Bulan April tanggal tiga belas

Shell, how does it feels?” bisik saya dari dekat pintu, sudah tidak bisa lagi menahan pertanyaan, sambil berusaha menyingkirkan kursi plastik dan benda-benda lain yang berserakan sehingga menghalangi pintu untuk terbuka. Saya menyeruak masuk ke kamar, mendapati Shella yang sudah sangat cantik dengan kebayanya di balik pintu, lalu mengulangi pertanyaan tadi. Shella hanya menjawab; “Aduh gw deg-deg-an nih. Alfan belon nyampe ya?”

Ini tentang sebuah hal yang pernah saya pertanyakan bertahun-tahun lalu. Pertanyaan yang sebenarnya tak perlu diajukan karena jodoh itu sudah ditentukan sebagai sesuatu hal yang pasti. Hanya karena rasa pesimis akan sakit dan kalimat-kalimat tak jelas dari dokter (yang juga tak jelas) saya mengajukan pertanyaan itu. Pertanyaan tentang bisakah saya menikah suatu hari nanti.

DSC_0111
with Shella before Alfan did the Ijab Qabul, 7 Oktober 2012

Sampai akhirnya, 13 April 2013, orang yang duduk di sebelah saya saat berada di depan penghulu dan ayah saya itu bukanlah orang yang baru kemarin saya temui. Teman satu jurusan dan bahkan satu kelas di perguruan tinggi itu dulu sudah menyatakan perasaannya pada saya sejak 6 tahun lalu, tanggal 4 Januari 2007.

Selama 6 tahun kemarin, jangan mengira kami nongkrong di berbagai tempat berduaan atau nonton berbagai film di bioskop, uang buat fotokopi tugas plus print serta menjilid saja sudah berjibun jumlahnya, ihiy maklum deh :p. Dan dua bulan setelah “jadian“, si abang malah mendaftar menjadi anggota organisasi pecinta alam di kampus. Maka dimulailah berminggu-minggu saya ditinggal naik turun gunung, masuk keluar gua untuk pelatihan, perjalanan panjang, dan pelantikan.

Cibe^^^^^^^^^^

“Gue nggak takjub lo mau nikah, gue lebih takjub sama nyokap lo yang ngebolehin lo untuk nikah sekarang ini.” cetus salah seorang sahabat sejak SD ketika saya datang ke rumahnya untuk mengantarkan undangan.

Saya hanya tertawa kecil mendengarnya. Sesungguhnya pun tak tahu harus menjawab apa. Karena perizinan yang keluar dari orangtua mengenai pernikahan saya ini adalah sebuah hal yang juga saya sebut sebagai sebuah keajaiban. Masih lekat dalam ingatan saat saya akan traveling menuju Pulau Tidung, ada sekitar 7 orang termasuk ayah-ibu yang mengantar saya sampai tempat penyeberangan Muara Angke. Sampai teman-teman seperjalanan saat itu menggeleng-geleng; “Banyak amat yang nganter lo, macam mau pergi haji..” katanya. Nah, pergi ke pulau selama 2 hari 1 malam saja dapat izin dari orangtua susahnya minta ampun, apalagi izin untuk menikah yang notabene istilahnya “saya nanti akan dibawa orang lain alias suami”.

Ketika sudah muncul niat di dalam hati untuk menikah, jangan dikira saya lantas mengajukan permintaan izin itu dengan wajah ceria nan penuh tawa kebahagiaan. Saya meneguhkan hati memang, bahwa ini bukan perkara main-main. Tapi begitu membuka mulut, menatap mata ayah dalam-dalam, kerongkongan saya secara tiba-tiba tercekat. Saya mengeluarkan kalimat pembuka tapi semua kemudian teredam, menanggapi ayah yang terdiam. Ia tak menjawab tapi menatap saya sekilas, seolah mengungkapkan pertanyaan yang diam-diam diajukan dalam hatinya. Matanya menyiratkan pertanyaan tentang mengapa waktu berlalu begitu cepat, tentang putri kecilnya yang kini sudah bukan putri kecil lagi.

Ah, saya tak sanggup melanjutkan kalimat pada ayah, diam-diam menunduk. Tak lagi mampu menatap ayah. Benar rupanya ungkapan orang bahwa hal paling sulit bagi seorang ayah adalah ketika akan melepas putrinya untuk menikah. Maka saya pun mundur, setidaknya sudah menyampaikan niat saya kepada ayah.

Dan benar saja. Butuh waktu sekitar hampir dua tahun sampai akhirnya perizinan itu keluar. Alasan karena saya adalah anak paling terakhir, paling kecil, paling imut (hoeek), serta pekerjaan abang yang masih berlokasi nun jauh di seberang sana adalah sederet kalimat yang awalnya sempat jadi alasan utama bagi orangtua saya untuk tidak cepat-cepat mengeluarkan izin menikah, sekaligus juga mengulur-ulur waktu mungkin supaya putri kecilnya ini tak cepat-cepat dibawa orang.

Lalu kenapa -seperti pertanyaan yang sudah diajukan sahabat saya di atas, bagaimana pada akhirnya orangtua saya akhirnya meloloskan izin itu? Yah yang paling utama tentu faktor dari Sang Maha Pencipta. Bahwa DIA memang memberi dan menentukan tanggal yang terbaik. Faktor selanjutnya? Saya rasa ini maknanya Allah memberi cucu untuk orangtua saya sekitar 3.5 bulan lalu, 1 tahun setelah pernikahan kakak saya, yaitu perhatian kedua orang tua teralihkan untuk dede semuanya. Saya tak bilang dede merebut kasih sayang orangtua saya, tentu saja tidak haha. Tapi dengan adanya dede, semua urusan jadi terpusat padanya, jadi mungkin kalopun saya honeymoon sama abang, ibu juga nggak kesepian amat karena toh sibuk sama si dede bayi XD.

That’s what i called the life cycle..

wpid-IMG_20130511_063622.jpg^^^^^^^^^^^

Setelah tanggal sudah ditentukan, secara tiba-tiba waktu berlalu begitu cepat. Baru kemarin rasanya abang datang melamar beserta rombongan keluarga dan saya ngumpet di balik gorden karena panik dan deg-degan tak karuan, lalu tiba-tiba ibu sudah bolak-balik ke tempat catering dan memesan ini itu.

Dan tiba-tiba saya pun tergagap. Senyap akan keputusan saya sendiri untuk menikah. Benarkah ini jalan yang saya inginkan? Menikah untuk menggenapi separuh agama. Dan setan pun akan terus menggoda manusia supaya menjauh dari kebaikan. Saya sempat tergugu, resah akan keputusan saya, risau akan apa yang terjadi setelah menikah nanti. Jika nanti saya hamil dan langsung harus melepas brace, bisakah saya duduk lama tanpa brace? Bisakah saya mengatur waktu dengan mengutamakan keluarga tapi tetap juga bisa melakukan kegiatan sosial? Bisakah saya terkadang bepergian bersama teman-teman?

Ah, dasar manusia. Ketika kesempatan itu datang, mengapa kemudian malah dipertanyakan?

Tapi godaan menjelang pernikahan itu rupanya memang ada, dan kabarnya memang menimpa hampir kebanyakan calon pengantin. Penyebabnya antara lain karena terlalu hectic, lelah, dan sibuk mengurus ini itu. Maka kuncinya adalah relaks dan berbagi cerita dengan keluarga atau sahabat, dan tentu saja BERDOA.

Tentang keresahan ini, Teteh menimpali dengan kata-kata; “Menggalau bagaimana hamil nanti kelak, bagaimana dengan mama nanti, dan bagaimana-bagaimana yang lain. Tapi kan hidup terus berjalan dan roda terus berputar. Tahap demi tahap harus dilalui untuk jadi manusia yang semakin baik kan. Karena kita juga punya mimpi.
Jangan padamkan mimpi itu untuk jadi penyemangat. Sangat banyak orang yang ingin berada di posisimu saat ini. Tapi masih terkendala ini dan itu. Dan kamu patut bersyukur atas ini ;).”

Saya terpaku, namun lega luar biasa atas kalimat-kalimat itu. Bersyukur atas jalan yang telah saya pilih dan sekarang terbentang di depan mata. Tentang euforia kebahagiaan yang dirasakan setiap orang-orang berseru ketika melihat saya. Kerisauan tentang brace dan hamil pun kemudian saya abaikan dengan kembali menegaskan mood board yang pernah saya buat, memfotonya lalu menjadikannya sebagai wallpaper hape supaya bisa saya lihat kapanpun ketika semangat saya mengendur. Abang pun kembali menegaskan bahwa ia sudah siap dengan resiko brace dan apapun itu sejak dulu.

Ah, rupanya saya banyak dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa..

wpid-IMG_20130511_063143.jpg
And here’s the date

Dan rasanya baru kemarin saya mengukur baju untuk menjahit kebaya, tiba-tiba di rumah sudah menggelar pengajian dan pasang tenda, dan secara tiba-tiba pula ibu perias datang beserta timnya untuk merias kamar saya. Benar-benar tak diduga karena awalnya saya mengira merias kamar baru akan dilakukan esok hari.

Bahkan sampai ketika malam sebelum hari H datang ke gedung untuk mengecek properti foto yang akan dipajang, saya termangap tak percaya menatap pelaminan yang sudah terpasang.

wpid-IMG_20130426_082024.jpg

Sampai ketika subuh hari H, dan ibu perias berusaha sekuat tenaga menghilangkan kantung mata saya dengan menekan kuat-kuat es batu yang masih berasap dan luar biasa dingin ke bawah mata dan seluruh permukaan wajah sampai saya terdesak, rasanya masih seperti belum menjejak ke bumi.

wpid-IMG_20130426_120836.jpg
Hand`s art

Tanggal 13 April 2013, sekitar pukul 07.45, saya rupanya mengulangi adegan Shella di atas, menatap cermin yang terpantul wajah saya sambil deg-degan memikirkan menit demi menit ke depan. Saat menatap cermin itulah kemudian terkejut karena tiba-tiba ada pantulan rupa Teteh yang juga terkejut melihat tampilan, make up, aksesoris melati, dan saya sendiri. Sosok lain pun datang satu persatu, meredakan ketegangan di dalam diri dengan doa yang mereka deraskan selama ini.

Camera 360
Before ijab qabul, from runi’s camera

Terima kasih tak terhingga untuk semua yang sudah membantu, hadir, dan turut mendoakan, baik menjelang, sebelum, dan sesudah hari pernikahan kami. (The Power of Tetangga insya Allah akan segera saya buat tulisannya).

Semoga setelah ini semuanya semakin, semakin, semakin, dan semakin berkah. Aamiin.

wpid-20130413_083414-1.jpgwpid-20130413_084614-1-1.jpg

0 thoughts on “Bulan April tanggal tiga belas

  • May 13, 2013 at 11:00 pm
    Permalink

    mbak yuliaaa aaaaaa dibalik perjalanan menuju pernikahan itu memang punya cerita masing-masing yaa. semoga barokah terus ya mbak. amiiin.

    Reply
  • May 14, 2013 at 1:17 pm
    Permalink

    udah sebulan lebih satu hari nih, ihiy! doakan kami segera menyusulmu kakaak, amin πŸ˜€ yang gw bingung ini kenapa foto kedua mempelai ngga ada? biar pembacanya penasaran ya? hihihi

    Reply
    • May 15, 2013 at 1:35 am
      Permalink

      Haha iya belum dimuat XD. Semoga waktu terbaik dan berkah untukmu runi. Ihiiy calonnya udah ada ya, ngomongnya “kami” :))

      Reply
  • May 22, 2013 at 3:42 am
    Permalink

    selalu menginspirasikan tulisanya mba Yulia ini, Selamat ya baru tau kalo baru saja menempuh hidup baru, πŸ˜€

    Reply
  • Pingback: Susun rencana | rumahijaubelokiri

  • July 8, 2013 at 10:47 am
    Permalink

    Waa… lama nggak buka blog ini. Ternyata mbak Yulia udah menikah.. Selamat, kakak.. Barakallah.. ^_^

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *