Kandang Badak coret

“Rest if you must,

but don’t you quit.”

Potongan bait puisi berjudul “Don’t Quit”, yang ditulis lengkap dalam buku Erik Weihenmayer, terus berulang mengingatkan saya dalam setiap langkah yang dijejaki pada bebatuan bercampur tanah basah nan lembab. Irama yang ditimbulkannya seolah menjadi bait penyemangat yang berdendang di telinga dalam perjalanan bulan April itu di antara serasah yang begitu menggoda.

“When the road you’re trudging seems all uphill,
When the funds are low and the debts are high,
And you want to smile, but you have to sigh,
When care is pressing you down a bit,
Rest, if you must, but don’t you quit.”

wpid3113-wpid-img_20130624_164324.jpg

Setelah melalui berbagai kegiatan ini-itu dan menempuh waktu 4 minggu dengan berbeda pulau, sepertinya memang layak kami melakukan sebuah quality time bersama, hanya berdua, untuk bepergian ke suatu tempat. Kata orang-orang sih ini semacam honeymoon kedua. Tapi bagi saya, selain quality time, perjalanan ini juga bisa sebagai penghargaan sendiri alias self reward buat kami.

Self reward atas GTD bulan Juni yang sudah berusaha saya selesaikan dengan sebaik-baiknya dan self reward untuk Abang ketika akhirnya ia mengejar target dengan terjun ke kolam renang beberapa minggu lalu (setelah sekian tahun lamanya tak turun ke kolam renang).

Sekitar sebulan sebelumnya kami mulai kembali memilah dan memilih tempat mana yang akan kami kunjungi. Dan ditentukanlah “Kandang Badak” sebagai perjalanan kedua kami ini pada tanggal 22-23 Juni 2013.

Kandang Badak berada pada ketinggian sekitar 2000 sekian meter di atas permukaan laut (mdpl) dan berada dalam Taman Nasional Gede-Pangrango (TNGP) Cibodas, Jawa Barat. Sudah pasti tanjakannya melebihi Cibereum yang sudah saya sambangi 3 tahun lalu. Sudah pasti suhu udaranya jauh lebih dingin. Dan sudah pasti juga, kami berdua harus benar-benar mempersiapkan diri sebelum keberangkatan. Abang jogging selama waktu sorenya di Halmahera, sementara saya menambah kuantitas jarak dalam jalan kaki ditambah latihan naik-turun tangga.

Semakin lama terbersit sebuah keraguan tentang pendakian dan kemping di gunung ini, yaitu bahwa meski Abang pernah beberapa kali bolak-balik naik gunung dan mendaki Gede-Pangrango tapi itu sudah berlangsung beberapa tahun yang lalu. Selama tiga tahun terakhir hampir tak ada pendakian lagi sampai puncak, dan kalaupun ada itu adalah menuju Cibereum bersama saya dan teman-teman lain di tahun 2010.

Kurangnya latihan fisik karena waktu yang terbatas selama ia bekerja tentu juga bisa berpengaruh besar. Apalagi dengan membawa saya yang sama sekali belum pernah naik ke Kandang Badak. Hmm..

“Bagaimana kalau ke Cibereum saja?” Tanyanya kemudian.

Saya menutup mata. Bayangan mendirikan sebuah tenda dan duduk di depan api unggun di tengah temaram dan suhu rendah suasana pegunungan sudah lekat dalam benak sejak niat pendakian ini dilontarkan. Tapi tentu pendakian ini juga tak bisa sembarangan dan minim persiapan.

Saya menarik nafas, membuka mulut, “Oke. Cibereum saja.” seru saya akhirnya. Teringat bahwa puncak memang bukanlah segalanya.

Ketika kepulangan abang dari Halmahera dipercepat, persiapan latihan jogging dan jalan kaki kami lakukan bersama, meski kadang bolong dan tak konsisten. Lalu memulai pencarian trangia serta flysheet untuk dibawa nantinya.

Pengantin baru sih biasanya membeli kompor gas, panci, penggorengan, dan alat rumah tangga lainnya. Tapi kami malah membeli trangia. Ibu geleng-geleng kepala tapi penasaran dan tertarik sekali begitu melihat kami bisa menyeduh air dengan trangia percobaan di belakang rumah.

wpid-IMG_20130628_203242.jpg

Sebenarnya saat di toko outdoor kami sempat tergoda untuk kembali ke rencana pertama, yaitu ke Kandang Badak, dan berniat membeli tenda gara-gara melihat ada tenda berwarna kuning ngejogrok di sudut toko tersebut. Tapi tak jadi, syukur uangnya kurang dan masih bisa berpikir ulang :p.

Perbedaan saat pendakian kedua ini adalah bahwa saya nantinya akan mendaki dengan brace. Dan bahwa saya juga (akhirnya) akan membawa daypack keril “kembaran si biru”. Mereka (brace dan keril) bisa kerja sama tidak ya? Pikir saya.

Kami akan berangkat hari Jumat sepulang saya dari kantor. Maka masih dengan mengenakan dress batik, saya menyandang tas besar yang sudah di-packing dengan sebaik-baiknya itu, bersama-sama Abang menaiki bus Transjakarta dan menyeberangi jembatan Semanggi. Tahu kan jembatan Semanggi dari arah Benhil itu panjangnya luar biasa. Jadi bisa sekalian untuk latihan fisik kami terakhir dan dengan keril sebenar-benarnya sebelum besok akhirnya kami benar-benar akan nanjak. Hosh hosh..

Saya terengah-engah tapi masih berusaha berjalan mantap. Ada 2 baju, 2 celana panjang, dan jaket milik sendiri, beserta trangia dalam keril saya. Sementara abang membawa keril berisi matras, flysheet, 2 baju, 1 celana dan jaket miliknya, ditambah 2 jas hujan milik saya juga, plus bahan-bahan memasak, air mineral 1 liter, dan payung. Ah ya, tak lupa menenteng buku-buku bacaan untuk adik-adik cilik di Taman Baca Cibodas, seperti kebiasaan sebelumnya. Buku yang kami bawa berjumlah 21 buah. Sepanjang jalur jembatan dan jalan yang kami lalui orang-orang memperhatikan barang bawaan kami yang besar itu. Yes, it’s vacation, people!

Dari Semanggi kami akan naik bus menuju Terminal Kampung Rambutan. Tapi setelah 1 jam (dan setelah kebodohan saya juga yang tak menyetop bus pertama karena perhatian terfokus pada Abang yang sedang memungut jeruk yang menggelinding ke jalan), kami tak jua mendapatkan bus yang mau berhenti dan mengangkut kami.

Kira-kira satu jam lebih kami berdiri di pinggir jalan dengan keril yang diletakkan di dekat kaki. Debu-debu jalanan Jakarta dan asap knalpot bus semakin menghiasai kota ini. Senja sebentar lagi berganti malam. Rencana A untuk naik bus ke Terminal Kampung Rambutan haruslah dicoret jika tak ingin tiba terlalu larut. Kami pun akhirnya memutuskan untuk menyetop taxi. Fiuuh… *dadah-dadah sama bus.

Sampai di Terminal Kampung Rambutan pukul setengah tujuh pun tak berarti kami langsung mendapati bus antar-kota menuju Cibodas. Pukul tujuh malam kami masih berdiri menanti bus di pinggir jalan. Lapar, jo.. *kruyuk kruyuk

Saya terduduk di bangku kayu milik penjual warung minuman. Ada yang aneh rasanya, tapi jelas bukan karena lapar. Leher terasa sangat kaku. Sementara mulai dari kepala bagian bawah, terus merayap naik sampai ke kepala, dan kening sebelah kiri sakit luar biasa. Berdentum-dentum tak karuan. Saya menatap pendar lampu-lampu jalan ibukota. Oh, jangan tumbang sebelum berjuang, please. Doa saya berulang-ulang.

Saya mengajukan perubahan rencana pada Abang. Dari yang tadinya langsung menuju Cibodas dirubah menjadi menuju rumah sepupu nenek di Cipanas dulu, berkunjung satu hari lebih cepat, agar saya bisa meninggalkan beberapa barang yang tak perlu dibawa naik nantinya sehingga mengurangi beban di tas. Saya curiga sakit kepala ini karena beban di punggung yang berlebih.

Abang menyanggupi sehingga kami menuju Cipanas terlebih dulu. Begitu naik bus, saya langsung tertidur mengistirahatkan kepala dan punggung. Keril diletakkan di kolong kursi penumpang.

Tiba di rumah sepupu nenek sudah pukul sebelas malam. Mbah, sepupu nenek itu masih terjaga dan penyakit dementia alias pikunnya kambuh lagi sehingga menanyakan siapa saya berulang-ulang. Bude Tita, anak Mbah, pun masih belum terlelap meski menyambut kami datang dengan matanya yang sudah menampakkan binar 5 watt saja. Setelah istirahat sejenak, dengan kilat kami melakukan packing ulang di malam hari. Beban di keril saya pun berkurang jauh.

Abang packing ulang
Abang packing ulang

Esok paginya saya jadi berpikir ulang apakah brace masih cocok dengan keril meski bebannya berkurang? Atau seharusnya brace saya lepas saja dulu selama nanjak nanti? Toh ini aktivitas di luar ruang dan bukannya duduk dalam jangka waktu lama. Tapi Abang justru kemudian malah memindahkan semua isi keril saya dan meringkasnya menjadi satu bawaan saja miliknya supaya saya menanjak hanya dengan membawa kamera, payung, dan botol minum saya sendiri.

Ah, baiklah. Brace tetap saya kenakan. Tapi rencana percobaan untuk “menanjak dengan keril dan brace kali ini gagal. Lain kali mungkin bisa dicoba lagi.

^^^^^^^^^^

wpid-IMG_20130628_193918.jpgKami berangkat dengan menaiki angkot dari Cipanas menuju Rarahan, lalu berganti angkot lagi menuju Cibodas. Saat itu sudah pukul 06.30. Saya dan Abang berpapasan dengan para penjual sayuran di pasar, penjual jamu bakul, dan beberapa anak yang mengenakan pakaian adat daerah untuk melakukan perpisahan sekolah. Udara di Cipanas sudah tak sedingin dulu saat saya masih sering bolak-balik ke sini bersama ibu. Meski begitu, kesejukannya masih terasa terutama ketika kami melewati ladang dan kebun para warga yang dipenuhi tanaman bunga kecubung, daun bawang, bawang merah, dan sawi.

Tiba di Cibodas suasana masih cukup sepi, warung-warung yang menjual sovenir pun belum buka. Sebelum mulai memasuki gerbang balai TNGP, kami akan menanti Kak Fey atau Kak Alvin di depan warung-warung sovenir ini terlebih dulu. Kak Fey dan Kak Alvin adalah relawan yang berada di Taman Baca Cibodas.

Niatnya kami akan memberikan buku bacaan dulu dan baru akan singgah lebih lama nantinya di Taman Baca setelah turun dari Cibereum. Sambil menunggu, saya menatap para pendaki yang hilir mudik di depan kami. Lengkap dengan barang bawaan mereka yang lebih besar dan lebih menjulang daripada kami. Beberapa di antara mereka terdiri dari rombongan besar dan mengenakan kaos yang sama, namun ada juga yang hanya berkelompok tiga sampai empat orang.

Setelah pertemuan singkat, Kak Fey memandu kami ke taman baca. Buku bacaan pun diserahkan kepada mereka. Dua sampai tiga anak berlari keluar masuk Taman Baca yang masih dalam tahap renovasi tersebut. Kami berkenalan sejenak pada mereka lalu melambaikan tangan pada wajah-wajah ceria itu.

“Dadaaah. Nanti kami balik lagii.” Seru saya pada anak-anak tersebut.

Saya dan Abang mulai melangkah melewati deretan warung sovenir kembali, lalu melewati tulisan besar “Balai Taman Nasional Gede Pangrango.”

Here we come again. Bismillah.

Ini dia "Kembaran si biru"
Ini dia “Kembaran si biru”

Abang membeli tiket di kantor balai, salah satu ranger menatap tas Abang dan bertanya mengenai apa saja yang ia bawa. Wajar saja mungkin ia curiga. Beberapa orang pendaki yang berdiri di dekat kami membawa keril besar karena memang ingin mendaki sampai puncak. Sementara kami hanya akan sampai Cibereum tapi keril yang dibawa cukup gendut.

“Bawa alat masak. Bongkar saja juga gapapa.” Jawab Abang sambil terkekeh.

Si ranger menggeleng sambil balas tertawa.

Usai berdoa sebelum memasuki area pendakian, kami mulai berjalan menanjak. Diiringi dengan kelebatan hutan yang rasanya masih sama dengan tiga tahun lalu, aroma petrichor yang lebih kuat, dan cuaca yang lebih cerah daripada pagi tadi.

Saya sempat mempertanyakan mengenai pendakian ini dan tidak bolehnya saya jogging selama dua tahun terakhir. Sebelumnya, jogging rasanya membuat saya lebih sehat dan bisa mengatur nafas dengan baik sampai kemudian berujung pada pendakian ke Cibereum pertama kalinya itu dengan sukses. Tapi sekarang latihan yang saya bisa lakukan hanyalah memperbanyak jalan kaki dan naik turun tangga. Alhamdulillah it’s still work.

wpid-DSC_0184.JPG

Kami tak kejar target harus-mendaki-cepat atau tiba di Cibereum pukul sekian, maka langkah kami pun tak tergesa. Sesekali berhenti sejenak dan duduk di bebatuan, melewati para pendaki atau rombongan keluarga lain, menikmati saja suara kicau burung dan desing sayap kumbang yang marak terdengar di seantero hutan tropis berukuran tinggi-tinggi tersebut.

wpid-IMG_20130624_200353.jpg

Ketika tiba di Telaga Biru, saya sempat heran karena tempat itu sunyi senyap. Padahal dulu ramai sekali dan sepertinya menjadi tempat incaran utama untuk rehat sejak setelah pos pertama. Setelah melirik ke telaga, ah pantas saja. Area telaga yang kering dan sedang surut mungkin yang menyebabkan tempat tersebut tak menjadi incaran para pengunjung.

Kami terus berjalan menapaki bebatuan melewati Telaga Biru, berhenti sejenak tak jauh dari tiga orang laki-laki paruh baya yang juga sedang rehat dan sedang diukur tekanan darahnya. Mereka sepertinya rombongan dari sebuah perusahaan yang mengenakan kaos yang sama seperti yang tadi kami lihat.

Botol minum yang kami bawa dengan segera berkurang isinya. Saya menoleh ke langit biru yang hari itu luar biasa cerah, berharap tiba-tiba melihat Elang Jawa yang sedang soaring. Ketika kami melangkah lagi, seekor anak burung terkesiap di antara semak rendah dan pepohonan, terkejut melihat kami, lalu melompat menjauh. Sepertinya ia belum siap untuk terbang, larinya semakin cepat untuk bersembunyi lebih jauh ke dalam hutan.

Kami akhirnya tiba di Jembatan Rawa Gayonggong. Dengan matahari yang penuh bersinar, dan langit yang bersih seutuhnya menampakkan puncak Pangrango nun jauh di atas sana.

Saya dan Abang terus berjalan di antara riuhnya desing sayap kumbang, melewati tiga orang wisatawan asal Jepang yang sedang membicarakan sesuatu sambil menunjuk-nunjuk ke pepohonan.

Sekitar pukul 10 kami tiba di pos Panyangcangan. Rombongan dengan jumlah sekitar 20 orang sedang duduk berkerumun di sana. Kaos yang mereka kenakan sama dengan bapak yang kami lewati dan sedang diukur tekanan darahnya tadi. Tak berniat berhenti, saya dan Abang terus berjalan menuju sumber suara yang semakin jelas terdengar; air terjun.

Langkah kami kemudian terhenti karena saya yang (sesungguhnya) tak sabar untuk menceburkan kaki sejenak ke aliran air jernih di sisi kanan jalan setapak itu.

wpid-DSC_0219.JPG

Berhubung ribet untuk melepas sepatu, saya menangguhkan dan menahan diri untuk tidak turun dan kembali berjalan. Cibereum sudah tinggal di depan mata saja.

wpid-IMG_20130628_194334.jpg

Ini sudah termasuk musim liburan. Karena itulah TNGP termasuk juga Cibereum ramai oleh berbagai rombongan. Saya dan Abang menyeberangi aliran air kecil di antara tampyas air terjun yang melimpah ruah, menuju tempat yang lebih ramah dan lebih sepi untuk menggelar matras dan mulai piknik.

Saya tak tahu apa saja yang dimasukan dalam daftar persiapan memasak karena saat packing bahan memasak itu, sayalah yang justru sedang berada di kantor. Untuk itulah saya takjub sendiri ketika Abang mulai mengeluarkan bawang merah, bawang putih, cabai, dan garam. Ah ya, untuk masalah memasak, ia memang lebih berpengalaman daripada saya.

Telur, minyak, dan bahan yang dikemas
Telur, minyak, dan bahan yang dikemas

wpid-DSC_0243.JPG

Kami menyeduh teh lemon terlebih dulu. Meresapi setiap tegukannya yang sesekali bercampur dengan rintik-rintik tampyas air terjun. Kupu-kupu berwarna hitam-hijau (yang saya belum tahu namanya) beterbangan di dekat kami, menimbulkan rasa penasaran, bergantian dengan kupu-kupu spesies White hedge blue yang hilir mudik.

wpid-DSC_0293.JPG

Tiga orang wisatawan melewati kami. “Makan siaang.” seru salah satunya tiba-tiba pada kami yang sedang mengeluarkan piring kaleng. Saya tertawa pada tiga orang tersebut karena ucapan bahasa Indonesia yang seolah tak lihai tapi senang diucapkan.

Aha, rupanya wisatawan Jepang yang tadi kami lewati. Mereka melepas sepatu di dekat kami untuk lebih mendekati air terjun. Saya memperhatikan dari jauh. Usia mereka bertiga, dua di antaranya laki-laki dan satu wanita, rupanya sudah tidak lagi muda. Mungkin sekitar 50-60 tahun. Mereka berbicara dalam bahasa Jepang, menceburkan kaki ke aliran air yang dingin, menapaki bebatuan dan tanah basah, dan mendekati air terjun ketiga.

Ketika salah satu dari mereka sudah melewati aliran air danΒ  mengenakan sepatu kembali di dekat saya, Abang menyodorkan segelas teh lemon panas untuk saya berikan pada mereka. Saya ragu sejenak. Itu kan bekas minum saya tadi, nggak pa-pa ya untuk mereka? Tapi Abang berkata; “Udaah, kasih aja.”

Maka saya pun menghampiri salah satu bapak Jepang itu dan menawarkan; “Do you wanna have some tea? It’s lemon tea.” Seru saya sambil menyodorkan gelas padanya.

Aah… lemon tea.” si wisatawan Jepang tertawa dan tampak sumringah atas tawaran saya.

It’s still hot.” seru saya lagi.

Ia menerima gelas yang saya sodorkan, meneguknya, dan berkata; “Aaah.. enak. Lemon tea.” jawabnya sambil tertawa girang. “Oishi..”

“Yaa… Oishi desu ne!” sahut saya.

Si wisatawan tambah sumringah mendengar saya menyahut dalam bahasa Jepang. “Terima kasih banyak.” katanya dengan logat yang patah-patah aduhai.

Saya menyodorkan kembali segelas teh lemon yang sudah terisi kembali untuk dua orang wisatawan lainnya. Tanpa canggung sang ibu pun menerima dan raut di wajahnya tak jauh berbeda dengan temannya tadi. Ia menyodorkan sisa teh lemon pada teman satunya yang juga dengan senang hati menerima.

Hoo… no problemo ternyata gelas-bekas bagi mereka. Ucap saya dalam hati sambil manggut-manggut. Mungkin sama seperti kami, tak semua wisatawan mancanegara juga menuntut fasilitas mewah, mahal, dan serba waaah.

Salah satu orang Jepang itu mengeluarkan biskuit dari dalam tasnya, dan bergantian ia menawarkan untuk saya dan Abang. Dalam sekejap kami sudah larut dalam momen bergantian menawarkan biskuit dan minuman. Tak berapa lama mereka pamit dan dengan halus menolak ajakan kami untuk makan siang bersama.

Berbagi dengan teman seperjalanan, meski tak dikenal, rupanya tak kalah menyenangkan.

Kalo kata Abang; “Yeah, that’s the power of sharing in a trip.”

The Japanese traveler
The Japanese traveler

Dan kami pun lalu mulai memasak nasi goreng. Horee!

Ini dia nih telur ceplok buatan Abang. Jangan tanya mana buatan saya yah!

Tugas saya adalah merajang bawang, cabai, dan mengaduk nasi yang sudah selesai dimasak. Tuh tinggal ngaduk aja masih tergoda untuk tiba-tiba lari dari trangia ketika ada kupu-kupu yang seolah mejeng untuk minta dijepret beberapa jarak dari tempat saya duduk.

wpid-2013-06-22-10.35.54.jpg

Rombongan anak-anak SMU dan komunitas yang lewat di dekat kami pasti akan menoleh begitu mencium wangi nasi goreng dan telur ceplok. Mereka tertawa dan kayanya sih ngiler melihat kami hehe.

wpid-DSC_0267.JPG

Sebenarnya sih nasi yang dibawa kayanya kurang, mengingat kami habis melalui berbagai tanjakan dengan energi yang pastinya berkurang. Apalagi hasil tanak nasinya sedikit keras karena kurang air, tapi hajar saja lah sepiring berdua :p.

wpid-2013-06-22-11.31.37.jpg

Setelah itu Abang tetap piknik di matras, sementara saya yang kecipak kecipuk ke sana ke mari macam bocah hilang.

wpid-IMG_20130628_200624.jpg

Rasa penasaran saya dengan kupu-kupu hitam-hijau berkurang ketika pada akhirnya (setelah saya ikuti ke sana ke sini sampai celana panjang basah dan telapak kaki mengkerut kedinginan karena air yang dingin), si kupu justru mendekati saya yang mulai terdiam di batu. Beberapa kali jepretan pun diarahkan untuk kupu-kupu dan temannya yang sepertinya mengajaknya mating.

Setelah cek di FOBI spesiesnya adalaaaaaah jreng-jreeeng….

Papilio Paris alias Paris peacock. Luv this butterfly!

wpid-DSC_0298.JPG

wpid-kupu3.jpg

Usai puas merasakan jernih dan dinginnya air yang berasal dari air terjun pegunungan, puas menjepret kupu-kupu, dan puas forest-bathing, kami pun berkemas untuk siap turun kembali. Duh, sebenernya sih belum puas T_T.

Ingat kan pesan dalam lirik lagu John Kay; “Take nothing but pictures, leave nothing but footprints, and kill nothing but time.”.

Nah, itu berarti: BAWA TURUN SAMPAHMU! [Saya nggak perlu pake melotot-melotot kan waktu ngucapin ini]

Seperti biasa, waktu turun kami lebih lama dan lebih panjang daripada ketika naik. Lutut dan kaki yang menahan bobot saya dan brace rupanya butuh kekuatan ekstra. Ah ya, ditambah lagi bekas luka di telapak kaki ketika kecelakaan hampir dua tahun lalu (lho, baru ingat sekarang lho ketika ini ditulis.)

Betapapun sulitnya masa-masa turun itu, tapi toh masih sempat juga untuk jongkok dan menjepret kumbang besar beserta kupu-kupu sambil melakukan rehat di bebatuan.

Kami menyemangati para ayah yang menggendong putra/putrinya atau anak-anak kecil yang sedang menempuh jalur untuk naik. Ingin juga rasanya berteriak; “GANBATTE!” buat mereka, sambil membayangkan nantinya kembali ke sini dengan anak-anak kami jua.

wpid-DSC_0328.JPG

Setelah tiba di pos utama dan duduk lagi untuk meluruskan kaki di antara serombongan anak Sekolah Dasar, yang juga sedang ngos-ngos-an dan ngunyah lontong, kami kembali menuju Taman Baca dan disambut girang oleh anak-anak yang sama tadi pagi. Iih, senangnya mereka masih ingat nama saya.

Saya dan Abang duduk di karpet yang digelar seadanya di dalam ruang yang masih bertabur semen tersebut, mulai berkenalan lagi dengan anak-anak dan akhirnya larut dalam berbagai permainan tebak-tebakan! Abang, yang selalu mengaku tak bisa akrab dengan anak-anak, justru dalam sekejap jadi idola bagi 3 anak itu karena selalu membuat mereka tertawa. Saya malah harus berpikir ulang ketika akan memberikan pertanyaan seputar tebak-tebakan hewan untuk mereka.

Yang luar biasa adalah anak-anak itu beneran tak percaya bahwa kami sudah menikah. Dikiranya ya saya adiknya Abang. “Tuh, manggilnya aja Ade!” kata mereka bertiga kekeuh. Mereka baru percaya waktu Abang kasih lihat fotokopi surat nikah yang kami bawa. Hiiih..

wpid-DSC_0341.JPG

Bermain dengan anak-anak ini sampai bahkan hampir lupa waktu. Dua jam yang seperti dua puluh menit saja! Teh panas dan makan siang yang disuguhkan dengan sederhana membuat kami tambah senang dan bersyukur bisa mengetahui tempat ini.

wpid-IMG_20130628_201501.jpg

Selesai makan, kami kembali hanyut dalam permainan bersama tiga anak itu. Mereka bahkan penasaran, dengan apa kami tadi memasak di atas? Dan ketika trangia dikeluarkan, mereka tambah penasaran dan meminta untuk mencoba memasak sesuatu. Ah, baiklah. Akhirnya kami menyeduh air dan membagikan susu cair yang kami bawa. Maka ramai-ramai, di tengah udara sejuk khas pegunungan itu, kami meminum minuman panas masing-masing.

wpid-IMG_20130628_201301.jpg

Larut dalam keriangan, Abang pun berat untuk menjawab pertanyaan; “Kapan menginap di sini? Kapan main lagi ke sini?” Dan semacamnya dari anak-anak tersebut karena ia tak mau menjanjikan pastinya kapan kami kembali lagi. Dan kami hanya bisa menjawab; “Insya Allah kapan-kapan main lagi.”

Sambil melambaikan tangan pada mereka di tengah udara sejuk yang minim asap rokok itu, saya merasakan hal serupa seperti saat berkunjung ke Lombok. Keriuhan yang didapat bukan di Gili Trawangan atau Senggigi, tapi justru di Rumah Baca Unyil di Kampung Nelayan, serta membenarkan ucapan Erik Weihenmayer dalam bukunya, Touch the top of the world, farther than the eye can see;

“Perhaps, the real beauty of life happens on the side of the mountain,

not the top.”

wpid-DSC_0344.JPG

Kami melambaikan tangan pada anak-anak rumah baca, juga pada jalur pendakian dan tiga air terjun, yang rasanya tak seberat ini ketika dulu ditinggal pertama kali.

wpid-IMG_20130628_202537.jpg

Terima kasih untuk ayah dan ibu yang sudah mengizinkan kami mendaki, juga terima kasih untuk keluarga Cipanas yang sudah kami repotkan. Terima kasih untuk Kak Fey, Kak Alvin, Ranti, Lani, dan Selly atas suguhan yang menyenangkan di Taman Baca. Dan tentu terima kasih tak terhingga untukNya yang sudah memungkinkan perjalanan ini terwujud.

Perjalanan pulang menuju Jakarta pun ternyata lebih sulit daripada ketika berangkat. Asap rokok dalam buskota yang membuat saya mabuk dan kebodohan saya, untuk tidak mengambil keputusan di saat diperlukan, rupanya jadi penyebab utama perjalanan kami molor semakin lama.

Tapi ketika tiba di depan rumah, memanggul keril yang sempat membuat sakit kepala, dan memandang bulan purnama di atas langit sana, saya bersyukur kami tiba di rumah dengan selamat.

“Jika setengah itu tanpamu,

maka purnama itu adalah mendaki denganmu.”

wpid-DSC_0209.JPG

Saya sempat takjub karena bait “setengah dan mendaki” seperti di atas itu saya ucapkan jauh sebelum pendakian ini dilakukan, ketika perjalanan ini masih hanya berupa impian. Tapi rupanya di malam 23 Juni 2013 itu, ketika kami pulang dari Cibodas dan tiba di Jakarta, ternyata supermoon lah yang sedang menghiasi langit di bumi. Purnama yang sempurna.

~ Jakarta, Juli 2013. Ditulis dalam rindu.

10 thoughts on “Kandang Badak coret

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *