berteduh dulu di sebuah warung seorang nenek.

DSC_0881

Setelah cukup lama berteduh dan hujan mengecil, kami kembali melanjutkan rute menuju Iboih.

wpid-2013-04-16-17.31.56.jpg

Bertanya lagi ke penduduk lokal, dan masih jauh juga sodara-sodara. Ini cuma bisa cekikikan di motor deh. Benar-benar bertualang! Sampai akhirnya tanjakan terakhir dan kabarnya Iboih ada di sana. Matahari sudah terbenam dan saat itu rasanya sudah hampir pukul 17.30. Kami (akhirnya) tiba di Pantai Iboih, tanpa masuk angin.

Di area ini rupanya tersedia area untuk parkir motor yang terletak tepat di tepi pantai. Semua wisatawan yang datang dengan naik motor wajib memarkir motornya di sana. Kami turun dan mulai celingukan mencari penginapan. Beberapa warga yang menyadari kami celingukan mulai menawarkan penginapan. Usai menaiki undakan tangga kami bertanya mengenai Iboih inn yang menjadi tujuan kami. Seorang bapak menjawab bahwa rutenya masih cukup jauh yaitu sekitar 500 meter lagi untuk sampai di Iboih inn. Si bapak menawarkan kami untuk melihat penginapannya yang tak terlalu jauh dari situ. Hari mulai gelap sementara kami belum mendapatkan penginapan, maka kami pun menyanggupi tawarannya.

Rumah panggung dari kayu itu sederhana saja. Berada di antara rumah-rumah kayu lain di sisi kiri dan kanannya. Kami menaiki tangga kayunya, dan dari atas teras rumah ini bisa terlihat pemandangan laut Iboih dan pulau Rubiah secara langsung.

Bapak pemilik penginapan berkata jika memang kami tetap ingin mencari penginapan ke Iboih inn ya tak masalah. Masalahnya hari sudah semakin gelap dan saya khawatir malah tak dapat penginapan di sana. Ditambah lagi hujan mulai turun. Lengkap lah sudah untuk akhirnya menerima tawaran bapak itu. Kami bernego dan ia pun menurunkan harga menjadi Rp. 200.000 per malam untuk check out paling lama pukul 12 siang esok hari.

DSC_0884

Kami bermaksud menginap hanya semalam, ke Nol Kilometer subuh-subuh dan mengejar kapal Ferry kembali ke Ulee Lheue pukul 08.00. Waduh rasanya terlalu singkat. Tapi bapak penginapan memberitahu bahwa jadwal kapal pada hari Rabu adalah dua kali sehari, yaitu pukul 08.00 dan pukul 14.00. Fiuuuhh… tapi kabar tersebut masih harus dipastikan kebenarannya. Baiklah kami putuskan untuk mencoba pulang pukul 14.00 saja, kalaupun tidak ada ya sudah cari penginapan lagi atau meminta izin bermalam di salah satu rumah sahabat Ummi di kota Sabang.

Semakin malam, angin semakin bertiup kencang. Suara ranting pohon dan dedaunan yang tertiup angin marak terdengar di luar rumah kayu ini. Saat jam makan malam pukul 19.00 (salahnya) adalah kami belum lapar. Kelaparan ini baru muncul saat pukul 21.00 sampai saya dan abang akhirnya memutuskan mencari rumah makan di luar.

Tak ada cahaya lampu atau penerangan apapun saat kami melangkah menuruni tangga dan bebatuan sampai ke jalan setapak. Kami berusaha melangkah hati-hati dan mengira-ngira jalan karena sama sekali tak terlihat. Meleng sedikit bisa terperosok. Sambil menyesali senter yang tertinggal di Banda Aceh, kami akhirnya bersyukur bisa tiba di area parkir motor tadi dan mulai mencari rumah makan yang masih buka.

Kesimpulannya, deretan rumah-rumah itu tutup.

Kami berjalan menyusuri tepi jalan lagi, diiringi suara ombak dan sesekali gemeresak ranting pohon. Akhirnya ada satu warung yang buka. Tapi setelah ditanya, ia hanya sedia mie rebus. Oh, not noodles again. Kami pun hanya membeli beberapa camilan yang rasanya tak mampu menutup rasa lapar dan sekedar mengganjal perut.

“Abang bisa ke warung di ujung sana kalau mau. Biasanya buka dan mereka sedia nasi goreng.” seru penjual warung.

“Yah, kunci motor di penginapan.” jawab Abang.

“Pakai motor saya boleh.” katanya lagi sambil menyerahkan kunci.

Iiih, baik sekali. Pasti wajah kami luar biasa lapar.

Kami pun meminjam motor penjual warung, tapi alis saya bertaut melihat tak ada satu pun spion yang menempel pada motor tersebut. “Are you sure? No helmet too.” tanya saya lirih tapi tetap menaiki motor tersebut.

Tak terbayang bahwa kami akan mengulangi lagi rute naik turun dan kelokan yang tadi kami lewati dalam keadaan tak ada spion, tak ada helm, dan dalam kondisi gelap gulita, kecuali lampu sorot dari motor. Tanpa saya sadari, pertanyaan yang pernah saya ajukan di Lombok (tentang kemewahan yang didapat) tempo hari lalu rupanya dibalas habis-habisan di Pulau Weh ini.

Kendaraan beroda dua yang kami naiki menanjak pelan, saya terus mengingatkan abang supaya pelan-pelan saja dan tidak ngebut karena ada tebing dan jurang cukup dalam di sisi kiri kami. Motor ini pun rupanya agak ngadat karena sempat berhenti di tanjakan (yang tak ada lampu pula). Okeh, ini mulai horor.

Semakin jauh kami melaju semakin tak ada tanda-tanda warung makan ataupun penjual nasi goreng. Kami bahkan sudah melaju sampai melewati 100 meter dari petunjuk yang diberikan penjual warung. Jalanan gelap itu tak nampak rumah-rumah penduduk, hanya ada pepohonan tinggi-tinggi dan besar di sisi kiri dan kanan kami. Di sebuah turunan, angin luar biasa kencang berhembus di sana-sini, pepohonan di sisi kiri dan kanan jalan meliuk-liuk ke tengah jalan, ke arah kami. Menyeramkan. Bisik saya sambil menelan ludah.

Masih di turunan yang sama, angin lebih kencang bertiup lagi lebih kencang dan membuat sepeda motor yang kami naiki sampai oleng dan limbung. Orang bilang apapun yang dirasakan pengantin baru adalah indah dan menakjubkan. Dan saya tidak setuju, terutama adegan motor yang oleng tertiup angin tadi.

“Pulang aja yuk, makan biskuit aja.” Saya meringis dan abang menyerah. Memutar balik motor dengan sangat perlahan, dan melaju dengan lebih perlahan pula. Melawan angin yang rutenya kini berbalik ke arah kami. Begitu sampai dengan selamat dan tak kurang satu apapun kecuali rasa lapar, lutut saya rasanya lemas sekali.

Kami mengembalikan motor dan akhirnya (dengan terpaksa) memesan mie goreng dan mengunyah biskuit.

“This is really honeymoon.” ucap saya sambil terkekeh pada Abang.

^^^^^^^^^^

Malam itu rupanya seperti ada badai yang mengamuk di Pulau Weh. Gemuruh angin begitu ramai terdengar dari dalam rumah kayu. Ranting pohon dan batangnya di bukit kecil di belakang kami bergemeletak lebih kencang, listrik sempat padam-menyala, lalu padam lagi. Begitu terus sampai pagi. Saya tak nyenyak tidur, khawatir rumah kayu kami tertimpa ranting pohon.

Paginya kami menyempatkan berjalan-jalan menyusuri pantai Iboih dan mencicipi air laut dengan jemari kaki. Rupanya angin semalam benar-benar luar biasa hebat sampai batang dan ranting pohon tumbang.

DSC_0889

Kami harus menunduk dan menyingkirkan batang pohon dan daunnya yang doyong ke arah jembatan. Saya melangkah hati-hati di atas jembatan kayu itu. Bunyi derit kayunya di beberapa tempat membuat mata harus selalu ekstra waspada. Di beberapa titik jembatan, terlihat lubang tanda kerusakan dengan berbagai ukuran. Laut berwarna biru kehijauan yang dangkal dan luar biasa jernih terhampar di bawah kami. Dasarnya yang dipenuhi karang bahkan bisa dengan mudah kami lihat melalui celah di papan kayu atau lubang yang rusak.

Berbeda dengan kondisi malam sebelumnya dengan angin yang luar biasa besar, pagi itu cuaca terlihat tenang. Tak terlalu cerah memang. Tapi desir angin yang bertiup pelan dan riak ombak di bawah dan di hadapan kami, sudah cukup meyakinkan bahwa benar rupanya ungkapan “badai pasti berlalu.”

Kami melangkah hati-hati, berada tepat di seberang Pulau Rubiah dan berusaha mengabaikan kata-kata seorang teman untuk “jangan sampai lupa ke Pulau Rubiah”. Sayangnya saya tak sanggup jika harus ke pulau tersebut tanpa snorkeling, ditambah tak adanya rombongan dalam 1 kapal tentu akan melambungkan harga sewa nantinya.

Cukuplah sampai jembatan kayu ini dulu saja. Jembatan kayu dan laut biru kehijauan, juga keheningan Iboih yang terhampar di depan kami. Tak sampai snorkeling, toh tutup kamera sudah melesat melewati celah papan, nyemplung dan mengapung mengikuti gelombang laut, tak sengaja tersenggol Abang.

DSC_0890 iboih 2

Kami berjalan meninggalkan jembatan kayu dan berjalan menyusuri pantai. Singgah untuk sarapan pagi di sebuah warung makan.

Sambil menikmati sarapan berupa lontong sayur dan teh manis, kami memandang Iboih yang masih menggoda kami dengan rayuan semilir-semilir anginnya untuk tinggal lebih lama lagi. Bersama keheningan yang ia timbulkan.

DSC_0917 2

DSC_0924 2

Iboih yang melenakan, Iboih yang memanggil untuk snorkeling..

Aih, semoga bisa kembali lagi ke sini di saat angin tak kencang…

Toh ada alasan untuk kembali, yaitu mencari tutup kamera.

DSC_0969

 

4 thoughts on “Iboih, Pulau Weh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *