Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

Gumpalan awan putih bergerak beriringan menghiasi langit di atas kota Banda Aceh pukul 12.50, Kamis 19 April 2013 itu. Arakan benda menyerupai kapas raksasa membelah langit cerah di atas kami, warna putih bersihnya kontras dengan birunya langit.

Matahari yang bersinar terik, membuat saya setengah berlari sambil sedikit melompat saat menaiki beberapa anak tangga selepas batas suci di Masjid Raya Baiturrahman, telapak kaki tak karuan rasanya karena menginjak lantai marmer yang luar biasa panas.

Begitu sampai di anak tangga terakhir, memasuki sisi kanan masjid, menatap tiang-tiang kokoh yang pernah menjadi saksi peristiwa tsunami 2004 lalu, semilir angin berhawa sejuk langsung terasa menghampiri.

wpid-IMG_20130420_224758.jpg

Tak cukup rupanya, jika ke Banda Aceh namun hanya 1 kali datang ke Masjid Raya Baiturrahman. Pertama kali kami datang ke masjid mengagumkan ini adalah Selasa menjelang siang hari sebelum kami menuju ke pelabuhan Ulee Lheue kemarin. Saat itu saya belum diberi kesempatan untuk melaksanakan shalat di dalamnya. Maka Kamis ini, selang satu hari sejak pulang dari pulau Weh dan kembali berkeliling kota Banda Aceh, kami pun kembali ke Masjid untuk melakukan ibadah shalat Dzuhur.

Saat kami tiba di pelataran masjid adalah pukul 12.50. Saya dan Abang pun langsung mengambil air wudhu untuk melakukan shalat dzuhur. Tak seperti pagi kemarin, siang itu masjid terasa lebih ramai oleh para jemaah. Di antaranya para pelajar, ibu-ibu, dan mahasiswa.

Usai, untuk kesekian kalinya, mengagumi desain interior yang megah dan mengingat akan keharuan peristiwa tsunami yang sempat membuat masjid ini dipenuhi dengan berbagai perasaan yang berkecamuk, kami menuju teras luar masjid, berkeliling, dan mengabadikannya dengan kamera.

Kira-kira pukul 13.10, tanpa disangka adzan Dzuhur berkumandang. Saya dan Abang berpandangan. Lho? Baru adzan Dzuhur? Lalu tadi shalat apa?

Panggilan shalat dzuhur itu begitu jelas dan nyata. Menggema di seluruh area masjid dan bahkan saya duga terdengar hingga pasar. Lantunannya meliuk-meliuk memanggil siapa saja untuk bergegas dan membasuh anggota tubuh dengan berwudhu.

Terlupa bahwa ada perbedaan waktu dengan Jakarta dan tentunya juga  perbedaan dalam hal memasuki waktu shalat, kami pun kembali mengulangi shalat Dzuhur yang “kerajinan” tadi, bergabung dengan para warga yang rupanya sudah memenuhi masjid untuk shalat berjamaah.

Mukena cokelat muda yang saya kenakan kontras dengan mukena para jemaah lain yang pada umumnya berwarna putih. Barisan shalat semakin dirapatkan, yang masih berdiri di belakang disarankan untuk maju dan memenuhi shaf. Saya memandang berkeliling, ke tiang-tiang kokohnya yang mungkin menjadi perlindungan saat berperang melawan penjajah Belanda dulu, memandang ke langit-langit yang mungkin ikut bergolak saat air bah datang di bulan Desember delapan tahun lalu. Saya lalu memandang lurus ke depan, kepada barisan-barisan jemaah yang bersiap untuk shalat.

Ah, sekarang saya ralat. Jika punya waktu banyak di Banda Aceh, tak cukup rupanya datang ke Masjid Raya ini hanya 2 kali.

3 thoughts on “Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

  • June 6, 2013 at 12:22 pm
    Permalink

    Subhanallah :’) ini dia saksi bisu tsunami Aceh yang tetap berdiri kokoh.
    btw mbak, itu foto langitnya itu awannya hasil editan atau memang asli seperti itu? bagus mbak awannya :))

    Reply
    • June 7, 2013 at 7:21 am
      Permalink

      Foto awannya memang seperti itu, Adina. Langitnya biruuuuuu banget. Aku edit foto cuma pertegas warna saja sedikit.

      Reply
  • Pingback: Tsunami dan senja Lhok Nga – Rumahijau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *