Tugu Nol kilometer & Gapang

“Tugu Nol Kilometer ini menunggumu.”

Saya masih ingat betul isi kalimat, yang diikuti dengan foto tugu Nol Kilometer, dalam MMS yang dikirimkan Abang 3 tahun lalu itu, serupa seperti doa yang lantas saya bisikan saat melihat foto pendakian menuju Gunung Gede-Pangrango tempo dulu, saya pun lantas juga mengucapkan satu doa agar suatu hari nanti bisa menjejakkan kaki di daerah ujung barat Indonesia itu.

Dan inilah kami, 17 April 2013, melaju dengan motor meninggalkan Iboih dan bersiap berjumpa dengan setidaknya puluhan kelokan untuk bisa sampai di ujung barat sana.

Saya tak tahu seberapa kilometer atau berapa jalan naik turun lagi yang harus kami tempuh. Awalnya jalan beraspal yang kami lalui masih dipenuhi dengan rumah-rumah warga, lalu kebun tebu dan jagung, lalu semak belukar di sisi kiri dan kanan. Di sana kami masih berjumpa warga dengan sepeda, sepeda motor, ataupun melaju dengan becak motor sambil membawa barang dagangannya. Lama kelamaan semakin jauh kami melaju semakin rapat pohonnya. Kelokan semakin banyak dan udara semakin dingin.

DSC_0977

Sampai di tikungan yang kesekian puluh kami sudah tak berjumpa rumah atau warga lagi. Pepohonan tinggi-tinggi marak mengapit jalan yang kami lalui, sementara jurang berada di kanan kami. Seram kalau terperosok. Saya terus mengingatkan abang untuk selalu membunyikan klakson setiap kami akan melaju di tikungan tajam. Karena meski tak ada tanda-tanda orang lain di jalan ini tetap saja kami harus waspada pada setiap tikungan.

DSC_1098

Kami terus melaju di jalanan sempit yang semakin sepi. Ranting-ranting pohon berserakan di jalan karena angin ribut semalam. Pada satu titik, sebuah ranting cukup besar bahkan melintang sampai ke tengah jalan dan bisa menyulitkan jika ada mobil yang lewat.

Tikungan semakin sempit dan semakin terjal saja. Beberapa ekor monyet duduk-duduk di pinggir jalan, memperhatikan kami yang dadah-dadah pada mereka, meninggalkan angin sunyi dalam udara rendah bercampur angin laut samudera.

Sedikit lagi…

Dan itu dia. Tiga sampai empat warung yang terbuat dari bambu nampak di sana, sebuah mobil juga tengah parkir tak jauh dari tempat tersebut. Ah, akhirnya bertemu manusia juga. Begitu pikir saya begitu kami sampai, agak jengah dengan kondisi luar biasa sepi yang baru saja kami lalui tadi.

Kami memarkir motor dekat dengan Tugu Nol Kilometer. Ujung Barat Indonesia, akhirnya…

DSC_0993 nol

Sampai sejauh ini saya baru ngeh lagi, kalau menempuh jalur ekstrim dan puluhan kilometer barusan dengan kondisi duduk di motor tanpa mengenakan brace yang ditinggal di Banda Aceh. Huaaah!

^^^^^^^^^

Gapang adalah sebuah area pesisir yang terletak satu jalur dengan Iboih, berjarak sekitar 4 km. Kami memilih datang ke tempat ini selepas dari Nol Kilometer dan saat akan menempuh jalan kembali ke pelabuhan Balohan.

“Gatal-gatal ini kaki kalo liat pantai kaya gini tapi nggak nyebur…” ucap saya begitu kami tiba di pantai Gapang, langsung melepas kaos kaki dan sendal dengan tak sabar, lalu asal saja melemparnya ke pasir. Sejurus kemudian berlarian dengan bertelanjang kaki di pasir dan langsung menyentuh air laut jernih itu.

Optimized-DSC_1035

Ah, rindunya bermain laut.

DSC_1019

DSC_1058

Dengan berat hati, setelah sekitar satu jam, kami (yang belum puas bermain air dan pasir) harus kembali melaju untuk mengejar kapal kembali ke Ulee Lheue. Gapang semoga bisa menjadi tempat bermalam kami suatu hari nanti. Amin.

Abang mengemudikan motor agar bisa tepat di pelabuhan setidaknya pukul 13.00. Kami masih punya satu jadwal lagi yaitu mampir sejenak ke rumah sahabat Ummi Abang. Saya melambaikan tangan pada Gapang, meski hanya sejenak lebih berat rupanya meninggalkan Gapang daripada Iboih.

Motor kembali melaju membelah Kota Sabang, singgah sejenak di rumah sahabat Ummi yang langsung disambutnya dengan menyuruh kami makan siang. Aduh, jadi nggak enak. Habis makan mau tak mau lanjut lagi, dan jadi tambah nggak enak karena kami sudah kenyang hehe.

Syukur setelah benar-benar melaju dalam kecepatan angin, dengan kendaraan roda dua yang banyak jasanya pada kami ini, kapal belum berangkat dan kami masih mendapatkan jatah tiket. Hore!

Kali ini Abang membeli tiket kelas eksekutif supaya saya terbebas dari asap rokok. Menyenangkan ketika tahu ruangan ini hanya diisi kami dan dua keluarga lain.

DSC_1107

Banda Aceh, i’m back! Ke mana lagi selanjutnya?

DSC_0852

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *