Tsunami dan senja Lhok Nga

Ada rasa haru yang menyeruak tiba-tiba saat mulai berjalan menelusuri bagian paling awal dari Museum Tsunami dan terkena percikan air yang turun dari atas dindingnya, diiringi dengan lirik-lirik nyanyian dalam bahasa Aceh. Sekuat tenaga saya berusaha menyembunyikan kamera agar tak terkena air, tapi tetap saja bukan kamera itu fokus utamanya.

Sambil terus menyusuri lorong dan menyentuh permukaan dinding yang basah karena air yang terus menerus dipercikkan, tetap saja yang ada dalam kepala saya adalah tanggal 26 Desember tahun 2004 itu.

Tapi rupanya air dengan iringan lirik-lirik bahasa Aceh itu belum ada apa-apanya saat memasuki ruangan lain yang bernama Sumur Doa yang membuat saya merinding, menimbulkan rasa tercekat pada tenggorokan, saat memandang satu per satu nama-nama cantik yang dibentuk pada ruangan itu dengan huruf timbul.

Tak kuasa membayangkan apa yang sedang mereka lakukan detik-detik menjelang tsunami menghantam pesisir dan menerjang apa saja yang ada di hadapannya. Dan tambah terharu saat membaca mengikuti huruf-huruf dalam ruangan yang membentuk lingkaran itu sampai saya memutarkan badan untuk bisa membaca keseluruhan namanya lalu menoleh ke atas, mengikuti setiap lekukan lorong kerucut itu. Di atas sana, di ujung lorong nan tinggi, nama Allah jelas terukir dan bersinar-sinar sendirian dalam ruang temaram ini. Rupanya dari sanalah sumber cahaya itu.

Tinggi, bercahaya, tapi terlihat dekat.

Entah berapa kali saya bermimpi mengenai tsunami. Berlarian berkejaran dengan air bah, berusaha menaiki tangga secepat mungkin ke lantai 30. Atau dalam mimpi lain lagi saat sedang berada di atas perahu lalu tiba-tiba perahu yang dinaiki diterjang gelombang tsunami, detik berikutnya saya langsung terbangun karena kaget. Ah, mimpi saja saya tak membayangkan keganasan gelombang itu.

Saat memutari halaman Masjid Raya Baiturrahman, atau saat berkunjung ke Pemakaman Masal Ulee Lheue sepulang kami dari Pulau Weh, selalu ada rasa haru di sana. Betapa tanah yang saat itu kami pijak, pernah lebur dan tak bisa dikenali sebagai sebuah desa karena luluh lantak.

^^^^^^^^^^^

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.”

(QS. al Anbiya: 35)

Begitu bunyi ayat yang tertulis pada pintu gerbang pemakaman masal Ulee Lheue.

DSC_1137

Kami mendorong pintu gerbang tinggi. Jalan raya sore itu sesungguhnya tak terlalu sepi, tapi begitu melangkah masuk ke dalam area, meninggalkan pintu gerbang beberapa meter di belakang, segalanya tiba-tiba menjadi senyap.

Hening, tak bertuan.

Angin pesisir bahkan seolah tak nampak seperti sebelumnya.

Kami terus melangkah di antara bebatuan kecil yang diserakkan di jalan setapak. Kiri dan kanan kami sesungguhnya adalah makam para korban tsunami ini. Rumput-rumput hijau tertata rapi di atasnya. Tak ada nisan karena ada banyak sekali yang dimakamkan dan tak dikenal. Hanya ada beberapa plang dan papan bertuliskan ayat-ayat suci dan juga tanda peringatan tsunami.

Lebih jauh ke dalam ada sebuah bangunan yang hanya tinggal kerangkanya saja. Berdiri menyisakan kerangka bangunan yang menghitam.

Saya melangkah membaca plang berisi deretan kalimat yang dipasang di depan kerangka bangunan itu.

“Bangunan ini dulunya adalah RS Meuraxa berlantai 2.”

Begitu bunyi kalimat awalnya. Saya berhenti membaca, menahan sedikit gejolak dan meredakan kerongkongan yang tersumbat, menarik nafas panjang, lalu kembali melanjutkan membaca sedikit sejarah mengenai RS Meuraxa. Di sampingnya tertera keterangan mengenai Pemakaman Masal Ulee Lheue dan para korban tsunami yang dimakamkan di sini.

Saya berbalik, memandang sekeliling dan beberapa ekor kambing yang sedang asyik merumput di atas makam. Seorang bapak yang mungkin adalah pemilik ternak tersebut menatap kami lalu tersenyum menyapa.

Saya menggamit tangan Abang, berdua kami membacakan doa untuk para korban tsunami, lalu melangkah pulang, diiringi suara saya yang terisak sepanjang kami melangkah menuju pintu gerbang makam.

^^^^^^^^^^

20 April 2013.

Sore itu kami berkunjung ke Lhok Nga. Sebuah daerah yang juga pernah habis terkena tsunami. Jalan mulus yang ada di sepanjang pesisir ini kabarnya dibangun saat bantuan-bantuan berdatangan untuk memudahkan distribusi.

Kami menuju rumah Z, salah satu adik sepupu Abang, yang tinggal di Lhok Nga. Ayah Z adalah adik dari Ummi Abang. Ia berprofesi sebagai pedagang, istrinya adalah seorang guru, dan memiliki dua anak yaitu Z dan adiknya. Z saat itu masih berusia 4 tahun.

Saat tsunami datang mereka ikut hanyut terbawa arus. Ibu Z memegangi anaknya yang paling kecil namun kemudian terbawa gelombang. Sementara nenek memegangi Z sambil terus berusaha berpegangan pada tiang listrik.

Tak ada yang tersisa dari rumah Z, termasuk juga ayah, ibu, dan adiknya. Sekarang Z berusia 12 tahun dan tinggal hanya berdua dengan neneknya.

Ketika kami datang ke Rumah Arab Z, nenek berkata Z sedang bermain bola di lapangan. Rumah Arab, begitu ia menyebut rumahnya yang sekarang sudah berdiri lagi. Z menyebutnya seperti itu karena rumah-rumah di daerah Lhok Nga tersebut didirikan kembali atas bantuan pemerintahan Saudi Arabia dan di setiap rumah terdapat lambang negara tersebut.

Sekitar 15 menit kemudian Z pulang ke rumah masih dengan nafas yang terengah-engah dan penuh peluh. Binar di mata Z girang melihat ada tamu-tamu yang berkunjung ke rumahnya. Kulitnya yang sudah coklat tambah terbakar karena hobinya memang bermain bola di daerah pesisir ini.

Ingin rasanya menginap semalam saja karena mata Z berkata seperti itu di balik tawanya. Ah, sayang kami hanya sejenak mampir mengunjungi Z dan nenek serta menyusuri pesisir Lhok Nga. Matahari yang mulai beranjak terbenam, kembali ke peraduannya, memberikan harapan supaya tetap optimis akan esok hari.

*Dedicated this for Abang,

yang hari ini berulang tahun ke-26, di seberang pulau.

0 thoughts on “Tsunami dan senja Lhok Nga

  • July 5, 2013 at 5:02 pm
    Permalink

    mbak ikut sedih haru mbacanya 🙁
    sekarang gimana kabar keluarga disana? Semoga baik baik semua. Amiiin

    Reply
    • July 6, 2013 at 10:27 pm
      Permalink

      Alhamdulillah keluarga di Banda Aceh & Sigli aman. Semoga yg di Aceh Tengah dan semuanya jg selalu dilindungi Allah SWT. Amin. Trims Adina

      Reply
      • July 10, 2013 at 7:48 am
        Permalink

        Alhamdulillah. Amin amin. sama sama mbak 🙂

        Reply
  • July 5, 2013 at 7:38 pm
    Permalink

    Masih ingat sekali, 26 Desember 2004, saya dan banyak teman kos di Malang tidak beranjak dari depan TV sejak pagi sampai sore demi mengikuti perkembangan di Aceh 🙁
    Tulisannya bagus 😀 Jadi berasa sedang berada disana juga.
    Salam kenal

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *