The power of tetangga

“Lo pake WO apaan?” Begitu kira-kira pertanyaan yang dilontarkan sebelum atau sesudah saya melangsungkan resepsi.

“Gak pake WO. Pake kekuatan ibu-ibu sama bapak-bapak tetangga ajah.” jawab saya sambil nyengir.

Yup, itulah jawabannya. Kami lebih memercayakan hajatan ini kepada para tetangga dibandingkan WO alias Wedding Organizer. Tanpa bermaksud mengecilkan peran para WO, tapi di lingkungan kami para ibu dan bapak tetangga ini sudah terkenal dengan keapikannya dalam mengurus acara. Entah sudah berapa kali acara pernikahan yang mereka pegang.

Saat pembubaran panitia pernikahan saya, salah satu ibu melontarkan sebuah cerita saat saya dan anaknya masih berusia SD. Dari situ kemudian berturut-turut pembicaraan beralih. Mulai dari mengingat masa ketika para anak mereka (termasuk juga saya) bermain di rumahnya, numpang makan saat tak ada orangtua di rumah, atau ketika salah seorang bapak mengantar anaknya berangkat ke sekolah. Mobil atau motornya akan sarat dengan penumpang, anaknya hanya satu orang, sisanya adalah anak para tetangga yang dengan sukarela ia antarkan karena memang satu sekolah atau satu rute.

“Kalo ibu-ibu sekarang mah nggak kaya gitu. Boro-boro deh ngajak, kalo lewat juga nggak buka kaca mobil atau negor.” sahut salah satunya lagi yang kemudian diiyakan para ibu lain.

Ah, zaman memang sudah jauh berubah. Dan para manusianya pun ikut berubah. Selagi mungkin dulu para ibu ini berkumpul dan membicarakan sebuah resep masakan dengan seru, para ibu sekarang saat arisan mungkin ada juga yang lebih sibuk dengan ponselnya. Meski tak semuanya tentu seperti itu.

Di sela rapat itu para ibu-bapak, yang sebagian di antara mereka sudah memasuki masa pensiun, melanjutkan cerita tentang masa sekitar dua puluh tahun lalu.

Saya terus melanjutkan mendengarkan dengan seksama cerita-cerita mereka, yang terus mengalir dan seolah tak henti. Tentu ada banyak sekali memori yang diingat karena kami sudah tinggal berdekatan dan menjadi tetangga bukan baru kemarin sore.

Di sela-sela rapat, saya menatap para ibu satu per satu. Ada pemandangan janggal karena di antara para ibu ini ada satu orang lagi yang kurang. Satu ibu dan bapak tetangga yang sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Sebut saja namanya Ibu dan Bapak Yoga.

Ibu dan bapak Yoga sudah bertetangga dengan kami sejak sekitar 26 atau 27 tahun yang lalu. Bahkan sejak sebelum saya lahir. Mereka bahkan, boleh dibilang, lebih dari saudara sendiri.

Saya masih ingat betul, sekitar delapan tahun lalu saat saya mengalami kecelakaan dan tidak bisa berjalan, Ibu Yoga bolak-balik menengok ke rumah. Bukan sekedar menjenguk karena saya sakit, tapi menawarkan untuk menggendong saya dari atau ke kamar mandi. Ibu saya bertubuh kecil dan tentu tak kuat memapah apalagi menggendong saya. Sementara bagi Bu Yoga yang bertubuh lebih besar hal itu mudah saja. Dengan sigap dan dengan mudahnya ia mengangkat saya yang saat itu hendak mandi dengan kaki masih berbalut perban.

“Teriak aja kalo mau ke kamar mandi. Kedengeran kan ke rumah. Yaa atau telepon aja deh ke rumah kalo malu.” ucapnya.

Saya dan ibu hanya bisa tertawa mendengarnya. Tentu ucapannya tak kami indahkan karena merasa tak enak harus memintanya bolak-balik datang ke rumah khusus untuk menggendong saya.

Lain waktu, saat mendengar nenek alias ibu dari ayah saya meninggal, bu Yoga yang tertinggal mobil langsung menyusul rombongan kami ke Jawa Tengah dengan buskota, hanya berdua dengan salah satu ibu tetangga lain. Ibu ini rupanya memang selalu siap siaga dan ringan tangan membantu apa saja dengan sangat kilat. Membantu masak, gotong kompor, angkat-angkat panci, sampai belanja ke pasar ketika di rumah kami sedang mengadakan sebuah acara semacam arisan, pengajian, dan sebagainya.

Suaminya, Pak Yoga, adalah orang yang pendiam tapi murah senyum. Tak jauh berbeda dengan istrinya, ia dengan ramahnya akan selalu bersedia membantu tetangga manapun yang sedang kesulitan. Kalau bukan karena kemurahan hatinya untuk memberi izin dan ridho pada Bu Yoga yang bolak-balik membantu kami, tentu semua itu tak kan bisa terwujud.

Lalu kenapa saat acara yang (super penting bagi keluarga kami), macam pernikahan ini, Bu Yoga justru tidak hadir dalam deretan panitia dan ibu tetangga lain?

Jawabannya adalah karena ada hal lain yang super duper penting dan amat darurat, yaitu Pak Yoga suaminya jatuh sakit sejak sekitar 3 bulan lalu. Pak Yoga harus dirawat di rumah sakit dan sejak itu bolak-balik rawat inap sampai akhirnya harus dirawat di rumah saja. Bu Yoga yang sudah dimasukan dalam daftar panitia pernikahan pun pada akhirnya mengundurkan diri dan kami tidak bisa berbuat apa-apa.

Sampai ketika sekitar 1 bulan setelah pernikahan, saya dan Abang menjenguk Pak Yoga di rumahnya. Sambil berbaring, matanya terus menatap saya dan berusaha untuk bersuara, tapi tak ada yang keluar. Salah satu anaknya berkata bahwa Pak Yoga mengenali wajah saya tapi mungkin tak mampu mengingat nama saya.

Saat kami berpamitan, saya memeluk Bu Yoga. Ia sudah tak kuasa menahan tangis. Matanya bertambah sembab ketika menangis di bahu saya. “Ini mah bukan kenal dari TK lagi, dari lahir sudah saya gendong-gendong. Tapi kok yo pas nikahan malah nggak bisa bantuin.” ucapnya sambil terus terisak.

Saya menjawab bahwa ini tentu di luar keinginan kami semua. Rasa bersalahnya tentu menyeruak ketika mengingat bahwa ia tak bisa membantu kami, atau bahkan menghadiri pernikahan saya. Bercampur aduk dengan perasaan bahwa ia juga merasa sedih karena melihat suaminya terbaring sakit.

2 bulan kemudian, saya menerima pesan bahwa siang hari itu Pak Yoga pergi menghadap Sang Pencipta. Cukup besar rasa bersalah saya saat itu karena baru satu hari sebelumnya sudah berniat untuk sekadar menengok keadaan Pak Yoga tapi tak jadi. Rasanya ngibrit pulang kantor dan mengejar rombongan yang baru saja berangkat ke makam pun belum cukup untuk membalas kebaikannya selama ini, tapi semoga melengkapi kewajiban sebagai tetangga.

Ah, sudahkah saya selama ini menjadi tetangga yang baik seperti mereka-mereka? Celingukan kiri dan kanan menanggapi ada yang kesulitan, bersedia membantu dan ringan saja mengulurkan tangan tanpa mengharap imbalan?

~ Jakarta, 4 Juli 2013.

Ditulis spesial untuk alm. Pak Pri, yang pergi tepat 2 bulan setelah pernikahan, dan alm. Pak Joko, salah satu tetangga yang sudah pensiun tapi 3 bulan lalu tetap bersedia menjadi panitia meski harus datang dari jauh. Semoga Allah melapangkan kubur, membalas kebaikan, dan kemurahan hati bapak berdua selama ini.

Dan untuk semua para tetangga yang luar biasa.

7 thoughts on “The power of tetangga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *