Jak wo gampong

Ada dua pilihan saat kami memutuskan untuk pergi honeymoon; ke Aceh atau ke kota Malang di Jawa Timur. (Eh, sebentar, dari mana sih asal kata honeymoon atau bulan madu itu?)

Setelah lempar koin, hitung kancing (hehe bohong deng), pokoknya setelah menimbang dan memilih kami akhirnya memutuskan Aceh sebagai tempat tujuan berbulan madu. Berdasarkan rencana dan jadwal cuti yang sudah diajukan sebulan sebelumnya, liburan ini akan memakan waktu 5 hari saja. Berangkat hari Senin, pulang hari Sabtu.

Akhirnyaaa saya cuti juga. 😀

15 April 2013

Dengan Aceh sebagai tempat tujuan di bulan April 2013, ini berarti bukan pertama kalinya abang pulang kampung. (Tapi kalau “pulang kampung” memang diartikan sebagai “tempat yang menjadi kota kelahiran atau tempat tinggal kedua orangtua”, perjalanan abang sih tak bisa dibilang sebagai pulang kampung karena abang lahir dan besar di Jakarta, orangtuanya pun sudah lama menetap dan merantau di Pulau Jawa ini).

Nah, sebaliknya kalau pulang kampung diartikan sebagai “pergi ke tempat kelahiran dan tempat di mana kedua orangtuanya pernah tinggal dan tumbuh, serta mengunjungi rumah nenek” (halah panjang bener), ini sih bisa dikatakan sebagai “jak wo gampong” alias “pulang kampung” dalam bahasa Aceh.

DSC_0667
We’re going to Aceh

Waktu penerbangan yang harus kami tempuh adalah sekitar 3 jam, dengan transit di Medan terlebih dulu. Dua jam penerbangan dari Jakarta ke Medan, dan sekitar 1 jam penerbangan dari Medan ke Aceh.

Tak terlalu banyak penumpang dari Jakarta yang sampai ke Aceh, rata-rata memiliki tujuan akhir Medan. Nah barulah saat transit, pesawat terisi kembali dengan penumpang dari Medan yang ingin ke Aceh.

Rencananya kami akan menginap di rumah kakak ipar Abang yang terletak di Banda Aceh. Dari Bandara Sultan Iskandar Muda nanti kami akan naik bus DAMRI terlebih dulu, lalu disambung dengan becak sampai di rumah kakak ipar.

Hah? Becak? Emang abang becaknya kuat genjot sementara kita berdua aja udah berat plus daypack dan koper ini? Begitu pertanyaan yang langsung terlintas di benak saya. Eh, setelah konfirmasi ke kakak lewat telepon ternyata yang dimaksud becak itu adalah becak motor, bukan becak sepeda yang dikayuh hehe.

Sepertinya saya merasa waktu tempuh Medan ke Aceh tak sampai 1 jam karena tahu-tahu pesawat kami sudah akan mendarat. Begitu menginjakkan kaki, berada di antara orang-orang yang membawa tas dan oleh-oleh, menggeret koper, dan memanggul carrier, lalu menatap pegunungan (yang tertutup awan dan menimbulkan perasaan sejuk saat melihatnya), serta membaca tulisan “Visit Aceh 2013” rasanya hampir tak percaya kalau saya saat itu sudah benar-benar berada di Aceh.

DSC_0670

DSC_0672Di luar bandara, para supir (yang saya duga menyewakan mobil) sibuk menawarkan kendaraannya pada para penumpang termasuk kami. Kami pun menolak dan berjalan menuju area parkir bus DAMRI. Saya menghirup dalam-dalam udara yang sedikit bercampur aroma tanah sehabis hujan. Daypack yang saya sandang rasanya berubah menjadi ringan seiring dengan ingatan saya bahwa ini adalah salah satu wish lists utama di tahun 2013.

Sumatera yang ke-3 kalinya,

Jak wo gampong yang ke sekian kali bagi Abang,

dan jak wo gampong pertama kalinya yang dilakukan oleh Abang bersama saya.

Just the two of us..

DSC_0675

wpid-img_20130426_121144

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *