Sigli – Glumpang Minyeuk

Sigli dan Glumpang minyeuk adalah kampung Ummi dan Abu, orangtua Abang, yang terletak di Kabupaten Pidie, sekitar 112 km dari kota Banda Aceh.

Dari Banda Aceh kami berangkat pagi hari sekitar pukul 07.00 dengan menaiki mobil bersama Bang Yunus, Kak Wati, dan Hafidz. Di tengah perjalanan baru memasuki Jl. Raya Banda Aceh-Medan, kami menyempatkan diri menepi dulu sambil celingukan. Bukan untuk beristirahat, tapi menemui Kak Rina yang sudah menanti saya dan melarikan diri sejenak dari proses mengajarnya.

“Kerudung ungu..! Aku pakai kerudung ungu..!” seru suara Kak Rina di telepon sambil penuh semangat.

Kak Rina adalah salah satu pengurus FTBM (Forum Taman Baca Masyarakat) Aceh, yaitu tepatnya di TBM Uswatun Hasanah di Desa Bukloh, Aceh Besar. Seperti biasa, seiring dengan kaki melangkah menuju sebuah daerah, sebisa mungkin diri ini membawa serta buku-buku bacaan demi meratanya akses bahan bacaan. Sayangnya seperti juga saat ke Lombok dalam cerita di sini, terbatasnya muatan dalam bagasi membuat kami hanya bisa membawa buku-buku bacaan tak terlalu banyak. Tapi tak apa, semoga bermanfaat buat adik-adik kecil di desa.

Komunikasi dengan Kak Rina sudah dilakukan di hari pertama saya dan Abang tiba di Aceh, sayangnya lokasi Kak Rina rupanya cukup jauh dari Banda Aceh. Ia malah sempat akan naik motor ke tempat kami untuk bertemu tapi lalu berubah rencana menjadi kami yang akan datang ke tempatnya. Niat itu batal karena kami tak kenal medan dan hari rupanya sudah terlalu malam. Bersyukur, kampung Ummi dan Abu berada di Sigli yang otomatis kami akan melewati Jalan Raya Banda Aceh-Medan dan dekat sekali dengan lokasi Kak Rina mengajar.

Pertemuan kami singkat saja, bersalaman, serah terima buku, bicara sejenak, foto, lalu berangkat lagi. Ah, semoga kapan-kapan bisa singgah ke desa bersama Kelana Kelapa sekalian.

Rute menuju Glumpang Minyeuk adalah membelah pegunungan Seulawah. Jalur berliku nan ekstrim membuat saya, Abang, dan Hafidz di belakang terseret-seret ke kiri dan kanan mobil. Ditambah lagi Bang Yunus mengemudikan mobil dengan cukup kencang. Sampai satu kelokan dan mobil menukik dengan menimbulkan bunyi decit rem dan gesekan ban, kak Wati mengingatkan gaya mengemudi Bang Yunus yang bagi saya cukup ekstrim itu. Waah, ibu saya bisa-bisa ngamuk-ngamuk ini kalau lihat cara mengemudinya.

DSC_1589

Dalam perjalanan ini, beberapa kali telepon Kak Wati berdering. Sang penelepon menanyakan sudah sampai di manakah kami saat itu. Atau sebaliknya Kak Wati yang bertanya akankah ada orang di rumah saat kami nantinya akan mendatangi rumah mereka.

“Sama dara baro ini.” Begitu terus beberapa kali diucapkannya. Lama-lama saya mengerti, “Dara baro” yang dimaksud adalah saya. “Pengantin wanita” maksudnya.

Tiba di Sigli kunjungan pertama kami adalah ke rumah Ummi. Rumah di desa ini memiliki ciri bangunan tradisional ala rumoh Aceh asli. Sayangnya karena sudah lama tak ditempati, bagian dalam rumah sudah penuh dengan sarang laba-laba dan ada pula yang bocor.

DSC_1593

Rumah Ummi tersebut bukan hanya rumah satu-satunya yang memiliki gaya tradisional. Rumah kerabat Abang yang lain pun masih bercirikan tradisional dan masih digunakan seutuhnya.

DSC_1644

Jadwal kami di kampung ini yang awalnya hanya berkunjung ke beberapa rumah saja menjadi melejit naik jumlahnya karena banyak sekali kerabat yang kemudian mengajak kami mampir lagi dan lagi. Tak enak sekali jika ditolak. Sekitar 10 cangkir teh pun memenuhi perut kami hanya dalam waktu beberapa jam saja. Dan segera, dalam sekejap, telinga saya, yang sudah 4 hari ini mendengar logat bahasa Aceh yang mengalun, semakin diakrabkan dengan panggilan Abuwa, Miwa, Abusyik, Misyik, dan Cek.

DSC_1667

Rata-rata rumah di Sigli dan Glumpang Minyeuk ini berciri rumah panggung, seperti Rumoh Aceh yang kemarin kami lihat di museum. (Menurut Kak Wati rumah-rumah di daerah Aceh Tamiang tidak menggunakan model rumah tradisional seperti ini).

Di bagian bawah rumoh biasanya digunakan untuk bercengkrama atau area untuk anak-anak bermain. Di tempat ini pula, para warga meletakkan bale-bale untuk duduk-duduk. Eh, bahasa Acehnya bale-bale apa ya?

DSC_1640

DSC_1679

Di desa ini, saya menemukan satu lagi ciri khas, yaitu ayunan.

Awalnya saya biasa saja mendengar cerita keponakan Abang, Hafidz di Banda Aceh, yang selalu tertidur di dalam ayunan. Saya pikir ayunan tersebut hanya berupa semacam kain yang direntangkan dan disangkutkan biasa pada paku di pintu. Ternyata ayunan untuk bayi dan balita di Aceh ini bahkan printilannya pun biasa dijual di pasar, mulai dari tiang penyangganya saja, tiang penyangga lengkap dengan pegas, atau pegas dan kainnya saja.

DSC_0011

DSC_0012

Ayunan ini rupanya menjadi hal yang sangat lumrah. Setiap rumah sanak famili di Sigli dan Glumpang Minyeuk yang kami kunjungi dan memiliki bayi atau balita, pasti ada ayunannya.

DSC_1649

DSC_1648

DSC_1628

Meski baru kali ini berkunjung, rupanya esensi pulang kampung itu di mana-mana tetap sama. Ada keramahan di setiap wajah para nenek, kakek, dan sanak famili yang kami kunjungi. Beberapa bahkan menampakkan wajah kecewa tapi lalu memaklumi ketika kami benar-benar habis waktu dan tak sempat singgah di rumah mereka.

DSC_0002

DSC_1638

Lorong (gang) yang ada di kampung ini dipenuhi dengan rumah-rumah panggung dan pepohonan bambu yang membuat suasana menjadi teduh. Pepohonan bambu dan keteduhannya mirip dengan yang saya temui di kampung ibu di Gombong, hasil ladang yang dijemur pun mirip seperti yang saya temui di Lembah Harau.

DSC_1618

Esensi pulang kampungnya tetap sama. Bedanya di sini saya dipanggil “Dara baro” yang diiringi doa mereka sambil tersenyum pada saya.

Di depan rumah alm. Abu
Di depan rumah alm. Abu

~ Sigli – Glumpang Minyeuk, 19 April 2013

Catatan sedikit terjemahan kata-kata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari:

Pajoh bu : makan nasi
Bu : nasi
Kale / ka: sudah
Jet : iya
I’ : air
I’ u’: air kelapa
Peu haba : apa kabar?
Haba get : kabar baik
Lon : saya
Gampong : kampung

Lebih banyak tentang bahasa Aceh bisa lihat di sini.

One thought on “Sigli – Glumpang Minyeuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *