Tempat yang (wajib) dikunjungi di Banda Aceh

Berbekal peta yang didapat dari Dinas Pariwisata di Ulee Lheue, kami berkeliling dan berkunjung ke berbagai tempat di kota Banda Aceh.

DSC_0852

Berikut adalah beberapa tempat yang layak dan wajib dimasukkan ke dalam daftar yang harus dikunjungi saat berada di Banda Aceh:

1. Museum tsunami Aceh

DSC_0775 2Museum Tsunami Aceh terletak di Jl. Iskandar Muda, Banda Aceh, di seberang lapangan Blang Padang. Museum ini didesain oleh arsitektur asal Bandung, yaitu Ridwan Kamil.

DSC_0783 2

DSC_0781Tidak dikenakan biaya untuk masuk ke dalam Museum Tsunami ini. Jam buka museum adalah hari Selasa sampai dengan Minggu, sementara hari Senin tutup.

Jam buka museum
Jam buka museum

Bentuk keseluruhan museum ini berasal dari filosofi perahu, di bagian paling atas bangunan terdapat taman yang juga bisa berfungsi sebagai tempat penyelamatan sementara untuk berlindung dari tsunami (escape hill).

DSC_0797
Interior museum

Ruangan yang terdapat di dalam museum yaitu perpustakaan yang berisi berbagai buku dan ensiklopedi yang berkaitan dengan tsunami, ruang pameran lukisan, ruang foto peristiwa pasca tsunami yang terekam, ruangan bernama sumur doa yang membuat saya hampir menangis, dan ruangan lain yang banyak berisi ilmu pengetahuan dan manfaat mengenai tsunami.

DSC_0807DSC_0809

Museum tsunami dari kejauhan
Museum tsunami dari kejauhan

2. PLTD Apung

Ada lingkaran Halo-matahari saat kami berkunjung ke PLTD Apung pada tanggal 16 April 2013.

DSC_1147 DSC_1151_halo

Kapal PLTD Apung ini terletak di Desa Punge Blang Cut, Banda Aceh. Lokasi terdamparnya kapal seberat 2.600 ton ini kemudian dijadikan salah satu daerah wisata tsunami yang bagi saya sangat tertata rapi.

PLTD Apung bergeser jaraknya sejauh 5 km dari tempatnya semula yaitu di pelabuhan Ulee Lheue.

Kapal sebesar ini bergeser? Allahu Akbar.

DSC_1163DSC_1178DSC_1240

Bagi saya, keseluruhan bangunan di dalam kapal besar ini sangatlah unik, bisa menjadi pengetahuan dan daya tarik nih bagi yang bercita-cita menjadi nakhoda.

DSC_1193DSC_1190

Setelah menaiki tangga satu per satu dan sampai di bagian geladak kapal dengan tinggi sekitar 20 meter, pengunjung bisa membeli koin dari petugas untuk mengintip pemandangan melalui teropong. Dari teropong ini, pengunjung bisa memandang pegunungan Bukit Barisan dan rumah-rumah penduduk di sekitar desa.

DSC_1204

3. Pemakaman masal

Ada beberapa tempat yang menjadi pemakaman masal untuk para korban tsunami, di antaranya di Ulee Lheue, Lhok Nga, dan Jalan Bandara Sultan Iskandar Muda.

Pemakaman masal korban tsunami yang kami kunjungi ini terletak di Jalan Pocut Baren No.30, dekat dengan pelabuhan Ulee Lheue. Maka disarankan mengunjunginya ketika akan menuju atau dari pelabuhan Ulee Lheue jika memang ingin satu arah dalam berkeliling. Tak ada salahnya berziarah ke tempat ini, mendoakan para korban tsunami yang telah pergi dan semoga diberi tempat terbaik di sisiNya. Amin.

Di dalam area tersebut juga terdapat sisa bangunan RSUD Meuraxa, saat ini RS tersebut sudah dipindahkan.

DSC_1135DSC_1137

4. Museum Aceh

Museum Aceh terletak di Jalan Sultan Alaiddin Mahmudsyah. Kami sempat berputar-putar untuk mencari museum ini. Setiap orang yang ditanya pasti akan bertanya balik dan berkata; “Museum tsunami Aceh ya?”, dan kami menjawab serempak; “Bukaaaan.”

Tiket masuk ke museum Aceh ini terbilang murah, yaitu Rp 750 saja. Di area museum ini terdapat rumah tradisional Aceh (Rumoh Aceh) yang bisa dimasuki setiap pengunjung. Naik ke atas rumah ini kita bisa menjumpai setiap bagian ruang dalam rumah yang fungsinya berbeda-beda. Ada juga berbagai benda yang digunakan di masa kerajaan dahulu.

DSC_1340

DSC_1341

Di museum Aceh juga terdapat lonceng besar yang disebut lonceng cakra donya, dan makam Sultan Aceh. Sementara jika masuk ke dalam ruang pameran di sebelah rumoh Aceh, akan dijumpai berbagai benda seperti foto, maket Masjid Raya Baiturrahman, alat-alat tradisional untuk bertani, berladang, dan mencari ikan, serta benda-benda lain yang digunakan masyarakat Aceh. Beberapa benda masih digunakan hingga sekarang dan ada juga benda yang tidak jauh berbeda seperti yang biasa digunakan oleh masyarakat di daerah lainnya di Indonesia.

5. Taman Putroe Phang

Taman Putro Phang atau Taman Putri Pahang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda untuk permaisurinya yaitu Putro Phang. Lokasi taman ini terletak di dekat Museum Aceh.

Karena hampir nggak tahan sama panasnya dan khawatir sakit kepala kambuh, akhirnya saya turun dari motor dan menjelajah taman ini dengan tetap memakai helm haha.

Pemandangan di area taman ini menyenangkan dan menggoda untuk piknik, apalagi ketika melihat beberapa mahasiswa sedang asyik bercengkrama di bangku taman dan sebuah keluarga dengan dua anaknya sedang memakan bekal makan siang sambil duduk-duduk di rerumputan di bawah pohon rindang. Langit yang hari itu luar biasa cerah terasa semakin berwarna dengan hijaunya pepohonan di Taman Putro Phang tersebut.

DSC_1283DSC_1284DSC_1288DSC_1292

6. Last but not least: Perpustakaan Masjid Raya Baiturrahman

Perpustakaan ini terletak di dalam area Masjid Raya Baiturrahman. Ruangannya cukup tenang dan menyenangkan untuk dijadikan tempat membaca meski tidak terlalu luas. Saat kami datang, meja baca yang tersedia masih cukup untuk menampung setidaknya 10 pemustaka lagi.

Sayangnya kami tidak bertanya lebih jauh mengenai perpustakaan ini dan koleksinya pada pustakawan di sana.

DSC_0772

Kami mengunjungi tempat-tempat tersebut selama 5 hari di Aceh sambil berpatokan pada peta dan mencari mana daerah yang terletak berdekatan sehingga bisa dikunjungi sekali-jalan dan menghemat waktu. Selain tempat-tempat tersebut masih ada beberapa tempat lain yang belum bisa kami kunjungi. Salah satunya yaitu kapal di atas rumah di Lam Pulo. Kami sempat ingin ke sana di hari terakhir tapi rupanya rute daerah tersebut cukup jauh dengan rute yang kami lalui.

Dan sebenarnya kalau dituruti satu per satu masih banyak daftar tempat-tempat lain yang belum kami kunjungi. Berhubung waktu yang masih terbatas, jadi yah kapan-kapan lagi deh :p.

2 thoughts on “Tempat yang (wajib) dikunjungi di Banda Aceh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *