Tulisan tangan

Saya lupa di koran tahun berapa pada waktu itu menemukan sebuah opini mengenai tulisan tangan. Tulisan tangan yang katanya sudah mulai dilupakan seiring dengan teknologi yang berkembang pesat. Orang-orang menggunakan ponsel dan komputer untuk berkomunikasi satu sama lain, tak lagi menggunakan tulisan tangan untuk surat menyurat, atau tulisan tangan untuk menuliskan peristiwa yang dialaminya dalam sebuah buku harian.

Pada waktu itu saya pun tertegun, ikut tersadar betapa kita semakin jauh dari tulisan tangan kita sendiri yang katanya masing-masing memiliki keunikan satu sama lain dan ciri khas masing-masing.

Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, saya menikmati betul proses menulis yang pada waktu itu berbentuk coretan-coretan dan guratan pada kertas. Semua tumpah ruah sesuka hati saya pada benda berwarna putih itu.

Seiring dengan penggunaan komputer dan seperti pada tulisan tersebut di atas, saya mulai menggunakan blog untuk menuliskan beberapa peristiwa yang pernah terjadi. Tapi tulang punggung yang membengkok dan kepala yang seringkali sakit setiap duduk dan menghadap layar komputer terus menerus membuat saya tetap saja lebih memilih untuk menuliskan terlebih dulu semuanya pada berlembar-lembar kertas bekas (yang biasanya saya minta dari teman-teman kuliah). Setelah itu barulah berbulan-bulan kemudian memindahkannya ke blog. Saat menempuh jarak, saya pun terbiasa membawa beberapa lembar kertas sebagai bekal dalam menuliskan rincian catatan perjalanan, alih-alih langsung mengunggahnya.

DSC_1041

Sekarang, rasanya senang ketika menemukan satu momen lagi untuk dapat menggoreskan tulisan tangan, yang katanya merupakan ciri peradaban manusia dan bagian dari seni itu, melalui kartu pos yang saya biarkan melanglang buana. Dan sebagai pendatang baru di postcrossing, ada tiga alamat random yang siap dikirimkan kartu pos oleh saya yaitu ke Belanda, Rusia, dan Jerman.

wpid-IMG_20130619_084400.jpg
Delegasi kartu pos ke luar negeri

Jauh sebelum mendaftar di postcrossing, niat untuk mengirimkan kartu pos pada para Mbah dan beberapa teman di kampung di berbagai daerah sudah tertanam di dalam hati, seperti yang juga diceritakan di sini.

Nah supaya momen “berkirim kartu pos” ini menjadi semakin menarik, bagaimana kalau membuat sendiri kartu posnya?

Ya, ini tentu lebih murah namun tentu saja membutuhkan waktu dan tenaga ekstra. Asal punya keinginan, membuat kartu pos sendiri ini sih cukup mudah. Caranya bisa dengan menggunakan hasil foto jepretan kita, atau hasil karya lukis kita.

Berhubung saya memang hobi jepret-jepret, jadi lumayan ada stok foto untuk dijadikan kartu pos. Proses ini hanya membutuhkan penggabungan di Adobe Photoshop. Dari berbagai sumber yang saya baca, rata-rata blogger lain menggunakan kertas A3 saat mencetak kartu pos. Dalam kertas A3 tersebut bisa dimuat 8 buah kartu pos dengan ukuran kira-kira 14×9 cm.

Ini percobaan pakai printer sendiri di rumah, ukurannya terlalu kecil dan kertasnya pun terlalu tipis. Namanya juga percobaan :p.

wpid-2013-05-12-06.39.34.jpg
Iboih, Pulau Weh

Setelah proses menggabungkan dan memberi keterangan foto atau caption di sudut atas, kiri, atau kanan bawah kartu pos, hasil editan tersebut bisa langsung dibawa ke tempat percetakan. Kertas yang bisa dipakai untuk mencetak kartu pos idealnya (katanya sih) 300 gram, tapi di percetakan yang saya datangi tidak tersedia. Jadilah saya hanya menggunakan kertas Art Karton 260 gram.

Sasaran pengiriman kartu pos ini, yaitu kakek, nenek, sepupu, kakak ipar, teman relawan, dan beberapa famili yang tinggal di Jakarta, Depok, Jawa Tengah, Jogjakarta, Sumatera Barat, Lampung, Kalimantan, dan sebagainya.

Ini dia nih hasil kartu pos bikinan sendiri. Semua telah dikirim pada tanggal 20 Juni 2013.

Hayoo siapa di antara kalian yang kebagian kartu pos buatanku?

image

Catatan:

Seluruh kartu pos untuk sesama Indonesia masing-masing menggunakan perangko senilai Rp 3.000. Kabarnya untuk tujuan lokal bisa dengan perangko Rp 2.000 saja.

Sementara untuk pengiriman kartu pos keluar negeri, petugas memberitahu kenaikan tarif pengiriman menjadi Rp 9.000 ke seluruh Eropa. Belakangan, setelah banyak baca-baca di berbagai blog, ternyata banyak yang mengalami “kenaikan” tarif untuk tujuan luar negeri khususnya Eropa ini, padahal kabarnya belum ada info mengenai kenaikan tarif ini [coba cek lagi yuk]. Dan katanya lagi, Rp 5.000 sudah cukup untuk sebuah kartu pos terbang ke luar negeri semacam Eropa.

Para blogger ini pun memberikan tips, yaitu; tempelkan perangko Rp 5.000 tersebut di kartu pos sejak dari rumah supaya tak terkena “kenaikan tarif”, lalu langsung kirim!

Update 2014:

Perangko untuk pengiriman kartu pos ke luar negeri saat ini menjadi Rp 10.000 yaa. Insya Allah sampai!

0 thoughts on “Tulisan tangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *